Buku novel

Buku novel Berbagai cerita seru dan menarik dapat menghibur anda ikuti like end komen agar tidak ketinggalan 🌷

11/12/2025

__KIRANA SI ANAK BUNGSU__

"Kiran Kirana, Kirana bangun udah udah jam segini kamu gak kerja," Halimah terus menggendor pintu kamar anak bungsunya itu.

" Iyaa buk ni udah bangun kok," Kirana membuka mukenanya yang masih ai kenakan saat sholat subuh, Kirana belum melep***annya karna ketiduran.

Kirana anak bungsu dari tiga saudara, kedu abangnya menetap di kota setelah jadi sarjana, sementara Kirana hanya tamatan SMP, gadis itu tidak punya gelar yang harus dia banggakan , berbeda dengan ke dua abangnya yang mempunyai kehidupan layak di luar sana .

Kirana harus bekerja banting tulang untuk mendapat kan apa yang dia inginkan, Kirana mulai bekerja saat ia sekolah SMP, gadis itu menjajakan dagangnya pada teman teman sekolahnya, tak sedikit juga para siswa mengejeknya, tapi Kirana tidak memperdulikannya bagi dia selagi itu halal apa salahnya.

" Sarapan dulu ibu udah masak telur dadar,"

" Iyaa bu," kirana makan dengan lahap bukan karna lapar, tapi ia sudah kesiangan.

" Udah bu, Kirana berangkat dulu ya," gadis itu dengan cepat meneguk air.

" Duhhh moga buk amabar gak marah," celetuk gadis itu berjalan dengan cepat.

" Ana kamu dari mana aja, tumben tumbenan kamu telat," buk Ambar berseru setelah melihat gadis itu sampai.

Dengan terengah engah Kirana menjawab. " Maaf bu Kiran kesiangan," ucap gadis itu.

" Hmmm yaudah kamu tolong urus ini ya," Ambar menunjukkan beberapa buku yang belum di susun.

" Iyaa buk siap," gadis itu menjawab dengan cepat.

Kirana bekerja di toko buku selama 7 tahun, upah yang dia dapatkan dia serahkan pada ibunya, bahkan dia lupa dengan dirinya sendiri, Kirana tidak bisa menikmati uangnya sendiri karna gadis itu membiayai ibunya, dan segalanya tentang rumah.

Sejak dia SD ayahnya telah pergi untuk selamanya, ibunya lah yang membiayai sekolah kedua bangnya, sedangkan Kinan berjualan saat SMP, hasil yang dia dapat sangat membantu ibunya.

Kirana sempat memohon pada ibunya agar dia bisa meneruskan sekolahnya, tapi sang ibu menolak keras, dan beralasan tidak punya uang untuk menyekolahkan Kirana, bahkan Kirana sudah mengatakan akan bekerja sambil sekolah, tapi ibunya tidak memperdulikan.

Sekolah tinggi tidak terlalu penting untuk perempuan, ujung ujungnya ke dapur juga. Pikiran ibunya saat ini, tapi dia sanggup menyekolahkan ke dua putranya hinga sarjana.

Jam kerja pun telah usai, tidak lupa Kirana juga membeli beberapa obat obatan untuk sang ibu.

" Buk, ibuk minta uang aja sama bang ridho atau bang oji untuk biaya ibu berobat, ibuk kan bentar lagi mau cek up ke dokter uang kinana gak cukup bu, untuk makan kita sebulan," Kinan berucap sambi memberi obat pada ibunya.

" Ya jangan lah kasiahan abang kamu gaji dia kan pas pasan,"

" Buk abang udah lulus 2 tahun lalau mereka kan udah kerja buk, sesekali jugak kan gak tiap hari, kita juga lagi perlu kan, itu buat ibu loh bukan buat Kinan, masa gak ada jugak selama ini apa pernah kita minta duit ke mereka," ujar Kinan mengingat ingat sudah berapa lama ke dua saudaranya tidak p**ang ke rumah.

" Jadi kamu mau ngungkit gitu, karna selama ini kamu yang kasi makan ibuk," Halimah mulai terbawa emosi.

" Gak gitu juga buk, ibuk kan tau sendiri berapa gaji Kinan, buat makan aja udah syukur buk,"

" Ya kamu gak bisa apa pinjem dulu sama bos kamu,"

" Gak enak atuh buk kan kemarin baru aja minjem,"

" Terus gimana masa minta sama abang mu dia kan juga susah di sana,"

" Buk anak ibuk itu sarjana ada gelarnya kerjaan yang nyarik mereka bukan mereka yang nyarik kerjaan, lagian buk udah 2 tahun loh mereka lulus katanya kan udah dapet kerjaan, tapi ada gak dia ngirim ke ibuk, gak ada kan mereka udah lupa sama ibuk, " kinana tampak mulai emosi.

" HEH KELUAR KALIAN KELUAR KAMI MAU NAGIH HUTANG MENAGIH PERJANJIAN, " suara teriakan bergemuruh di luar rumah mereka.

Dengan penasaran Kinan melangkah keluar rumahnya, 5 orang berbadan besar tegap memasang wajah garangnya seperti mu makan orang ada satu orang berpakaian rapi seperti ketua kump**an itu.

" Hah ada apa ni, kenapa pak, " Kinan yang merasa tidak masalah dengan mereka, merasa heran dan terganggu.

" Mana ibuk Halimah, seret dia ke sini," pinta seorang berbadan besar lengkap dengan tatonya.

" Ada urusan apa dengan ibu saya," Kinan tampak semakin emosi p***a ibunya di pandang rendah oleh mereka.

" Apa urusannya kamu bilang, kami di sini menagih hutang, atas nama Halimah,"

" Hutang, ibu hutang sama kalian," Kirana memasang wajah tidak percaya, pasalnya setau ia ibunya tidak ada hutang apapun, atau ibunya diam diam punya hutang.

Cerita selengkapnya ada di KBM aplikasi

Judul : Kirana si anak bungsu
Penulis: mildayani 1213

DETEKTIF THE SCHOOL Bab (1)Di sebuah gedung nan menjulang tinggi terdengar suara musik menggema di seluruh  ruangan, par...
30/11/2024

DETEKTIF THE SCHOOL

Bab (1)

Di sebuah gedung nan menjulang tinggi terdengar suara musik menggema di seluruh ruangan, para tetamu lainnya sibuk menari, berbincang, dan bernyanyi.

" Bersedia, target sudah terlihat," pria bertubuh kekar berpakaian jas hitam pekat, lengkap dengan kacamatanya, itu berbisik kepada rekannya, melalui earphone di telinganya.

" Hah, kenapa cepat sekali," sambut gadis juga berpakaian serba hitam sambil memegang minuman beserta kue di tangannya.

" Fokus, letakkan itu," salah satu rekan mereka, mengambil hidangan di tangan gadis, rekannya.

" Iya ya, baiklah,"

Satu kelompok yang terdiri dari tiga orang itu, kini memasang wajah serius, satu pria yang terlihat lebih berpengalaman, berada di pintu utama tmekag masuk dan keluar lara tetamu dan dia lainnya berada, di kerumunan orang di sisi lain.

Mata ketiganya menyorot ke arah lansia, lengkap dengan tongkatnya. Kini berjalan ke arah altar siap memamerkan barang lelang miliknya, ketiganya waspada memerhatikan sekitar.

" Sekarang," tegas sebarang sama dari earphone di telinganya.

Ketiganya tampak mengangguk paham, salah satu di antaranya yaitu gadis serba dengan gaun hitam mendekat ke arah lansia yang sedang berjalan perlahan mendekati altar, gakss itu berjalan dengan cepat tak lupa dia juga membawa sebelas minuman di tangannya.

" Au,...maaf aku tidak sengaja, tolong maafkan aku, ku mohon," gadis itu menumpahkan semua air di gelas tepat di saku jas lansia itu, dimana dia menyimpan barang yang hendak ia lelang.

" Payah, apa kau tidak punya mata," lansia itu mengangkat kepalanya, matanya kini beradu tatap dengan gadis cantik di hadapannya.

" Maaf," gadis itu mengedipkan matanya, menggoda

" Sepertinya ada kecelakaan terjadi, apa pak Rasyid masih ingin menaiki altar," MC itu bersuara, dengan mix di tangannya.

" Sial," lansia yang dinkenal dengan nama Rasyid, kini berbalik menghiraukan tatapan orang orang di sekitarnya.

Gadis itu mengikuti Rasyid hingga sampai di toilet langkahnya semakin dekat, ia setia menunggu Rasyid keluar,begitu melihat target telah keluar gadis itu mencekal tangannya.

" Maaf tuan Rasyid, aku benar benar tidak sengaja, tolong jangan marah padaku," wajah gadis itu begitu menggoda bagi Rasyid.

" Tidak masalah, tapi lain kali hati hati, untung saja aku yang kau tabrak jika orang lain kau pasti tidak selamat,"

" Baiklah, aku mengerti, hmmm. Dan sebagai gantinya aku akan bersedia untuk mu malam ini, "

Rasyid, mendekat kepada, gadis itu.

" Tunggu, bagaiamna jika kita, menginap di hotel," gadis itu lagi lagi mengedipkan matanya,

" Ide bagus,"

Kini mereka telah tiba di sebuah hotel tak jauh di tempat acara pelelangan itu berlangsung, Rasyid rela kehilangan banyak banhak uang demi tidak melewati kesempatan ini.

" Tunggu, sebelum kita mulai aku mau ke kamar mandi dulu,"

" Baiklah jangan terlalu lama,"

Gadis itu hanya mengangguk.

Gadis itu merobek sedikit gaun hitamnya agar tidak mempersulit pergerakannya, ia mengambil beberapa senjata yang tersimpan di balik gaun hitam yang ia pakai, merasa sudah siap gadis itu keluar.

Seperti yang di duga Rasyid menunggu gadis itu dengan berbaring di atas ranjangnya, bahkan lansia itu tidak lagi mengenakan kemeja, kini ia bertela*nj*Ng dada.

" Maaf membuat mu menunggu," gadis itu duduk di tepi ranjang dengan anggun, lansia itu berjalan mendekatinya, ketika Rasyid jamlkt mencapai gadis itu, gadis itu segera berbalik lalu tanpa ragu mencekik leher Rasyid, hingga membuat matanya membulat sempurna.

" Kena kau," gadis itu mengedipkan matanya sambil tersenyum manis, memperlihatkan gisulnya.

Tak lama pintu kamar terbuka terlihat dia orang pria yang satu berbadan cukup besar dan yang satunya lagi berukuran normal, dengan cepat mereka memasuki kamar itu, dan tidak lupa menguncinya kembali.

" Apa kami terlambat," ucap salah satunya.

" Hampir," balas gadis itu dengan masih mencekik leher pria itu.

Kedua pria itu mengeluarkan borgol, dan langsung memakainya di tangan pria itu.

" Apa, yang kalian lakukan siapa kalian,"

" Detektif," ucap ketiganya serentak.

" Lep***an aku bajingan, si*lan kalau tidak tau siapa aku, aku akan membuat kalian menyesal,

" Banyak bicara," gadis itu membekap mulut Rasyid menggunakan kain.

****

" Bagus, Misi kalian berjalan dengan lancar, selamat Naura kau memang tidak pernah mengecewakan, selamat juga untuk kalian berdua, Ghazali. Aerio, selamat,"

" Terimakasih jenderal," ketiganya menunduk menunjukan rasa hormat.

Rasyid di seret paksa masuk ke sel tahanan, ketiganya berhasil menjalankan misi mereka dengan sukses. Rasyid adalah penadah atas barang curian banyaknya brang yang dia ambil baru kali ini barang itu benar benar berharga, yaitu patung yang harganya hingga miliaran rupiah.

Rasyid merencanakan untuk melelangnya agar mendapatkan ke untungan lebih besar. Namun ia lupa dengan dia mengikuti acara lelang itu, membuat pihak hukum bisa mengendus keberadaannya. Kini patung itu sudah di kembalikan di musium negara, tempat seharusnya dia berada.

Kini ketiganya sudah keluar dari ruangan rasa puas, dan bangga akan diri sendiri membuat mereka tersenyum puas. Karna banyaknya anggota yang di utus oleh pihak hukum namun belum ada yang bisa menangkap Rasyid, kecuali mereka bertiga.

" Luar biasa, aku sendiri bahkan tidak menyangka kita berhasil dengan sangat mudah," Aerio terlihat gembaira.

" Berterima kasi lah kepada Naura, dia yang membuat ini menjadi mudah," Ghazali menimpali.

" Tidak masalah, lagi p**a siapa yang tidak tertarik dengan daya kecantikan ku, hanya orang yang tidak normal bisa menolak ku," ketiganya kini tertawa lepas.

Ghazali, Aerio, dan Naura. Mereka adalah satu kump**an anggota detektif handal, jarang mereka gagal menangani kasus, semua kasus yang mereka pegang akan dengan mudah terselesaikan, berkat kerja sama dan simpati yang kuat, menjadikan mereka seperti keluarga.

Satu bulan telah berlalu, sejauh ini belum ada perkembangan mengenai kasus pemalsuan dokumen yang saat ini sedang merajalela di kota tempat mereka tinggali, sudah hampir satu tahun banyak dari pihak hukum mencoba menangani kasus ini, namun belum ada yang berhasil.

Masyarakat sangat resah akan hal ini, di sebab kan satu orang ini, banyak pengusaha bahkan penjabat jadi korban. Melihat kasus ini belum juga bisa di selesaikan pihak hukum memutuskan Ghazali, Aerio dan Naura. Yang mengambil alih.

" Jangan gila, mana bisa aku menjadi mahasiswi lagi aku sudah tamat tiga tahun yang lalu," tegas Naura.

" Itu dia, kau yang paling muda di antara kami, tiga tahun yang lalu tidak masalah, kau masih terlihat seperti remaja pada umunya,"

" Tidak, ide gila itu tidak pernah aku jalankan,"

" Naura ayolah, hanya ini caranya kita bisa menangkap manusia itu, pikirkan lagi Naura,"

" Tidak, apapun yang terjadi aku tidak akan mengikuti rencana tidak masuk akal kalian. Titikk," Naura menekankan kata kata terkahirnya.

****

" Bagus kau terlihat seperti 17 tahun, sekarang saatnya kita berangkat," Naura memasang wajah pasrah desakan anggotanya membuat dia terpaksa melakukan hal yang sangat tidak ia sukai.

Naura bersiap dengan seragam, tas bahkan lencana siswanya ini hari pertama ia pergi ke sekolah, walau usianya sudah 21 tahun tidak di pungkiri Naura masih terlihat seperti anak remaja.

" Sial," monolog gadis itu pelan namun masih bisa terdengar oleh kedua anggotanya, Membuat mereka menahan geli.

DETEKTIF THE SCHOOL Bab (1)Di sebuah gedung nan menjulang tinggi terdengar suara musik menggema di seluruh  ruangan, par...
29/11/2024

DETEKTIF THE SCHOOL

Bab (1)

Di sebuah gedung nan menjulang tinggi terdengar suara musik menggema di seluruh ruangan, para tetamu lainnya sibuk menari, berbincang, dan bernyanyi.

" Bersedia, target sudah terlihat," pria bertubuh kekar berpakaian jas hitam pekat, lengkap dengan kacamatanya, itu berbisik kepada rekannya, melalui earphone di telinganya.

" Hah, kenapa cepat sekali," sambut gadis juga berpakaian serba hitam sambil memegang minuman beserta kue di tangannya.

" Fokus, letakkan itu," salah satu rekan mereka, mengambil hidangan di tangan gadis, rekannya.

" Iya ya, baiklah,"

Satu kelompok yang terdiri dari tiga orang itu, kini memasang wajah serius, satu pria yang terlihat lebih berpengalaman, berada di pintu utama tmekag masuk dan keluar lara tetamu dan dia lainnya berada, di kerumunan orang di sisi lain.

Mata ketiganya menyorot ke arah lansia, lengkap dengan tongkatnya. Kini berjalan ke arah altar siap memamerkan barang lelang miliknya, ketiganya waspada memerhatikan sekitar.

" Sekarang," tegas sebarang sama dari earphone di telinganya.

Ketiganya tampak mengangguk paham, salah satu di antaranya yaitu gadis serba dengan gaun hitam mendekat ke arah lansia yang sedang berjalan perlahan mendekati altar, gakss itu berjalan dengan cepat tak lupa dia juga membawa sebelas minuman di tangannya.

" Au,...maaf aku tidak sengaja, tolong maafkan aku, ku mohon," gadis itu menumpahkan semua air di gelas tepat di saku jas lansia itu, dimana dia menyimpan barang yang hendak ia lelang.

" Payah, apa kau tidak punya mata," lansia itu mengangkat kepalanya, matanya kini beradu tatap dengan gadis cantik di hadapannya.

" Maaf," gadis itu mengedipkan matanya, menggoda

" Sepertinya ada kecelakaan terjadi, apa pak Rasyid masih ingin menaiki altar," MC itu bersuara, dengan mix di tangannya.

" Sial," lansia yang dinkenal dengan nama Rasyid, kini berbalik menghiraukan tatapan orang orang di sekitarnya.

Gadis itu mengikuti Rasyid hingga sampai di toilet langkahnya semakin dekat, ia setia menunggu Rasyid keluar,begitu melihat target telah keluar gadis itu mencekal tangannya.

" Maaf tuan Rasyid, aku benar benar tidak sengaja, tolong jangan marah padaku," wajah gadis itu begitu menggoda bagi Rasyid.

" Tidak masalah, tapi lain kali hati hati, untung saja aku yang kau tabrak jika orang lain kau pasti tidak selamat,"

" Baiklah, aku mengerti, hmmm. Dan sebagai gantinya aku akan bersedia untuk mu malam ini, "

Rasyid, mendekat kepada, gadis itu.

" Tunggu, bagaiamna jika kita, menginap di hotel," gadis itu lagi lagi mengedipkan matanya,

" Ide bagus,"

Kini mereka telah tiba di sebuah hotel tak jauh di tempat acara pelelangan itu berlangsung, Rasyid rela kehilangan banyak banhak uang demi tidak melewati kesempatan ini.

" Tunggu, sebelum kita mulai aku mau ke kamar mandi dulu,"

" Baiklah jangan terlalu lama,"

Gadis itu hanya mengangguk.

Gadis itu merobek sedikit gaun hitamnya agar tidak mempersulit pergerakannya, ia mengambil beberapa senjata yang tersimpan di balik gaun hitam yang ia pakai, merasa sudah siap gadis itu keluar.

Seperti yang di duga Rasyid menunggu gadis itu dengan

DETEKTIF THE SCHOOL Bab (1)Di sebuah gedung nan menjulang tinggi terdengar suara musik menggema di seluruh  ruangan, par...
29/11/2024

DETEKTIF THE SCHOOL

Bab (1)

Di sebuah gedung nan menjulang tinggi terdengar suara musik menggema di seluruh ruangan, para tetamu lainnya sibuk menari, berbincang, dan bernyanyi.

" Bersedia, target sudah terlihat," pria bertubuh kekar berpakaian jas hitam pekat, lengkap dengan kacamatanya, itu berbisik kepada rekannya, melalui earphone di telinganya.

" Hah, kenapa cepat sekali," sambut gadis juga berpakaian serba hitam sambil memegang minuman beserta kue di tangannya.

" Fokus, letakkan itu," salah satu rekan mereka, mengambil hidangan di tangan gadis, rekannya.

" Iya ya, baiklah,"

Satu kelompok yang terdiri dari tiga orang itu, kini memasang wajah serius, satu pria yang terlihat lebih berpengalaman, berada di pintu utama tmekag masuk dan keluar lara tetamu dan dia lainnya berada, di kerumunan orang di sisi lain.

Mata ketiganya menyorot ke arah lansia, lengkap dengan tongkatnya. Kini berjalan ke arah altar siap memamerkan barang lelang miliknya, ketiganya waspada memerhatikan sekitar.

" Sekarang," tegas sebarang sama dari earphone di telinganya.

Ketiganya tampak mengangguk paham, salah satu di antaranya yaitu gadis serba dengan gaun hitam mendekat ke arah lansia yang sedang berjalan perlahan mendekati altar, gakss itu berjalan dengan cepat tak lupa dia juga membawa sebelas minuman di tangannya.

" Au,...maaf aku tidak sengaja, tolong maafkan aku, ku mohon," gadis itu menumpahkan semua air di gelas tepat di saku jas lansia itu, dimana dia menyimpan barang yang hendak ia lelang.

" Payah, apa kau tidak punya mata," lansia itu mengangkat kepalanya, matanya kini beradu tatap dengan gadis cantik di hadapannya.

" Maaf," gadis itu mengedipkan matanya, menggoda

" Sepertinya ada kecelakaan terjadi, apa pak Rasyid masih ingin menaiki altar," MC itu bersuara, dengan mix di tangannya.

Detektif the school Bab (1)Di sebuah gedung nan menjulang tinggi terdengar suara musik menggema di seluruh  ruangan, par...
27/11/2024

Detektif the school

Bab (1)

Di sebuah gedung nan menjulang tinggi terdengar suara musik menggema di seluruh ruangan, para tetamu lainnya sibuk menari, berbincang, dan bernyanyi.

" Bersedia, target sudah terlihat," pria bertubuh kekar berpakaian jas hitam pekat lengkap dengan kacamatanya, itu berbisik kepada rekannya.

" Hah, kenapa cepat sekali," sambut gadis juga berpakaian serba hitam sambil memegang minuman beserta kue di tangannya.

" Fokus, letakkan itu," salah satu rekan mereka, mengambil hidangan di tangan

PERNIKAHAN KEDUA IBUKU Bab 4Arya bersiap siap dengan merapikan dasinya di depan cermin, bibir tipis itu mengurai senyum ...
08/11/2024

PERNIKAHAN KEDUA IBUKU

Bab 4

Arya bersiap siap dengan merapikan dasinya di depan cermin, bibir tipis itu mengurai senyum bola mata hitam legam kini menyorot tajam. " Wah sangat tampan," gumamnya sambil membenarkan posisi rambutnya.

" Arya bibik keluar dulu ya, jangan lupa kunci rumah nanti setelah kau pergi sekolah," jeritan dari luar begitu jelas terdengar.

" Iya bik," Arya mengambil tasnya, kini ia telah siap untuk berangkat menempuh pendidikan.

Arya meletakkan motor di tempat parkir, mata menyipit kala melihat Alisya berjalan sambil membaca buku, semakin lama Alisya semkain dekat dengan Arya. Ketika kepala gadis itu hendak menyentuh tiang sekolahnya, dengan cepat Arya meletakkan tangany di tiang itu hingga kepala Alisya di lindungi oleh tangan Arya.

" Si kutu buku," panggil Arya dengan nada mengejek.

Alisya menarik nafas panjang kemudian hendak melnqhkahkn kakinya, namun Arya kembali mencengkram tangan gadis itu.

" Aku baru saja menyelamatkan kepala mu, tidak ada kata terima kasih untuk ku," wajah Arya terlihat kesal.

" Terima kasih," Alisya membalas dengan ketus.

" Heii, aku masih penasaran bagaimana orang seperti mu bisa menjuarai berbagai macam piala, kau pasti curang kan,"

" Anak baru, aku sama sekali tidak melakukan kecurangan apapun, aku menang karna kepintaran ku, dan kau. Kau merasa iri dengan apa yang aku capai kalau begitu jadilah pesaing ku, lawan aku di setiap ada olimpiade di sekolah ini, dan jangan lupa belajarlah dengan giat agar kamu tidak mengecewakan orang tua mu," Alisya berlalu meninggalkan Arya yang masih mematung mendengar ucapannya.

Arya menggenggam kuat tangannya, merasa kesal pada Alisya namun ia tidak bisa bertindak kegabah, garos senyum kembali terukir di bibirnya.

Begitu jam pelajaran di mulai seperti biasa Alisya masih dengan dunia mimpinya, Arya masih fokus pada pelajaran namun ia masih tidak sepintar Alisya saat guru melontarkan pertanyaan Alisya lagi lagi bisa menjawabnya.

Setelah jam istirahat berbunyi Alisya di ajak oleh iske dan nskiwiwjf, untuk pergi ke kantik guna mengisi perut mereka, Arya berpura pura tertidur merasa target telah pergi Arya dengan langkah pelan menuju meja Alisya dan merobek robek buku gadis itu, setelah selesai ia kembali duduk di kursinya.

" Kau menggurui ku tadi kan sekarang mari kita lihat bagaiman mau bisa belajar jika semua buku mu telah rusak," Arya bahkan memasang senyum manis di wajahnya.

Begitu jam isttemah usai Alisya membuka tasnya mata gadis itu melebar sempurna buk buku sekolahnya telah habis di gunting Alisya berteriak dan menanyakan siapa yang melakukan hal itu, namun tak ada satupun yang mengakui karna Memnag Arya melajanknya saat kelas kosong.

Ke esokan harinya Alisya kembali di buat kesal, sesoarng telah merobek isi kertas ujian gadis itu, Alisya menggenggam kuat kertasnya kemudian mecapkaknnya di tong sampah,
Langkah gadis itu menuju keluar dari ruang guru, mata ya kini kembali memanas mendapati sepatu miliknya telah di robek robek hingga tidak bisa lagi di gunakan.

Alisya melihat kanan kiri namun nihil tidak tnda tanda, Alisya menggigit kuat bibir bawahnya menahan tangisnya, tidak ada lilhba lain Alisya masih menggunakan sepatunya walau jari jari kakinya terlihat keluar.

Kembali gadis itu mengulum bibirnya berusaha menghilangkan sakit di hati, siapa yang tega melakukan ini padanya sungguh perbuatan tidak terpuji, tidak sampai di situ Alisya mendapati ban sepedanya kempis sehingga tidak memungkinkan untuk mengendarainya.

Gadis itu menarik nafas dalam menghembuskannya ke udara, rasa sakit semakin bertambah kenala bebrap hari ini ada saja yang mencoba mengganggunya, Alisya kembali melihat kanan kiri berharap mendapat jenak si pelajj namun tetap saja ia tidak bisa menemukan nya.

Air mata sempat menetes mengenai p**i putihnya dengan Alisya menyekanya, mungkin dalam beberapa waktu orang itu akan bosan mengganggunya.

Arya mengukir senyum di bibirnya namun senyumnya seketika menghilang kala mendapati Alisya meneteskan air mata, tiba tiba rasa bersalah menghimpit hari Arya. Arya memutuskan untuk mengikuti Alisya p**ang kerumah dia ingin tau di mana Alisya tinggal.

" Huhh, gila bagaimana dia bisa naik sepeda ke sekolah seperti ini rumahnya begitu jauh," Arya mengilap keringat di dahinya dia memutuskan untuk berjalan kaki mengikuti Alisya karna kalau dengan motor bisa saja Alisya curiga.

Kini Arya menghentikan langkahnya mata melihat lekat ke arah rumah Alisya, rumah yang begitu sederhana rumah terbentuk dari kayu, dan memiliki kolong di bawahnya.

" Alisya ada apa, kenapa sepedanya di dorong ?" Ambar dengan jalan pelan mengahampiri sang cucu terlihat berkeringat.

" Ban bocor nek," jawab gadis itu terengah.

" Jadi dari sekolah Samali di rumah kamu berjalan sambil membawa selesai ini,"

" Iya nek," Alisya mengibas ngibas tangannya Guan meribgkan rasa panas.

Sang nenek hanya manarik nafas dalam.

" Alisya sudah p**ang," Heru .emarkkrkan motor nya kemudian duduk di samping Naka gadis ya itu.

" Iya ayah,"

" Heru lihat, sudah berapa kali ibu bilang ganti ban sepeda anak mu lihat, ban bocor kasiabn dia harus berjalan dari sekolah Samali di rumah,"

" Bener Alisya?" Tanya Heru.

Alisya hanya mengangguk membenarkan ucapan Ambar.

" Ya sudah nantik yah betulkan ya," lagi lagi gadis itu hanya mengangguk.

Heru menatap sepatu yang di kenakan anaknya. " Alisya kenapa dengan sepau mu," tanya Heru.

" Oh e, ini ayah, it-itu,"

" Itu apa, apa ada yang mengganggumu di sekolah,"

" Tidak, tidak sama sekali tidak, ini karna Alisya kesal ban sepedanya bocor lalu Alisya menghemp***an kaki di udara, dan tidak sengaja ternyata sepatunya tertanjam di pagar kawat besi, Alisya tidak hati hati Alisya menariknya dan ternyata jadi seperti ini,"

" Dua duanya?"

" Iya ayah, maafkan Alisya," Alisya menunduk merasa bersalah pada ayahnya, karna dia tau tidak mudah bagi sang ayah untuk membeli sesuatu makan 3 kali sehari saja sudah sangat bersyukur,"

" Tidak masalah ayah akan bekerja lebih giat untuk membeli sepatu mu,"

" Tidak usah memaksakan diri ayah, nantik ayah sakit lagi, Alisya bisa bertahan dengan selalu ini, jangan khawatir Alisya akan berhemat untuk membeli sepatu baru,"

Mendengar perbincangan keluarga Alisya membuat Arya tertunduk malu, ia benar benar merasa bersalah atas tindakan konyolnya. Ternyata selama perbuatan jahilnya Alisya sama sekali tidak menceritakan itu pada keluarganya.

Arya memilih untuk p**ang, bayang bayang percakapan satu keluarga itu terus ada di memorinya, hingga akhirnya dia menjual sepeda motornya dan menggantikan dengan sepeda bisa dia bertekad untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia merasa itu sudah sangat keterlaluan.
____

" Alisya ini dia nak, tolong antarkan ya,"

" Baik nek," seldan Alisya telah di perbaiki oleh ayahnya, kini ia bisa bepergian dengan sepedanya lagi.

Alisya menaruh kue hasil pesanan pelanggan dengan hati hati di keranjang sepedanya, Alisya menaruh sekdanya dengan pelan, setelah menyelesaikan pekerjaan Alisya kembali p**ang ke rumah, namun di sela sela perjalananya ada sebuah mobil mewah menghalangi jalan gadis itu.

Dada Alisya Naim turun setelah mengetahui siapa yang di hadapannya ini. Manda berjalan pelan menghampiri Alisya.

" Sayang nak, ini ibu, kamu rindukan dengan ibu,"

" Kenapa ibu ke sini lagi, belum puas nyakitin aku dan ayah, bukankah ibu sudah punya keluarga baru, untuk apa lagi menemui ku," Alisya menahan air matanya sekuat tenaga, tidak di pungkiri bagaimana pun juga Manda adalah ibu kandungnya tentu di lubuk hatinya yang paling dalam tersirat rasa rindu.

" Alisya ibu tidak tidak pernah menyakiti mu, juga ayah mu, ok. Ibu memang pergi mencari kebahagiaan lain, tapi itu semua salah ayah mu dia tidak bisa bekerja keras, ibu lelah hidup miskin terus sya, ibu udah gak sanggup lagi," Manda tak kuasa menahan isam di dadanya.

" Lalu supaya ibu tidak miskin lagi, ibu rela menjadi simpanan pria lain," Alisya mengusap air matanya dengan kasar.

Alisya sungguh mengingatnya dengan jelas di mana, Manda di jemput oleh laki laki, berpakaian mewah. Sebelumnya Manda bertengkar hebat dengan Heru, hingga ia mengemasi semua barangnya dan pergi bersama pria asing.

Alisya menangis dan menahan Manda sekuat tenaga namun Manda malah mendorongnya tanpa menghiraukan tangis pilu Alisya.

3 tahun yang lalu sudah berlalu namun sakit itu belum pernah berubah tetap bahakn bertambah parah, kala kejadian itu Manda tidak pernah lagi bertemu dengan Alisya, sampai hari ini tiba.

Alisya juga tau bahwa pria yang menjadi kekasih ibunya memiliki istri, namun istrinya sedang berada di rumah sakit. Alisya mend evar perbincangan sanag ayah dan nenek itu sebabnya dia tau siapa pria yang merebut ibunya dari ayahnya.

" Alisya perhatikan bicara mu, sekarang ibu sudah menikah dengannya, jadi jangan bicara seperti itu lagi,"

" Ternyata benar yang aku lihat beberapa waktu lalu, ibu berhasil menikah dengan pria itu, apa karna istri sahnya temah tiada,"

" Alisya!" Tanpa sadar Manda meninggikan nada bicaranya.

" Sudah lah ibu, pergilah kepada keluarga baru mu, anggap ibu tidak pernah punya anak seperti ku," Alisya hendak mendahungkan lagi seldanya namun Manda masih mencegah gadis itu.

" Alisya ibu mohon, kali ini saja dengarkan ibu. Nak ibu tidak mau kamu hidup seperti ayah mu, kamu tau kondisi kesehatan ayah mu seperti apa, jadi tolong lah ikut bersama ibu, ibu akan mmberikan segalanya padamu, pak Tomi juga tidak mempermasalahkan kehadiran mu dia sangat menunggu mu datang tinggal bersama kami, kamu akan hidup mewah semua keinginana mu akan terpenuhi, dan kamu bisa bersekolah sampai sarjana, ayo ikut dengan ibu nak," Manda memegang tangan Alisya, namun Alisya menhempasnya.

" Aku bisa hidup dengan kemaurga ku tanpa mu, buktinya 3 tahun terakhir ini aku masih hidup, masih bisa bernafas, dan bersekalh dengan hasil reilayah ayah ku sendiri aku juga tidak masalah hidup seperti ayah, dan aku menginginkannya dari pada hidup sepert ibu, mewah tapi merampas kebahagiaan orang lain, dan aku tidak masalah dengan kondisi tubuh ayah, aku bisa menjaganya. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan ayah, aku akan selalu ada di posisinya," Alisya kembali mengayuhkan seldanya namun lagi lagi Marinda berhasil menghalangi gadis itu.

" Ok, ok. Baiklah, kalau kamu main bersikeras dengan pendirian mu, ibu kan memberi mu waktu dan suatu saat kamu akan menyadari bahwa apa yang ibu ucapkan ini benar adanya, ibu akan menunggu untuk kamu bisa menerima semuanya dan tinggal bersama ibu, nak."

" Jawabannya akan tetap sama, tidak akan pernah,"

" Tunggu Alisya, jika kamu tidak mau ikut ibu, maka tolong ambillah ini, ibu membelikan mu banyak pakaian, dan kebutuhan mu lainnya di usia mu yang sekarang ambillah nak,"

" Sejak kapan ibu perduli, tentang apa yang aku butuhkan di usia ku sekarang, tapi kenapa ibu tidak peduli di saat aku membutuhkan ibu, di tiga tahun yang lalu, ibu tau aku sangat kelelahan aku ingin berteriak mengamuk, dengan keadaan yang aku alami, tapi tidak kisnabak aku bisa melewatinya. Jadi jangan khawatir ibu aku sudah terbiasa tanpa ibu, dan aku berjanji tidak akan menganggu kehidupan bahagia mu lagi," kali ini Amanda tak sanggup menahan kepergian anak kandungnya itu,

sepeda Alisya kayuh cukup kencang guna untuk menjauh dari Manda dengan cepat. Ia sama sekali tidak menghiraukan paperbag yang begitu banyak di tangan Manda. Manda hanya tertegun menunduk dengan apa yang dia alami beberapa detik lalu, sungguh dia tidak menyangka bahwa putrinya bisa berkata seperti itu.

" Apa yang kau lakukan pada putri ku heru, sehingga dia membenci ku. Aku berjanji akan membawa putri ku kembali, ibu tidak bisa hidup tanpa mu nak, walau ibu sudah mencoba selama ini ibu juga tersiksa Alisya, butuh waktu lama untuk membujuk Tomi bisa menerima mu," batin Manda.

***
Di KBM sudah tamat
Mildayani13
Judul ; 1000 bintang

PERNIKAHAN KEDUA IBUKU Bab 4Arya bersiap siap dengan merapikan dasinya di depan cermin, bibir tipis itu mengurai senyum ...
08/11/2024

PERNIKAHAN KEDUA IBUKU

Bab 4

Arya bersiap siap dengan merapikan dasinya di depan cermin, bibir tipis itu mengurai senyum bola mata hitam legam kini menyorot tajam. " Wah sangat tampan," gumamnya sambil membenarkan posisi rambutnya.

" Arya bibik keluar dulu ya, jangan lupa kunci rumah nanti setelah kau pergi sekolah," jeritan dari luar begitu jelas terdengar.

" Iya bik," Arya mengambil tasnya, kini ia telah siap untuk berangkat menempuh pendidikan.

Arya meletakkan motor di tempat parkir, mata menyipit kala melihat Alisya berjalan sambil membaca buku, semakin lama Alisya semkain dekat dengan Arya. Ketika kepala gadis itu hendak menyentuh tiang sekolahnya, dengan cepat Arya meletakkan tangany di tiang itu hingga kepala Alisya di lindungi oleh tangan Arya.

" Si kutu buku," panggil Arya dengan nada mengejek.

Alisya menarik nafas panjang kemudian hendak melnqhkahkn kakinya, namun Arya kembali mencengkram tangan gadis itu.

" Aku baru saja menyelamatkan kepala mu, tidak ada kata terima kasih untuk ku," wajah Arya terlihat kesal.

" Terima kasih," Alisya membalas dengan ketus.

" Heii, aku masih penasaran bagaimana orang seperti mu bisa menjuarai berbagai macam piala, kau pasti curang kan,"

" Anak baru, aku sama sekali tidak melakukan kecurangan apapun, aku menang karna kepintaran ku, dan kau. Kau merasa iri dengan apa yang aku capai kalau begitu jadilah pesaing ku, lawan aku di setiap ada olimpiade di sekolah ini, dan jangan lupa belajarlah dengan giat agar kamu tidak mengecewakan orang tua mu," Alisya berlalu meninggalkan Arya yang masih mematung mendengar ucapannya.

Arya menggenggam kuat tangannya, merasa kesal pada Alisya namun ia tidak bisa bertindak kegabah, garos senyum kembali terukir di bibirnya.

Begitu jam pelajaran di mulai seperti biasa Alisya masih dengan dunia mimpinya, Arya masih fokus pada pelajaran namun ia masih tidak sepintar Alisya saat guru melontarkan pertanyaan Alisya lagi lagi bisa menjawabnya.

Setelah jam istirahat berbunyi Alisya di ajak oleh iske dan nskiwiwjf, untuk pergi ke kantik guna mengisi perut mereka, Arya berpura pura tertidur merasa target telah pergi Arya dengan langkah pelan menuju meja Alisya dan merobek robek buku gadis itu, setelah selesai ia kembali duduk di kursinya.

" Kau menggurui ku tadi kan sekarang mari kita lihat bagaiman mau bisa belajar jika semua buku mu telah rusak," Arya bahkan memasang senyum manis di wajahnya.

Begitu jam isttemah usai Alisya membuka tasnya mata gadis itu melebar sempurna buk buku sekolahnya telah habis di gunting Alisya berteriak dan menanyakan siapa yang melakukan hal itu, namun tak ada satupun yang mengakui karna Memnag Arya melajanknya saat kelas kosong.

Ke esokan harinya Alisya kembali di buat kesal, sesoarng telah merobek isi kertas ujian gadis itu, Alisya menggenggam kuat kertasnya kemudian mecapkaknnya di tong sampah,
Langkah gadis itu menuju keluar dari ruang guru, mata ya kini kembali memanas mendapati sepatu miliknya telah di robek robek hingga tidak bisa lagi di gunakan.

Alisya melihat kanan kiri namun nihil tidak tnda tanda, Alisya menggigit kuat bibir bawahnya menahan tangisnya, tidak ada lilhba lain Alisya masih menggunakan sepatunya walau jari jari kakinya terlihat keluar.

Kembali gadis itu mengulum bibirnya berusaha menghilangkan sakit di hati, siapa yang tega melakukan ini padanya sungguh perbuatan tidak terpuji, tidak sampai di situ Alisya mendapati ban sepedanya kempis sehingga tidak memungkinkan untuk mengendarainya.

Gadis itu menarik nafas dalam menghembuskannya ke udara, rasa sakit semakin bertambah kenala bebrap hari ini ada saja yang mencoba mengganggunya, Alisya kembali melihat kanan kiri berharap mendapat jenak si pelajj namun tetap saja ia tidak bisa menemukan nya.

Air mata sempat menetes mengenai p**i putihnya dengan Alisya menyekanya, mungkin dalam beberapa waktu orang itu akan bosan mengganggunya.

Arya mengukir senyum di bibirnya namun senyumnya seketika menghilang kala mendapati Alisya meneteskan air mata, tiba tiba rasa bersalah menghimpit hari Arya. Arya memutuskan untuk mengikuti Alisya p**ang kerumah dia ingin tau di mana Alisya tinggal.

" Huhh, gila bagaimana dia bisa naik sepeda ke sekolah seperti ini rumahnya begitu jauh," Arya mengilap keringat di dahinya dia memutuskan untuk berjalan kaki mengikuti Alisya karna kalau dengan motor bisa saja Alisya curiga.

Kini Arya menghentikan langkahnya mata melihat lekat ke arah rumah Alisya, rumah yang begitu sederhana rumah terbentuk dari kayu, dan memiliki kolong di bawahnya.

" Alisya ada apa, kenapa sepedanya di dorong ?" Ambar dengan jalan pelan mengahampiri sang cucu terlihat berkeringat.

" Ban bocor nek," jawab gadis itu terengah.

" Jadi dari sekolah Samali di rumah kamu berjalan sambil membawa selesai ini,"

" Iya nek," Alisya mengibas ngibas tangannya Guan meribgkan rasa panas.

Sang nenek hanya manarik nafas dalam.

" Alisya sudah p**ang," Heru .emarkkrkan motor nya kemudian duduk di samping Naka gadis ya itu.

" Iya ayah,"

" Heru lihat, sudah berapa kali ibu bilang ganti ban sepeda anak mu lihat, ban bocor kasiabn dia harus berjalan dari sekolah Samali di rumah,"

" Bener Alisya?" Tanya Heru.

Alisya hanya mengangguk membenarkan ucapan Ambar.

" Ya sudah nantik yah betulkan ya," lagi lagi gadis itu hanya mengangguk.

Heru menatap sepatu yang di kenakan anaknya. " Alisya kenapa dengan sepau mu," tanya Heru.

" Oh e, ini ayah, it-itu,"

" Itu apa, apa ada yang mengganggumu di sekolah,"

" Tidak, tidak sama sekali tidak, ini karna Alisya kesal ban sepedanya bocor lalu Alisya menghemp***an kaki di udara, dan tidak sengaja ternyata sepatunya tertanjam di pagar kawat besi, Alisya tidak hati hati Alisya menariknya dan ternyata jadi seperti ini,"

" Dua duanya?"

" Iya ayah, maafkan Alisya," Alisya menunduk merasa bersalah pada ayahnya, karna dia tau tidak mudah bagi sang ayah untuk membeli sesuatu makan 3 kali sehari saja sudah sangat bersyukur,"

" Tidak masalah ayah akan bekerja lebih giat untuk membeli sepatu mu,"

" Tidak usah memaksakan diri ayah, nantik ayah sakit lagi, Alisya bisa bertahan dengan selalu ini, jangan khawatir Alisya akan berhemat untuk membeli sepatu baru,"

Mendengar perbincangan keluarga Alisya membuat Arya tertunduk malu, ia benar benar merasa bersalah atas tindakan konyolnya. Ternyata selama perbuatan jahilnya Alisya sama sekali tidak menceritakan itu pada keluarganya.

Arya memilih untuk p**ang, bayang bayang percakapan satu keluarga itu terus ada di memorinya, hingga akhirnya dia menjual sepeda motornya dan menggantikan dengan sepeda bisa dia bertekad untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia merasa itu sudah sangat keterlaluan.
____

" Alisya ini dia nak, tolong antarkan ya,"

" Baik nek," seldan Alisya telah di perbaiki oleh ayahnya, kini ia bisa bepergian dengan sepedanya lagi.

Alisya menaruh kue hasil pesanan pelanggan dengan hati hati di keranjang sepedanya, Alisya menaruh sekdanya dengan pelan, setelah menyelesaikan pekerjaan Alisya kembali p**ang ke rumah, namun di sela sela perjalananya ada sebuah mobil mewah menghalangi jalan gadis itu.

Dada Alisya Naim turun setelah mengetahui siapa yang di hadapannya ini. Manda berjalan pelan menghampiri Alisya.

" Sayang nak, ini ibu, kamu rindukan dengan ibu,"

" Kenapa ibu ke sini lagi, belum puas nyakitin aku dan ayah, bukankah ibu sudah punya keluarga baru, untuk apa lagi menemui ku," Alisya menahan air matanya sekuat tenaga, tidak di pungkiri bagaimana pun juga Manda adalah ibu kandungnya tentu di lubuk hatinya yang paling dalam tersirat rasa rindu.

" Alisya ibu tidak tidak pernah menyakiti mu, juga ayah mu, ok. Ibu memang pergi mencari kebahagiaan lain, tapi itu semua salah ayah mu dia tidak bisa bekerja keras, ibu lelah hidup miskin terus sya, ibu udah gak sanggup lagi," Manda tak kuasa menahan isam di dadanya.

" Lalu supaya ibu tidak miskin lagi, ibu rela menjadi simpanan pria lain," Alisya mengusap air matanya dengan kasar.

Alisya sungguh mengingatnya dengan jelas di mana, Manda di jemput oleh laki laki, berpakaian mewah. Sebelumnya Manda bertengkar hebat dengan Heru, hingga ia mengemasi semua barangnya dan pergi bersama pria asing.

Alisya menangis dan menahan Manda sekuat tenaga namun Manda malah mendorongnya tanpa menghiraukan tangis pilu Alisya.

3 tahun yang lalu sudah berlalu namun sakit itu belum pernah berubah tetap bahakn bertambah parah, kala kejadian itu Manda tidak pernah lagi bertemu dengan Alisya, sampai hari ini tiba.

Alisya juga tau bahwa pria yang menjadi kekasih ibunya memiliki istri, namun istrinya sedang berada di rumah sakit. Alisya mend evar perbincangan sanag ayah dan nenek itu sebabnya dia tau siapa pria yang merebut ibunya dari ayahnya.

" Alisya perhatikan bicara mu, sekarang ibu sudah menikah dengannya, jadi jangan bicara seperti itu lagi,"

" Ternyata benar yang aku lihat beberapa waktu lalu, ibu berhasil menikah dengan pria itu, apa karna istri sahnya temah tiada,"

" Alisya!" Tanpa sadar Manda meninggikan nada bicaranya.

" Sudah lah ibu, pergilah kepada keluarga baru mu, anggap ibu tidak pernah punya anak seperti ku," Alisya hendak mendahungkan lagi seldanya namun Manda masih mencegah gadis itu.

" Alisya ibu mohon, kali ini saja dengarkan ibu. Nak ibu tidak mau kamu hidup seperti ayah mu, kamu tau kondisi kesehatan ayah mu seperti apa, jadi tolong lah ikut bersama ibu, ibu akan mmberikan segalanya padamu, pak Tomi juga tidak mempermasalahkan kehadiran mu dia sangat menunggu mu datang tinggal bersama kami, kamu akan hidup mewah semua keinginana mu akan terpenuhi, dan kamu bisa bersekolah sampai sarjana, ayo ikut dengan ibu nak," Manda memegang tangan Alisya, namun Alisya menhempasnya.

" Aku bisa hidup dengan kemaurga ku tanpa mu, buktinya 3 tahun terakhir ini aku masih hidup, masih bisa bernafas, dan bersekalh dengan hasil reilayah ayah ku sendiri aku juga tidak masalah hidup seperti ayah, dan aku menginginkannya dari pada hidup sepert ibu, mewah tapi merampas kebahagiaan orang lain, dan aku tidak masalah dengan kondisi tubuh ayah, aku bisa menjaganya,

Address

Medan

Telephone

+6281260491540

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Buku novel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category