30/03/2026
Kita alihkan yg semntara Viral. membuat Program selalu berdasarkan data, bagimana MBG dan Pengurangan PPPK secara massal nantinya
ok gini ceritanya dan mungkin kalian akgak emosional🫣
609 ribu per bulan untuk satu orang. Makan apaan?
Serius. Kita berhenti sebentar di angka ini. Enam ratus ribuan. Ini bukan gaji. Ini bukan uang jajan. Ini adalah batas resmi negara buat bilang:
“Kalau pengeluaran lo di bawah ini, baru lo disebut miskin.”
Di atas itu? Selamat. Secara statistik, hidup lo dianggap baik-baik saja.
609 ribu per bulan. Itu sekitar 20 ribu per hari. Dua puluh ribu.
Buat apa?
Buat makan?
Buat ongkos?
Buat pulsa?
Buat sabun?
Buat listrik?
Atau buat semua itu sekaligus?
Ini udah bukan lagi soal “cukup atau enggak”.
Ini soal: ini manusia disuruh hidup, atau disuruh bertahan kayak kecoa?
Dan ingat baik-baik: ini per orang, bukan per keluarga.
Sekarang kita turunin ke dunia nyata.
Satu rumah isinya empat orang. Total pengeluaran tiga juta sebulan. Dibagi empat, jatuhnya 750 ribu per orang.
Secara statistik: tidak miskin.
Padahal realitasnya?
Makan nasi sama mie.
Lauk kadang ada, kadang enggak.
Atap bocor ditampung ember.
Anak sakit mikir dua kali ke puskesmas karena takut keluar duit.
Di meja dapur: hidup pas-pasan.
Di tabel negara: mereka baik-baik saja.
Nah, sekarang pakai analogi yang paling goblok tapi paling jujur.
Bayangin ada guru bilang:
“Yang nilainya di bawah 20 baru dibilang bodoh.”
Terus suatu hari dia ngumumin:
“Lihat! Jumlah murid bodoh berkurang drastis!”
Padahal bukan muridnya yang makin pinter.
Standar bodohnya yang diturunin.
Yang nilainya 25, 30, 40 — tetep aja gak ngerti apa-apa — tapi sekarang resmi disebut “pintar”.
Atau bayangin dokter bilang:
“Pasien baru dibilang kritis kalau detak jantungnya tinggal 20.”
Bangsal penuh orang sekarat, tapi masih di atas 20 semua.
Lalu rumah sakit bilang:
“Tenang, pasien kritis kita sedikit.”
Bukan karena orang-orangnya sehat.
Tapi karena batas ‘kritis’-nya diturunin sampai hampir mati.
Itulah yang terjadi dengan kemiskinan.
Ini bukan cerita “orang miskin berkurang”.
Ini cerita garis miskinnya yang ditarik makin ke bawah.
Garis kemiskinan kita itu bukan garis hidup layak.
Itu garis hidup minimum supaya belum mati.
Ukurannya bukan martabat.
Bukan kualitas hidup.
Bukan masa depan.
Ukurannya cuma satu: lo masih bisa masukin kalori ke badan atau belum.
Lo masih bisa makan nasi? Oke.
Lo masih bisa beli mie? Oke.
Lo belum tumbang? Oke.
Berarti: lo tidak miskin.
Dari sini negara bisa naik ke podium dengan dada busung:
“Angka kemiskinan kita turun.”
Turun dari mana ke mana?
Dari sama-sama sengsara, jadi sengsaranya gak masuk kategori.
Ini kayak bilang:
“Lo baru dibilang tenggelam kalau kepala lo udah gak kelihatan.”
Selama hidung masih nongol dikit, meskipun paru-paru udah kemasukan air, dianggap aman.
Padahal semua orang waras tahu:
Itu tinggal nunggu waktu.
Di atas garis kemiskinan itu ada jutaan orang yang hidupnya sama rapuhnya.
Sedikit sakit.
Sedikit harga naik.
Sedikit kehilangan kerja.
Langsung jatuh ke jurang.
Tapi mereka gak pernah masuk statistik “orang miskin”.
Mereka cuma dikasih label lebih sopan: “rentan”.
Bahasa halus dari:
calon korban berikutnya.
Jadi kalau lo dengar kalimat:
“Kemiskinan kita tinggal 8 persen,”
jangan langsung tepuk tangan.
Tanya dulu:
8 persen menurut standar hidup siapa?
Karena kalau standar miskinnya adalah:
“Baru dibilang miskin kalau pengeluaran lo di bawah 609 ribu per bulan,”
maka ini bukan cerita tentang rakyat makin sejahtera.
Ini cerita tentang cara bikin angka kelihatan bagus dengan nurunin standar sampai nyaris nyentuh kuburan. Conrogasingkan jika saling melempar
_ikutanCopas_