09/09/2026
Lima tahun.
Angka itu terasa aneh diucapkan, apalagi kalau dihitung mundur dari hari ini, hari aku berdiri di depan cermin apartemen kecil, mengenakan cadar dengan tangan yang tiba-tiba gemetar seperti lima tahun lalu, saat pertama kali kupakai kain ini sebagai benteng.
"Mama, Kai ikut, ya?" Suara kecil itu menarik perhatianku. Kai berdiri di ambang pintu kamar, memeluk boneka beruang kesayangannya, matanya yang sipit, mata yang persis milik Malvin, menatapku penuh harap.
Aku berjongkok, menyamakan tinggi dengan anak semata wayangku. "Kai nggak bisa ikut kali ini, Sayang. Mama harus ke tempat yang jauh, buat jenguk Kakek yang lagi sakit."
"Kakek yang di foto itu?" Kai menunjuk bingkai kecil di meja nakas, satu-satunya foto yang kubawa dari Indonesia, foto Papa yang tersenyum di hari pernikahanku dulu, sebelum semuanya runtuh.
"Iya, Kakek itu." Aku mengusap kepalanya pelan. "Kai tinggal sama Bibi dulu di sini, ya. Mama janji secepatnya p**ang."
Kai mengangguk, meski bibirnya cemberut menahan sedih yang coba disembunyikan seperti anak-anak lain seusianya yang sudah belajar jadi kuat karena keadaan.
Bibi, adik bungsu Papa yang selama ini rutin mengunjungiku diam-diam setiap enam bulan sekali, membawa kabar dari Jakarta lewat jalur yang sudah disepakati bersama Tio, berdiri di belakang Kai, wajahnya juga tegang menahan cemas.
"Kirana, kamu yakin mau pergi sendirian?" tanya Bibi, suaranya pelan meski tidak ada orang lain di apartemen selain kami bertiga.
"Aisyah, Bi," koreksiku otomatis, meski di depan Bibi aku tidak terlalu kaku soal nama itu. "Dan iya, aku harus pergi sendiri. Kalau Kai ikut, terlalu berisiko. Kalau sampai ada yang curiga dan melacak, bukan cuma aku yang bahaya, tapi Kai juga."
Bibi mengangguk berat, menggenggam tanganku erat. "Kondisi Kak Wijaya makin kritis, Aisyah. Dokter bilang serangan jantungnya berat, bahkan sempat berhenti sebentar sebelum akhirnya distabilkan. Kamu harus segera ke sana."
Dadaku sesak mendengarnya. Papa. Papa yang sudah mengorbankan segalanya untukku lima tahun lalu, sekarang berjuang antara hidup dan mati, dan aku bahkan tidak bisa datang sebagai anaknya sendiri.
"Aku akan jaga Kai baik-baik," lanjut Bibi, memelukku sebentar. "Kamu fokus aja urus Kak Wijaya. Tio sudah siapkan semuanya, tiket, penginapan, sampai jalur masuk yang aman biar nggak ketahuan media."
Aku berlutut sekali lagi di depan Kai, memeluknya erat, menghirup dalam-dalam aroma khas anak kecil di rambutnya yang hitam lebat, warisan dari ayah yang belum pernah dia temui.
"Jadi anak baik buat Bibi, ya, Nak." Suaraku bergetar menahan tangis. "Mama sayang Kai."
"Kai juga sayang Mama." Tangan kecilnya mengusap pipiku yang tertutup cadar, seolah sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah melihat wajah utuh ibunya sendiri sejak lahir, kecuali di dalam rumah. "Mama cepat p**ang, ya."
"Janji."
***
Bandara Soekarno-Hatta terasa asing sekaligus familiar, seperti bertemu kembali dengan seseorang yang dulu sangat dikenal tapi kini terasa seperti orang lain sepenuhnya.
Aku berjalan pelan menyusuri terminal kedatangan, cadar hitam menutupi wajah, kacamata besar menambah lapisan penyamaran di atasnya. Koper kecil kuseret sendirian, jantungku berdegup kencang setiap kali melewati layar televisi yang kadang menampilkan berita seputar Medika Holding.
Aku sempat berhenti sejenak di depan salah satu layar, membaca judul berita yang berkelebat cepat.
"Direktur Utama Medika Holding, Malvin Baskara, Kembali Perluas Jaringan Rumah Sakit ke Tiga Kota Baru."
Fotonya muncul sekilas, wajah yang sudah lima tahun tidak kulihat langsung, tapi masih bisa kukenali sedetail apa pun perubahannya. Rahangnya lebih tegas. Matanya lebih dingin.
"Kamu bisa sampai di titik ini karena Papaku, Malvin."
Judul : Dituduh Mandul, Aku Kembali dengan Pewaris Direktur Malvin
Penulis : Yuniati N, SKMM
Sequel "Dibuang Dokter Diratukan Direktur RS."