Alkitab firman Tuhan

Alkitab firman Tuhan karena Yesus menjawab " ada tertulis manusia hidup bukan dari roti saja tetap dr setiap firman Tuhan

23/09/2023

Pengkotbah 7:2
*Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya*

Ecclesiastes 7:2
*It is better to go to a house of mourning than to go to a house of feasting, for death is the destiny of everyone; the living should take this to heart*

Parjamita 7:2
*Tagonan do masuk iba tu jabu parandungandungon asa tu jabu parpanggalangan; ai di bagasan parjolo i tarida do ujung ni nasa manisia, tama ingkon diparateatehon jolma na mangolu i do i.*

PILIH MANA COBA: *RUMAH DUKA ATAU RUMAH PESTA?*

Oleh perkataan renungan hari ini, ...kita semua diingatkan akan kematian dan kehidupan kita bahwa: *hidup ini singkat dan waktu yang kita miliki untuk menjalani hidup dan mengasihi sesama dengan baik sangatlah terbatas*. *Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya*. Dua tempat yang disebutkan renungan ini perlu dulu kita maknai, yakni *rumah duka* dan *rumah pesta*.

*Rumah duka*, tempat ini adalah tempat orang yang sudah meninggal diletakkan/disemayamkan sebelum dikubur. Suasana rumah duka pada umumnya penuh dengan kesedihan karena banyak keluarga ditinggalkan oleh orang yang mereka kasihi untuk selama-lamanya dan tidak akan berkumpul kembali. Seturut dengan itu, di rumah duka banyak terdengar penyesalan dari kerabat yang ditinggalkan. Ada anak yang menyesal kurang berbakti kepada orangtua, tidak menyadari bahwa dirinya tidak punya banyak kesempatan lagi untuk membalas kasih orangtua. Ada kakak yang menyesal kurang mengasihi adik, ada teman yang menyesal karena kurang bisa meluangkan waktu untuk bestfriendnya. Dan banyak jerita penyesalan! Banyak penyeselan sangat dalam, pada hal waktu Tuhan memberi beban untuk memberitakan Injil kepada salah seorang teman baiknya, beban itu menjadi begitu dalam sekali, hinga ia tidak menunda lagi untuk...”terisak-isak” terus setiap waktu selama di rumah duka itu. Di rumah duka hanya bisa menyesal, ... menangis, ... dan minta pengampunan kepada sang Ilahi. * Life is short,...Live it to the fullest* (artinya: hidup ini tidak hanya soal apa yang bisa yang kita kerjakan untuk pencapaian pribadi, tetapi juga apa yang bisa kita lakukan kepada orang-orang yang kita kasihi)*

Di rumah duka, kita dapat menyadari betapa fananya kehidupan seorang manusia. Pemazmur mencatat paling banter sekitar 70-80 tahun, tetapi perjalanan hidup di tahun-tahun yang fana itu akan menjadi modal bagi kita untuk menjalani hidup dalam kekekalan. “Apakah kita akan menjadi perabot yang mulia atau yang kurang mulia?” Semuanya ditentukan oleh 70-80 tahun yang fana. Bila di tahun-tahun yang fana tersebut kita hanya sibuk mengumpulkan harta duniawi, semuanya itu tidak akan berguna saat kita p**ang ke rumah Bapa.

Lalu, *rumah pesta* adalah tempat yang penuh dengan s**acita dan kegembiraan. Pesta ulang tahun, pernikahan, kelahiran, syukuran kenaikan jabatan dan lain sebagainya. Biasanya ada hidangan, bingkisan dan tempatnya didekor sehingga suasananya penuh s**acita. Orang mengadakan pesta karena ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Orang kalau disuruh memilih di antara kedua tempat tersebut mana yang lebih dis**ai untuk dikunjungi. Tentulah hampir semua orang pasti akan memilih pergi ke rumah pesta.

Berbeda dengan Pengkhotbah, ayat renungan ini menyatakan lebih baik pergi ke rumah duka dari pada ke rumah pesta. Mengapa ia mengatakan itu? Pengkhotbah lebih s**a berada di rumah duka. *Dengan pergi ke rumah duka, Pengkhotbah sadar bahwa kehidupan dalam dunia ini tidak selamanya dan nanti ia pun akan mengalami hal yang sama yaitu kematian.* Di rumah dukalah akhir kehidupan setiap manusia. Dan ketika mati maka kita tidak membawa apa-apa, semua yang kita miliki ditinggalkan. Pada situasi ini, muncul kesadaran bahwa “untuk apa kita berusaha mati-matian selama hidup mengejar sesuatu yang tidak bisa kita bawa dalam kematian?

Dengan menggambarkan ini, maka mungkin kita menjadi lebih mengerti kenapa Salomo berkata *lebih baik pergi ke rumah duka dari pada ke rumah pesta.* Karena di rumah duka adalah akhir perjalanan seorang manusia di muka bumi ini. Dan di rumah duka juga kita bisa mengetahui apakah seseorang berhasil atau tidak mengakhiri pertandingan dengan baik. Seiring dengan itu, mari dulu mengingat syair lagu rohani Kristen Indonesia (nyanyikan dalam hati saat membaca renungan ini! "Hati S'bagai Hamba":....."kutak membawa apapun juga..... saat kudatang ke dunia...kutinggal semua pada akhirnya.... saat kukembali ke surga...". Oleh lagu ini, kita diingatkan selama dipercaya hidup di dunia, kumpulkan harta di surga dimana tidak ada ngengat dan karat yang akan merusaknya, atau pencuri yang akan membongkar dan mencurinya.

Maka untuk itu, mari mencamkan hal ini:
a). *Lebih baik mengejar sesuatu yang akan kita bawa ke dalam kematian yaitu keselamatan.* Dengan tetap percaya kepada Tuhan Yesus dan lakukan firman Tuhan, semuanya akan membawa kita kepada kehidupan kekal bersama dengan Tuhan.

b). Kita didorong untuk tidak terlalu menggenggam terlalu erat berkat-berkat Allah yang sebetulnya baik—seperti uang, hubungan dengan sesama, dan kesenangan—sehingga kita bebas untuk menikmatinya selama masih hidup, sembari mengumpulkan “harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:20). Maka, dengan mengingat bahwa kematian bisa menjemput kapan saja, ...narilah semakin sesegera mungkin (jangan menunda) terdorong untuk kunjungan kepada orangtua, tidak menangguhkan keputusan kita untuk melayani Allah secara khusus, atau tidak melewatkan waktu bersama anak-anak dengan sibuk bekerja. Tidak menunda berbuat kasih kepada keluarga, sesama, lingkungan, tidak terlalu serakah dengan kepemilikan dunia ini. Dengan pertolongan dari Tuhan Allah, kita pasti dapat belajar untuk hidup dengan bijak. Amin

*tetaplah bijak, dan semangat, selalu berteun dalam doa*

23/09/2023

Kisah Rasul 22:16
*Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!*

Acts 22:16
*And now what are you waiting for? Get up, be baptized and wash your sins away, calling on his name.’*

Ulaon Apostel 22:16
*Onpe, boasa sulonsulonon roham? Hehe ma ho, padidihon ma ho jala paburihon ma dosam, dung dijou ho Goarna i!*

*SIAPA YANG PERCAYA DAN DIBAPTIS AKAN DISELAMATKAN*

Baptisan adalah kesaksian dari apa yang terjadi di dalam kehidupan orang percaya. Baptisan melukiskan identifikasi orang percaya dengan kematian Kristus, penguburan-Nya dan kebangkitan-Nya. Roma 6:3-4 menekankan, “atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Yesus menegaskan tentang arti sebuah Pembaptisan, bahwa Pembaptisan itu menyelamatkan; Pembaptisan membawa orang kepada keselamatan oleh karena ia percaya kepada nama Tuhan. Dalam baptisan, dimasukkan ke dalam air menggambarkan dikuburkan dengan Kristus. Keluar dari air menggambarkan kebangkitan Kristus. Yesus yang telah bangkit, yang menampakkan Diri kepada kesebelas murid-Nya dan berkata, Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Mrk 16:15-16).

Baptisan bukanlah perbuatan manusiawi belaka tetapi baptis adalah tanda dan sarana Rahmat Allah (yaitu kelahiran/hidup baru) dimana Allah berkarya melalui para pelayan yang membabtis. Jadi baptisan adalah karya Allah sendiri yang mencurahkan Roh Kudus-Nya. Baptisan tidak dapat dibedakan/dipisahkan dari iman kepada Yesus dan dari pencurahan Roh Kudus. Baptisan merupakan perwujudan iman seseorang kepada Yesus dan iman itu berhubungan dengan pencurahan Roh Kudus (1 Kor. 12:3).

Jelaslah bahwa apabila seorang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, maka ia harus mengalami suatu kehidupan yang baru. Cara satu-satunya untuk memasuki hidup baru bersama Yesus Kristus adalah dengan jalan kematian dan kelahiran kembali dalam arti rohani. Tegasnya, kematian dari segala sifat kehidupan yang lama dan kelahiran dalam segala sifat kehidupan yang baru, dan kedua proses itu dinyatakan dengan baptisan. Atau setelah seorang telah menguburkan di dalam air baptisan segala kehidupan lamanya yang penuh dengan dosa itu, maka ia pun bangkit keluar lagi dalam air baptisan itu sebagai manusia baru, yang selanjutnya ia memulaikan suatu kehidupan yang seluruhnya baru !

Dapat juga disimpulkan bahwa apabila seseorang dibaptiskan maka ia menerima kematian Yesus untuk mengampuni dosanya, karena baptisan itu adalah suatu lambang, bahkan suatu tugu peringatan yang besar tentang kematian Yesus, penguburan-Nya dan kebangkitan-Nya. Seorang yang dibaptiskan di dalam kuburan air, tidak akan tetap berada di dalam air itu, melainkan ia harus keluar lagi dari dalam air, dan kebangkitannya itu adalah kepada kehidupan baru di dalam Yesus Kristus. Inilah yang disebut, kehidupan Kristen ! Paulus percaya, memberi diri dibaptis dan dosa-dosanya dihapuskan, diampuni oleh Allah. Ia menjadi manusia baru. Hidupnya diubah oleh kasih Allah yang berbelas kasih untuk selanjutnya diutus mewartakan Injil.

Nah...! Kepada kita hari ini dan oleh renungan ini, jikalau seseorang mengenal Yesus sebagai Juruselamat, maka ia harus memahami bahwa baptisan adalah:

a). Langkah ketaatan dalam memperkenalkan imannya kepada Kristus secara terbuka, dan ingin dibaptiskan, maka tidak ada alasan untuk menghalangi orang percaya tsb dari menerima baptisan. Baptisan adalah langkah ketaatan, pernyataan iman seseorang secara terbuka bahwa dia percaya kepada Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Baptisan adalah sesuatu hal penting karena itu adalah langkah ketaatan, pernyataan iman kepada Kristus secara terbuka dan komitmen kepada-Nya, dan menyamakan diri dengan kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus.

b). *Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan* (Yoh 3:5). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Mat 28:19-20). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan.* Kita semua telah percaya dan memberi diri dibaptis. Kita telah menerima Sakramen Pembaptisan, sakramen (tanda dan sarana) yang perlu untuk keselamatan. Sakramen ini memiliki meterai yang kekal, tidak bisa diulang, juga tidak bisa dihapus; ia diterima sekali untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, tugas kita masing-masing adalah menjaga dan memelihara meterai itu serta menghidupi karunia Pembaptisan sepanjang hidup kita. Jadi, mari kita bersama-sama bertanggung jawab atas anugerah Pembaptisan yang telah kita terima untuk pengembangan dan perlindungan rahmat Pembaptisan yang perlu untuk keselamatan. Tuhan memberkati!

Oleh renungan hari ini, mari menghargai baptisan yang sudah kita terima dan mari terus berusaha mengerjakan baptisan kita semua melalui pola kata, sikap dan tindakan kita sheari-hari, Amin

*tetaplah semangat dan selalu bertekun dalam doa*

23/09/2023

Lukas 12:15
*"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”*

Luke 12:15
*“Watch out! Be on your guard against all kinds of greed; life does not consist in an abundance of possessions.”*

Lukas 12:15
* Jaga ma hamu, pasiding hamu ma nasa haholiton! Ai nang pe marlobilobi halak, ndada sian artana i ngoluna.*

*HINDARILAH KETAMAKAN*

Renungan hari ini adalah satu ayat dari bagian kisah tentang seorang yang berkata kepada Yesus dan memintaNya untuk berkata kepada saudara orang itu agar mau berbagi warisan (ay. 13). Orang yang berbicara kepada Yesus tersebut, memberanikan diri untuk meminta Yesus berkata kepada saudaranya. Atas permitaan orang itu, Yesus akhirnya menjawab dengan sangat baik, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” (ay. 14). Dengan jawabanNya ini, sebenarnya Yesus tidak tinggal diam dan langsung meninggalkan orang tersebut. Ia kemudian menyampaikan perumpamaan mengenai orang kaya yang bodoh. Namun sebelum masuk ke dalam perumpamaan tersebut, Yesus mengatakan suatu “kalimat pengantar” dengan pesan yang begitu jelas dan luar biasa: *“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu”* (ay. 15, renungan hari ini).

Pada perkataan Yesus ini, terkandung suatu prinsip yang sangat baik yakni “harus senantiasa berjaga-jaga dan waspada.” Berjaga-jaga dalam hal ini adalah memiliki sikap berhati-hati agar kita tidak menjadi tamak (ay. 15a). Sedangkan arti kata *“tamak”* itu sendiri adalah “selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri” (ketamakan adalah sifat dan karakter yang tidak terpuji). Contoh orang yang tamak dalam kisah Alkitab salah satunya ialah Yudas. Secara status, Yudas Iskariot adalah murid Tuhan Yesus, tetapi dia berjiwa pengkhianat. Ketika Tuhan Yesus menyampaikan tentang penolakan terhadap diri-Nya dan tentang kematian-Nya, Yudas kehilangan kepercayaan untuk terus mengikuti Dia. Yudas kehilangan kepercayaan karena lenyapnya harapan bahwa Tuhan Yesus akan menjadi pewaris takhta Daud dan bahwa dia akan mendapat jabatan tinggi dalam pemerintahan Mesias. Seorang murid seperti Yudas, bisa berkhianat terhadap Sosok yang pernah dia puja-puja.

Jadi, jelas bahwa ketamakan termasuk godaan yang sudah berusia cukup tua dalam kehidupan manusia. Lewat daya pikatnya yang luar biasa, ibarat bensin yang dituangkan ke dalam kobaran api, ketamakan begitu menggoda hati manusia yang tidak mudah puas. Begitu banyak orang telah terkena jeratan ketamakan, mulai dari orang Kristen awam, para aktivis pelayanan, tak terkecuali para hamba Tuhan. Itulah sebabnya, Yesus dengan tegas berpesan kepada para murid-Nya agar berjaga-jaga dan mewaspadai ketamakan (renungan hari in). Peringatan yang sebaiknya tidak diabaikan oleh setiap orang percaya mengingat begitu kuatnya godaan ketamakan.
Yudas sanggup berkhianat kepada Yesus sangat ditentukan dua hal sebab yakni:

a). *Karena ketamakan mendapat tempat istimewa dalam hatinya.* Menurut Lukas 22:3, Iblis sendiri memasuki Yudas kira-kira waktu itu. Iblis beroperasi melalui ketamakan Yudas. Iblis membuat Yudas untuk melaksanakan tindakan pengkhianatan. Sejak awal motif Yudas penuh dengan ketamakan dan kehausan akan kekuasaan. Ia memiliki mentalitas murahan sehingga ia mencuri uang kas para murid (Yoh. 12:6). Ketamakan selalu mendapat tempat di hatinya.

b). *Yudas secara s**arela membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh musuh-musuh-Nya.* Ia menjadi "sahabat" Kayafas dan Sanhedrin. Ia membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk melampiaskan kebencian orang-orang yang memusuhi Tuhan Yesus. Betapa tersanjungnya Sanhedrin ketika berhasil menambahkan seorang sekutu dari lingkaran dalam Tuhan Yesus sendiri. Yudas pun mendapat keuntungan sebesar tiga puluh uang perak dengan begitu mudahnya dari hasil pengkhianatan yang dilakukannya. Menjadi murid Tuhan Yesus bukan persoalan satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun, melainkan merupakan pergumulan seumur hidup sampai titik darah penghabisan!

Jadi renungkanlah (pesan renungan hari ini kepada kita):
a). *Ketamakan dapat nyata dalam cinta akan uang,* keinginan akan kekuasaan atau keuntungan, atau kerakusan akan makanan dan minuman, seks, atau hal-hal materi lainnya. Alkitab memperingatkan orang Kristen terhadap perangai yang bejat itu dan memerintahkan agar mereka tidak bergaul dengan orang yang menyebut dirinya ”saudara” Kristen tetapi mempraktekkan ketamakan.

b). Orang-orang yang menginginkan keuntungan berlipat ganda dengan cara yang salah akan sulit untuk menerima hadirat Allah. Mereka akan menjauh dan semakin menjauh karena telah diperhamba oleh ketamakan dan kerakusannya. Firman Tuhan mengingatkan kita agar mengucap syukur dalam segala hal. Apa pun kondisi kita hari ini, bersyukurlah dan yakin pada pertolongan Tuhan. Karena Tuhan tidak akan membuat umat-Nya sampai tergeletak. Karena itu, hindarilah sikap hidup yang tamak karena itu akan merugikan diri dan hidup kita sendiri.

c). Ketamakan hanya bisa diatasi dengan ucapan syukur dan membiasakan diri untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada. Selain itu, kita juga perlu berhati-hati agar tidak mudah tergiur dengan tawaran keuntungan besar, instan, dan tidak logis. Jika tidak berhati-hati, bukannya keuntungan yang diperoleh, melainkan kerugian dan penyesalan.

d). *Tuhan sangat mengjinkan kita menjadi kaya bahkan menjadi sangat kaya.* Tuhan tidak pernah melarang kita untuk menjadi kaya. Hanya, Tuhan mengingatkan agar kita tidak menjadi tamak. Tuhan mengingatkan agar dalam kekayaan yang dimilikinya, manusia tidak hanya memikirkan bagi diri sendiri. Kita harus menggunakan segenap kekayaannya itu bagi kemuliaan nama Tuhan. Jika kita kaya, berarti kita harus memuliakan Tuhan melalui kekayaan kita. Tetapi jika kita kemudian menjadi tamak, mencari harta sebanyak-banyaknya bukan untuk kemuliaan Tuhan, maka sama saja kita menjadi tamak, dan berlaku Firman Tuhan berikut ini bahwa *hidup kita tidak tergantung dari pada kekayaan kita yang berlimpah-limpah itu* (ay. 15b). *Keselamatan jiwa kita tidak dapat dibeli dengan kekayaan yang kita miliki.* Oleh karena itu, jika kita diberi kekayaan di dunia ini, mari gunakan itu semua untuk kemuliaan nama Tuhan, untuk mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan di dunia ini, dan lain sebagainya. Amin

*tetaplah semangat dan selalu bertekun dalam doa*

23/09/2023

Roma 2:29
*Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah*

Romans 2:29
*No, a person is a Jew who is one inwardly; and circumcision is circumcision of the heart, by the Spirit, not by the written code. Such a person’s praise is not from other people, but from God.*

Roma 2:29
*Alai naeng ma Jahudi ibana di bagasan rohana; parsunaton i pe, naeng ma di bagasan roha hinorhon ni Tondi, unang hata ni patik; angka sisongon i ma dapotan pujipujian sian Debata, nda tung sian jolma.*

*SUNAT YANG SEJATI ADALAH TELADAN YANG MEMULIAKAN ALLAH*

Renungan ini berada pada konteks anggapan bahwa orang Yahudi selalu merasa superior jika dibangdingkan dengan orang lain di jemaat Roma pada masanya. Orang Yahudi merasa diri lebih baik dan benar daripada orang kafir karena mereka memiliki hukum Taurat, hukum yang Tuhan berikan kepada mereka sebagai bangsa pilihan. Orang Yahudi sangat bangga atas hukum Taurat. Pada pokok penekanannya Paulus ingin menjelaskan kepada jemaat Roma (yang di dalamnya ada jemaat dari latarbelakang Yahudi dan non-Yahudi) bahwa *”yang penting bukan sekadar memiliki hukum Taurat, melainkan melakukan hukum Taurat itu.”*

Jika jemaat dari kalangan Yahudi di jemaat Roma menganggap kalangan jemaat lain dari luar bangsa Yahudi itu buta, berada dalam kegelapan, bodoh, belum dewasa, dan tidak berpengetahuan karena mereka hidup tanpa hukum Taurat. Tetapi faktanya, jemaat dari kalangan Yahudi mereka hanya bermegah atas hukum Taurat yang mereka miliki, namun mereka sendiri menghina Tuhan dengan melanggar hukum Taurat (21-23). Sekalipun mereka sudah mengenal Tuhan dan memiliki hukum Taurat, tetapi karena mereka hidup dalam dosa, mereka mempermalukan nama Tuhan (ay. 24). Disini, Paulus ingin menegur orang-orang Kristen Yahudi saat itu bahwa mereka seharusnya menjadi teladan bagi jemaat lain dari bangsa-bangsa di luar Yahudi, supaya dapat mendidik orang-orang non-Yahudi yang mereka anggap bodoh. Mereka seharusnya mempermuliakan Tuhan lewat hidup mereka, dan dengan demikian, menjadi terang yang menuntun bangsa-bangsa kafir untuk mengenal Tuhan (19-20).

Pada argument ini, tentu demi mengkodusifkan persekutuan jemaat Roma, Paulus setitik pun tidak mau mundur. Ia tetap menyampaikan kebenaran firman Allah kepada orang Yahudi. Terhadap orang-orang sebangsanya, Paulus menegaskan bahwa hukum Taurat dan sunat tidaklah jaminan keselamatan mereka. Bukan tanpa alasan Paulus menegaskan hal ini bahwa dalam pandangannya, Paulus pada kenyataannya, hidup orang yahudi sama sekali tidak memiliki keteladanan (sebagai orang Yahudi, ay. 21-25). Mereka tahu banyak soal hukum dan aturan dari Allah, tetapi mereka tidak melakukannya (21-25). Melalui ini, Paulus mengkontraskan sikap hidup orang Yahudi dengan orang non-Yahudi yang tidak memiliki hukum Taurat dan tidak bersunat (ay. 26-27). Bagi Paulus, mereka tidak memiliki tanda sunat rohani (28-29). *Itulah sebabnya, keyahudian lahiriah tidak ada gunanya.* Bahkan, Paulus menyebut sikap hidup orang Yahudi seperti itu sebagai bentuk penghujatan terhadap nama Tuhan (24). *Yang terpenting adalah kesungguhan percaya dalam hati dan diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari* (ay. 29).

Lalu, setelah memahami uraian di atas (latar belakang renungan ini), maka peguatan/pean renungan ini kepada kita ialah:
a). Jaman sekarang banyak orang Kristen, nyatanya *mereka hidup seperti orang-orang Kristen di Roma (seperti diterangkan di atas),* yakni mereka mengaku Kristen tetapi hidupnya jauh dari teladan yang Kristus ajarkan. Akibatnya, banyak orang yang belum percaya menghina nama Tuhan dan tidak mau percaya kepada Tuhan. Mereka melihat hidup orang Kristen justru memang tidak lebih baik dari mereka yang bukan Kristen. Renungan ini, berpesan bahwa kita yang sudah mengenal Tuhan Yesus Kristus, seharusnyalah menjadi teladan bagi orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Jangan sampai melalui hidup kekristenan kita nama Tuhan Yesus justru dipermalukan dunia ini. Sebaliknya, marilah mempermuliakan nama Tuhan dengan hidup seturut firman-Nya. Nyatakanlah kasih dan kebenaran Yesus Kristus dengan benar sehingga kita dapat dipakai Tuhan untuk menuntun mereka yang belum percaya datang kepada-Nya. Atau setidaknya, kiranya hal ini menjadi peringatan keras bagi kita untuk menghindarkan diri dari menampilkan perilaku iman kita sebatas idenditas sebagai Kristen saja. Artinya, aktulaisasi iman kita hendaknya jangan kiranya hanya sebatas KTP belaka, ...iman kita tidak terwujud dalam perbuatan sehari-hari. *Tuhan tidak menebus kita hanya untuk menjadi orang Kristen yg NATO (No actions, talk only) saja.*

b). Oleh renungan hari ini, hendak menekankan pesan bahwa Allah menyatakan kasih karunia-Nya ke dalam hati kita orang percaya, serta melaluinya kita juga berpartisipasi dalam menyatakan keberadaan Allah kepada banyak orang. Seperti bagi rasul Paulus sesuai renungan hari ini bahwa ”apa yang ada di dalam hati seseorang,itu yg justru jauh lebih penting dari pada status kehidupan yang hanya bersifat lahiriah tetapi tidak melakukan kehendak Allah dengan baik dan benar sesuai kehendak-Nya.” Jadi, marilah dengan kesadaran yang penuh, kita selalu mengingat akan nasihat Firman Tuhan hari ini, yaitu untuk menjadi seorang yang percaya kepada Kristus sehingga *memiliki kehidupan yang penuh ke-teladan-an, yang sesuai dengan hidup Kristus dan kebenaran Firman Tuhan,* karena itulah yang akan membawa dampak yang baik, Allah akan ditinggikan dan Allah memuji keberadaannya sebagai murid-Nya. Jadikan kehidupan kita selalu fokus melakukan hal-hal yang bersifat kekal, bukan yang bersifat lahiriah.

c). Hidup orang Kristen, sejatinya tidak perlu memiliki kebanggaan terhadap hal-hal yg sifatnya lahiriah saja (seperti renungan ini yakni “sunat”). Sebab bagi orang Kristen saat ini, *”simbol/tanda sunat adalah manusia batiniah setiap orang Kristen yang diperbaharui Roh Allah).”* Artinya, orang Kristen saat ini hendakya tidak menempatkan nilai dan ukuran imannya di mana ketika ia merasa cukup hanya sebagai orang beriman saja yaitu *”hanya karena ketika ia percaya bahwa ada Allah yang esa, mengimani kekristenan, taat kepada hukum-hukum/semacam Taurat.”* Namun, ia lupa bahwa keberimanan orang Kristen yang sejati ialah penurutan/ketundukan terhadap kehendak Allah seperti tindakan Abraham, dan kehendak Allah dalam kehidupan orang Kristen adalah upaya untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus Kristus hal mana juga berarti sempurna seperti Bapa”*. Amin

*tetaplah semangat dan selalu bertekun dalam doa*

23/09/2023

Roma 3:25
*Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.*

Romans 3,25
*God presented Christ as a sacrifice of atonement, through the shedding of his blood—to be received by faith. He did this to demonstrate his righteousness, because in his forbearance he had left the sins committed beforehand unpunished*

Roma 3:25
*Ibana do dipadiri Debata bahen habangsa parasian marhite sian haporseaon di mudarna i, asa dipapatar Debata disi hatigoranna, ala naung dibolus matana angka dosa najolo marhite lambas ni rohana.*

*YESUS KRISTUS SUMBER KESELAMATAN KITA*

Sebagai mahluk alamiah, kedirian kita (manusia) memang selalu saja mengalami kegagalan karena dosa. Banyak masalah demikian banyak tawaran dialami oleh manusia sehingga ia pun selalu memiliki peluang untuk menjadi pribadi yang selalu membutuhkan Tuhan dalam hidupnya. Renungan hari ini, memberikan gambaran tentang betapa rapuhnya manusia sejak awalnya dan Allah dengan kesabaran-Nya menantikan manusia sehingga manusia bisa diperdamaikan lagi dengan Allah. Inilah Kasih anugerah yang di berikan Allah kepada manusia yang sungguh luar biasa. Rancangan Allah bagi keselamatan manusia yang telah berlaku atas kita dari semula itu, hanya di dalam Yesus Kristus. Kasih dan anugerah Allah yag diberikanNya kepada kita (manusia) menjadi kita sebagai orang-orang yang sangat berbahagia di dunia. Sebagai orang yang berbahagia di dunia, kita memilik Dia, Yesus Kristus Tuhan kita. Dia yang menerima kebenaran Allah, karena iman kita kepada Yesus Kristus. Oleh kasih setia dan kasih karunia-Nya, kita sudah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dengan darah-Nya yang kudus. Sejak semula, Dia sudah ditentukan oleh-Nya menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Segala dosa-dosa kita pada masa yang lalu sudah dihapuskan-Nya dengan cuma-cuma. Karena iman kita kepada-Nya, Allah kita sudah membenarkan segala dosa manusia, dosa kita dan dosa semua orang yang percaya kepada-Nya.

Inilah Kebenaran Allah yang telah dinyatakan seperti yang disaksikan dalam Alkitab (PL) yakni kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Anak Allah Bapa, adalah Mesias dan Juru Selamat manusia berdosa. Sungguh! Tidak ada perbedaan antara yang disampaikan oleh Alkitab dengan kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Semua orang berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Sejak manusia jatuh dalam dosa di Taman Eden pada zaman awal penciptaan manusia oleh Firman-Nya, semua orang sudah kehilangan kemuliaan Allah. Semakin lama, manusia semakin tersesat dan jauh dari kemuliaan Allah. Segala dosa dan kejahatan mereka seolah menutup segalanya sehingga mereka tidak menemukan jalan keluar dari ketersesatannya. *“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”* (Roma 3:23). Ya, benar semua orang, sudah berbuat dosa. Tidak sebagian besar, sebagian atau sebagian kecil. Tidak juga beberapa orang yang berbuat dosa. Tetapi semua orang sudah melakukan perbuatan berdosa. Karenanya, semua orang p**a sudah kehilangan kemuliaan Allah. Semua orang sudah jauh dari kemuliaan Allah.

Oleh karena itu, *kita dibenarkan dengan cuma-Cuma.* Allah mengutus Anak Tunggal-Nya untuk datang ke dunia. Yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita, Mesias dan Juru Selamat untuk menebus dan menyelamatkan dengan cuma-cuma semua manusia berdosa yang percaya kepada-Nya. Oleh karena kasih karunia dan belas kasihan-Nya, kita sudah dibenarkan oleh-Nya dengan cuma-cuma. Bahwa dengan pengorbananan-Nya di kayu salib, mati, dikuburkan dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, Dia, Yesus Kristus Tuhan kita, sudah menebus dan menyelamatkan kita dari hukuman dosa. *Jalan pendamaian karena iman*. Ketersesatan manusia dalam dosa niscaya tidak akan berakhir, apabila Allah tidak bertindak. Manusia yang tersesat dalam dosa memerlukan jalan pendamaian. Namun mereka tidak menemukan jalan pendamaian. Oleh sebab itu, Allah membuka salah satu rahasia besar-Nya. Ia mengutus Anak Tunggal-Nya yang sangat dikasihi-Nya turun dari sorga ke dunia.

Renungan hari ini, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.” (Roma 3:25). Kristus Yesus yang sudah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman kita kepada-Nya dengan darah-Nya sendiri. Tuhan Yesus sudah mencurahkan darah-Nya yang kudus untuk melakukan penebusan dan penyelamatan semua manusia berdosa yang percaya kepada-Nya. Hal demikian diperbuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya bahwa Ia adalah Mesias dan Juru Selamat manusia yang maha adil. Ia tidak ingin membiarkan umat-Nya terus tersesat dalam dosa dan kejahatan yang akan membawa mereka ke jurang maut dan kematian kekal dengan nyala api yang tidak pernah padam. Ia tidak membiarkan umat-Nya hidup dalam dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Akhirnya, mari hari ini menyikapi anugerah ini yakni menyadari bahwa hidup kita adalah anugerah dari Allah. Demikian menghayati arti pendamaian yang sejati yang dianugerahkan Tuhan dalam hidup kita yakni ketika kita menghidupi panggilan sebagai pribadi, keluarga dan perutusan kita. Hidup kita tentu harus mencerminkan makna pendamaian yang sudah dikerjakan YESUS bagi kita. Hati kita butuh berproses Bersama dengan Tuhan. Karena untuk mengerjakan karya pendamaian dalam perjumpaan dengan sesama tidaklah mudah! Kita membutuhan waktu dan hati yang rela untuk berproses. Sebuah kata kunci, ditawarkan dalam nats ini : *kesabaran*. Karena dengan kesabaran kita bisa membentuk diri kita menjadi pribadi yang menajdi berkat bagi orang lain dan bagi kemuliaan TUHAN. Kita sanggup untuk berelasi dengan sesama, bersahabat dengan segala situasi yang terkadang tidak baik. Dengan demikian, kita menjadi manusia yang memaknai pendamaian yang dilakukan Tuhan dan mengalami pertumbuhan yang menghasilkan BUAH.

Mari juga hari ini, ketika kita telah merenungkan makn renungan ini, mari menyadari bahwa kita (umat pilihan Allah) yang berdosa dan tidak layak ini sudah dilayakkan dan dibenarkan di dalam Kristus. Lalu, kita yang sudah dilayakkan, harus menjadi saksi Kristus di dalam hidup kita baik melalui perkataan (pemberitaan Injil) maupun perbuatan kita yang memuliakan-Nya. Ketika kita mau berbuat baik untuk memuliakan Allah, itu merupakan akibat dan tanda sejati dari orang yang sungguh-sungguh percaya di dalam Kristus. Amin.

*tetaplah semangat dan selalu bertekun dalam doa*

Address

Jalan Kawat 1 Gang Turi Medan
Medan
20241

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Alkitab firman Tuhan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share