11/03/2026
Di dunia bulu tangkis, kemenangan besar kadang tidak langsung dirayakan dengan pidato panjang atau air mata. Kadang, ia justru keluar dalam satu kalimat jujur yang terdengar lucu.
Itulah yang dilakukan Wang Zhiyi usai menaklukkan An Se-young di final All England Open 2026.
Setelah memastikan kemenangan dua gim langsung 21-15, 21-19, pemain peringkat dua dunia asal Tiongkok itu justru berteriak kepada pelatihnya, "Aku tidak mau lagi ikut latihan pagi. Aku benar-benar tidak sanggup melakukannya lagi.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi di baliknya tersimpan cerita panjang tentang perjuangan, tekanan, dan rasa penasaran yang akhirnya terjawab.
Sebab lawan yang baru saja ia kalahkan bukan pemain biasa. Di seberang net berdiri An Se-young, ratu bulu tangkis dunia, pemain nomor satu dunia, sosok yang sebelumnya sedang melaju dengan 36 kemenangan beruntun sejak Oktober tahun lalu. Lebih dari itu, bagi Wang, An adalah dinding yang selama ini terasa begitu sulit ditembus.
Sebelum final ini, Wang Zhiyi sudah 22 kali berhadapan dengan An Se-young. Hasilnya sangat timpang, 4 menang dan 18 kalah.
Yang lebih menyakitkan lagi, ia selalu kalah dalam 10 pertemuan terakhir. Sepuluh kali mencoba, sepuluh kali p**a p**ang dengan luka.
Karena itulah, ketika akhirnya kemenangan itu benar-benar datang di Birmingham, ekspresi Wang seperti campuran tak percaya, lega, dan bahagia.
Ia merentangkan tangan ke arah penonton, meraung penuh emosi, lalu menghampiri pelatihnya dengan senyum lebar.
Bukan sekadar karena merebut gelar, tetapi karena ia akhirnya berhasil menumbangkan lawan yang selama ini seperti bayangan besar di kepalanya.
Ucapan soal latihan pagi itu pun jadi simbol betapa keras jalan yang ia tempuh untuk sampai ke titik ini. Seolah ia ingin bilang, “Saya sudah berjuang sekeras ini, bolehkah saya beristirahat sebentar?”
Namun pelatihnya, Luo Yigang, langsung mematahkan candaan itu. Jawabannya tegas, justru karena latihan pagi itulah Wang bisa menang, dan karena itu latihan tersebut harus tetap dilanjutkan.
Di wawancara setelah laga, Wang tidak banyak bicara soal balas dendam atau statistik lama. Ia justru menekankan soal mentalitas.
Menurutnya, kali ini ia tidak mau dibebani kenangan pertandingan-pertandingan sebelumnya. Ia memilih fokus pada setiap poin, satu demi satu, tanpa melihat bayang-bayang masa lalu.
Perubahan terbesar, katanya, ada pada cara bertahan dalam reli panjang. Jika dulu ia sering goyah di momen-momen seperti itu, kali ini ia mampu bertahan sampai akhir. Dan dari situlah kemenangan besar itu lahir.
Di sisi lain, kekalahan ini jelas menyakitkan bagi An Se-young. Ia datang dengan mimpi mencetak sejarah baru, tetapi harus berhenti di depan keluarga yang hadir langsung di arena.
Setelah laga, An tetap menunjukkan kelasnya. Ia mengakui bahwa hari itu bukan harinya, memberi selamat kepada Wang Zhiyi, dan berjanji akan kembali lebih kuat.
Maka final ini bukan hanya soal putusnya satu rekor kemenangan beruntun. Ini adalah cerita tentang seorang pemain yang terus kalah, terus mencoba, terus bangun, lalu akhirnya menang.
Dan ketika kemenangan itu benar-benar datang, hal pertama yang muncul dari mulutnya bukan teriakan penuh amarah, melainkan keluhan kecil yang sangat manusiawi.
"bolehkah saya libur latihan pagi sekarang?"
Justru di situlah kisah Wang Zhiyi terasa begitu hidup karena kemenangan terbesar sering lahir dari perjuangan yang diam-diam paling melelahkan.