05/10/2020
Sepenggal Memori Dibalik Buku Muhammad Al-Fatih 1453
2002. "Namamu ganti jadi Muhammad Abdul Kholiq ya?". Begitu saran ustadz Epi pada saya, beberapa hari setelah saya bersyahadat. Inginnya beliau mungkin sama dengan Fe-lix, jadi Kho-liq
Saya menjawab, "Boleh nggak kalau Muhammad Al-Fatih aja kang?". Itulah kali pertama saya nge-fans dengan AL-FATIH. Sang pembebas, ksatria penakluk, keren aja bagi saya
Saya mengetahui kisah Al-Fatih sejak sebelum bersyahadat, Ust. Fatih Karim menceritakan beberapa fragmen hidupnya, tapi bagi saya itu sudah cukup untuk menjadikannya role model bagi saya
2007. Kedua kalinya saya mendengar kisah Al-Fatih, kali ini lebih lengkap, dari Ust. Hafidz Abdurrahman. Dengan berapi-api beliau menjelaskan bagaimana kekuatan visi Rasulullah bila diyakini
Kala itu di Masjid Muhajirin Slipi, duduk di barisan paling belakang mepet kusen jendela. Hati saya membara oleh api semangat, ingin berteriak: "Ustadz, namaku Al-Fatih!". Tapi tak berani
Esok paginya, saya memulai sesuatu yang harusnya saya lakukan sejak saya syahadat, meneliti apa yang menyebabkan Al-Fatih bisa demikian istimewa, memulai mencari tahu tentang Al-Fatih
2008. Semakin mencari, saya semakin tertegun, terkesima. Rampung 71 slide presentasi saya tentang Al-Fatih. Tiap kali mengisahkannya, saya selalu merinding, bergidik
Sebegitu hebatnya manusia ketika sudah terinspirasi Rasulullah, pandangannya melebihi zaman, usahanya melampaui imajinasi, pemuda 21 tahun yang mengubah dunia
Sejak saat itu, saya selalu mengingatkan diri: "Al-Fatih bisa begitu, sebab meyakini Rasulullah, bahwa Rasul tak pernah berbohong, bahwa janji Rasul pasti wujud, termasuk bangkitnya Islam", itu
2010. Tiap manusia perlu simbol untuk mengingatkan diri, dan1453 adalah simbol bagi saya. Saya berusaha mengidentikkan diri dengan 1453. Agar selalu ingat, bahwa Rasulullah mustahil salah
Bagi saya, kisah Al-Fatih ini mengubah, menyemangati, menjadikan saya berbeda. Untuk menyebarkan dan memberi keyakinan yang sama, maka saya yakin, buku ini harus ditulis
Niat saya sederhana, buku ini saya hadiahkan pada anak-anak lelaki saya, agar mereka mengetahui siapa ayahnya, apa yang ayah-ibunya yakini, untuk apa hidup dan mati orangtuanya
2011. Anak kedua saya diberi nama Shifr Muhammad Al-Fatih 1453, kala itu istri saya mengandung anak ke-3. Namanya sudah siap, Ghazi Muhammad Al-Fatih 1453. Mereka harus terus ingat 1453
Buku "Al-Fatih 1453" tak sempat saya rampungkan saat Shifr lahir di 2010, tapi buku ini akan jadi hadiah buat Shifr dan Ghazi. Naskah sudah siap, ilustrasi sudah selesai. Alhamdulillah
Editor sekaligus penerbit mengirim SMS ke saya: "Antum yakin ini bakal laku? Nggak banyak orang s**a sejarah lho. Lagian ini cerita mirip novel, agak membosankan", begitu tulisnya
Saya balas, "Gapapa mas, dicetak aja, nggak banyak gapapa, 2000 eksemplar aja. Ini buku ambisi pribadi saya, untuk anak-anak saya, pertanggungan saya yang punya nama Al-Fatih", itu
2011. Cetakan pertama rilis 5 hari selepas Ghazi lahir, di bulan Ramadhan buku ini terpampang gagah di toko-toko buku se-Indonesia, belum lagi ada ramai orang pandir saat itu
Buku "Muhammad Al-Fatih 1453" best seller. Tapi bukan itu yang menyenangkan bagi saya. Yang indah adalah, sejak itu bermunculan nama-nama Al-Fatih dan 1453 mengiringi lahirnya bayi-bayi
Yang mengharukan adalah, ketika ada ibu-ibu yang mengirimkan pesan, "Terimakasih, buku 1453 menginspirasi anak-anak kami untuk mengidolakan Muslim yang yakin pada Rasulullah", wah
2013. Kali pertama saya menginjakkan kaki ke Konstantinopel (Istanbul). Apa yang saya lihat sama persis dengan apa yang saya bayangkan saat menulis "buku Al-Fatih 1453". Allahuakbar
Bukan kisah Al-Fatih, juga bukan pembebasan Konstantinopel yang penting bagi saya, bukan itu sebab buku "Al-Fatih 1453" ditulis. Tapi karena sesuatu yang lebih besar dari itu semua
Tentang rangkai kalimat yang keluar dari lisan manusia terbaik yang pernah berjalan diatas muka bumi, tentang kerinduan yang mewujud dalam keyakinan pada tiap-tiap janji yang dia sampaikan
Tentang rentang 825 tahun yang dilalui.