Jejak Langkah

Jejak Langkah jual buku bekas dan langka

ORANG BATAK TAK MEMERLUKAN NEGARA MODERN DATANG UNTUK BELAJAR MENGATUR DIRINYA. Jauh sebelum batas administratif dan bir...
02/09/2026

ORANG BATAK TAK MEMERLUKAN NEGARA MODERN DATANG UNTUK BELAJAR MENGATUR DIRINYA. Jauh sebelum batas administratif dan birokrasi kolonial bekerja, sudah ada marga, Dalihan Na Tolu, huta, horja, bius, onan, serta mekanisme kepemimpinan yang mengatur relasi sosial sekaligus distribusi kekuasaan. Prof Bungaran membedah bangunan itu dengan pendekatan antropologi budaya dan politik, melihat bagaimana masyarakat Batak Toba berhadapan dengan Islam, Kristen, kolonialisme dan perubahan pemerintahan hingga 1945. Penelitiannya bermula dari lapangan 1975–1976 dan kemudian diperkaya arsip serta penelitian di Leiden, Amsterdam dan Den Haag. Menariknya, ia tidak menempatkan adat sebagai benda museum, melainkan sistem sosial-politik yang pernah benar-benar bekerja. Membaca buku ini, kita seperti diajak mundur sejenak untuk melihat bahwa sebelum negara mendefinisikan apa itu pemerintahan, Batak Toba sudah lebih dulu punya cara mendefinisikan wilayah, hubungan, kewajiban dan kekuasaannya sendiri.

📖 BATAK TOBA,
STRUKTUR SOSIAL
DAN SISTEM POLITIKNYA HINGGA 1945
✍️ Bungaran A. Simanjuntak
🏷️ YOI (2006) | 220 hlm
💰 65-rb

TENGKU! ACEH YANG MACAM APA MAU DIPERJUANGKAN HASAN TIRO? NEGARA ISLAM KAH? Ahmad Taufan menemukan satu hal menarik: gag...
01/09/2026

TENGKU! ACEH YANG MACAM APA MAU DIPERJUANGKAN HASAN TIRO? NEGARA ISLAM KAH? Ahmad Taufan menemukan satu hal menarik: gagasan Hasan Tiro tak berhenti pada imajinasi Negara Islam, tetapi bergerak menuju imajinasi etno-nasionalis Aceh. Dan kalau kita menelusuri bacaan Tiro, cakrawalanya ternyata tidak hanya kajian kitab agama, sejarah dan hikayat Aceh, tetapi juga sampai pada Zarathustra-nya Nietzsche—sebuah pertemuan yang membuat pemikiran politiknya jauh lebih kompleks daripada sekadar nasionalisme yang dibungkus agama. Taufan membaca perubahan itu bukan sebagai inkonsistensi sederhana, melainkan sebagai proses perebutan makna: bagaimana sejarah, identitas, martabat dan hak menentukan nasib sendiri dirangkai menjadi sebuah “Aceh” yang hendak diperjuangkan. Berasal dari tesisnya di University of Essex, ia menggunakan pemikiran Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, duo filsuf post-marxist, untuk melihat bagaimana wacana politik membentuk identitas dan mengikat berbagai tuntutan menjadi satu proyek politik. Jadi, Tengku, kalau mau memahami Hasan Tiro, kita jangan hanya bertanya apa yang ia perjuangkan, tetapi juga dari wacana apa ia membayangkan Aceh yang hendak diperjuangkannya.

📖 HASAN TIRO: Imajinasi Negara Islam Aceh ke Imajinasi Etno-Nasionalis Aceh
✍️ Ahmad Taufan
🏷️ FES (2010) | 133 hlm
💰 35-ribu

PAK DAWAM MELIHAT EKONOMI TAK SEBATAS SOAL PASAR DAN PERTUMBUHAN BELAKA, TETAPI JUGA KEADILAN, KERJA SAMA, DAN SIAPA YAN...
01/09/2026

PAK DAWAM MELIHAT EKONOMI TAK SEBATAS SOAL PASAR DAN PERTUMBUHAN BELAKA, TETAPI JUGA KEADILAN, KERJA SAMA, DAN SIAPA YANG MENGUASAI SUMBER DAYA. Sebagai intelektual publik Muslim, ia mempertemukan ekonomi, demokrasi, pemikiran Islam, dan ekonomi kerakyatan tanpa terjebak begitu saja pada dikotomi kapitalisme–sosialisme. Nilai keadilan sosial, ta'awun (kerja sama), demokrasi ekonomi, dan amanat Pasal 33 UUD 1945 menjadi bagian penting dari kerangka pikirnya. Dalam buku ini, gagasan tersebut dibawa ke persoalan konkret: pembangunan, industrialisasi, sumber daya alam, dan bahaya Indonesia terus menjadi pemasok bahan mentah. Ekonomi bagi Dawam akhirnya bukan hanya bagaimana kekayaan diproduksi, tetapi untuk siapa ia diproduksi dan bagaimana ia didistribusikan secara adil.

📖 NALAR EKONOMI POLITIK INDONESIA
✍️ M. Dawam Rahardjo
🏷️ IPB Press (2011) | 310 hlm
💰 85-rb
📩 Minat: komentar, inbox/DM, atau
WA 085277160156

B**G! APALAH ARTI BACA AL-QUR’AN KALAU PESANNYA TAK PERNAH TIBA KE BUMI? Pertanyaan semacam inilah yang berdetak dalam M...
01/09/2026

B**G! APALAH ARTI BACA AL-QUR’AN KALAU PESANNYA TAK PERNAH TIBA KE BUMI? Pertanyaan semacam inilah yang berdetak dalam Membumikan Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab. Ia tidak berhenti pada bagaimana ayat ditafsirkan, tetapi membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan: bagaimana wahyu berbicara tentang pendidikan, perempuan, kemiskinan, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan persoalan masyarakat. Bagi Shihab, “membumikan” bukan berarti menurunkan kesakralan, melainkan menghadirkan nilai-nilainya agar dapat menjawab kebutuhan manusia pada tempat dan zamannya. Buku yang menghimpun tulisan dan ceramahnya sepanjang 1975–1992 ini memperlihatkan perjalanan pemikiran seorang mufasir yang kelak menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam studi Al-Qur’an di Indonesia. Mungkin karena itu buku ini masih menarik dibaca: bukan terbatas pada tanya apa kata Al-Qur’an, tetapi bagaimana kita hidup setelah mengetahuinya.

📖 MEMBUMIKAN AL-QURAN
✍️ M. Quraish Shihab
🏷️ Mizan (Cet. 1, 1992) | 421 hlm

B**G! KADANG YANG PALING DITAKUTI KEKUASAAN BUKAN SENJATA, TAPI BUKU. Kundera pernah menulis bahwa "perjuangan manusia m...
01/09/2026

B**G! KADANG YANG PALING DITAKUTI KEKUASAAN BUKAN SENJATA, TAPI BUKU. Kundera pernah menulis bahwa "perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa". Dan buku tempat ingatan diabadikan, in optima forma. Kita tahu jejaknya di negeri sendiri: buku-buku pernah dilarang dan dimusnahkan, Pramoedya kehilangan sebagian naskahnya, sementara karya Hamzah Fansuri di Aceh juga pernah menjadi sasaran pembakaran dalam pertarungan tafsir keagamaan. Fernando Báez membawa persoalan ini jauh melampaui Indonesia, menelusuri penghancuran buku dan perpustakaan sejak dunia kuno hingga Irak 2003 yang ia saksikan sendiri. Bagi Báez, yg berlatar pendidikan pustaka ini, yang hilang bukan cuma buku, tetapi kesempatan manusia untuk mengingat, membandingkan, dan memahami masa lalunya. Dan mungkin di situlah buku ini terasa mengganggu: siapa yang menghapus buku, sedang berusaha mengatur apa yang kelak bisa kita ingat. Orwell sudah mengingatkan kita: “Siapa menguasai masa lalu, menguasai masa depan; siapa menguasai masa kini, menguasai masa lalu.”

📖 PENGHANCURAN BUKU
DARI MASA KE MASA
✍️ Fernando Báez
Judul asli: Historia universal de la destrucción de libros: de las tablillas sumerias a la guerra de Irak
🏷️ Marjin Kiri (2013) | 273 hlm

CEMANA LAGI NAK KITA DIBKIN WAK, UNTUK PAHAM BETUL BAGAIMANA HUKUM PERDATA KITA BEKERJA, KITA MASIH PERLU MENENGOK KE LI...
01/09/2026

CEMANA LAGI NAK KITA DIBKIN WAK, UNTUK PAHAM BETUL BAGAIMANA HUKUM PERDATA KITA BEKERJA, KITA MASIH PERLU MENENGOK KE LITERATUR BELANDA. Agak lain memang, semacam paradoks, sebab di sana ada jejak kolonial yang tidak bisa kita abaikan. Vollmar datang dari tradisi Nederlands burgerlijk recht (dulu biasa kita sebut BW kalau tak salah), tetapi cara berpikirnya kemudian ikut membentuk pendidikan hukum perdata di Indonesia. Menir satu ini tidak cuma mengajak kita menghafal pasal, melainkan memahami bangunan hukumnya: siapa subjek hukum, apa itu benda, bagaimana perikatan lahir, sampai persoalan keluarga dan waris. Membaca Vollmar seperti membuka kembali hulunya—melihat bagaimana konsep hukum yang diwariskan itu masuk, diterjemahkan, dan kemudian bekerja dalam hukum Indonesia.

📖 PENGANTAR STUDI
HUKUM PERDATA Jilid 1 dan 2
✍️ H.F.A. Vollmar
🏷️ Rajawali (1983–1984) | 478 + 509 hlm

WAK BRO! BUKU KALI INI COCOK DIBACA DIIRINGI "ANOTHER BRICK"-NYA PINK FLOYD: “.... WE DON’T NEED NO EDUCATION...!” Bukan...
01/09/2026

WAK BRO! BUKU KALI INI COCOK DIBACA DIIRINGI "ANOTHER BRICK"-NYA PINK FLOYD: “.... WE DON’T NEED NO EDUCATION...!” Bukan karena kita harus berhenti sekolah, Wak, tetapi karena Everett Reimer ingin mengganggu keyakinan kita bahwa sekolah adalah satu-satunya tempat manusia bisa belajar. Ia melihat sekolah sebagai institusi yang mahal, memberi sertifikat, membentuk hierarki, dan perlahan membuat pendidikan identik dengan kepatuhan pada sistem. Reimer, pemikir pendidikan yang pernah bekerja di Amerika Serikat dan Puerto Rico serta menjadi rekan dialog Ivan Illich, menawarkan gagasan yang lebih jauh dari sebatas mengganti kurikulum, semisal dari CBSA ke Merdeka, tapi membangun jaringan belajar yang memungkinkan orang belajar tanpa selalu bergantung pada lembaga sekolah. Kalau Illich kemudian bicara tentang deschooling, Reimer lebih dulu membongkar sekolah sebagai institusi; sementara Freire lebih menekankan pendidikan sebagai jalan menuju kesadaran dan pembebasan. Pink Floyd membahana lagi : “Hey, teacher, leave them kids alone!” Lalu Wak setelah lagu berhenti, mungkin pertanyaan yang tersisa justru ini: kita sedang mendidik manusia, atau cuma membuat mereka semakin pandai menjadi murid?

📖 MATINYA SEKOLAH
✍️ Everett Reimer
🏷️ 2000 | 150 hlm

MBAK! BAYANGKAN SATU KALI TAN MALAKA, ANDERSON, IBN BATTUTA, MARCO POLO, DAN PARA PENGEMBARA LAIN DUDUK SEMEJA, NYERUPUT...
31/08/2026

MBAK! BAYANGKAN SATU KALI TAN MALAKA, ANDERSON, IBN BATTUTA, MARCO POLO, DAN PARA PENGEMBARA LAIN DUDUK SEMEJA, NYERUPUT KOPI, LALU BERCERITA TENTANG SUMATRA. Battuta paparkan tentang Pasai dan dunia Islam yang ditemuinya dalam perjalanan; Marco menimpali dengan kisah tentang negeri jauh dan pelabuhan-pelabuhan yang ia jumpai. Anderson ikut menyela, membawa catatan tentang masyarakat, kerajaan, perdagangan, dan politik Sumatra dari abad ke-19. Lalu Tan Malaka bicara tentang Deli—tentang sekolah tempat ia mengajar anak-anak kuli kontrak, dan apa yang ia lihat langsung di tengah perkebunan yang memperlihatkan jurang antara kemakmuran perusahaan dan kehidupan buruh. Mereka ngobrol sampai petang tiba. Mbak, itulah kesan saya setelah membaca Sumatra Tempo Doeloenya Anthony Reid, sejarawan yang lama menekuni sejarah Asia Tenggara dan Sumatra ini seolah mempertemukan suara-suara dari berabad-abad yang berbeda, lalu membiarkan kita duduk mendengarkan mereka bercerita.

📖 SUMATRA TEMPO DOELOE
Judul asli: Witnesses to Sumatra: A Traveller’s Anthology
✍️ Anthony Reid
🏷️ Kobam (2023) | 422 hlm

KALAU KEBUDAYAAN HANYA DIANGGAP WARISAN, KITA AKAN KESULITAN MENENTUKAN KE MANA IA HARUS BERGERAK. C.A. van Peursen meli...
31/08/2026

KALAU KEBUDAYAAN HANYA DIANGGAP WARISAN, KITA AKAN KESULITAN MENENTUKAN KE MANA IA HARUS BERGERAK. C.A. van Peursen melihat kebudayaan sebagai proses manusia menghadapi perubahan: dari pola mitis, ke ontologis, lalu ke sikap fungsional, ketika manusia semakin sadar memilih dan mengarahkan kehidupannya. Filsuf Belanda ini tidak menawarkan resep, melainkan cara membaca bagaimana manusia membentuk dirinya di tengah perubahan. Dick Hartoko, rohaniwan dan pengajar filsafat-kebudayaan yang juga dikenal sebagai penerjemah karya filsafat dan sastra, membuat gagasan ini hadir bagi pembaca Indonesia, sementara prolog Soedjatmoko menekankan pentingnya modernisasi tanpa kehilangan kepribadian kebudayaan sendiri. Pada akhirnya, buku ini mengajak kita bertanya: ketika zaman berubah, siapa yang menentukan arah kebudayaan kita?

📖 STRATEGI KEBUDAYAAN
✍️ C.A. Van Peursen
⛵ Terj. Dick Hartoko
🖋️ Prolog: Soedjatmoko
Judul asli: Strategie van de cultuur
🏷️ Kanisius, 1976 | 238 hlm
💰 65-ribu

PENGETAHUAN TAK SELALU TIBA MELALUI REPRESENTASI; ADA PENGETAHUAN YANG TERJADI KARENA KITA HADIR DI DALAMNYA. Dari sinil...
31/08/2026

PENGETAHUAN TAK SELALU TIBA MELALUI REPRESENTASI; ADA PENGETAHUAN YANG TERJADI KARENA KITA HADIR DI DALAMNYA. Dari sinilah Mehdi Ha’iri Yazdi menghidupkan kembali ‘ilm al-huduri—knowledge by presence, pengetahuan yang ada langsung dalam kesadaran. Filsuf Iran dan profesor Universitas Tehran ini mempertemukan Suhrawardi dan Mulla Sadra dengan filsafat Barat modern, termasuk persoalan bahasa dan kesadaran dalam Wittgenstein. Kita tahu sedang sakit tanpa perlu melihat atau membuktikannya dari luar; mengalami rasa sakit itu sendiri sudah merupakan bentuk mengetahui. Barangkali di situlah buku ini menarik: ia mengajak kita bertanya apakah semua pengetahuan memang harus melalui perantara, gambaran, dan representasi.

📖 ILMU HUDHURI: PRINSIP-PRINSIP EPISTEMOLOGI DALAM FILSAFAT ISLAM
✍️ Mehdi Ha’iri Yazdi
— Prolog Seyyed Hossein Nasr
Judul asli: The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence
🏷️ Mizan (1994) | 297 hlm
💰 125-rb

Address

Medan
20135

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jejak Langkah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Jejak Langkah:

Shortcuts

Share

Category