Distributor Kaos Zahra Malang

Distributor Kaos Zahra Malang Grosir kaos zahra, kaos anak muslim malang, kaos anak branded malang, kaos zahra malang

Jadi Ingin Jalan-Jalan 😊 ehh, Menabung dulu.. 😂Jalan-jalanlah. Menabunglah khusus untuk jalan-jalan. Tidak perlu jauh. A...
22/07/2017

Jadi Ingin Jalan-Jalan 😊 ehh, Menabung dulu.. 😂
Jalan-jalanlah. Menabunglah khusus untuk jalan-jalan. Tidak perlu jauh. Apalagi keluar negeri. Indonesia punya banyak sekali objek wisata yang bisa didatangi.

Ibu saya s**a sekali jalan-jalan. Sebelum usia saya 5th, masyallah tabarakallah saya sudah menikmati pelangi di Hawaii, Disneyland di los angeles, berfoto dengan Merlion-nya singapura, sudah berlarian di kaki-kaki Eiffel, nengok fir’aun dari dalam pyramid, melihat kota miniature di Swiss, mampir ke Vienna, singgah di Belgi, mencium tulip asli di Belanda, menyaksikan pertunjukan buaya di perternakannya di Thailand, dan tentunya mengelilingi baitullah.

Ibu saya, kalau punya uang sedikit, mikirnya ‘ayo.. kita mau kemana’. Liburan panjang selalu di isi jalan-jalan. Nggak punya uang naik pesawat, naik kereta. Nggak punya uang naik kereta, naik mobil. Saya ingat ketika kami berhari-hari bermobil melintasi keseluruhan p**au Sumatra untuk sampai ke aceh. Gedean dikit, kami berhari-hari juga di mobil untuk naik dari florida ke new York untuk melihat Niagara falls. Di perjalanan kami berhenti ke pabrik coca cola, melihat restoran pertama kolonel sander’s nya KFC, rumahnya Elvis Presley dan masjid pertama dan tertua di amerika. Kaya? Boro-boro. Ibu saya memasak bertahun-tahun, menjaga puluhan bayi, ngosrek kamar mandi, terima jaitan. Tidak dari uang gaji kerja kantoran.

Memberikan anak-anak mainan, tidak akan diingat, yang ada baru 3 hari bosan, dan 3 minggu berikutnya sudah rusak. Tapi mengajak anak jalan-jalan, kenangan nya akan lebih membekas, ia akan ingat sampai lama. Belum lagi biasanya kan diabadikan dengan foto, memorinya akan dibagikannya ke anak-anaknya, dan anak-anaknya anaknya kelak. Hadiah yang bertahan seumur hidup dalam bentuk cerita.

Cara mengasuh itu diturun-temurunkan jadi saya pun kini demikian dan anak-anak saya sangat menyukainya. Tidak perlu ke berlin, ke kota di p**au sebelah pun cukup. Dengan jalan-jalan kita menambah ilmu, wawasan dan pengalaman, dan itu mengayakan jiwa. Nikmati makanan setempat, lihat apa yang menjadi ciri khas budayanya. Perjalanan singkat kami ke Palembang 2 bulan lalu memberikan banyak sekali pengalaman ke anak-anak. Dari airport saja, kita sudah bisa bercerita tentang Sultan Mahmud Badaruddin. Trip ke stadium jakabaring membuka diskusi dari topik Asean games sampai ke bahasan korupsi. Kami juga mengunjungi museum quran raksasa di sana. Yang per lembarnya di pahat di kayu-kayu besar 3 kali pintu biasa. Sisanya? Melintasi jembatan ampera saja mereka sudah gembira, apalagi kalau berkesempatan menikmatinya dari resto pinggir sungai untuk view malam yang indah. Mereka makan mpek-mpek berkali-kali sehari, sudah seperti nasi saja. Belum lagi mengagumi pembangunan LRT yang jauh lebih maju dan cepat dari Jakarta. Dari satu objek wisata ke objek wisata berikutnya, ayahnya menceritakan tentang kerajaan sriwijaya, yang karena tumbuh di luar, saya pun tidak mengetahuinya.

Objek wisata yang TIDAK di kunjungi saja bisa jadi pelajaran. Kami jadi bisa menjelaskan kenapa kita tidak mengunjungi p**au kemaro yang ada pagoda nya, dengan harapan semoga ketika mereka dewasa dan berkelana tanpa kami nanti, mereka juga tidak mendatangi rumah peribadatan agama lain yang masih aktif digunakan. Kami mencoba mie celor yang ternyata tidak cocok di lidah. Mereka berkesempatan juga shalat jumat di masjid cheng hoo, dan mama nya jadi terpaksa meng-google tentang kaisar cina itu agar bisa bercerita. Disela-sela waktu, saya pun sempat bersilaturrahmi dan bertemu dengan teman-teman grup wa yang ada disana. Kami di Palembang cuma 50 jam saja, tapi pengalaman bagi saya dan anak-anak sudah sungguh luar biasa

Berjalan-jalanlah. Terutama jika anak anda sudah lebih dari 7th usia. makan pagi di finland dan makan siang di maladewa. shalat ashar di sabang dan isya di surabaya. jalan-jalanlah. tidak perlu ke raja ampat, garut juga menawarkan kenikmatan alam tiada tara. main air, naik gunung, masuki gua. rasakan wisata lidah beragam rupa. Nikmati bumi allah yang luas ini sebelum tutup usia. Jalan-jalanlah. Kenangan yang anda tinggal pada anak-anak dengan membawanya berkelana, jauh lebih berharga dari mainan yang sering anda belikan untuk mereka…dan akan bertahan jauh lebih lama.

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu (Q.S 71:19-20)
“Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman saja” -St. Agustine


*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini

BAGAIMANA MENYIKAPI LINGKUNGAN YANG BURUK PADA ANAK???Oleh: Harry SantosaSeorang bijak mengatakan, "setinggi dan sekokoh...
22/07/2017

BAGAIMANA MENYIKAPI LINGKUNGAN YANG BURUK PADA ANAK???

Oleh: Harry Santosa

Seorang bijak mengatakan, "setinggi dan sekokoh apapun kita mendirikan benteng utk menghadang air bah, maka akan roboh juga. Maka ajarilah anak untuk berenang atau membuat perahunya sendiri"
Orang bijak lain mengatakan, "jadilah seperti ikan hidup di laut yang tak pernah asin walau setiap hari berenang di laut. Janganlah menjadi seperti ikan mati, yang menjadi asin hanya direndam air garam beberapa hari".
Apa maknanya?
Hidupkanlah fitrah anak anak kita, maka mereka akan melayari kehidupan ini dengan sebaik baiknya. Fitrah yang hidup dinamis bagai air sungai yang mengalir, bening dan jernih, menyehatkan sekitarnya. Namun sebaliknya, fitrah yang redup ibarat sungai yang tdk mengalir, menjadi tempat sarang nyamuk dan penyakit juga sampah.
Bagaimana teknisnya agar tidak terpapar lingkungan yang buruk?
1. Usia 0-6 tahun, ini masa paling rentan, maka lingkungan sebaiknya cukup steril. Karenanya bersosialisasi terbaik adalah dengan orangtua dan keluarga dekat, dengan asumsi bhw orangtua dan keluarga terdekat mustahil merusak. Bersosialisasi di tahap ini justru dengan menguatkan fitrah individualitasnya, misalnya memuaskan ego sentrisnya, mengakui sifat uniknya dstnya. Anak yang dipenuhi hak hak individualitasnya di usia ini, kelak akan menunaikan kewajiban sosialnya termasuk kokoh fitrah sosialitasnya seperti s**a bersosial, s**a berbagi, tidak mudah dibully, percaya diri untuk mengendalikan lingkungannya dstnya
2. Usia 7-10 tahun, ini masa dimana anak dianggap sdh mulai kokoh konsepsinya ttg Allah, ttg dirinya, ttg orangtuanya, ttg alam dstnya. Mereka sdh memerlukan sosial yang lebih luas dari di rumah. Maka lingkungan yang tidak terlalu buruk, tidak mengapa, justru baik untuk menguatkan imunitas. Pastikan kedekatan ayah bunda dengan ananda, sehingga selalu menjadi rujukan dalam setiap masalah perilaku yang dipapar oleh lingkungan. Tentu saja jika lingkungan amat buruk, maka wajib hijrah.
3. Usia 11-14 tahun, ini sebenarnya tahap ujian, jadi ananda perlu diuji keimanannya, bakatnya, gairah belajarnya dll dengan dibenturkan pada kehidupan nyata. Latih mereka utk banyak idea atau inovatif, kemauan menjadi da'i (penyeru kebenaran), menjadi problem solver (nadziro) sekaligus solution maker (bashiro) dalam lingkungan yang seperti apapun. Ini tahap tega dengan membenturkan pd kehidupan. Ayahlah sang raja tega, namun Bundalah sang pembasuh luka.
Sulit rasanya bagi Ummat ini melahirkan pemimpin yang solutif, jika selalu memberikan lingkungan yang steril, mengirimkan ke boarding school dengan maksud menyembunyikan anak dari realitas sosial Ummat ini.
Rasulullah SAW bahkan memberi ucapan selamat kepada para Ghuroba (almarhum M.Natsir menyebutnya Perintis) yaitu mereka yang memperbaiki sunnah Beliau di tengah kerusakan Ummatnya.
Dalam banyak kasus, pada tahap ini, anak anak yang sudah mantab mengenal fitrah dirinya, maka tiada kekhawatiran dengannya. Misalnya internet dan gadget, alih alih dimusuhi, baginya hanyalah perangkat untuk mengakses banyak pengetahuan yang relevan untuk inovasi, berdiskusi dengan Murobby dan Maestro, membangun jaringan dan berkolaborasi, memasarkan karya atau product dsbnya.
Sebagai catatan, 90% masalah anak sesungguhnya bukan dari luar rumah, justru dari dalam rumah. Obsesi orangtua, kecanduan menggegas dan menitipkan anak dsbnya menjadi penyebab cideranya atau menyimpangnya fitrah ananda.
Salam Pendidikan Peradaban

OH SUAMIKU... istri : "suamiku.... Boleh aku menanyakan sesuatu padamu ?"suami : " iyah tentu boleh lah sayang, ..kau in...
19/07/2017

OH SUAMIKU...

istri : "suamiku.... Boleh aku menanyakan sesuatu padamu ?"

suami : " iyah tentu boleh lah sayang, ..kau ingin menanyakan apa istriku?"

istri : "Suamiku.... jika suatu saat engkau sukses, memiliki harta, tahta dan jabatan, Apakah engkau akan menikah lagi dan mempoligami aku.. ?"

suami : "Sayang.. kok tiba2 kamu ngomong seperti itu ?"

istri : "Iyah karena aku takut..., kau lihat laki-laki di luar sana, setelah mereka sukses mereka tdk memikirkan perasaan istrinya, mempoligami istrinya, ada yang sampai menceraikan istrinya, hanya karena wanita cantik,
aku tidak mau seperti itu... lebih baik aku hidup sederhana yg penting tentram dan bahagia, dari pada hidup kayak tapi hatiku hancur?

Suami : "(tersenyum) memegang tangan istrinya, seraya berkata : sayang... suamimu ini bukan lelaki seperti itu,
Bagaimana aku mau menikah lagi,, sedangkan istriku ini adalah wanita yang solehah & hebat, .. saat kehidupan kita kritis engkau selalu memahami, sabar dan trus berdoa, kau selalu menjadi penenang hidupku.. engkau tdk selalu mengkomplent, menuntut, apapun dalam kehidupan aku yg sederhana ini..

ketahuilah sayang, di akhirat kelak, satu istri saja tanggung jawabnya besar, apalagi dua.. aku tdk sanggup mengemban tanggung jawab sebesar itu.

saat kelak aku sukses, itulah masa untuk mbahagiakanmu...
bukan untuk menyakitimu sayang. krn suksesnya seorang suami di belakangnya ada istri yg hebat dan soleha.. yaitu kamu sayang... 😉

istri : 😰😰😰 terharu... Aku bangga memiliki suami sepertimu sayang...

suami : mencium kening istrinya sambil memeluk istrinya... ☺ aku sangat beruntung memilikimu.. wahai bidadariku.☺

Klik S**a dan Bagikan

WAHAI IBU TAUKAH BETAPA PENTINGNYA BAHASA IBU???Renungan Pendidikan  #43  Mungkin banyak diantara kita sering mengabaika...
18/07/2017

WAHAI IBU TAUKAH BETAPA PENTINGNYA BAHASA IBU???

Renungan Pendidikan #43



Mungkin banyak diantara kita sering mengabaikan pentingnya bahasa ibu (mother tounge) dalam pendidikan anak usia dini. Entah mengapa kita selalu terjebak kepada penjejalan aspek kognitif seperti calistung dan bahasa asing juga pengajaran kognitif lainnya yang belum waktunya pada anak anak usia dini.

Bahasa Ibu adalah bahasa dimana ayah ibu nya sangat fasih dan baik dalam mengekspresikan fikiran dan perasaan baik verbal maupun non verbal melalui suatu bahasa. Tanpa bahasa ibu yang baik, fitrah keimanan, fitrah belajar dan fitrah bakat sulit untuk tumbuh.

Fitrah keimanan dalam wujud sensitifitas nurani kebenaran dan ekpresi jiwa bahkan tidak terbangun tanpa bahasa ibu.
Fitrah belajar dalam wujud ekpresi gagasan dan nalar bahkan menjadi terhambat tanpa bahasa ibu.
Fitrah bakat dalam wujud ekspresi sifat diri dan pilihan aktifitas bahkan menjadi tertutup tanpa bahasa ibu.

Sebuah kisah berikut barangkali bisa menyadarkan kita. Pada tahun 1970, di California, seorang ibu berusia 50 tahun melarikan diri dari rumahnya setelah bertengkar dengan suaminya yang berusia 70 tahun. Ia membawa anaknya, gadis berusia 13 tahun.

Mereka datang meminta bantuan pada petugas kesejahteraan sosial. Tetapi petugas melihat hal aneh pada anak gadis yang dibawanya. Perilakunya tidak menunjukkan anak yang normal. Tubuhnya bungkuk, kurus kering, kotor, dan menyedihkan. Sepanjang saat ia lidak henti-henlinya meludah.

Tidak satu saat pun terdengar bicara. Petugas mengira gadis ini telah dianiaya ibunya. Polisi dipanggil, dan kedua orang luanya harus berurusan dengan pengadilan. Pada hari sidang, ayah gadis itu membunuh dirinya dengan pistol. la meninggalkan catatan, "Dunia lidak akan pernah mengerti."

Mungkin ia benar. Dunia tidak akan mengerti bagaimana mungkin seorang ayah dapat membenci anaknya begitu sangat. Penyelidikan kemudian mengungkapkan bahwa Genie demikian nama samaran gadis tersebut, melewali masa kecilnya di neraka yang dibuat ayahnya sendiri.

Sejak kecilnya ayahnya mengikat Genie dalam sebuah tempat duduk yang ketat. Sepanjang hari ia tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Malam hari ia ditempatkan dalam semacam kurungan dari besi. Seringkali ia kelaparan. Tetapi kalau Genie menangis, ayahnya memukulinya.

Si ayah tidak pernah bicara, Si ibu terlalu buta untuk mengurusnya, Kakak laki-laki Genielah akhirnya yang berusaha memberi makan dan minum. Itupun sesuai dengan perintah ayahnya, harus dilakukan diam-diam, tanpa mengeluarkan suara.

Genie tidak pernah mendengar orang bercakap-cakap. Kakaknya dan ibunya sering mengobrol dengan berbisik, karena takut pada ayahnya. Ketika Genie masuk rumah sakit, ia tidak diketahui apakah dapat berbicara atau mengerti pembicaraan orang. Ia membisu.

Kepandaiannya tidak berbeda dengan anak yang berusia satu tahun. Dunia mungkin tidak akan pernah mengerti. Tetapi ditemukannya Genie telah mengundang rasa ingin tahu para psikolog, linguis, neurolog, dan mereka yang mempelajari perkembangan otak manusia.

Genie adalah contoh yang langka tentang seorang anak manusia yang sejak kecil hampir tidak pernah memperoleh kesempatan berkomunikasi. Penemuan Genie menarik perhatian. Genie tidak dibekali keterampilan mengungkapkan pikirannya dalam benluk lambang-lambang yang dipahami orang lain.

Apakah kurangnya keterampilan ini menghambat perkembangan mental lainnya?
Apakah sel-sel otak mengalami kelambatan pertumbuhan?
Apakah seluruh sistem kognitifnya menjadi lumpuh?

Yang jelas fitrah Genie telah dirusak akibat komunikasi yang buruk, bahasa ibu yang tidak utuh sama sekali.

Tentu saja kita tak seburuk kisah di atas. Genie adalah contoh ekstrim.

Namun tanpa sadar kitapun mirip ayah Genie, karena sering menciptakan "kerangkeng" bagi anak anak kita dengan sesuatu yang belum waktunya sementara mengabaikan sesuatu yang penting pada usianya. Kita sering membuat kesempatan komunikasi menjadi terbatas karena berbagai obsesi dan alasan sehingga bahasa ibu tidak tumbuh sempurna.

Banyak orangtua dan guru merasa tidak mendidik apapun jika tidak mengajarkan atau mengkursuskan anak anaknya untuk calistung, jika tidak memboarding anak sejak dini, jika tidak memberi les untuk belajar berbagai bahasa asing padahal bahasa ibunya belum tuntas, padahal banyak kisah inspiratif sastrawi yang belum dibacakan dan diceritakan, dstnya.

Riset membuktikan bahwa anak yang belajar bahasa asing sejak dini umumnya mengalami gejala bingung bahasa dan mental block, yaitu kegagalan mengekspresikan gagasan dan fikiran, yang berakibat pada kejiwaan dan relasi sosial yang buruk.

Lihatlah Rasulullah SAW, walaupun beliau butahuruf, namun bahasa ibu nya telah fasih, utuh sempurna sepanjang masa balitanya. Maka sejarah mencatat bagaimana beliau dikenal sebagai manusia yang halus budi dan tutur katanya, sangat memahami kejiwaan seseorang melalui psikologi komunikasi baik, memiliki kemampuan yang hebat dalam mengekspresikan perasaan dan fikiran dstnya.

Bahasa Ibu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kegagalan mengekpresikan gagasan dan perasaan, kegagalan menangkap makna dari ekpresi seseorang baik tutur maupun gestur dstnya akan sangat berpengaruh pada keseluruhan konstruksi kejiwaan dan fitrah anak anak kita.

Konstruksi bahasa ibu yang buruk pada anak anak akan berpengaruh pada perkembangan jiwa, kesehatan fisik, relasi sosial pada tahap usia selanjutnya. Jangan remehkan keindahan bahasa dan sastra dalam menumbuhkan fitrah anak anak kita dan bahkan memerdekakan peradaban dunia.

Tanpa sensitifitas bahasa ibu, lalu bagaimana memahami, menghayati dan mengamalkan pesan pesan langit serta menangkap getar getar cinta Ilahi dalam kehidupan? Tanpa sensitifitas bahasa ibu, maka tidak terbayangkan bagaimana mampu menghayati bahkan mencintai alQuran dengan sastra yang begitu tinggi? Tanpa sensitifitas bahasa ibu, maka sulit dibayangkan bagaimana sensitif terhadap permasalahan ummat dan peradaban.

Pantas saja banyak yang tahu kebenaran namun gagal secara sensitif menghayati dan membela kebenaran.

Salam Pendidikan Peradaban
[Harry Santosa]


Mengasuh anak tanpa durhakaMama :“Ikraam! Kok makan permen sih, kan giginya masih sakit nak?” Anak :”Hm... aku lagi peng...
10/07/2017

Mengasuh anak tanpa durhaka
Mama :“Ikraam! Kok makan permen sih, kan giginya masih
sakit nak?”
Anak :”Hm... aku lagi pengen, kan udah lama gak makan
permen,ma”.
Mama :”Astagfirullah nak, Ikram lupa ya bagaimana sakitnya tuh
gigi kemaren?”
Anak :” hm.... enggak..!”
Mama :” Nah, kenapa sekarang makan permen?, dari mana itu
permen?”
Anak :”Dari nenek ma !”
Mama :” Astagfirullah !”
Does this sound familiar?
Populer sekali dimasyarakat kita anggapan atau pemahaman ini :Nenek dan kakek katanya lebih sayang sama cucunya dari pada sama anaknya!. Maka sering sekali peristiwa seperti diatas terjadi : Mama melarang makan permen, nenek beliin. Ayah larang nonton TV, kakek bilang gak apa pa sekali kali, kan sekolahnya sdh sampe sore, kasian cucu Kakek.
Selain itu,karena terlalu sayang sama cucu sering kali kakek dan nenek, terutama nenek ikut campur terlalu banyak dan sering dalam pengasuhan cucunya. Bukan saja mengatur orang tua si cucu tapi juga kadang intervensi langsung didepan cucunya.
Yang parah adalah bila kakek nenek tinggal serumah dengan cucu, atau orang tua menitipkan sang anak sama neneknya.. whuah.. hampir semua peraturan ada dua macam...
Biasanya aturan dari nenek lebih longgar atau tidak sesuai lagi dengan ilmu dan kesepakatan kedua orangtua. Cucu tentu memilih aturannya yang dibuat nenek dan kakek.
Buat orang tua terasa berat, bagaimana pun mereka ingin mengasuh anaknya dengan sebaik yang mereka ketahui dan bisa, tapi pada saat yang sama mereka tidak mau durhaka pada orang tua atau mertua..
Untuk menjawab banyak pertanyaan dan permintaan dari teman teman dalam grup ini, kali ini yuk kita bahas seluk beluk pengasuhan 3 generasi.
Mengapa masalah muncul ?
1.Keliruan kakek nenek sendiri, karena dulu ketika mengasuh anaknya tidak menggenapkannya dengan pengetahuan tentang tanggung jawab menjadi suami istri dan menjadi orang tua. Anak hanya dipersiapkan untuk menjadi : sarjana sesuai minat dan bakatnya, ilmuwan, enterpreuneur, dan pekerja. Sudah dianggap wajar kalau kini kakek nenek menanggungkan resikonya mengasuh cucu sebagai :Tanggung jawab & Cinta!. Kasian kalau cucu hanya diasuh oleh pembantu saja. Apalagi kalau pembantu itu berganti ganti terus.
2.Nenek dan kakek merasa sukses mengasuh anaknya dulu dan cenderung mengulanginya dalam mengasuh cucu. Padahal mereka tidak tidak tahu bagaimana sesungguhnya perasaan dan penilaian anak anaknya terhadap pola pengasuhan yang mereka terima dulu itu dan kini belum tentu seluruhnya dapat diterima oleh anak dan menantu mereka bila diterapkan pada anak anaknya.
Pengasuhan : Prinsipnya sama tapi zaman sudah berbeda: Orang tua kini (anak anak mereka ) sudah lebih Melek tentang PARENTING.
3.Tidak ada pembicaraan terlebih dahulu antara kakek nenek dan orang tua tentang GBPA : Garis garis Besar Pengasuhan Anak dan kemudian menyepakatinya.Tujuan apa yang mau dicapai, bagaimana mencapainya,apa PRIORITASNYA dan harapan orang tua tentang do’s and dont’s nya
4. “Dendam positif”. Dulu waktu kakek nenek membesarkan ortu, hidup banyak susahnya. Keperluan banyak, keuangan terbatas. Kini diusia tua, keperluan menurun keuangan lebih mapan dan ada p**a pemberian anak2. Maka kalau cucu meminta sesuatu,dulu sama emak atau bapaknya keinginan mereka ditahan, ditunda atau tidak dipenuhi, sekarang tidak ada alasan. Lagian ortunya “medit atau kenceng” banget.Kasihan tuh cucuc!. Jadi Nenek dan kakek lebih permissive/ membolehkan, bahkan agak sedikit berlebihan. Cucu minta permen satu dikasih dua atau tiga. Mau belajar dengan 3 temannya, bukannya dibelikan 4 popcorn, tapi selusin...
5.Kalau timbul masalah karena ke tidak sesuaian harapan dan apa yang dilakukan kakek nenek, ortu jadi “nggak-enak an” sama kakek nenek. Ngegerundel sendiri – masalah tidak terpecahkan apa lagi terselesaikan. Kejadian berulang , yang korban masa depan anak dan kesehatan jiwa ortu.
6.Kalau mau di “omongin” atau dibahas, nggak tahu bagaimana cara yang tepat dan benar. Ujung2nya pasti ketegangan kalau nggak mau dibilang konflik kecil pasti terjadi. Kakek nenek tersinggung atau sedih. Ortu merasa :”Duh gue durhaka nggak nih ya...”
i7. Ortu tidak tahu,bagaimana masa kecil kakek nenek. Jangan jangan ortunya mereka dulu : keras. s**a mgeritik atau cenderung memanjakan. Jadi kalau kakek nenek melakuka hal serupa adalah karena masa kecilnya dulu seperti iu (Inner childnya).
Jadi bagamana d**g ?
Dari sudut kakek nenek :
1.Kita sudah tua, dulu habis waktu kita untuk mengasuh, mendidik dan menyekolahkan anak anak kita. Kenapa kita sekarang harus p**a melakukan hal serupa terhadap anak anak mereka?.
Betul sebagai kakek nenek kita perlu bertanggung jawab pada Allah terhadap keturunan kita, tetapi kita harus sadar se sadar2nya bahwa kita bukan penanggung jawab utamanya. Yang diberikan benih dan yang mengandungnya lah yang telah dipilih jadi Baby Sitternya yang memberikan amanah.
Bukan kita !.
2.Jadi dengan segala kerendahan hati akuilah kekurangan dan kesalahan kita dalam mengasuh anak anak kita dahulu.Mungkin kita kurang menyiapkan mereka untuk menjadi suami-istri, ayah dan ibu. Wiring /Peng-kabel-an diotaknya adalah untuk berprestasi secara akademis dan kita minta mereka mati matian mempertahakan rangkingnya. Kini mereka berusaha sukses dan mempertahankan ke sukses annya didunia kerja.Dunia kerja lebih baik dan utama dari pada menjadi orang tua. Sehingga dengan mudah dan tanpa merasa bersalah mereka mensub kontrakkan anak anaknya.
Jangan jangan kita telah menjadi role model yang yang keliru yang mereka tiru…
Maka minta maaflah dengan jujur pada anak anak kita, karena ketidak sengajaan atau ke alpaan kita dalam membesarkannya telah menjadikan mereka orang tua yang kurang memiliki rasa tanggung jawab, keterampilan dan daya tahan atau endurance dalam menjalani peran ke orang tuaannya.
3. Anak anak kita harus bertanggung jawab pada si Pemberi amanah, bukan kita!. Bantu meluruskan pemahaman mereka dengan penuh kesabaran dan cinta serta pengorbanan. Setelah itu : Pulangkan saja cucu cucu pada ibunya atau ayahnya...
Tangan berbuat bahu memikul !.
4. Kita harus sadar benar, ketika kita muda kita sarat dengan berbagai upaya untuk survive sebagai orang tua dengan berbagai masalah yg kita hadapi. Sehingga mungkin ibadah dan amalan kita seadanya saja.Kita bersyukur dengan semua rahmat Allah yang diberikan kepada kita sehingga kita merasakan kenikmatan punya dan memelihara cucu, yang tidak semua orang mendapatkannya. Tapi kini p**alah, disisa sia usia ini saatnya bagi kakek nenek untuk beribadah dan melengkapi bekal akhirat., menikmati mekar diusia kedua, --- bukan dibebani cucu..
“For the seek of your mental health, Grands ---- you need space for yourself”:Phisically, mentally, emotionally, socially and spiritually. Enjoy your life !
5. Kalaulah ada hal yang kita rasa kurang pas dan kurang berkenan yang dilakukan anak anak kita dalam mengasuh cucu cucu kita, maka:
1. Bijaklah dalam menyikapinya.
2. Duduklah bersama. Tanyakan mengapa mereka
melakukannya. Semua tingkah laku punya alasan dan
punya tujuan. Mungkin mereka telah belajar atau
mempunyai ilmu baru dalam mengasuh anak sehingga
mereka tengah mencoba menerapkan cara cara yang
berbeda sesuai dengan perkembangan zaman.
3. Bila kita ada usulan sebaik mungkin bicara dulu dengan
ayahnya ( anak kita kah atau menantu), baru bicara
dengan ibunya. Ayah harus kita bantu untuk berfungsi
sesuai dengan perannya .
4. Fahami benar bahwa cucu kita hidup di era digital dengan
segala konseuensi dahsyatnya. Jangan kan kita, orang
tuanya saja tidak akan sanggup mengejar kecepatan
anak anak mereka dalam menggunakan dan
memanfaatkan teknologi ini. Maka mundurlah dengan
teratur, serahkan pada ibu bapaknya. karena kita hidup
pada dunia yang sudah sangat berbeda dengan mereka.
5. Banyak Sabar! dan sering gigit lidah.. tahan kata kata!
6. Tugas utama kita adalah untuk menjaga dan memelihara
bahwa semua berjalan sesuai dengan perintah Allah dan
petunjuk Rasul serta semua ketentuan yang ada dalam
kitab suci kita…
Maka jangan segan dan berhenti MENASIHATI, bukankah
sesungguhnya :”Addinu Nasihah” – Agama itu Nasihat!.
Dari sudut ayah ibu..
1. Yang harus anda berdua ingat adalah: Andalah baby sitternya
Allah.
Berarti andalah penanggung jawab utama pengasuhan dan
pendidikan serta keberlangsungan hidup anak anak anda,
bukan kakek neneknya apalagi baby sitter dan pembantu atau
pimpinan dan guru TPA - Tempat Pendidikan Anak. Anda
berdua wahai orang tua, di karuniai dan diamanahi oleh Allah
anak yang sempurna; Jangan sampai ketika di”p**angkan”
pada Allahnya dalam keadaan “bonyok”: fisik, jiwa dan
keimanannya . Harus anda ingat: Nanti jawab apa ya di
Mahkamah Hisab Allah?.
Jadi anda aturlah waktu dan tenaga menjadi orang tua.
2. Yang dibutuhkan anak itu darimu ayah dan ibu adalah WAKTU , bukan mainan dan hadiah tidak juga sekolah keren, reputasinya hebat dengan uang pangkal dan bayaran bulanan yang mahal . Masa depan itu bukan hanya tergantung pada keberhasilan akademis semata yang bersusah payah anda gapai. Bisakah dia sukses dengan iman yang rendah dan jiwa hampa menghadapi tantangan zaman dan persaingan yang semakin ketat luar biasa?. Ingatkah anda kisah Rasulullah yang me-lama- kan sujudnya agar cucu cucunya puas bermain di tengkuk dan belakangnya?. Dalam sujudnya saja, Rasulullah berusaha memenuhi kebutuhan jiwa cucunya pada saat mereka butuhkan dalam jumlah yang cukup. Bagaimana dengan anda ?
3. Pendidikan itu berlangsung dirumah – penanggung jawab utamanya anda : ORTU. Pembelajaran disekolah penangung jawabnya GURU – jangan diputar balik – Sebaiknya kita ikut melakukan kesalahan berjamaah?
4. Rezeki bukan hanya uang . Anak yang sehat lahir batin, sholeh dan beradab, bahagia dan gembira, cerdas secara intelektual , emosional dan sosial adalah garansi hidup dunia akhirat.
5. Jangan salah tangkap, bukan tidak boleh bekerja. Indonseian Neuroscience Society pernah menyarankan pada pemerintah agar keluarga yang punya anak balita salah satu ortunya harus tinggal dirumah sampai anaknya berusia 8 tahun. Bisa ayah , bisa Ibu!.
Seorang ahli tentang krisis usia separuh baya (maaf lagi lupa namanya) dari risetnya menyarankan : Agar ibu sebaiknya mulai bekerja penuh kalau anak bungsunya berusia 8 tahun. Harapan hidup perempuan Indonesia 75 -80 tahun. Masih banyak sisa usia untuk anda aktualisasi diri. Iya! memang gak bisa kalau anda bermaksud menjadi pegawai negeri.
Lagi p**a buat orang muda yang cerdas, multi talenta seperti anda, bekerja dan memperoleh rezeki kan tidak harus bermakna meninggalkan anak anda 8 – 5 setiap hari, yang kenyataannya anda akan meninggalkan rumah 14 jam lebih karena jarak dan transportasi. Kan anda bisa S-O-H-O : membuat Small Office Home Office ?. Hak anda untuk tidak setuju dan kesal dengan saran ini. Hidup ini adalah pilihan, hak anda untuk memilih. Tapi bijaknya juga harus siap menanggungkan segala konsekuensinya.
6.Apapun pilihan yang ayah ibu akan buat jangan lupa anda kini sedang membesarkan anak generasi Platinum di Era digital . Sebagai “orang muda” anda tahu semua konsekuensi yang terjadi pada anak anak kita sekarang ini. Ya Kecanduan internet, games, pornografi, dsbnya yang berakibat kerusakan pada otak dan akhlak.
Bagaimana mengsub kontrakkan anak kita pada orang lain, kita saja yang ngasuh bisa kewalahan . menghadapi pra remaja kita yang sekarang ini bisa jadi youtuber dan ‘memonetized’ akun medsos mereka?
Bagamana anak kita bisa bertahan dan tidak terpengaruh ?.
7.Kakek Nenek itu nak, bak Matahari!. Diperlukan oleh cucunya secukupnya saja : 30 menit sampai 3 jam sehari. Kalau berjemur kelamaan kena KANKER KULIT!. Itu saja anda harus pakaikan dia pelindung matahari yang SPF nya tergantung usia. Semakin muda usia,SPFnya makin tinggi.
8 Kalau anda dalam situasi tertentu: Suami tidak bekerja dll maka ayah dari anak anak harus bertanggung jawab untuk membicarakan dan membahas GPBA dengan kakek nenek sebelum anak anakmu kau titipkan. Kalau Single Parent, dimana anak anak sudah tak berayah berpisah atau pergi selamanya, ibulah yang harus melakukannya . Jadi semuanya jelas :aturan dan konsekuensinya. Nanti semua ini di evaluasi secara bijak dan penuh kasih sayang.
9. Pada prinsipnya usahalah untuk tidak membenani kami : kakek neneknya. Walaupun permintaan mereka karena mereka menghadapi syndrome :Empty nest. Percayalah nanti misahinnya susah sekali.. lagi p**a prinsip pengasuhan sama, zaman telah berbeda – bila tak berkesesuaian anda marah dan kecewa?.
10. Kakek dan Nenek tidak didisain oleh Allah untuk mengasuh cucu, karena mereka :
a.Mengalami perubahan Fisik : semua fungsi organ tubuh menyusut
karena usia, termasuk Osteoporosis dan berbagai gangguan kesehatan.
b.Dalam proses menjadi tua, hormon testosterone pada kakek dan Estrogen dan Progesteron pada nenek menurun drastis.
c.Perubahan hormonal tersebut menyebabkan perubahan emosi. Bila tersinggung sedikit sedihnya mendalam dan lama.Bila kesungging sedikit bisa marah besar..
d.Masalah dalam kehidupannya membuat persepsi mereka tentang hidup jadi berubah. Kalau anda mengajaknya untuk pesiar lalu anda mau nitip anak karena anda ada Kongres, dia gak butuh pesiar itu. Dia mendingan di rumahnya bisa ke mesjid, sholat berjamaah, pengajian atau ngobrol sesama teman teman seusianya.
Nah, bagaimana kalau anda ingin mengoreksi kakek nenek atau ingin menyampaikan pesan padanya tanpa takut di cap kualat atau durhaka, ini kiatnya
a. Rendahkan dirimu dan suaramu
b. Rumuskan pendapatmua dan ajukan dalam kalimat
bertanya.
c. Tanyakan pendapat beliau
d. Kalau beliau bertanya baru jelaskan maksudmu.
e. Tanya agi menurut kakek nenek bagaimana sebaiknya
f. Hindari menggurui ortumu, betapapun pintar dan tingginya
pendidikanmu.
Kalimat bertanya yang diajukan tidak mesti mendapatkan jawaban segera karena ,pertanyaan membuat seseorang sadar diri.
Jadi lihat baik baik kedalam hidup anda: apa prioritas hidup anda sebenarnya?
Jelas ? mengapa bangsa kita sekarang seperti ini, karena pengasuhan kita anggap tidak penting, kita hibah hibahkan/ sub kontrakan pelaksana pengasuhan anak kita. Mereka tumbuh besar, kuat dan pintar tapi hampa jiwanya.. Bagaimana generasi bangsa ini mau kuat?
[Elly Risman]

Address

Malang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Distributor Kaos Zahra Malang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share