Pustaka Dharma Utama

Directions Website

Pustaka Dharma Utama Toko Buku Online

PLEDOI — Jalan Berliku Mencari Hikmah KehidupanBagaimana rasanya ketika hidup yang tenang tiba-tiba berubah hanya karena...
26/08/2026

PLEDOI — Jalan Berliku Mencari Hikmah Kehidupan

Bagaimana rasanya ketika hidup yang tenang tiba-tiba berubah hanya karena satu kabar di televisi?

Seorang profesional teknologi informasi, suami, dan ayah dari tiga anak mendadak menjadi tersangka perkara korupsi. Nama baik runtuh. Pekerjaan hilang. Teman menjauh. Hingga akhirnya pintu rumah tahanan benar-benar menutup kebebasannya.

Namun justru dari balik jeruji ia menemukan pelajaran yang tidak pernah diperoleh di ruang kuliah atau ruang kerja: tentang keluarga, persahabatan, pengkhianatan, hukum dan keadilan, meditasi, doa, memaafkan, kehilangan, harapan, dan keberanian untuk bangkit kembali.

PLEDOI adalah memoar inspiratif tentang perjuangan hidup dan kesempatan kedua. Bukan sekadar kisah pengadilan dan penjara, tetapi perjalanan seorang manusia mempertahankan kebenaran, menjaga keluarganya, menghadapi stigma, dan menemukan kembali makna kehidupan.

Cocok untuk pembaca yang menyukai kisah nyata, memoar, biografi, motivasi kehidupan, pengembangan diri, dunia profesional dan karier, keluarga, hukum dan pengadilan, spiritualitas, serta cerita tentang bangkit dari keterpurukan.

Ada saat ketika tubuh dapat dipenjara, nama baik dapat dirampas, dan hampir semua orang menjauh.

Tetapi satu hal jangan sampai ikut hilang:

HARAPAN.

📖 PLEDOI
Jalan Berliku Mencari Hikmah Kehidupan

Harga 150 Ribu - A5 - 190 halaman - softcover

✍️ Jey Mattan
Kawi Sastra Mandala

Download Contoh Halaman :

https://kawisastramandala.id/contoh/N01-PLEDOI-0827.pdf

ROGHA SANGGARA BUMIMembaca Tanda Zaman, Menjaga Keharmonisan JagatDownload daftar isi dan contoh halaman :https://kawisa...
07/08/2026

ROGHA SANGGARA BUMI
Membaca Tanda Zaman, Menjaga Keharmonisan Jagat

Download daftar isi dan contoh halaman :
https://kawisastramandala.id/contoh/A9.RoghaSanggaraBumi.pdf

Mengapa penyakit, wabah, bencana alam, dan kekacauan sosial datang silih berganti?

Widhi Sastra Rogha Sanggara Bumi merupakan alih bahasa lontar Bali kuno yang merekam cara leluhur membaca berbagai tanda zaman. Buku ini membahas penyakit, wabah, bencana alam, kerusakan lingkungan, serta kekacauan sosial sebagai gejala terganggunya keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi.

Lontar ini menjelaskan bahwa ketika tata nilai diabaikan, keserakahan merajalela, dan alam dieksploitasi tanpa kesadaran, kehidupan dapat memasuki fase rogha—penyakit dan penderitaan—serta sanggara, yaitu kekacauan dan kehancuran.

Namun, buku ini tidak hanya menyampaikan pertanda dan peringatan. Di dalamnya juga terdapat jalan pemulihan melalui perubahan perilaku, kesadaran bersama, laku etis, ritual, dan prayascita untuk menata kembali keharmonisan kehidupan.

Buku ini cocok dibaca oleh:

• pemangku, pinandita, sulinggih, dan pelaksana yadnya;
• penyuluh agama, guru, mahasiswa, dan pengajar pasraman;
• bendesa adat, prajuru desa, serta pemerhati budaya Bali;
• generasi muda yang ingin memahami lontar dengan bahasa Indonesia;
• pemerhati lingkungan, kesehatan, kebencanaan, dan kehidupan sosial.

Mengapa perlu membacanya?

Karena Rogha Sanggara Bumi membantu kita memahami bahwa bencana tidak cukup disikapi dengan rasa takut. Setiap peristiwa harus menjadi pangeling untuk memperbaiki pikiran, perilaku, hubungan sosial, serta cara manusia memperlakukan alam.

Disajikan dalam teks Kawi dan alih bahasa Indonesia, buku ini menjadi jembatan antara kebijaksanaan leluhur dan berbagai krisis kehidupan modern.

Spesifikasi:
A5 | Softcover berwarna | Kertas bookpaper
273 halaman | Harga Rp170.000

Terbitan Kawi Sastra Mandala

Rogha Sanggara Bumi bukan sekadar bacaan tentang bencana. Buku ini adalah cermin untuk membaca keadaan zaman dan tuntunan untuk mengembalikan kehidupan dari sanggara menuju rahayu.

ROGHA SANGGARA BUMIMembaca Tanda Zaman, Menjaga Keharmonisan JagatMengapa penyakit, wabah, bencana alam, dan kekacauan s...
05/08/2026

ROGHA SANGGARA BUMI
Membaca Tanda Zaman, Menjaga Keharmonisan Jagat

Mengapa penyakit, wabah, bencana alam, dan kekacauan sosial datang silih berganti?

Widhi Sastra Rogha Sanggara Bumi merupakan alih bahasa lontar Bali kuno yang merekam cara leluhur membaca berbagai tanda zaman. Buku ini membahas penyakit, wabah, bencana alam, kerusakan lingkungan, serta kekacauan sosial sebagai gejala terganggunya keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi.

Lontar ini menjelaskan bahwa ketika tata nilai diabaikan, keserakahan merajalela, dan alam dieksploitasi tanpa kesadaran, kehidupan dapat memasuki fase rogha—penyakit dan penderitaan—serta sanggara, yaitu kekacauan dan kehancuran.

Namun, buku ini tidak hanya menyampaikan pertanda dan peringatan. Di dalamnya juga terdapat jalan pemulihan melalui perubahan perilaku, kesadaran bersama, laku etis, ritual, dan prayascita untuk menata kembali keharmonisan kehidupan.

Buku ini cocok dibaca oleh:

• pemangku, pinandita, sulinggih, dan pelaksana yadnya;
• penyuluh agama, guru, mahasiswa, dan pengajar pasraman;
• bendesa adat, prajuru desa, serta pemerhati budaya Bali;
• generasi muda yang ingin memahami lontar dengan bahasa Indonesia;
• pemerhati lingkungan, kesehatan, kebencanaan, dan kehidupan sosial.

Mengapa perlu membacanya?

Karena Rogha Sanggara Bumi membantu kita memahami bahwa bencana tidak cukup disikapi dengan rasa takut. Setiap peristiwa harus menjadi pangeling untuk memperbaiki pikiran, perilaku, hubungan sosial, serta cara manusia memperlakukan alam.

Disajikan dalam teks Kawi dan alih bahasa Indonesia, buku ini menjadi jembatan antara kebijaksanaan leluhur dan berbagai krisis kehidupan modern.

Spesifikasi:
A5 | Softcover berwarna | Kertas bookpaper
273 halaman | Harga Rp150.000

Terbitan Kawi Sastra Mandala

kawisastramandala.id

Rogha Sanggara Bumi bukan sekadar bacaan tentang bencana. Buku ini adalah cermin untuk membaca keadaan zaman dan tuntunan untuk mengembalikan kehidupan dari sanggara menuju rahayu.

PROMO PAKET USADAOm Swastyatu,Warisan ilmu pengobatan, tanda-tanda penyakit, perlindungan diri, dan tuntunan hidup dari ...
23/07/2026

PROMO PAKET USADA

Om Swastyatu,

Warisan ilmu pengobatan, tanda-tanda penyakit, perlindungan diri, dan tuntunan hidup dari lontar Bali kini hadir dalam satu paket bacaan pilihan Kawi Sastra Mandala.

Dalam paket ini terdapat 4 buku:
1. Tutur Masredah
Buku yang menguraikan ajaran tentang tubuh, batin, tanda-tanda halus, serta jalan memahami kehidupan secara sekala dan niskala. Cocok bagi pembaca yang ingin mendalami tutur Bali sebagai sumber renungan dan tuntunan laku.
2. Usada Dalem
Membahas berbagai pengetahuan usada yang berkaitan dengan penyakit, gejala, sarana pengobatan, serta cara pandang tradisional Bali terhadap keseimbangan tubuh dan jiwa. Buku ini menjadi jembatan untuk memahami kearifan pengobatan leluhur.
3. Usada Rare
Berisi pengetahuan usada yang berhubungan dengan anak-anak, tanda penyakit, ramuan, dan tata cara penanganan menurut tradisi lontar Bali. Sangat penting sebagai dokumentasi warisan pengobatan keluarga dan perhatian leluhur terhadap tumbuh kembang anak.
4. Tetenger Kena Cetik
Mengulas tanda-tanda seseorang terkena cetik atau gangguan racun, beserta tamba dan penanganannya menurut lontar. Buku ini menarik bagi pecinta usada, penekun budaya Bali, dan pembaca yang ingin memahami cara leluhur membaca gejala penyakit.
Isi Paket:
Tutur Masredah — 267 hal — 180
Usada Dalem — 173 hal — 150
Usada Rare — 222 hal — 160
Tetenger Kena Cetik — 111 hal — 130
Total harga: 620
Promo jadi: 600 + ongkir
Paket ini bukan sekadar kump**an buku, tetapi upaya menjaga warisan lontar agar tetap terbaca, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda.

Kawi Sastra Mandala — Lontar, Ilmu, Warisan Leluhur.
Lihat webiste di
www.kawisastramandala.id

PROMO PAKET USADAOm Swastyatu,Warisan ilmu pengobatan, tanda-tanda penyakit, perlindungan diri, dan tuntunan hidup dari ...
21/07/2026

PROMO PAKET USADA

Om Swastyatu,

Warisan ilmu pengobatan, tanda-tanda penyakit, perlindungan diri, dan tuntunan hidup dari lontar Bali kini hadir dalam satu paket bacaan pilihan Kawi Sastra Mandala.

Dalam paket ini terdapat 4 buku:

1. Tutur Masredah
Buku yang menguraikan ajaran tentang tubuh, batin, tanda-tanda halus, serta jalan memahami kehidupan secara sekala dan niskala. Cocok bagi pembaca yang ingin mendalami tutur Bali sebagai sumber renungan dan tuntunan laku.

2. Usada Dalem
Membahas berbagai pengetahuan usada yang berkaitan dengan penyakit, gejala, sarana pengobatan, serta cara pandang tradisional Bali terhadap keseimbangan tubuh dan jiwa. Buku ini menjadi jembatan untuk memahami kearifan pengobatan leluhur.

3. Usada Rare
Berisi pengetahuan usada yang berhubungan dengan anak-anak, tanda penyakit, ramuan, dan tata cara penanganan menurut tradisi lontar Bali. Sangat penting sebagai dokumentasi warisan pengobatan keluarga dan perhatian leluhur terhadap tumbuh kembang anak.

4. Tetenger Kena Cetik
Mengulas tanda-tanda seseorang terkena cetik atau gangguan racun, beserta tamba dan penanganannya menurut lontar. Buku ini menarik bagi pecinta usada, penekun budaya Bali, dan pembaca yang ingin memahami cara leluhur membaca gejala penyakit.

Isi Paket:
Tutur Masredah — 267 hal — 180
Usada Dalem — 173 hal — 150
Usada Rare — 222 hal — 160
Tetenger Kena Cetik — 111 hal — 130

Total harga: 620
Promo jadi: 600 + ongkir

Paket ini bukan sekadar kump**an buku, tetapi upaya menjaga warisan lontar agar tetap terbaca, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda.

Kawi Sastra Mandala — Lontar, Ilmu, Warisan Leluhur.

Arjuna: Semangat Belajar yang Tidak Pernah PadamOm Swastyastu,Dalam kisah Mahabharata, Arjuna dikenal sebagai pemanah ut...
18/07/2026

Arjuna: Semangat Belajar yang Tidak Pernah Padam

Om Swastyastu,

Dalam kisah Mahabharata, Arjuna dikenal sebagai pemanah utama di antara para Pandawa. Namun kehebatannya tidak lahir begitu saja. Ia tidak menjadi unggul hanya karena keturunan bangsawan, melainkan karena semangat belajar yang luar biasa.

Ketika berguru kepada Resi Drona, Arjuna selalu memperhatikan setiap ajaran dengan sungguh-sungguh. Ia tidak puas hanya dengan latihan biasa. Saat murid lain berhenti berlatih, Arjuna masih mengulang gerakan. Saat yang lain merasa cukup, ia justru bertanya, mencoba lagi, dan memperbaiki kekurangannya.
Suatu malam, ketika makan dalam gelap, Arjuna menyadari bahwa tangannya tetap dapat menemukan mulut tanpa melihat. Dari pengalaman sederhana itu ia berpikir: jika tangan dapat bergerak tepat karena kebiasaan, maka memanah pun dapat dilatih dalam kegelapan. Sejak saat itu, ia berlatih memanah malam hari. Ia tidak menunggu keadaan sempurna untuk belajar. Ia menjadikan setiap keadaan sebagai guru.

Inilah yang membuat Drona melihat keistimewaan Arjuna. Bukan semata karena bakatnya, tetapi karena kesungguhannya. Arjuna memiliki satu hal yang sering dilupakan banyak orang: fokus. Ia tidak belajar setengah hati. Ia menaruh seluruh pikiran, tenaga, dan waktunya untuk mencapai keahlian.

Kisah ini mengajarkan bahwa orang yang tekun akan melampaui orang yang hanya mengandalkan bakat. Kepandaian bukan hadiah yang jatuh dari langit. Ia lahir dari latihan yang berulang, kegagalan yang diterima dengan sabar, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Belajar kadang melelahkan. Ada saatnya kita merasa lambat, tertinggal, atau tidak mampu. Tetapi Arjuna mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu terlihat dalam satu hari. Setiap latihan kecil, setiap halaman yang dibaca, setiap kesalahan yang diperbaiki, perlahan membentuk kemampuan besar.

Maka jangan takut belajar dari awal. Jangan malu bertanya. Jangan berhenti hanya karena sulit. Seperti Arjuna yang terus mengasah panahnya, manusia pun harus terus mengasah pikirannya.
Sebab masa depan bukan milik orang yang hanya ingin berhasil, tetapi milik mereka yang bersedia belajar dengan sungguh-sungguh, hari demi hari.

Demikian cuplikan dari Adi Parwa Serial Mahabharata, semoga bermanfaat.

Om Santi, Santi, Santi Om

IBM Jaya Martha

“Mari bersama menyelamatkan warisan sastra Kawi agar dapat dibaca, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda.”

Untuk menerima renungan sastra Kawi dan alih bahasa lontar setiap hari, silakan ikuti Saluran Kawi Sastra Mandala.
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7g16FKbYMEIoTeeG3D

Follow Kawi Sastra Mandala's WhatsApp Channel. Kawi Sastra Mandala adalah ruang belajar bersama untuk menggali kembali kebijaksanaan yang tersimpan dalam lontar-lontar Nusantara.

Di sini kami berbagi:
📜 kutipan lontar Bali
📚 kisah Mahabharata dan sastra klasik
🧠 mutiara dharma untuk kehidupan
📖 informasi buku-buku alih bahasa lontar

Semua disajikan agar generasi muda lebih mudah memahami warisan pengetahuan leluhur. Join 46 followers for the latest updates.

05/06/2026

*Kemenangan Sejati adalah Menaklukkan Diri Sendiri*

Dalam Santi Parwa dikisahkan percakapan para dewa Sadhya dengan Brahman yang menjelma sebagai angsa emas. Sang Angsa berkata:

_“Orang yang bijaksana adalah ia yang mampu menundukkan dorongan untuk berkata kasar, gejolak kemarahan dalam pikiran, keinginan terhadap sesuatu yang tidak patut, dorongan perut, dan hawa nafsunya. Orang yang tidak menyerah kepada kemarahan lebih utama daripada orang yang dikuasai kemarahan. Pengendalian diri adalah pintu menuju keabadian.”_ — Santi Parwa, Mokshadharma Parwa, Bagian CCC

Om Swastyastu,

Setelah perang besar Bharatayuddha berakhir, Pandawa memang berhasil mengalahkan pasukan Kaurawa. Namun kemenangan itu tidak serta-merta membuat Yudhisthira berbahagia. Di hadapannya terbentang medan Kurukshetra yang dipenuhi jenazah saudara, guru, sahabat, dan para kesatria. Ia memperoleh kerajaan, tetapi harus membayarnya dengan penderitaan yang sangat besar.

Karena itulah, ajaran Bhisma dalam Santi Parwa tidak lagi hanya berbicara tentang cara mengalahkan musuh di medan perang. Bhisma mengarahkan perhatian Yudhisthira kepada medan pertempuran yang lebih dekat dan lebih sulit, yaitu batin manusia sendiri.

Musuh di luar dapat dikenali dari wajah, pakaian, dan senjatanya. Namun musuh dalam diri sering menyamar sebagai sesuatu yang dianggap wajar. Kemarahan menyamar sebagai keberanian. Keserakahan menyamar sebagai cita-cita. Kesombongan menyamar sebagai kehormatan. Nafsu menyamar sebagai kebutuhan. Karena tidak disadari, manusia dapat merasa sedang membela kebenaran, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti dorongan egonya.

Kemarahan membuat seseorang kehilangan kejernihan. Satu ucapan yang dilontarkan ketika marah dapat meninggalkan luka bertahun-tahun. Keputusan yang dibuat dalam keadaan marah juga dapat menghancurkan hubungan, keluarga, pekerjaan, bahkan kehidupan orang banyak. Santi Parwa mengingatkan bahwa orang yang mampu menahan kemarahan lebih kuat daripada orang yang membalas setiap penghinaan. Ia tidak membiarkan orang lain menentukan keadaan batinnya.

Keserakahan pun tidak pernah berkata, “Cukup.” Setelah memperoleh harta, manusia menginginkan kedudukan. Setelah memperoleh kedudukan, ia menginginkan penghormatan. Setelah dihormati, ia ingin menguasai lebih banyak lagi. Bila tidak dikendalikan, keinginan itu menjadikan manusia seperti Duryodhana, yang tidak puas meskipun telah menikmati kemewahan Hastinapura. Ia tetap menginginkan kerajaan Pandawa dan akhirnya kehilangan segalanya.

Kesombongan membuat manusia sulit menerima nasihat. Ia merasa paling benar, paling mampu, dan paling berjasa. Duryodhana telah berulang kali diperingatkan oleh Bhisma, Drona, Widura, bahkan Sri Krishna. Namun kesombongannya menutup pintu kebijaksanaan. Ia berhasil mengumpulkan pasukan besar, tetapi tidak mampu menaklukkan keangkuhan dalam dirinya.

Demikian p**a hawa nafsu dan keinginan yang tidak terkendali. Indra, lidah, perut, perkataan, dan pikiran selalu meminta pemuasan. Apabila manusia menuruti semua dorongan itu, ia menjadi budak dari tubuh dan pikirannya sendiri. Sebaliknya, ketika mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, ia mulai memperoleh kebebasan batin.

Menaklukkan diri bukan berarti membenci tubuh, mematikan keinginan, atau tidak boleh marah sama sekali. Menaklukkan diri berarti mampu menyadari setiap gejolak batin sebelum gejolak itu berubah menjadi perkataan dan tindakan yang merugikan. Kemarahan boleh muncul, tetapi tidak dibiarkan memimpin. Keinginan boleh ada, tetapi tidak menjadi penguasa. Kedudukan boleh dicapai, tetapi tidak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Kemenangan di medan perang dapat diraih dalam satu hari. Kemenangan atas diri sendiri harus diperjuangkan setiap hari. Pertempurannya terjadi ketika kita dihina tetapi memilih tidak membalas dengan kebencian; ketika mempunyai kesempatan berbuat curang tetapi tetap jujur; ketika memiliki kekuasaan tetapi tidak menyalahgunakannya; serta ketika memperoleh keberhasilan tetapi tetap rendah hati.
Santi Parwa mengajarkan bahwa pengendalian diri merupakan bagian penting dari kebenaran. Ketika nafsu, kebencian, kemarahan, dan ketertarikan yang berlebihan telah ditaklukkan, manusia mampu memandang dirinya, sahabatnya, bahkan musuhnya dengan pikiran yang lebih seimbang.

Karena itu, kemenangan sejati bukanlah ketika semua orang tunduk kepada kita. Kemenangan sejati terjadi ketika kemarahan tidak lagi menguasai perkataan, keserakahan tidak menguasai keputusan, kesombongan tidak menutup telinga, dan hawa nafsu tidak mengendalikan kehidupan.

Orang seperti itulah kesatria yang sesungguhnya. Ia mungkin tidak membawa busur, pedang, atau gada. Namun setiap hari ia bertempur di dalam dirinya sendiri—dan perlahan memenangkan peperangan yang paling sulit.

Semoga renungan ini bermanfaat.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Serial Mahabharata: Cerita Agung untuk Membangun KarakterDalam tradisi Hindu, pendidikan karakter tidak selalu diberikan...
20/05/2026

Serial Mahabharata: Cerita Agung untuk Membangun Karakter

Dalam tradisi Hindu, pendidikan karakter tidak selalu diberikan lewat nasihat langsung. Sejak dahulu, nilai-nilai dharma ditanamkan melalui cerita, kakawin, tembang, dan pertunjukan wayang. Saat menonton wayang, kita tidak sekadar menikmati kisah, tetapi juga mendengar nasihat kehidupan: tentang keberanian, kesetiaan, pengendalian diri, bhakti kepada guru, hormat kepada orang tua, serta akibat buruk dari iri hati, kesombongan, dan keserakahan.

Mahabharata adalah cermin besar kehidupan manusia. Di dalamnya ada Bhisma yang teguh pada janji, Kunti yang memikul luka batin seorang ibu, Karna yang hidup dalam dilema, Arjuna yang bergulat dengan keraguan, Yudhistira yang berusaha menjaga dharma, dan Duryodhana yang menunjukkan bagaimana ambisi dapat menghancurkan keluarga.

Karena itu, membaca Mahabharata sangat penting bagi keluarga Hindu masa kini. Anak-anak dan generasi muda tidak cukup hanya diberi perintah “jadilah orang baik”. Mereka perlu contoh, kisah, dan peristiwa yang menyentuh hati. Dari cerita, nilai dharma lebih mudah masuk dan membentuk karakter.

Buku Serial Mahabharata – Adi Parwa I ini merupakan alih bahasa dari sumber asal India yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Kisari Mohan Ganguli, lalu dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia oleh IBM Jaya Martha, Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan PHDI DKI Jakarta.

Keunggulan buku ini adalah alur dan dialognya disajikan secara utuh, sehingga pembaca dapat merasakan kedalaman gagasan Bhagawan Vyasa. Cocok untuk orang tua, guru agama, pembina pasraman, pecinta wayang, dan siapa saja yang ingin memahami ajaran dharma melalui kisah yang hidup.

Serial Mahabharata – Adi Parwa I
298 halaman
Harga Rp150.000 + ongkir

Bacaan ini bukan sekadar cerita lama, tetapi bekal nilai untuk membangun karakter generasi Hindu masa kini.

13/05/2026

*RENUNGAN : SANGHYANG SIWASASANA*
_“Acarya wedha paraga,_
_wruh ring hangga pangupangga Sanghyang Catur Wedha,_
_wruh ring kaswadhayan Sanghyang Sruti Smrti,_
_acarya stiti, gumawé dharmma sastra.”_
“Seorang acarya harus menguasai Weda,
memahami bagian-bagian dan cabang-cabang Sanghyang Catur Weda,
memahami ajaran Sruti dan Smrti,
mantap dalam pengetahuan, dan mampu mengajarkan sastra dharma.”
[Lontar Sanghyang Siwasasana]
Om Swastyastu,
Dalam _Sanghyang Siwa Sasana_, seorang rohaniwan tidak cukup hanya berpakaian putih, duduk di depan pelinggih, atau dihormati umat. Seorang acarya, pandita, maupun pinandita diwajibkan untuk terus belajar, memahami sastra, dan memperdalam pengetahuan dharma.
Lontar ini bahkan menegaskan bahwa guru rohani yang minim pengetahuan disebut _sadhaka mudha_ —rohaniwan yang belum matang. Karena itu, seorang pemuka agama tidak boleh berhenti belajar. Ia harus memahami Weda, Sruti, Smrti, tattwa, hingga etika hidup. Bukan untuk kebanggaan pribadi, tetapi agar tidak menyesatkan umat.
Di zaman sekarang, pesan ini sangat relevan. Umat tidak hanya bertanya tentang upacara, tetapi juga tentang kehidupan, moral, pendidikan anak, media sosial, bahkan konflik sosial dan spiritual modern. Bila pemuka agama tidak mau belajar dan memperluas wawasan, maka ajaran agama bisa menjadi sempit, kaku, bahkan kehilangan arah.
Belajar bukan menurunkan kewibawaan seorang sulinggih. Justru kerendahan hati untuk terus belajar adalah tanda kedewasaan spiritual. Karena dalam dharma, berhenti belajar berarti mulai tertinggal oleh zaman, sementara tugas seorang rohaniwan adalah menjadi penerang, bukan sekadar simbol penghormatan.
🌿 _*Ilmu menjaga kejernihan. Kebijaksanaan menjaga dharma.*_
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

13/05/2026

*Refleksi: Nangluk Merana Era Digital*

“_Yan bhuwana kaluputan ring dharma, tataning jagat kadi tan panemu marga, rogha sanggara tumuwuh tan kena winates, amreta urip kadi sirna dening adharma._”
(Ketika dunia terlepas dari dharma, tatanan kehidupan kehilangan arah. Berbagai penyakit dan bencana muncul tanpa batas, karena kehidupan yang seharusnya suci tercemar oleh adharma.)
Cuplikan Sloka – *Lontar Rogha Sanggara Bumi*

Om Swastyastu,
Dalam pemahaman tradisional, upacara Nangluk Merana sering dimaknai sebagai usaha menolak hama—wereng, tikus, atau gangguan alam yang merusak hasil pertanian. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, sebagaimana tersirat dalam ajaran Rogha Sanggara Bumi, sumber penderitaan tidak semata datang dari alam, melainkan dari perilaku manusia yang menyimpang dari dharma.

Di zaman ini, “hama” yang kita hadapi justru jauh lebih halus, tetapi dampaknya lebih luas dan merusak sendi kehidupan masyarakat.

*Pertama, politik tanpa prinsip*
Ketika kekuasaan tidak lagi berlandaskan dharma, maka lahirlah ketidakadilan. Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit moral yang menggerogoti kepercayaan rakyat. Ini adalah bentuk rogha (penyakit) sosial yang nyata.

*Kedua, bisnis tanpa moralitas*
Keuntungan yang diperoleh tanpa etika adalah benih penderitaan. Eksploitasi manusia dan alam menunjukkan bahwa kekayaan yang tidak selaras dengan dharma justru membawa sanggara—kehancuran yang perlahan namun pasti.

*Ketiga, pengetahuan tanpa karakter*
Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Namun tanpa tanggung jawab, pengetahuan berubah menjadi senjata yang menyesatkan. Hoaks dan fitnah menjadi “hama pikiran” yang merusak keharmonisan masyarakat.

*Keempat, sains tanpa kemanusiaan*
Kemajuan teknologi seharusnya memuliakan kehidupan, bukan mengancamnya. Ketika sains kehilangan nilai kemanusiaan, ia menjadi dingin, bahkan berpotensi menghancurkan martabat manusia itu sendiri.

*Kelima, kekayaan tanpa kerja*
Kemakmuran sejati lahir dari usaha yang jujur. Ketika kekayaan diperoleh tanpa kerja yang layak, atau melalui cara-cara tidak etis, maka keseimbangan sosial terganggu. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang halus namun berbahaya.

*Keenam, kenikmatan tanpa nurani*
Gaya hidup berlebihan tanpa kesadaran akan dampaknya terhadap lingkungan dan sesama adalah bentuk kelalaian. Alam rusak, hubungan sosial renggang—semua berakar dari hilangnya rasa cukup dan kesadaran diri.

*Ketujuh, kepercayaan tanpa pengorbanan*
Agama sejatinya menuntun pada kasih dan pengendalian diri. Namun ketika dipraktikkan tanpa pengorbanan dan ketulusan, ia berubah menjadi simbol kosong, bahkan dapat melahirkan intoleransi.

*Makna Nangluk Merana dalam Kehidupan Modern*
Upacara Nangluk Merana sejatinya bukan hanya ritual untuk mengusir hama secara fisik, melainkan simbol pemurnian. Ia mengajarkan bahwa keseimbangan harus dijaga pada tiga ranah:
-Palemahan (alam)
-Pawongan (sesama manusia)
-Parahyangan (hubungan dengan Hyang Widhi)
Dalam konteks masyarakat modern, terutama di lingkungan Banjar Jakarta Utara, upacara ini menjadi momentum refleksi bersama. Bahwa yang harus kita “tangkal” bukan hanya gangguan luar, tetapi juga sifat-sifat dalam diri yang menjauhkan kita dari dharma.

Setiap individu memiliki peran. Seorang pemimpin menjaga integritasnya. Pelaku usaha menjaga etika. Pendidik menanamkan karakter. Umat beragama menghidupkan nilai, bukan sekadar simbol.

*Harapan dan Doa*
Semoga melalui pelaksanaan Upacara Nangluk Merana di Pura Segara Cilincing, kita semua memperoleh wara nugraha dari Hyang Widhi.
Semoga dijauhkan dari:
-pikiran yang menyimpang dari kebenaran,
-tindakan yang melukai sesama,
-serta sikap yang merusak keharmonisan alam dan kehidupan.

Semoga “hama-hama” sosial yang halus namun berbahaya itu lenyap dari tengah masyarakat.

Dan semoga kita semua senantiasa kembali pada dharma— sebagai jalan menuju kehidupan yang adil, beretika, dan harmonis.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta

Address

Gading Mas
North Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pustaka Dharma Utama posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category