23/09/2023
Pengkotbah 7:2
*Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya*
Ecclesiastes 7:2
*It is better to go to a house of mourning than to go to a house of feasting, for death is the destiny of everyone; the living should take this to heart*
Parjamita 7:2
*Tagonan do masuk iba tu jabu parandungandungon asa tu jabu parpanggalangan; ai di bagasan parjolo i tarida do ujung ni nasa manisia, tama ingkon diparateatehon jolma na mangolu i do i.*
PILIH MANA COBA: *RUMAH DUKA ATAU RUMAH PESTA?*
Oleh perkataan renungan hari ini, ...kita semua diingatkan akan kematian dan kehidupan kita bahwa: *hidup ini singkat dan waktu yang kita miliki untuk menjalani hidup dan mengasihi sesama dengan baik sangatlah terbatas*. *Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya*. Dua tempat yang disebutkan renungan ini perlu dulu kita maknai, yakni *rumah duka* dan *rumah pesta*.
*Rumah duka*, tempat ini adalah tempat orang yang sudah meninggal diletakkan/disemayamkan sebelum dikubur. Suasana rumah duka pada umumnya penuh dengan kesedihan karena banyak keluarga ditinggalkan oleh orang yang mereka kasihi untuk selama-lamanya dan tidak akan berkumpul kembali. Seturut dengan itu, di rumah duka banyak terdengar penyesalan dari kerabat yang ditinggalkan. Ada anak yang menyesal kurang berbakti kepada orangtua, tidak menyadari bahwa dirinya tidak punya banyak kesempatan lagi untuk membalas kasih orangtua. Ada kakak yang menyesal kurang mengasihi adik, ada teman yang menyesal karena kurang bisa meluangkan waktu untuk bestfriendnya. Dan banyak jerita penyesalan! Banyak penyeselan sangat dalam, pada hal waktu Tuhan memberi beban untuk memberitakan Injil kepada salah seorang teman baiknya, beban itu menjadi begitu dalam sekali, hinga ia tidak menunda lagi untuk...”terisak-isak” terus setiap waktu selama di rumah duka itu. Di rumah duka hanya bisa menyesal, ... menangis, ... dan minta pengampunan kepada sang Ilahi. * Life is short,...Live it to the fullest* (artinya: hidup ini tidak hanya soal apa yang bisa yang kita kerjakan untuk pencapaian pribadi, tetapi juga apa yang bisa kita lakukan kepada orang-orang yang kita kasihi)*
Di rumah duka, kita dapat menyadari betapa fananya kehidupan seorang manusia. Pemazmur mencatat paling banter sekitar 70-80 tahun, tetapi perjalanan hidup di tahun-tahun yang fana itu akan menjadi modal bagi kita untuk menjalani hidup dalam kekekalan. “Apakah kita akan menjadi perabot yang mulia atau yang kurang mulia?” Semuanya ditentukan oleh 70-80 tahun yang fana. Bila di tahun-tahun yang fana tersebut kita hanya sibuk mengumpulkan harta duniawi, semuanya itu tidak akan berguna saat kita p**ang ke rumah Bapa.
Lalu, *rumah pesta* adalah tempat yang penuh dengan s**acita dan kegembiraan. Pesta ulang tahun, pernikahan, kelahiran, syukuran kenaikan jabatan dan lain sebagainya. Biasanya ada hidangan, bingkisan dan tempatnya didekor sehingga suasananya penuh s**acita. Orang mengadakan pesta karena ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Orang kalau disuruh memilih di antara kedua tempat tersebut mana yang lebih dis**ai untuk dikunjungi. Tentulah hampir semua orang pasti akan memilih pergi ke rumah pesta.
Berbeda dengan Pengkhotbah, ayat renungan ini menyatakan lebih baik pergi ke rumah duka dari pada ke rumah pesta. Mengapa ia mengatakan itu? Pengkhotbah lebih s**a berada di rumah duka. *Dengan pergi ke rumah duka, Pengkhotbah sadar bahwa kehidupan dalam dunia ini tidak selamanya dan nanti ia pun akan mengalami hal yang sama yaitu kematian.* Di rumah dukalah akhir kehidupan setiap manusia. Dan ketika mati maka kita tidak membawa apa-apa, semua yang kita miliki ditinggalkan. Pada situasi ini, muncul kesadaran bahwa “untuk apa kita berusaha mati-matian selama hidup mengejar sesuatu yang tidak bisa kita bawa dalam kematian?
Dengan menggambarkan ini, maka mungkin kita menjadi lebih mengerti kenapa Salomo berkata *lebih baik pergi ke rumah duka dari pada ke rumah pesta.* Karena di rumah duka adalah akhir perjalanan seorang manusia di muka bumi ini. Dan di rumah duka juga kita bisa mengetahui apakah seseorang berhasil atau tidak mengakhiri pertandingan dengan baik. Seiring dengan itu, mari dulu mengingat syair lagu rohani Kristen Indonesia (nyanyikan dalam hati saat membaca renungan ini! "Hati S'bagai Hamba":....."kutak membawa apapun juga..... saat kudatang ke dunia...kutinggal semua pada akhirnya.... saat kukembali ke surga...". Oleh lagu ini, kita diingatkan selama dipercaya hidup di dunia, kumpulkan harta di surga dimana tidak ada ngengat dan karat yang akan merusaknya, atau pencuri yang akan membongkar dan mencurinya.
Maka untuk itu, mari mencamkan hal ini:
a). *Lebih baik mengejar sesuatu yang akan kita bawa ke dalam kematian yaitu keselamatan.* Dengan tetap percaya kepada Tuhan Yesus dan lakukan firman Tuhan, semuanya akan membawa kita kepada kehidupan kekal bersama dengan Tuhan.
b). Kita didorong untuk tidak terlalu menggenggam terlalu erat berkat-berkat Allah yang sebetulnya baik—seperti uang, hubungan dengan sesama, dan kesenangan—sehingga kita bebas untuk menikmatinya selama masih hidup, sembari mengumpulkan “harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:20). Maka, dengan mengingat bahwa kematian bisa menjemput kapan saja, ...narilah semakin sesegera mungkin (jangan menunda) terdorong untuk kunjungan kepada orangtua, tidak menangguhkan keputusan kita untuk melayani Allah secara khusus, atau tidak melewatkan waktu bersama anak-anak dengan sibuk bekerja. Tidak menunda berbuat kasih kepada keluarga, sesama, lingkungan, tidak terlalu serakah dengan kepemilikan dunia ini. Dengan pertolongan dari Tuhan Allah, kita pasti dapat belajar untuk hidup dengan bijak. Amin
*tetaplah bijak, dan semangat, selalu berteun dalam doa*