31/08/2026
"Kau pikir m a ti-m a tian aku menjadi penjaga h a r g a diri di r u m a h ini?! Cukup, Azhari! Ambil kembali u a n g yang kauhitung sampai ke rupiah terakhir itu, lalu angkat kaki dari kehidupanku!"
Jeritan penuh kebencian itu bergaung kencang, merobek ketenangan di sore yang muram. Bukannya merasa bersalah setelah berbulan-bulan mengeruk isi dompetku, perempuan yang kukira lembut itu justru melayangkan makian paling menyakitkan persis di depan wajahku.
3
Janji Tinggal Janji
Suara denting sendok yang bertabrakan dengan cangkir kaca menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi meja sudut kedai kopi kecil itu. Aku menatap c a i r a n hitam yang menggenang tenang, lalu mengalihkan pandangan pada perempuan di hadapanku. Cahaya lampu kedai memantulkan wajah Nurma yang tampak sibuk mengusap layar ponsel pintarnya.
Jemariku meremas pinggiran dompet k u l i t yang terasa makin t i p i s di dalam saku c e l a n a. Ada hitungan angka-angka yang terus berputar di kepala, menagih kepastian atas tabungan g a d i s yang sedang kupersiapkan demi melangkah ke jenjang pernikahan.
"Nurma..." panggilku pelan, memecah kesibukan jemarinya.
Nurma tidak langsung mendongak. Ia menggeser layarnya sekali lagi sebelum akhirnya menatapku dengan alis terangkat sebelah. "Kenapa, Mas?"
"Soal u a n g lima juta tiga ratus ribu yang kemarin-kemarin itu..." Aku menggantung kalimat, menata nada suara agar tidak terdengar seperti penagih u t a n g yang k a s a r. "Kira-kira minggu ini bisa dikembalikan sebagian kecilnya dulu?"
Perubahan di wajahnya terjadi begitu cepat. Senyum t i p i s yang tadi sempat menghiasi b i b i r n y a lenyap seketika, berganti dengan lipatan t a j a m di antara kedua alisnya.
"U a n g yang mana lagi maksudmu, Mas?" suaranya meninggi satu oktaf, menarik perhatian dua pengunjung di meja sebelah.
"U a n g yang dua bulan lalu untuk DP p a k a i a n keluarga, terus yang tiga minggu lalu untuk bayar tagihan mendadak adikmu," sahutku selembut mungkin, mencoba mempertahankan ketenangan. "Tabungan nikah kita di r e k e n i n g utama tinggal sedikit lagi untuk menutupi biaya gedung. Kalau ada separuhnya saja yang masuk, aku bisa langsung lunasi DP-nya minggu ini."
Nurma melemparkan ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang cukup k e r a s. Ia bersedekah lipat d a d a, menatapku dengan sorot mata yang mendadak dingin.
"Jadi kau menghitungnya serinci itu, Mas? Kau catat setiap lembar yang kumpinta kemarin?"
"Bukan begitu, Nurma. Kita kan sudah sepakat dari awal," kelihku, menatap matanya dalam-dalam. "Kau sendiri yang bilang waktu meminjamnya, 'Nanti kalau arisan bulan ini cair, langsung kuganti ya, Mas'. Aku tidak pernah memaksa meminta kalau kau tidak berjanji dari awal."
"Astaga, Azhari! Kau ini calon suamiku atau lintah darat?!" bentaknya tanpa memedulikan tempat. Matanya m e l o t o t lebar. "Hanya karena u a n g tidak seberapa itu, kau menagihku seperti orang tidak punya etika di tempat umum begini?!"
"Pelankan suaramu, Nurma. Ini tempat umum," bisikku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Aku menagih baik-baik. Aku bicara berdua saja denganmu, bukan mempermalukanmu."
"Tapi caramu itu mempermalukan aku!" p o t o n g n y a cepat. Wajahnya memerah menahan amarah yang m e l e d a k-ledak. "Harusnya kau malu sebagai lelaki! Belum juga sah menjadi suami, kau sudah berhitung rugi-laba sama calon istrimu sendiri. Mana ada lelaki ikhlas yang mencatat u a n g makan dan u a n g jajan calon istrinya?!"
"Itu bukan u a n g makan atau u a n g jajan harian, Nurma," tegasku, merasa h a r g a diriku mulai diinjak-injak. "Itu u a n g simpanan khusus yang harusnya utuh di r e k e n i n g. Aku menyisihkannya dari gaji bulanan sambil menahan lapar di kantor. Kau tahu betul bagaimana aku menghemat pengeluaran pribadi demi pesta yang kau minta."
"Alasan!" Nurma berdiri mendadak hingga kursi kayu yang didudukinya terdorong ke belakang dan berderit nyaring. "Kau itu memang pada d a s a r n y a tidak ikhlas membantu! Kau cuma mau kelihatan gagah di depan ibuku, tapi di belakang kau hitung setiap sen yang keluar dari kantongmu!"
"Nurma, duduk dulu. Kita bicarakan ini baik-baik," pintaku sambil memegang pergelangan tangannya.
Namun, ia langsung mengibaskan tangannya dengan k a s a r. "Jangan s e n t u h aku! Aku tidak sudi d i s e n t u h lelaki perhitungan macam kau!"
beberapa pasang mata di kedai kopi itu kini tertuju penuh ke meja kami. P e l a y a n di dekat kasir bahkan menghentikan usapannya pada gelas basah, menatap kami dengan pandangan penuh selidik.
"Nurma, t o l o n g... jangan buat keributan di sini," bisikku, meresapi rasa malu yang menjalar hebat dari leher hingga ke ujung kepala.
"Biarkan orang tahu!" teriaknya makin menjadi-jadi. "Biar semua orang di kedai ini tahu kalau calon suamiku ini lelaki yang perhitungan! Minta ganti u a n g yang sudah dipakai calon istrinya sendiri! Kau pikir aku g a d i s m u r a h a n yang bisa kau iming-imingi janji manis lalu kau t a g i h kembali u a n g n y a?!"
Aku terdiam kaku di kursi. Lidahku terasa kufur untuk m e m b a l a s. Kata-kata yang keluar dari b i b i r n y a bukan lagi sekadar luapan emosi, melainkan t e m b a k a n tepat yang m e n g h a n c u r k a n seluruh simpati yang kubangun selama berbulan-bulan.
"Kau mau u a n g itu kembali, kan?" Nurma merogoh tas selempangnya dengan gerakan k a s a r. Ia menarik dompet lipatnya, mencabut dua lembar u a n g seratus ribuan, lalu melemparnya tepat ke atas meja, persis di dekat cangkir kopiku. "Nih! Ambil u a n g mu ini! Ambil!"
"Nurma!" panggilku dengan suara tertahan, berusaha menghentikan k e g i l a a n ini.
"Simpan u a n g mu itu m a ti-m a tian! Jangan pernah sok kaya kalau ujung-ujungnya kau minta ganti!" serunya dengan nada penuh h i n a a n.
Tanpa menunggu sahutanku lagi, Nurma menyambar tasnya, berbalik arah, dan melangkah lebar meninggalkan kedai kopi. Pintu kaca kedai berdenting nyaring saat ia m e m b a n t i n g n y a dari luar, meninggalkanku yang terpatri bisu di tengah tatapan kasihan dan sinis dari para pengunjung lainnya.
Aku menunduk, menatap dua lembar kertas merah yang tergeletak tak berdaya di atas meja kayu. Jemariku gemetar pelan saat mengambilnya. Bukan rasa m a r a h yang pertama kali hadir merayapi d a d a, melainkan rasa sesak luar biasa atas kesadaran bahwa perempuan yang ingin kujadikan pendamping r u m a h tangga ternyata mampu merendahkan derajatku semudah ini.
Aku membayar cangkir kopi yang bahkan belum habis separuh, lalu berjalan keluar menuju area parkir. Angin sore Kota Medan menyapu wajahku yang terasa panas. Aku menaiki sepeda motor, membelah kemacetan jalanan menuju r u m a h kontrakan sederhanaku dengan pikiran yang melayang liar.
Sesampainya di k a m a r, aku melemparkan kunci motor ke atas meja kerja. Aku duduk di tepi r a n j a me pakan jemari di atas lutut, menatap pantulan diriku di cermin almari. Usia tiga puluh delapan tahun bukan lagi usia untuk bermain-main dengan perasaan. Aku menginginkan r u m a h tangga yang tenang, bukan arena pertarungan ego yang menguras air mata setiap minggu.
Ponsel di saku c e l a n a k u bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk terlihat di layar. Aku membukanya dengan sisa harapan t i p i s bahwa ada sedikit rasa penyesalan dari Nurma atas kejadian m e m b a n t i n g barang di kedai kopi tadi.
Namun, pesan yang tertera di layar justru membuat d a d a k u kian d i h a n t a m godam berat:
"Jangan pernah cari aku lagi kalau kau belum berubah jadi lelaki yang mau b e r k o r b a n! Aku tidak butuh calon suami yang o t a k n y a cuma isi hitung-hitungan u a n g. Kalau kau masih ungkit-ungkit masalah u a n g yang kemarin, lebih baik kita tuntaskan saja semuanya sampai di sini!"
Aku menarik n a p a s panjang, menghembuskannya perlahan lewat mulut yang terasa pahit. Belum sempat jemariku mengetikkan b a l a s a n untuk meredakan ketegangan, telepon r u m a h bertanggal lama di atas meja samping r a n j a ng mendadak berdering nyaring.
Aku menggeser layar ponsel, mengangkat panggilan masuk yang berasal dari nomor yang sangat kukenal—nomor Ibu kandung Nurma.
"Halo, Assalamu'alaikum, Bu..." panggilku dengan suara yang diusahakan se tenang mungkin.
"Azhari..." Suara wanita paruh baya di ujung telepon terdengar bergetar, diselingi isak tangis yang berusaha ditahannya. "Azhari, Nak... t o l o n g Ibu, Nak..."
J a n t u n g k u berdegup kencang secara mendadak. "Ada apa, Bu? Kenapa Ibu menangis?"
"Nurma, Nak... Nurma pulang ke r u m a h sambil mengamuk hebat. Dia m e m b a n t i n g barang-barang di k a m a r n y a, lalu..." Suara Ibu Nurma terputus oleh tangisan yang makin pecah.
"Lalu kenapa, Bu?! Apa yang terjadi pada Nurma?!" cecarku sambil bangkit berdiri dari tepi r a n j a ng, cemas memuncak.
"Dia mendatangi Ibu sambil membawa gunting, Azhari! Dia bilang mau m e n g a k h i r i hidupnya kalau kau tidak datang malam ini juga meminta maaf padanya!"
Bagaimanakah nasib Azhari setelah mendengar ancaman nekat dari Nurma, dan kepastian mengerikan apa yang sebenarnya sedang disiapkan keluarga Nurma di balik r u m a h mereka malam itu?
✨ Penasaran dengan kelanjutan kisah seru ini? ✨
👇 Yuk, baca bab selengkapnya dan dukung karya orisinal penulisnya hanya di aplikasi KBM APP! 🚀
📖 Judul: MAAF, AKU BUKAN LELAKI PELIT 🍌
✍️ Karya: Deelove 🍉