05/06/2026
*Kemenangan Sejati adalah Menaklukkan Diri Sendiri*
Dalam Santi Parwa dikisahkan percakapan para dewa Sadhya dengan Brahman yang menjelma sebagai angsa emas. Sang Angsa berkata:
_“Orang yang bijaksana adalah ia yang mampu menundukkan dorongan untuk berkata kasar, gejolak kemarahan dalam pikiran, keinginan terhadap sesuatu yang tidak patut, dorongan perut, dan hawa nafsunya. Orang yang tidak menyerah kepada kemarahan lebih utama daripada orang yang dikuasai kemarahan. Pengendalian diri adalah pintu menuju keabadian.”_ — Santi Parwa, Mokshadharma Parwa, Bagian CCC
Om Swastyastu,
Setelah perang besar Bharatayuddha berakhir, Pandawa memang berhasil mengalahkan pasukan Kaurawa. Namun kemenangan itu tidak serta-merta membuat Yudhisthira berbahagia. Di hadapannya terbentang medan Kurukshetra yang dipenuhi jenazah saudara, guru, sahabat, dan para kesatria. Ia memperoleh kerajaan, tetapi harus membayarnya dengan penderitaan yang sangat besar.
Karena itulah, ajaran Bhisma dalam Santi Parwa tidak lagi hanya berbicara tentang cara mengalahkan musuh di medan perang. Bhisma mengarahkan perhatian Yudhisthira kepada medan pertempuran yang lebih dekat dan lebih sulit, yaitu batin manusia sendiri.
Musuh di luar dapat dikenali dari wajah, pakaian, dan senjatanya. Namun musuh dalam diri sering menyamar sebagai sesuatu yang dianggap wajar. Kemarahan menyamar sebagai keberanian. Keserakahan menyamar sebagai cita-cita. Kesombongan menyamar sebagai kehormatan. Nafsu menyamar sebagai kebutuhan. Karena tidak disadari, manusia dapat merasa sedang membela kebenaran, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti dorongan egonya.
Kemarahan membuat seseorang kehilangan kejernihan. Satu ucapan yang dilontarkan ketika marah dapat meninggalkan luka bertahun-tahun. Keputusan yang dibuat dalam keadaan marah juga dapat menghancurkan hubungan, keluarga, pekerjaan, bahkan kehidupan orang banyak. Santi Parwa mengingatkan bahwa orang yang mampu menahan kemarahan lebih kuat daripada orang yang membalas setiap penghinaan. Ia tidak membiarkan orang lain menentukan keadaan batinnya.
Keserakahan pun tidak pernah berkata, “Cukup.” Setelah memperoleh harta, manusia menginginkan kedudukan. Setelah memperoleh kedudukan, ia menginginkan penghormatan. Setelah dihormati, ia ingin menguasai lebih banyak lagi. Bila tidak dikendalikan, keinginan itu menjadikan manusia seperti Duryodhana, yang tidak puas meskipun telah menikmati kemewahan Hastinapura. Ia tetap menginginkan kerajaan Pandawa dan akhirnya kehilangan segalanya.
Kesombongan membuat manusia sulit menerima nasihat. Ia merasa paling benar, paling mampu, dan paling berjasa. Duryodhana telah berulang kali diperingatkan oleh Bhisma, Drona, Widura, bahkan Sri Krishna. Namun kesombongannya menutup pintu kebijaksanaan. Ia berhasil mengumpulkan pasukan besar, tetapi tidak mampu menaklukkan keangkuhan dalam dirinya.
Demikian p**a hawa nafsu dan keinginan yang tidak terkendali. Indra, lidah, perut, perkataan, dan pikiran selalu meminta pemuasan. Apabila manusia menuruti semua dorongan itu, ia menjadi budak dari tubuh dan pikirannya sendiri. Sebaliknya, ketika mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, ia mulai memperoleh kebebasan batin.
Menaklukkan diri bukan berarti membenci tubuh, mematikan keinginan, atau tidak boleh marah sama sekali. Menaklukkan diri berarti mampu menyadari setiap gejolak batin sebelum gejolak itu berubah menjadi perkataan dan tindakan yang merugikan. Kemarahan boleh muncul, tetapi tidak dibiarkan memimpin. Keinginan boleh ada, tetapi tidak menjadi penguasa. Kedudukan boleh dicapai, tetapi tidak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Kemenangan di medan perang dapat diraih dalam satu hari. Kemenangan atas diri sendiri harus diperjuangkan setiap hari. Pertempurannya terjadi ketika kita dihina tetapi memilih tidak membalas dengan kebencian; ketika mempunyai kesempatan berbuat curang tetapi tetap jujur; ketika memiliki kekuasaan tetapi tidak menyalahgunakannya; serta ketika memperoleh keberhasilan tetapi tetap rendah hati.
Santi Parwa mengajarkan bahwa pengendalian diri merupakan bagian penting dari kebenaran. Ketika nafsu, kebencian, kemarahan, dan ketertarikan yang berlebihan telah ditaklukkan, manusia mampu memandang dirinya, sahabatnya, bahkan musuhnya dengan pikiran yang lebih seimbang.
Karena itu, kemenangan sejati bukanlah ketika semua orang tunduk kepada kita. Kemenangan sejati terjadi ketika kemarahan tidak lagi menguasai perkataan, keserakahan tidak menguasai keputusan, kesombongan tidak menutup telinga, dan hawa nafsu tidak mengendalikan kehidupan.
Orang seperti itulah kesatria yang sesungguhnya. Ia mungkin tidak membawa busur, pedang, atau gada. Namun setiap hari ia bertempur di dalam dirinya sendiri—dan perlahan memenangkan peperangan yang paling sulit.
Semoga renungan ini bermanfaat.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
IBM Jaya Martha
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
PHDI DKI Jakarta