10/06/2022
KITAB LATHAIF AL-MINAN WA AL-AKHLAQ
Dalam beberapa kesempatan, Gus Baha' sering mengucapkan yg intinya: "Saya kiai alim. Mengatur orang alim itu dosa.", "Saya itu hafal banyak hadits.", "Hafalan saya kuat, normal, tidak mudah lupa." dan banyak sekali kata-kata yang menunjukkan "ke-mlete-an" beliau.
Ketika banyak orang merasa heran kok ada ulama yang "kemlete" seperti beliau, saya biasa saja menyikapinya. Saya tahu, dulu banyak sekali ulama yang seperti itu, bahkan lebih serem lagi. Contohnya adalah Imam Abdul Wahhab asy-Sya'rani. Tidak hanya dalam ucapan, tapi juga beliau tuliskan dalam sebuah kitab yang berjudul:
لطائف المنن والأخلاق
في بيان وجوب التحدث بنعمة الله على الإطلاق
Secara global kitab dua dalam dua jilid ini membahas keistimewaan-keistimewaan Imam Asy-Sya'rani yang dianugrahkan Allah kepada beliau. Pada setiap keistimewaannya beliau mulai dengan dawuh:
ومما من الله تعالى به علي
"Di antara keistimewaan yang dianugrahkan Allah kepadaku adalah...."
Dua jilid tebal isinya begitu semua! Keren kan?
Hanya saja, jangan sampe kita berfikir macem-macem terhadap Imam asy-Sya'rani. Kitab ini sengaja ditulis karena saat itu banyak orang beranggapan sudah tidak ada orang yang punya keistimewaan2 seperti ini. Imam asy-Sya'rani ingin membuktikan bahwa rahmat Allah luas, masih banyak orang yang seperti itu, di antaranya adalah beliau sendiri. Akhirnya jadilah kitab Lathaiful Minan wal Akhlaq.
IMAM ASY-SYA'RANI DAN MBAH MOEN
Di antara kalam Imam asy-Sya'rani dalam kitab ini adalah:
ومما من الله علي تبارك وتعالى به علي: حمايتي من مساعدة الظلمة والولاة لي في مؤنة الحج كلما أحج مع شدة اعتقادهم في وطاعتهم لي كل ما أطلبه منهم، وقليل من يسلم من ذلك.
Di antara anugrah Allah untukku adalah saya menjaga diri dari menerima bantuan orang dhalim dan penguasa dalam pembiayaan hajiku, padahal mereka sangat meyakini (kewalian)ku dan sangat patuh memberikan apa yang saya inginkan. Hanya sedikit orang yang selamat dari perkara ini.
Imam asy-Sya'rani kemudian berkisah, beliau tiga kali pergi haji dengan mengajak rombongan sekitar 30 orang. Semuanya dibiayai oleh beliau sendiri. Uang yang dibuat membiayai itu beliau dapatkan dari hasil panen semangka dan pohon nilah yang beliau kelola.
Di antara orang sedikit yang selamat dari menerima bantuan pemerintah dalam pemberangkatan haji adalah Syaikhna KH. Maimun Zubair Sarang. Saya pernah mendengar cerita, salah satu pejabat penting Republik Indonesia ingin membiayai Mbah Moen berangkat haji. Akan tetapi Mbah Moen tidak berkenan dibiayai, beliau hanya ingin berangkat dengan biaya sendiri. Karena jengkel pejabat tersebut menutup semua akses ke Saudi Arabiah kecuali jika Mbah Moen berkenan menerima bantuan itu. Mbah Moen tetap menolak. Beliau mencoba berangkat ke Saudi lewat jalur Mesir. Pada akhirnya, Mbah Moen tidak jadi berangkat haji dan beberapa waktu tinggal di Mesir.
Ada hikmah yang lebih besar dari sekedar menunaikan ibadah haji, yaitu saat di Mesir beliau menemukan guru ruhani dan berbaiat thariqah Naqsyabandiyyah kepada guru tersebut. Ulama itu adalah Syaikh Najmuddin Muhammad Amin Al-Kurdi, putra Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi penulis kitab monumental Tanwirul Qulub. Wallahu A'lam
***
Kitab Lathaiful Minan wal Akhlaq cetakan Darut Taqwa ini ditahqiq dari enam manuskrip, salah satunya telah dimuqabalah dengan nuskhahnya Imam asy-Sya'rani.
Kertas dan penjilidannya sangat istimewa!
Harga katalog: 445.000
Diskon jadi: 364.000
Pemesanan: 0821 3535 7135