08/11/2024
PERNIKAHAN KEDUA IBUKU
Bab 4
Arya bersiap siap dengan merapikan dasinya di depan cermin, bibir tipis itu mengurai senyum bola mata hitam legam kini menyorot tajam. " Wah sangat tampan," gumamnya sambil membenarkan posisi rambutnya.
" Arya bibik keluar dulu ya, jangan lupa kunci rumah nanti setelah kau pergi sekolah," jeritan dari luar begitu jelas terdengar.
" Iya bik," Arya mengambil tasnya, kini ia telah siap untuk berangkat menempuh pendidikan.
Arya meletakkan motor di tempat parkir, mata menyipit kala melihat Alisya berjalan sambil membaca buku, semakin lama Alisya semkain dekat dengan Arya. Ketika kepala gadis itu hendak menyentuh tiang sekolahnya, dengan cepat Arya meletakkan tangany di tiang itu hingga kepala Alisya di lindungi oleh tangan Arya.
" Si kutu buku," panggil Arya dengan nada mengejek.
Alisya menarik nafas panjang kemudian hendak melnqhkahkn kakinya, namun Arya kembali mencengkram tangan gadis itu.
" Aku baru saja menyelamatkan kepala mu, tidak ada kata terima kasih untuk ku," wajah Arya terlihat kesal.
" Terima kasih," Alisya membalas dengan ketus.
" Heii, aku masih penasaran bagaimana orang seperti mu bisa menjuarai berbagai macam piala, kau pasti curang kan,"
" Anak baru, aku sama sekali tidak melakukan kecurangan apapun, aku menang karna kepintaran ku, dan kau. Kau merasa iri dengan apa yang aku capai kalau begitu jadilah pesaing ku, lawan aku di setiap ada olimpiade di sekolah ini, dan jangan lupa belajarlah dengan giat agar kamu tidak mengecewakan orang tua mu," Alisya berlalu meninggalkan Arya yang masih mematung mendengar ucapannya.
Arya menggenggam kuat tangannya, merasa kesal pada Alisya namun ia tidak bisa bertindak kegabah, garos senyum kembali terukir di bibirnya.
Begitu jam pelajaran di mulai seperti biasa Alisya masih dengan dunia mimpinya, Arya masih fokus pada pelajaran namun ia masih tidak sepintar Alisya saat guru melontarkan pertanyaan Alisya lagi lagi bisa menjawabnya.
Setelah jam istirahat berbunyi Alisya di ajak oleh iske dan nskiwiwjf, untuk pergi ke kantik guna mengisi perut mereka, Arya berpura pura tertidur merasa target telah pergi Arya dengan langkah pelan menuju meja Alisya dan merobek robek buku gadis itu, setelah selesai ia kembali duduk di kursinya.
" Kau menggurui ku tadi kan sekarang mari kita lihat bagaiman mau bisa belajar jika semua buku mu telah rusak," Arya bahkan memasang senyum manis di wajahnya.
Begitu jam isttemah usai Alisya membuka tasnya mata gadis itu melebar sempurna buk buku sekolahnya telah habis di gunting Alisya berteriak dan menanyakan siapa yang melakukan hal itu, namun tak ada satupun yang mengakui karna Memnag Arya melajanknya saat kelas kosong.
Ke esokan harinya Alisya kembali di buat kesal, sesoarng telah merobek isi kertas ujian gadis itu, Alisya menggenggam kuat kertasnya kemudian mecapkaknnya di tong sampah,
Langkah gadis itu menuju keluar dari ruang guru, mata ya kini kembali memanas mendapati sepatu miliknya telah di robek robek hingga tidak bisa lagi di gunakan.
Alisya melihat kanan kiri namun nihil tidak tnda tanda, Alisya menggigit kuat bibir bawahnya menahan tangisnya, tidak ada lilhba lain Alisya masih menggunakan sepatunya walau jari jari kakinya terlihat keluar.
Kembali gadis itu mengulum bibirnya berusaha menghilangkan sakit di hati, siapa yang tega melakukan ini padanya sungguh perbuatan tidak terpuji, tidak sampai di situ Alisya mendapati ban sepedanya kempis sehingga tidak memungkinkan untuk mengendarainya.
Gadis itu menarik nafas dalam menghembuskannya ke udara, rasa sakit semakin bertambah kenala bebrap hari ini ada saja yang mencoba mengganggunya, Alisya kembali melihat kanan kiri berharap mendapat jenak si pelajj namun tetap saja ia tidak bisa menemukan nya.
Air mata sempat menetes mengenai p**i putihnya dengan Alisya menyekanya, mungkin dalam beberapa waktu orang itu akan bosan mengganggunya.
Arya mengukir senyum di bibirnya namun senyumnya seketika menghilang kala mendapati Alisya meneteskan air mata, tiba tiba rasa bersalah menghimpit hari Arya. Arya memutuskan untuk mengikuti Alisya p**ang kerumah dia ingin tau di mana Alisya tinggal.
" Huhh, gila bagaimana dia bisa naik sepeda ke sekolah seperti ini rumahnya begitu jauh," Arya mengilap keringat di dahinya dia memutuskan untuk berjalan kaki mengikuti Alisya karna kalau dengan motor bisa saja Alisya curiga.
Kini Arya menghentikan langkahnya mata melihat lekat ke arah rumah Alisya, rumah yang begitu sederhana rumah terbentuk dari kayu, dan memiliki kolong di bawahnya.
" Alisya ada apa, kenapa sepedanya di dorong ?" Ambar dengan jalan pelan mengahampiri sang cucu terlihat berkeringat.
" Ban bocor nek," jawab gadis itu terengah.
" Jadi dari sekolah Samali di rumah kamu berjalan sambil membawa selesai ini,"
" Iya nek," Alisya mengibas ngibas tangannya Guan meribgkan rasa panas.
Sang nenek hanya manarik nafas dalam.
" Alisya sudah p**ang," Heru .emarkkrkan motor nya kemudian duduk di samping Naka gadis ya itu.
" Iya ayah,"
" Heru lihat, sudah berapa kali ibu bilang ganti ban sepeda anak mu lihat, ban bocor kasiabn dia harus berjalan dari sekolah Samali di rumah,"
" Bener Alisya?" Tanya Heru.
Alisya hanya mengangguk membenarkan ucapan Ambar.
" Ya sudah nantik yah betulkan ya," lagi lagi gadis itu hanya mengangguk.
Heru menatap sepatu yang di kenakan anaknya. " Alisya kenapa dengan sepau mu," tanya Heru.
" Oh e, ini ayah, it-itu,"
" Itu apa, apa ada yang mengganggumu di sekolah,"
" Tidak, tidak sama sekali tidak, ini karna Alisya kesal ban sepedanya bocor lalu Alisya menghemp***an kaki di udara, dan tidak sengaja ternyata sepatunya tertanjam di pagar kawat besi, Alisya tidak hati hati Alisya menariknya dan ternyata jadi seperti ini,"
" Dua duanya?"
" Iya ayah, maafkan Alisya," Alisya menunduk merasa bersalah pada ayahnya, karna dia tau tidak mudah bagi sang ayah untuk membeli sesuatu makan 3 kali sehari saja sudah sangat bersyukur,"
" Tidak masalah ayah akan bekerja lebih giat untuk membeli sepatu mu,"
" Tidak usah memaksakan diri ayah, nantik ayah sakit lagi, Alisya bisa bertahan dengan selalu ini, jangan khawatir Alisya akan berhemat untuk membeli sepatu baru,"
Mendengar perbincangan keluarga Alisya membuat Arya tertunduk malu, ia benar benar merasa bersalah atas tindakan konyolnya. Ternyata selama perbuatan jahilnya Alisya sama sekali tidak menceritakan itu pada keluarganya.
Arya memilih untuk p**ang, bayang bayang percakapan satu keluarga itu terus ada di memorinya, hingga akhirnya dia menjual sepeda motornya dan menggantikan dengan sepeda bisa dia bertekad untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia merasa itu sudah sangat keterlaluan.
____
" Alisya ini dia nak, tolong antarkan ya,"
" Baik nek," seldan Alisya telah di perbaiki oleh ayahnya, kini ia bisa bepergian dengan sepedanya lagi.
Alisya menaruh kue hasil pesanan pelanggan dengan hati hati di keranjang sepedanya, Alisya menaruh sekdanya dengan pelan, setelah menyelesaikan pekerjaan Alisya kembali p**ang ke rumah, namun di sela sela perjalananya ada sebuah mobil mewah menghalangi jalan gadis itu.
Dada Alisya Naim turun setelah mengetahui siapa yang di hadapannya ini. Manda berjalan pelan menghampiri Alisya.
" Sayang nak, ini ibu, kamu rindukan dengan ibu,"
" Kenapa ibu ke sini lagi, belum puas nyakitin aku dan ayah, bukankah ibu sudah punya keluarga baru, untuk apa lagi menemui ku," Alisya menahan air matanya sekuat tenaga, tidak di pungkiri bagaimana pun juga Manda adalah ibu kandungnya tentu di lubuk hatinya yang paling dalam tersirat rasa rindu.
" Alisya ibu tidak tidak pernah menyakiti mu, juga ayah mu, ok. Ibu memang pergi mencari kebahagiaan lain, tapi itu semua salah ayah mu dia tidak bisa bekerja keras, ibu lelah hidup miskin terus sya, ibu udah gak sanggup lagi," Manda tak kuasa menahan isam di dadanya.
" Lalu supaya ibu tidak miskin lagi, ibu rela menjadi simpanan pria lain," Alisya mengusap air matanya dengan kasar.
Alisya sungguh mengingatnya dengan jelas di mana, Manda di jemput oleh laki laki, berpakaian mewah. Sebelumnya Manda bertengkar hebat dengan Heru, hingga ia mengemasi semua barangnya dan pergi bersama pria asing.
Alisya menangis dan menahan Manda sekuat tenaga namun Manda malah mendorongnya tanpa menghiraukan tangis pilu Alisya.
3 tahun yang lalu sudah berlalu namun sakit itu belum pernah berubah tetap bahakn bertambah parah, kala kejadian itu Manda tidak pernah lagi bertemu dengan Alisya, sampai hari ini tiba.
Alisya juga tau bahwa pria yang menjadi kekasih ibunya memiliki istri, namun istrinya sedang berada di rumah sakit. Alisya mend evar perbincangan sanag ayah dan nenek itu sebabnya dia tau siapa pria yang merebut ibunya dari ayahnya.
" Alisya perhatikan bicara mu, sekarang ibu sudah menikah dengannya, jadi jangan bicara seperti itu lagi,"
" Ternyata benar yang aku lihat beberapa waktu lalu, ibu berhasil menikah dengan pria itu, apa karna istri sahnya temah tiada,"
" Alisya!" Tanpa sadar Manda meninggikan nada bicaranya.
" Sudah lah ibu, pergilah kepada keluarga baru mu, anggap ibu tidak pernah punya anak seperti ku," Alisya hendak mendahungkan lagi seldanya namun Manda masih mencegah gadis itu.
" Alisya ibu mohon, kali ini saja dengarkan ibu. Nak ibu tidak mau kamu hidup seperti ayah mu, kamu tau kondisi kesehatan ayah mu seperti apa, jadi tolong lah ikut bersama ibu, ibu akan mmberikan segalanya padamu, pak Tomi juga tidak mempermasalahkan kehadiran mu dia sangat menunggu mu datang tinggal bersama kami, kamu akan hidup mewah semua keinginana mu akan terpenuhi, dan kamu bisa bersekolah sampai sarjana, ayo ikut dengan ibu nak," Manda memegang tangan Alisya, namun Alisya menhempasnya.
" Aku bisa hidup dengan kemaurga ku tanpa mu, buktinya 3 tahun terakhir ini aku masih hidup, masih bisa bernafas, dan bersekalh dengan hasil reilayah ayah ku sendiri aku juga tidak masalah hidup seperti ayah, dan aku menginginkannya dari pada hidup sepert ibu, mewah tapi merampas kebahagiaan orang lain, dan aku tidak masalah dengan kondisi tubuh ayah, aku bisa menjaganya. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan ayah, aku akan selalu ada di posisinya," Alisya kembali mengayuhkan seldanya namun lagi lagi Marinda berhasil menghalangi gadis itu.
" Ok, ok. Baiklah, kalau kamu main bersikeras dengan pendirian mu, ibu kan memberi mu waktu dan suatu saat kamu akan menyadari bahwa apa yang ibu ucapkan ini benar adanya, ibu akan menunggu untuk kamu bisa menerima semuanya dan tinggal bersama ibu, nak."
" Jawabannya akan tetap sama, tidak akan pernah,"
" Tunggu Alisya, jika kamu tidak mau ikut ibu, maka tolong ambillah ini, ibu membelikan mu banyak pakaian, dan kebutuhan mu lainnya di usia mu yang sekarang ambillah nak,"
" Sejak kapan ibu perduli, tentang apa yang aku butuhkan di usia ku sekarang, tapi kenapa ibu tidak peduli di saat aku membutuhkan ibu, di tiga tahun yang lalu, ibu tau aku sangat kelelahan aku ingin berteriak mengamuk, dengan keadaan yang aku alami, tapi tidak kisnabak aku bisa melewatinya. Jadi jangan khawatir ibu aku sudah terbiasa tanpa ibu, dan aku berjanji tidak akan menganggu kehidupan bahagia mu lagi," kali ini Amanda tak sanggup menahan kepergian anak kandungnya itu,
sepeda Alisya kayuh cukup kencang guna untuk menjauh dari Manda dengan cepat. Ia sama sekali tidak menghiraukan paperbag yang begitu banyak di tangan Manda. Manda hanya tertegun menunduk dengan apa yang dia alami beberapa detik lalu, sungguh dia tidak menyangka bahwa putrinya bisa berkata seperti itu.
" Apa yang kau lakukan pada putri ku heru, sehingga dia membenci ku. Aku berjanji akan membawa putri ku kembali, ibu tidak bisa hidup tanpa mu nak, walau ibu sudah mencoba selama ini ibu juga tersiksa Alisya, butuh waktu lama untuk membujuk Tomi bisa menerima mu," batin Manda.
***
Di KBM sudah tamat
Mildayani13
Judul ; 1000 bintang