11/01/2021
*Coba dibaca sampai selesai. Semoga akhirnya terbuka hatinya
1. Masker hanya untuk orang sakit.
Itu betul sekali. Masker utk orang sakit. Nah, masalahnya, penyakit Covid-19 ini khas. Kamu bisa sakit, tapi tidak ada gejalanya, alias OTG, orang tanpa gejala. Dan OTG bisa menularkan sama seperti yg sakit bergejala. Saat kita tidak tahu sudah kena atau belum, maka, langkah amannya adalah: semua orang pakai masker kalau ke tempat publik. Itu logika yang sederhana sekali.
2. Sakit kok nggak ada gejalanya. Aneh.
Itu betul sekali. Aneh memang. Tapi ketahuilah, di dunia ini banyak 'sakit' yg tidak ada gejalanya. Sakit hati misalnya, di luar terlihat senyum lebar, pas rame2 terlihat kuat, pas sudah sendirian eh nangis. Bokek, kantong kering misalnya, di luar sih terlihat keren, gaya, eh, ternyata lagi bokek, tidak ada uang. Malah ada yang lebih aneh lagi, di luar terlihat halan-halan, posting ini, itu; eh, utang nggak dibayar. Kan aneh.
3. Pandemi ini cuma nguntungin RS, industri kesehatan. Dikit2 test, dikit2 masker, dll
Apesnya, di negara kita test ini bayar. Coba di LN. China, melakukan test 11 juta sebuah kota, gratis semua. Eropa, Amerika, negara2 maju, gratis. Di kita nasib, bayar. Ngeselin memang. Tapi percayalah, meski industri kesehatan memang diuntungkan, mereka tidak akan menggelar syukuran atas pandemi. Karena keluarga mereka juga banyak yang kena, mati. Tenaga kesehatan itu, termasuk yg banyak berguguran kena pandemi.
4. Ngapain sy harus pakai masker, kalau orang lain sudah, kan dia sudah aman.
Kamu keliru. Masker itu bukan untuk menjaga kita dari orang lain. MELAINKAN: menjaga orang lain dari kita. Jangan kebalik mikirnya. 9 pakai masker, kamu tidak, dan kamu penderita, dijamin yang lain beresiko semua. Jangankan virus, bahkan omonganmu yang nyakitin saja, tidak dimasker, eh difilter, bisa bikin 9 lain jadi sakit hati.
5. Pasang masker di dagu.
Ketahuilah, masker itu letaknya dimulut dan hidung. Tertutup sempurna. Kalau di dagu, itu namanya jenggot. Kalau di kepala, namanya rambut. Makai masker salah, sama bahayanya dengan tidak pakai masker. Bawa helm, misalnya, eh ditaruh di dengkul. Kecelakaan? Dengkulmu aman. Kepalamu remuk.
6. Pandemi ini konspirasi
Wah, dek, bebas saja kamu punya pendapat begitu. Saya juga s**a teori konspirasi. Saya tulis jadi novel, dibaca banyak orang, jadi duit malah. Sudah baca novel 'Pulang-Pergi'? Isinya ttg pandemi juga, virus mematikan mau disebar di China. Tapi boleh jadi, imajinasi kamu soal konspirasi itu, sama fiksinya dengan novel2 Tere Liye. Dan terlepas mau konspirasi atau bukan, yang mati banyak. Yang kena nyata.
7. Pandemi covid-19 itu lebay, tidak bahaya
Kamu benar. Covid-19 itu cuma membunuh 2-3% saja. Bahkan 80% yg kena, malah tidak ada gejala (atau gejala ringan saja). Masalahnya, penularannya mengerikan. Bahkan kalaupun yg mati cuma 1%, kalau 1 milyar kena? Coba hitung berapa yang mati? 10% harus masuk RS, coba hitung berapa yang harus dirawat? Nanti semua jalan dipenuhi ranjang buat merawat mereka. Jadi kamu betul, covid-19 itu tdk bahaya2 amat, tapi penularannya yang bahaya. Paham?
8. Saya tidak percaya pandemi
Lagi2, itu urusan masing2. Bahkan tidak percaya Tuhan saja boleh. Bebas. Hanya saja, kalau kamu termasuk yg nerima bansos saat pandemi begini, ikut rebutan daftar kartu pra kerja, mau juga dapat bansos, protes kalau nggak dapat; wah itu jadi aneh. Masa' kamu percaya bansosnya, tapi pandemi-nya tidak. Itu mirip: kamu percaya jika kamu itu ada; tapi tidak percaya orang-tuamu ada.
9. Semua ini salah pemerintah, jadi bodo amat, sy tdk mau pakai masker
Itu benar. Mereka ngeselin memang. Pilkada jalan terus. Selalu menolak fakta jika pilkada kemarin memunculkan klaster baru. Tapi masalahnya, pandemi ini tidak ada urusannya dengan mereka. Apes memang punya pemerintah amatiran, coba lihat China, mereka cukup hanya 50 penderita baru di sebuah kota, maka kota itu mereka kunci total. 11 juta penduduk test semua, gerak cepat. China adalah negara besar dgn pertumbuhan ekonomi positif terbesar--meskipun lockdown. Di negara kita tidak. Malah asyik ngasih diskon pesawat, nyuruh orang wisata. Tapi mau kayak mana kelakuan pemerintah, kita tetap pakai masker.
10. Sudah ada vaksin, tidak perlu pakai masker
Wah, keliru. Kita tetap membutuhkan disiplin masker ini hingga bertahun2 mendatang. Bahkan boleh jadi, walaupun tdk ada pandemi, memakai masker mungkin tetap bermanfaat. Minimal biar tidak ketahuan mulut kamu bau. Atau belum mandi. Atau biar hemat lipstik, dll, atau apalah.
11. Pakai masker itu pengap.
Waduh, yang bilang pakai masker itu menyenangkan siapa? Pasti pengap. Tapi percayalah, kalau dibiasakan, lama2 terbiasa. Lagian, kita itu tidak pakai masker seharian. Hanya di tempat publik. Kalau sepi, aman, sesekali bisa dilepas. Apalagi tidur, dilepas. Kecuali kalau kamu maskeran bengkoang dll baru dipakai pas tidur.
Semoga paham. Ayo, tetap disiplin 3 M
*Tere Liye, penulis novel 'Selamat Tinggal'
https://mhdsyahril.online/kurma-ajwa-unai-medan/