Kumpulan novel

Kumpulan novel https://lynk.id/yuniatinasida
Contains a collection of interesting stories published on online novel platforms.

09/09/2026

Lima tahun.
Angka itu terasa aneh diucapkan, apalagi kalau dihitung mundur dari hari ini, hari aku berdiri di depan cermin apartemen kecil, mengenakan cadar dengan tangan yang tiba-tiba gemetar seperti lima tahun lalu, saat pertama kali kupakai kain ini sebagai benteng.

"Mama, Kai ikut, ya?" Suara kecil itu menarik perhatianku. Kai berdiri di ambang pintu kamar, memeluk boneka beruang kesayangannya, matanya yang sipit, mata yang persis milik Malvin, menatapku penuh harap.

Aku berjongkok, menyamakan tinggi dengan anak semata wayangku. "Kai nggak bisa ikut kali ini, Sayang. Mama harus ke tempat yang jauh, buat jenguk Kakek yang lagi sakit."

"Kakek yang di foto itu?" Kai menunjuk bingkai kecil di meja nakas, satu-satunya foto yang kubawa dari Indonesia, foto Papa yang tersenyum di hari pernikahanku dulu, sebelum semuanya runtuh.

"Iya, Kakek itu." Aku mengusap kepalanya pelan. "Kai tinggal sama Bibi dulu di sini, ya. Mama janji secepatnya p**ang."

Kai mengangguk, meski bibirnya cemberut menahan sedih yang coba disembunyikan seperti anak-anak lain seusianya yang sudah belajar jadi kuat karena keadaan.
Bibi, adik bungsu Papa yang selama ini rutin mengunjungiku diam-diam setiap enam bulan sekali, membawa kabar dari Jakarta lewat jalur yang sudah disepakati bersama Tio, berdiri di belakang Kai, wajahnya juga tegang menahan cemas.

"Kirana, kamu yakin mau pergi sendirian?" tanya Bibi, suaranya pelan meski tidak ada orang lain di apartemen selain kami bertiga.
"Aisyah, Bi," koreksiku otomatis, meski di depan Bibi aku tidak terlalu kaku soal nama itu. "Dan iya, aku harus pergi sendiri. Kalau Kai ikut, terlalu berisiko. Kalau sampai ada yang curiga dan melacak, bukan cuma aku yang bahaya, tapi Kai juga."

Bibi mengangguk berat, menggenggam tanganku erat. "Kondisi Kak Wijaya makin kritis, Aisyah. Dokter bilang serangan jantungnya berat, bahkan sempat berhenti sebentar sebelum akhirnya distabilkan. Kamu harus segera ke sana."

Dadaku sesak mendengarnya. Papa. Papa yang sudah mengorbankan segalanya untukku lima tahun lalu, sekarang berjuang antara hidup dan mati, dan aku bahkan tidak bisa datang sebagai anaknya sendiri.

"Aku akan jaga Kai baik-baik," lanjut Bibi, memelukku sebentar. "Kamu fokus aja urus Kak Wijaya. Tio sudah siapkan semuanya, tiket, penginapan, sampai jalur masuk yang aman biar nggak ketahuan media."

Aku berlutut sekali lagi di depan Kai, memeluknya erat, menghirup dalam-dalam aroma khas anak kecil di rambutnya yang hitam lebat, warisan dari ayah yang belum pernah dia temui.

"Jadi anak baik buat Bibi, ya, Nak." Suaraku bergetar menahan tangis. "Mama sayang Kai."
"Kai juga sayang Mama." Tangan kecilnya mengusap pipiku yang tertutup cadar, seolah sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah melihat wajah utuh ibunya sendiri sejak lahir, kecuali di dalam rumah. "Mama cepat p**ang, ya."
"Janji."

***
Bandara Soekarno-Hatta terasa asing sekaligus familiar, seperti bertemu kembali dengan seseorang yang dulu sangat dikenal tapi kini terasa seperti orang lain sepenuhnya.

Aku berjalan pelan menyusuri terminal kedatangan, cadar hitam menutupi wajah, kacamata besar menambah lapisan penyamaran di atasnya. Koper kecil kuseret sendirian, jantungku berdegup kencang setiap kali melewati layar televisi yang kadang menampilkan berita seputar Medika Holding.

Aku sempat berhenti sejenak di depan salah satu layar, membaca judul berita yang berkelebat cepat.
"Direktur Utama Medika Holding, Malvin Baskara, Kembali Perluas Jaringan Rumah Sakit ke Tiga Kota Baru."

Fotonya muncul sekilas, wajah yang sudah lima tahun tidak kulihat langsung, tapi masih bisa kukenali sedetail apa pun perubahannya. Rahangnya lebih tegas. Matanya lebih dingin.

"Kamu bisa sampai di titik ini karena Papaku, Malvin."

Judul : Dituduh Mandul, Aku Kembali dengan Pewaris Direktur Malvin
Penulis : Yuniati N, SKMM
Sequel "Dibuang Dokter Diratukan Direktur RS."

09/09/2026

Review "Dibuang Dokter Diratukan Direktur RS by Yuniati N"

Bagaimana versi kalian? Review d**g naskah ini di kolom komentar....
Aku tunggu, ya!

07/09/2026

“Apa, ini?” tanya Yola bermonolog. “Tanggalnya… dua minggu yang lalu. Tanggal dimana Mas Arkan bilang ia harus lembur di kantor. Dan nama di struk itu… bukan nama Mas Arkan. Tapi nama Sella. Apa Sella di sini adalah Sella, teman kantornya?”

Yola menghela napas berat dan mencoba mencari tahu, jan tungnya berpacu tak karuan. Ia mengirim pesan pada Sella, mereka cukup mengenal satu sama lain. Diketik dengan cepat agar pesan segera terkirim.

“Assalamualaikum. Mbak Sella, apa dua minggu lalu, tanggal 15 April, ada lemburan di kantor?”

Yola menunggu balasan yang tak kunjung ada. Tangan berkeringat dingin, tubuhnya mondar mandir tak jelas. Waktu berdetak cukup lambat, bahkan terasa berhenti. Balasan dari Sella muncul di layar ponsel Yola.

“Waalaikumsalam, Mbak. Maaf aku udah risen satu bulan lalu. Lagi p**a kalau lembur itu biasanya akhir bulan, karena penutupan berkas.”

Dunia Yola terasa runtuh. Arkan sudah berbohong padanya, bermain di belakangnya. Rasa sakit dan pengkhi anatan itu terlalu dalam.

Ketika Arkan p**ang malam itu, Yola menunggunya di ruang tamu, struk itu tergenggam erat di tangannya yang geme tar.

"Dari mana saja kamu, Mas?" Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, sebuah ketenangan yang menakutkan.

Arkan terkejut melihat Yola masih terjaga. "Dari kantor. Ada proyek mendadak."

"Benarkah? Proyek mendadak yang melibatkan ho tel ini?" Yola melemparkan struk itu ke meja di hadapan Arkan.

Wajah Arkan seketika pucat pasi. Ia menatap struk itu, lalu pada Yola, matanya dipenuhi rasa bersalah yang kentara.

"Apa ini, Mas? Siapa wanita ini? Kenapa kau berbohong padaku? Apa lagi yang kau sembunyikan?" Suara Yola kini meninggi, menahan tangis yang ingin meledak.

Arkan mencoba meraih tangan Yola. Namun, Yola menepisnya. "Aku... aku bisa jelasin, Yol."

"Jelaskan apa? Jelaskan bagaimana kau membayar hutang tak jelas itu dengan berfoya-foya di hotel? Jelaskan bagaimana kau menghubungi mantan istrimu di belakangku? Jelaskan bagaimana kau bisa mengkhianati kepercayaan yang selama ini ku beri padamu?" Yola tidak bisa lagi menahan air matanya. Tangisnya pecah, bercampur dengan kema rahan dan kekecewaan yang mendalam.

"Ini tidak seperti yang kau kira, Yola. Siska... dia hanya membutuhkan bantuanku."

"Bantuan apa? Bantuan finansial yang sampai menghabiskan gajimu? Bantuan yang harus kau tutupi dengan kebo hongan? Bantuan yang mengharuskan kalian bertemu di ho tel?"

Yola tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Mas Arkan, aku bukan orang bo doh. Kebohonganmu terlalu kentara. Kau telah berbohong. Kau telah mengkhi anatiku. Kau telah lepas tanggung jawab sebagai suami dan ayah."
Arkan terdiam.

"Sejak kapan kamu mulai berbohong padaku? Apa aku tidak cukup bagimu, Mas?"

"Bukan begitu, Yola. Aku... aku hanya..." Arkan mengangkat wajahnya, matanya memohon.

"Hanya apa? Hanya ingin kembali ke mantan istrimu? Itu yang ingin kamu katakan?" Yola tidak bisa lagi menahan ledakan emosinya. Semua frustasi, semua kecurigaan yang selama ini ia pendam, kini tumpah ruah. "Kenapa kau tidak jujur saja sejak awal? Kenapa kau biarkan aku merasa bo doh, merasa tidak berarti?"

"Tapi kenapa harus bersembunyi? Kenapa harus berbohong? Kenapa sampai menghabiskan semua gajimu? Kenapa harus di ho tel? Itu yang tidak bisa kuterima!" Yola terus mendesak.

"Aku hanya tidak ingin kau khawatir. Aku tahu kau akan ma rah kalau tahu aku masih berhubungan dengan Siska," jawab Arkan lemah.

"Ma rah? Aku bukan hanya ma rah, Mas! Aku kecewa! Aku merasa dikhianati! Dan kau? Kamu melindunginya. Sedangkan aku, istrimu, kamu biarkan menderita dalam kebingungan dan kecurigaan!"

Yola menghela napas panjang sebeluk berkata, "kita ce rai saja, Mas."
"Apa katamu? Cerai?

Bersambung...
Baca selengkapnya di aplikasi K B M

Judul : Menja nda setelah jadi kor ban pelarian suamiku
Penulis : Yuniati N

06/09/2026
05/09/2026

Aku ketahu4n istriku saat bersama mant4n "Siska adalah mant4n istri Arkan. Dia–”

Tangan Yola terangkat. Tak ingin mendengarkan penjelasan lebih jauh dari Sundari. Yola segera berlari ke kam4r, meninggalkan Nezha yang kebingungan, sendirian di depan benda persegi panjang dan pipih itu.

“Yola, tunggu!”

Sundari tak mampu menahan Yola, hanya bisa menghela napas berat. Ia tahu, hal ini akan terjadi. Dan ia tak bisa berbuat banyak selain menyerahkan pada Arkan dan Yola.

Yola segera membenamkan kepala, menang1s sejadi jadinya, meluapkan rasa sa kit di hati. Ingatan kembali pada ucapan ustadz kemarin. Mungkin yang dia katakan adalah benar. Arkan membo honginya.

Bagaimana Arkan bisa hidup bersamanya dengan banyak kebo hongan di dalamnya?

“Ya All4h. Apa yang harus aku lakukan?” keluh Yola, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 09.00 pagi.

Yola mengambil air wudhu, menunaikan sholat Dhuha dan bersimpuh di atas sajadah untuk mencari ketenangan.

“Ya Allah, lapangkanlah hatiku, seluas samudera seperti yang Engkau ciptakan. Aku yakin, Engkau tak akan menguji umatnya melebihi batas kekuatannya. Hamba akan menjalani semua ini dengan ikhlas,” ucap Yola dengan menengadahkan kedua tangannya, berusaha menerima kehidupan ini dengan lapang. Aamiin

Sore hari.

Arkan p**ang lebih awal. Dengan tergesa, tangan kekarnya mengambil ponsel yang tertinggal, membuka pesan WhatsApp tanpa curiga sedikitpun pada Yola karena sudah memberikan sandi di ponselnya. Tanpa ia tahu bahwa panggilan bisa saja dijawab tanpa membuka kunci sandi.

Jemarinya yang lincah segera mengetik pesan dan berbalas chat. Terlihat dari gerakan jemari dan senyuman tipis yang tersungging di bi birnya. Yola terus menatap suaminya, tak ingin melewatkan kejadian langka yang tak pernah ditemukan pada suaminya selama lima tahun ini. Sikap seorang yang mengalami “puber kedua.”

Hampir satu jam berkutat dengan benda pipih miliknya, Arkan memutuskan untuk mandi. Tiba-tiba ponsel berdering nyaring. Yola mendekat dan hatinya kembali mencelos saat tahu siapa id pemanggil yang tertera di layar ponsel.

“Mas, ponselnya berdering!” Yola berseru, namun suara air dari kam4r m4ndi mengalahkan suaranya. Arkan sedang mandi dan sepertinya tidak mendengar.

Yola tak ingin menjawabnya. Mendengar suara Siska yang tadi mendayu-dayu manja, membuatnya ingin mu ntah saja. Detik berikutnya ada notif pesan masuk. Yola dengan cekatan menggulir ke bawah ponsel Arkan dari bilah notifikasi. Disana ada chat dari Siska. “Aku menunggumu di tempat favorit kita ya, Mas.”

Yola terpaku, menangkap sejauh ini hubungan suami dengan mant4n istrinya. Rasa sa kit kembali hinggap, Yola mere mas kuat ponsel Arkan hingga kukunya memutih dan urat tangan terlihat jelas.

Tepat saat itu, Arkan keluar dari kamar mandi, handuk melilit pinggangnya. Ia melihat Yola memegang ponselnya, raut wajahnya pucat pasi. Mata mereka bertemu. Arkan tampak membeku sesaat.

“Yola… kenapa kamu pegang ponselku?” tanya Arkan, suaranya penuh kekhawatiran. “Aku sudah bilang jika ponsel itu privasi. Kenapa kamu susah sekali dibilangin?”

Yola tidak menjawab, hanya menatap Arkan dengan mata berlinang air mata. Ia menyerahkan ponsel itu kepada Arkan. “Siapa Siska, Mas?” Auaranya bergetar menahan ama rah dan kesedihan yang tak tertahankan.

Arkan meraih ponselnya, wajahnya memerah. “Yola, dengarkan aku….”

“Dengarkan apa?” Yola berteriak, amarahnya mele dak. “Dengarkan kebo hongan yang akan kamu katakan?”

“Apa maksudmu, Yola.”

“Siska itu mantan istri kamu, kan?”

Arkan terdiam, membuat Yola tertawa lebar. “Kamu punya mantan istri dan tidak pernah cerita padaku. Selama ini kamu anggap aku apa, Mas?”

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Yola. Aku bisa jelaskan,” Arkan mencoba mendekat, namun Yola mundur.

“Jelaskan apa? Apalagi yang perlu dijelaskan, Mas? Apakah kamu pikir aku bo doh? Apakah ini alasan kamu p**ang larut kemarin? Bertemu dengan mant4n istrimu?” Air mata Yola kini mengalir deras, membasahi pipinya. Rasa sa kit di hatinya tak tertahankan.

“Yola, jangan keras-keras, Neza sedang tidur,” Arkan mencoba meredam suaranya.

“Peduli apa kamu dengan Neza? Peduli apa kamu dengan aku? Kamu sudah membo hongiku, Mas! Kamu sudah menghan curkan kepercayaanku!” Yola meraung, amar4hnya membuncah. Semua rasa sa kit, semua kecurigaan yang terpendam, kini pecah.

Arkan berkata, “Dia hanya… Siska hanya temanku sekarang. Kami tidak ada apa-apa." Arkan bersikeras, tapi suaranya terdengar tidak meyakinkan.

“Teman? Teman yang kamu rahasiakan selama lima tahun lebih? Teman yang tiba-tiba meneleponmu pagi-pagi dan membicarakan rencana bertemu di sore ini?” Yola menunjuk ponsel di tangan Arkan. “Aku tidak tahu harus percaya apa lagi padamu, Mas. Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya!”

Arkan menunduk, tidak sanggup menatap mata Yola yang penuh luka. “Aku minta maaf, Yola. Aku tahu aku salah. Aku tak menceritakan tentang Siska karena... aku takut kamu marah. Aku takut kamu pergi jika aku cerita tentang masa laluku.”

“Jadi kamu memilih untuk berbo hong? Apakah kamu tidak berpikir bagaimana perasaanku sekarang? Aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri! Aku merasa ditipu mentah-mentah!” Yola memukul da danya sendiri, air mata membanjiri wajahnya.

Neza, yang mendengar keributan, mulai menggeliat dan menangis di kamarnya. "Mama? Mama?"

Suara tangisan Neza menambah kepedihan di hati Yola. Ia ingin berlari memeluk putrinya, namun kakinya terasa kaku, terpaku pada kenyataan pa hit yang baru saja terungkap. Sundari yang mendengar tangisan Nezha segera menggend**g cucu kesayangannya itu.

“Yola, dengarkan aku. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan,” pinta Arkan, suaranya memelas.

“Menjelaskan apa? Bahwa semua yang kita jalani selama ini adalah keboh ongan? Bahwa aku hanyalah pelengkap dari sandiw4ra yang kamu mainkan?!” Yola menggelengkan kepala, air matanya tak kunjung berhenti. “Aku tidak tahu lagi siapa kamu, Mas. Aku tidak tahu lagi, siapa Arkan yang aku cintai?”

Yola melangkahkan kaki, berniat pergi meninggalkan suaminya. Namun, baru selangkah dia berhenti, dengan bibir bergetar mengatakan kalimat sakr4l. “Sebaiknya kita berce rai saja, Mas.”
“Apa?”

Lanjut baca di K B M
Judul : MENJAND4 SETELAH JADI KORB4N PELARI4N SUAMIKU
Penulis : Yuniati N

Malam harinya, halaman posko penuh dengan kep**an as ap pembakaran yang wangi.Mahasiswa laki-laki sibuk mengipasi arang,...
03/09/2026

Malam harinya, halaman posko penuh dengan kep**an as ap pembakaran yang wangi.

Mahasiswa laki-laki sibuk mengipasi arang, sementara yang perempuan membumbui makanan di atas nampan besar.

Aku berdiri bersandar di pilar teras, mengawasi mereka dengan tangan terlipat di da da.

Suara derit pagar besi terdengar. Sarah muncul dari balik kegelapan. Ia mengenakan kardigan rajut berwarna krem yang membuatnya terlihat sangat manis di bawah cahaya lampu taman.

"Tumben malam-malam keluar rumah, Sar?" tanyaku saat ia mendekat.

Sarah tersenyum manj a. Ia berdiri tepat di sampingku. "Aku suntuk di rumah, Mas. Lagip**a, aku mau memastikan calon suamiku ini tidak berpaling lihat daun muda yang bening-bening di sini."

Aku terkekeh pelan. Tanganku terangkat mengusap puncak kepalanya. "Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Posisimu aman."

Sarah menatapku lekat. Ada keraguan yang tersirat di matanya. "Boleh aku tanya sesuatu, Mas?"

"Tanya saja."

"Seperti apa sih mantan istri Mas dulu?" suara Sarah mengecil, nyaris berbisik.

"Apa dia... lebih baik dari aku? Sampai-sampai Mas dan Mas Abdi sering berdebat soal dia."

Aku mengalihkan pandanganku menatap api arang yang menyala merah di halaman. Rahangku kembali mengeras. Topik ini lagi.

"Dia tidak ada apa-apanya dibanding dirimu, Sar," jawabku sangat dingin. Mataku menatap lurus ke depan, memastikan kata-kataku terdengar mutlak. "Kamu unggul dalam segala hal. Perempuan itu... dia hanyalah sam pah masa lalu yang cuma bisa mengingatkanku betapa bod ohnya keputusanku di masa lalu."

Sarah tersenyum lega mendengar kepastian itu. Ia mengangguk puas.

Tak lama, ponsel di dalam saku kardigan Sarah bergetar. "Sebentar ya, Mas. Ada telepon masuk. Aku angkat di pinggir jalan depan sana dulu biar nggak berisik."

Aku mengangguk membiarkannya pergi. Rasa penat berdiri di teras membuatku

melangkah santai menuruni tangga menuju kerumunan di halaman. Aku berjalan mendekati tempat pemanggangan.

Abdi sedang duduk jongkok membolak-balik deretan jagung manis yang sudah mulai kecokelatan.

"Sudah ada yang matang, Di?" tanyaku berdiri tepat di belakangnya.

"Sudah tuh," Abdi mengangguk tanpa menoleh ke arahku. Ia menunjuk ke seberang pemanggangan. "Nir, tolong ambilkan satu jagung yang di nampan itu buat Kak Abian."

Di seberang kep**an asap tebal itu, Nira duduk bersim puh memegang nampan plastik. Gadis itu mengangguk. Ia mengambil satu tongkol jagung bakar yang masih mengepulkan uap panas.

Nira berdiri perlahan. Ia mengulurkan nampan itu ke arahku menembus kep**an asap tipis.

Tepat saat angin malam meniup sisa asap arang ke arah lain, Nira mend**gakkan wajahnya.

Cahaya kuning dari lampu taman jatuh tepat menerangi celah ca dar yang hanya.memperlihatkan sepasang mata itu.

Waktu di sekitarku seolah berhenti berdetak. Napasku tertahan di tenggorokan.

Aku mengunci pandanganku pada bola mata gadis itu. Bola mata dengan binar redup yang bersembunyi di balik bulu mata lentiknya. Kilau cokelat terang yang terpantul oleh cahaya api arang.

Tub uhku mematung kaku. Jantungku bergemuruh mem ukul tulang rusuk dengan ritme yang menyakitkan.

Sorot mata itu... tatapan mata yang sama persis dengan mata yang selalu menatapku penuh harap dan ketak utan empat tahun lalu.

"Ini jagungnya, Om," ucap Nira pelan, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan angin.

Aku tidak merespons. Tanganku yang terulur hendak mengambil jagung itu kini menggantung kaku di udara. Kepalaku berdenging sangat keras.

"Tat ap saya," bisikku dengan suara serak yang bergetar hebat. "Tatap saya sekali lagi."

selengkapnya di KBM
Judul : KKN di Rumah Mantan Suami
Napen : Aku Duniamu

Dengan elegan, Nadira pergi membawa ben1h Kalingga di rah1mnya. Tanpa drama, tanpa air mat4…Bab. 9Malam itu, Nadira pun ...
03/09/2026

Dengan elegan, Nadira pergi membawa ben1h Kalingga di rah1mnya. Tanpa drama, tanpa air mat4…

Bab. 9

Malam itu, Nadira pun tidur di lantai dengan beralaskan sajadah tanpa selimut tebal menutupi tu buhnya. Alhasil, ketika dini hari dia bangun untuk melaksanakan sholat malam, Nadira kedinginan dan bersin-bersin. Bukan itu saja, wanita itu juga mun tah-mun tah dan merasakan pening di kepalanya.

Mendengar suara berisik karena Nadira masih saja bersin-bersin, Kalingga pun terbangun, dan pemuda itu sangat marah pada Nadira. Kalingga lalu menyuruh wanita itu untuk sholat di balkon saja karena dia mau melanjutkan kembali tidurnya. Tak ingin terjadi keributan, Nadira pun hanya mengiyakan saja perintah suaminya.

Angin dingin serasa menu suk tu lang ketika Nadira membuka pintu yang menuju balkon. Meski merasakan kedinginan, Nadira tetap menggelar sajadah di sana lalu mulai mendirikan sholat. Usai sholat dan membaca wirid sebentar, Nadira memutuskan untuk kembali masuk ke kamar karena tu buhnya menggigil.

Tak ingin Kalingga kembali terjaga, Nadira lalu menuju dapur untuk membuat minuman hangat. Ya, dia butuh minuman itu untuk menghangatkan badannya. Ketika tengah fokus menyeduh teh, Nadira dikejutkan dengan suara Bi Yati yang menyapanya.

"Non Dira lagi bikin apa? Kenapa tidak membangunkan Bibi, Non?"

Bi Yati segera menghampiri menantu majikannya itu, bermaksud mengambil alih apa yang dilakukan Nadira. Namun, wanita muda itu menolak dengan ramah.

"Tidak perlu, Bi. Biar Dira saja. Dira sudah biasa, kok."

"Tapi, Non, nanti Tuan marah, kalau lihat Non melakukan apa-apa sendiri."

"Tidak akan, Bi. Bibi jangan khawatir, ya "

Bi Yati hanya bisa pasrah dan membiarkan Nadira melanjutkan menyeduh tehnya. Wanita yang tak pernah lepas hijab jika berada di luar kamar itu, lalu membawa tehnya ke meja makan. Nadira kemudian mendudukkan diri di sana dan mulai menikmati teh hangatnya.

Sementara Bi Yati yang mulai meracik bahan untuk membuat lauk buat sarapan pagi nanti, diam-diam mencu ri pandang ke arah Nadira. Dahi wanita paruh baya itu mengernyit seperti memikirkan sesuatu. Tak tahan untuk tidak bertanya-tanya, Bi Yati lalu mendekati Nadira.

"Apa Non Dira sakit?" tanya Bi Yati.

"Tidak, kok, Bi. Dira baik-baik saja."

"Tapi, wajah Non terlihat pucat."

Kedua tangan Nadira pun terangkat, lalu meraba pipinya. "Oh, Dira sedikit kedinginan tadi, Bi. AC di kamar sangat dingin dan Dira tidak terbiasa tidur di ruang ber-AC. Jadi mungkin, Dira sedikit masuk angin." Wanita muda itu pun beralasan.

Bi Yati pun mengangguk, mencoba untuk percaya. "Oh, ya, Non. Ada camilan di lemari penyimpanan. Sebentar Bibi ambilkan."

Asisten rumah tangga itu bergegas menuju sudut ruangan. Membuka lemari kaca tempat menyimpan makanan, lalu mengambil beberapa camilan dari sana.

Bi Yati kemudian menyuguhkan di hadapan Nadira. Namun, wanita muda itu tiba-tiba beranjak seraya menutup mulutnya. Pe rutnya seketika serasa diaduk-aduk begitu mencium aroma wangi kue kering yang berbahan dasar telur itu.

"Bi, tolong singkirkan kue-kue itu," pinta Nadira, lalu wanita muda itu berlari kecil menuju wastafel dan kembali mun tah seperti ketika baru bangun tadi.

"Ya ampun, Non. Non Dira kenapa?" Bi Yati yang ikut mengejarnya, kemudian memijat pelan tengkuk Nadira.

"Makasih, Bi," kata Nadira setelah tak ada lagi yang bisa dia keluarkan.

"Apa benar Non Dira masuk angin?"

"Iya, Bi. Dari kemarin pagi sebenarnya, Dira merasa kurang enak ba dan."

"Kemarin, Non mun tah juga?" kejar Bi Yati dan Nadira mengangguk, membenarkan.

"Apa perut Non Dira mu al setiap ...."

"Bi, sudah adzan Subuh. Dira balik ke kamar dulu, ya," pamit Nadira, memotong pembicaraan Bi Yati.

Bi Yati sepertinya masih mencu rigai sesuatu dan ingin bertanya lebih lanjut. Namun, kumandang adzan Subuh dari kejauhan, membuat Nadira terbebas dari cercaan yang akan dilayangkan asisten rumah tangga di kediaman Wijaya itu.

Pagi ini, usai sarapan bersama keluarga dan setelah sang papa mertua masuk ke ruang kerjanya, Nadira melihat Bu Sarah tengah berbincang dengan Kalingga. An ak dan ibunya itu sepertinya terlibat pembicaraan yang sangat serius di ruang keluarga.

"Dia bilang, dia akan p**ang, Ga, dan akan menjelaskan sendiri sama kamu. Mama harap, kamu memberinya kesempatan bicara," kata Bu Sarah.

Nadira yang hendak berangkat ke kampus dan tak sengaja mendengar, menghentikan langkah, lalu bersembunyi di balik dinding. Dia ingin tahu lebih jauh, apa yang sekilas dia dengar barusan. Namun, tak ada lagi suara setelahnya. Baik Kalingga maupun ibunya, mereka sama-sama terdiam.

"Dira! Buruan!"

Tak berapa lama kemudian, seruan Kalingga yang memanggil dirinya, memaksa Nadira keluar dari tempatnya bersembunyi. Setelah berpamitan pada sang mama mertua, Nadira lalu berangkat ke kampus bersama Kalingga.

Ya, setelah kembali ke kediaman Wijaya, Nadira akan diantar Kalingga setiap pergi ke kampus. Hal itu Kalingga lakukan agar sang papa percaya, kalau pemuda itu menyayangi Nadira dan memperlakukan wanita itu dengan baik.

Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, Nadira terus saja kepikiran dengan apa yang dikatakan sang mama mertua. Siapa yang akan kembali dan kenapa suaminya harus memberikan kesempatan pada orang itu bicara?

"Mas. Boleh aku tanya sesuatu?" Tak tahan jika harus menyimpan rasa penasarannya sendiri, Nadira memutuskan bertanya.

"Hem."

Mendapatkan respons dari suaminya meski hanya berupa gumaman, Nadira lalu menanyakan apa yang dia dengar tadi. Kalingga tiba-tiba menepi lalu menghentikan laju mobilnya. Pemuda itu kemudian menoleh ke arah Nadira dan tatapannya terlihat sangat marah.

"Bukankah sebelum kita menikah, kamu sudah membaca surat perjanjian yang kita buat? Pernikahan kita ini hanya sandiwara, Dira! Kamu tidak berhak mengetahui atau pun mencari tahu, apapun tentang urusanku! Begitu p**a denganku, aku juga tak peduli dengan apa pun yang kamu lakukan!"

Mendengar perkataan Kalingga, kedua netra Nadira berkaca-kaca. Nadira pikir, setelah Kalingga menyen tuh dirinya, perjanjian tersebut sudah tak lagi berlaku. Ternyata Nadira salah. Di m ata Kalingga, dia tetaplah orang asing.

Nadira baru sadar jika sang suami hanya akan meny entuh dirinya saat sedang ma buk. Itu artinya, Kalingga tak pernah benar-benar menganggap dia sebagai seorang istri. Terbukti, pemuda itu bersikap semena-mena terhadap dirinya dengan tega menyuruh Nadira tidur di lantai yang dingin.

"Turun!" Perintah Kalingga kemudian, mengurai lamunan Nadira.

Tanpa perasaan, pemuda itu menurunkan Nadira di pinggir jalan. Nadira pun menuruti perintah Kalingga meski dengan menyimpan kemarahan. Nadira masih mematung di sana ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depannya.

"Dira! Kenapa kamu di sini, Nak? Ke mana Lingga?

Pertanyaan Pak Wijaya yang baru saja turun dari mobil, membuat Nadira gelagapan, bingung harus menjawab apa.

"Ayo, masuklah!" ajak Pak Wijaya kemudian ketika sang menantu seperti kebingungan memberikan jawaban untuknya.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, Pak Wijaya terlihat tidak tenang dan wajah yang biasanya teduh itu, kini tampak murung. Pak Wijaya juga terlihat memegangi dadanya yang sebelah kiri. Sementara satu tangannya sibuk membuka layar ponsel dan mencari nama seseorang.

"Jangan ke mana-mana! Papa akan ke kantormu setelah ini!"

Setelah mengakhiri panggilan, Pria paruh baya tersebut meri ngis menahan rasa sakit di da da.
___

Cerita selengkapnya di aplikasi KBM
Judul : NADIRA ( Luka Hati Seorang Istri)
Penulis; Merpati_Manis

Aku diu sir dari ru mah setelah 7 hari pe maka man ayahku, Ibu tiriku mengira ru mah peninggalan ayah adalah hak milikny...
03/09/2026

Aku diu sir dari ru mah setelah 7 hari pe maka man ayahku, Ibu tiriku mengira ru mah peninggalan ayah adalah hak miliknya, juga dua anak perempuannya, juga seling kuhannya yang ternyata adalah mantan kekasihku sendiri. Aku pergi! Tapi mereka tak tahu kalau aku pergi dengan membawa sertifikat ru mah ayah, dan ku jual ru mah itu bonus se tan-se tannya!
_____
BAB 4

Tia dan Eni sedang asyik menata kardus-kardus kosong di gudang belakang. Suara mereka berbisik-bisik, sesekali diselingi tawa kecil yang tertahan.

"Eh, kamu lihat tadi?" Tia menyikut lengan Eni dengan mata berbinar, "Mas Damar itu lebih cakep dari Mas Bima."

"Ih, iya banget!" Eni mengangguk-angguk sambil merapikan tumpukan plastik, "Padahal Mas Bima dulu sering ke sini, tapi aku nggak pernah menyangka kalau dia secakep itu."

"Ah, Mas Bima udah beda cerita sekarang, berond**g s**a sama tante-tante janda kaya raya katanya," bisik Tia dengan suara sangat pelan, "tapi kalau dibandingin sama Mas Damar, Mas Bima kayak... ya sudahlah."

"Muka Mas Damar itu kayak artis Korea, Tia," Eni m e n d e s a h kecil, "rambutnya rapi, senyumnya manis, apalagi pake seragam tentara. Wih."

"Iya, dan dia perhatian banget sama mbak Indri," Tia mengangkat alisnya, "ngasih sarapan, tanyain kabar, bilang mau temenin seharian."

"Berarti dia masih s**a sama mbak Indri d**g?" tanya Eni.

"Kelihatan banget," jawab Tia sambil tersenyum, "dari jaman SMA katanya udah s**a."

"Terus kenapa mbak Indri nggak terima aja?" Eni memiringkan kepala, "kan Mas Damar baik."

"Kata mbak Indri dulu takut pacaran," jelas Tia, "tapi sekarang kan mbak Indri udah dewasa. Mungkin beda."

"Mudah-mudahan mbak Indri liat," Eni terkekeh, "soalnya Mas Damar itu jauh lebih oke dari Mas Bima. Mas Bima kayak..."

"Jangan dibandingin," potong Tia cepat, "nggak sebanding."

Mereka berdua tertawa kecil sampai tiba-tiba suara Indri memanggil dari depan.

"Tia! Eni! Ke sini cepat! Ada pembeli!"

Keduanya langsung terdiam lalu saling pandang dengan muka bersalah. Mereka bergegas keluar dari gudang sambil berusaha m e n a h a n tawa.

Indri menyerahkan u a n g kasir pada Tia dengan cepat. "Kamu pegang dulu, aku mau sarapan," katanya sambil melangkah ke belakang.

"Eh, mbak!" Tia terkejut, "terus siapa yang layani pembeli?"

"Kamu dan Eni," jawab Indri sambil memakai jaket t i p i s, "aku naik ke lantai dua dulu. Ada yang mau kubicarakan."

Tia dan Eni saling pandang, lalu tersenyum nakal ketika melihat Damar mengikuti Indri dari belakang. Keduanya hanya bisa menggelengkan kepala sambil m e n a h a n tawa.

Indri menaiki tangga ruko yang sedikit berderit. Setiap langkahnya terasa berat, tapi ia tetap melangkah sampai di depan pintu ruangan lantai dua yang semalam baru dibersihkan.

"Maaf, tempatnya berantakan," kata Indri sambil membuka pintu, "belum sempat dirapikan."

Damar masuk dan memandang sekeliling ruangan. Kardus-kardus masih berserakan di sudut, beberapa buku tua bertumpuk di atas meja, dan kasur busa t i p i s terbentang tanpa sprei.

"Kayaknya butuh tangan pria untuk membantu membereskan," kata Damar sambil tersenyum.

"Tidak usah," b a l a s Indri cepat, "ini sudah cukup."

Damar tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi kayu di samping meja kecil, menatap Indri yang sedang menuang teh panas dari termos. Keduanya terdiam beberapa saat sampai Damar membuka suara lebih dulu.

"Ndri," panggilnya pelan, "aku kan baru sebulan balik Magelang. Kamu tahu nggak kira-kira ada r u m a h yang mau diju al nggak?"

Indri menghentikan gerakannya sesaat. Ia menatap Damar dengan alis terangkat, "Kamu mau beli r u m a h, Mas?"

"Iya," jawab Damar dengan suara yang terdengar santai tapi matanya serius, "supaya nanti kalau aku melamarmu, sudah ada r u m a h untuk kita berdua."

Indri hampir saja tersedak teh panas yang baru saja ia teguk. Cangkir di tangannya bergetar, teh tumpah sedikit ke meja. Batuknya meme cah keheningan ru angan, sementara Damar hanya tersenyum tenang menyaksikan reaksinya.

"M-mas Damar!" Indri mengu sap bi birnya dengan punggung tangan, "kamu serius?"

"Serius," jawab Damar, "aku sudah memikirkannya sejak lama. Hanya saja, saat itu kamu masih SMA dan aku belum punya pekerjaan tetap. Sekarang sudah beda."

Indri menatap Damar dengan mata yang sulit dibaca. Jan tungnya berde gup ken cang, tapi ia berusaha tetap tenang.

"Maaf, Mas," kata Indri sambil meletakkan cangkir tehnya di atas meja, "emang kapan kita pacarannya? Kok langsung mau main lamar aja?"

Damar tertawa pelan, suaranya menggema di ru angan sem pit itu. "Kalau mulai sekarang bagaimana?" godanya sambil menyenderkan badan ke kursi.

Indri hanya m e l o t o t tak percaya. Matanya membulat, bi birnya sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu tapi urung. Tapi dalam ha ti dia berpikir, apa salahnya mencoba membuka ha ti lagi, toh dia sudah 3 bulan pu tus dengan Bima.

"Gimana?" tanya Damar lagi, kali ini lebih serius.

Indri mengangguk pelan, wajahnya memerah hingga ke telinga. Jari-jarinya sibuk memainkan ujung meja yang sudah mengelupas catnya. "Tapi Mas, masa iya baru pacaran udah langsung bahas r u m a h," katanya dengan suara kecil.

"Aku udah nggak mau pacaran lagi, Ndri," jawab Damar tegas, "maunya langsung nikah aja. Makanya bantuin Mas cari ru mahnya," lanjutnya.

Indri diam. Pikiran tentang r u m a h yang dijual, tentang u a n g, tentang masa depan, semuanya berputar di kepalanya. "Kalau gitu cari di perumahan aja, nggak usah besar-besar," katanya akhirnya.

Indri pikir g a ji Damar pastilah tidak seberapa. Sebagai perawat tentara di RST, gajinya mungkin cukup untuk hidup sendiri, tapi untuk membeli r u m a h? Dia tahu diri dan tidak mau meminta lebih dari yang bisa diberikan.

"Gitu ya...." jawab Damar dengan senyum t i p i s

"Nanti aku bantu pakai uangku,” kata Indri.

"U a ngmu? Dari mana? Jangan bilang modal toko kamu pakai!" seru Damar.

"Enggak," b a l a s Indri dengan tenang, "u a n g dari hasil jual r u m a h."

"R u m a h siapa?" tanya Damar, matanya menyipit penasaran.

Indri hanya nyengir tanpa menjawab.

--
PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?
Yuk, baca bab selengkapnya sekarang juga cuma di KBM APP!

📚 Judul: Aku Pergi Bersama Sertifikat Rumah Ayah
✍️ Penulis: Theresia Anastasia

Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!

Address

Jalan Raya Wonoayu
Pasuruan
67155

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kumpulan novel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category