14/09/2021
Penguasaan Bahasa Belanda yang sebelumnya menjadi kebanggaan orang Ambon di zaman penjajahan Belanda, menjadi tak berarti dan malah harus disembunyikan di zaman penjajahan Jepang. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang bukan hanya digunakan karena mereka merupakan orang Indonesia, tetapi saat itu pemakaian bahasa itu menyelamatkan mereka dari Jepang.
Inilah cerita tentang permukiman orang Ambon bentukan Jepang di Surabaya. Orang Ambon di Krembangan Barat diusir dari rumahnya yang besar-besar untuk dipakai orang Jepang dengan iming-iming akan dipulangkan ke Ambon. Mereka berbondong-bondong diangkut dengan prahoto ke Surabaya, yaitu pasar Kapas Krampung yang masih berupa rawa-rawa. Mereka harus membuat sendiri rumah mereka dari papan, diberi jatah makan oleh orang Jepang, sampai lupa bahwa mereka ditampung di sana dengan harapan akan dipulangkan ke Ambon.
Beberapa orang Ambon berinisiatif untuk ikut berjuang di Surabaya saja, ikut mengalahkan orang Jepang. Bagi mereka, Surabaya adalah tumpah darahnya. Saat Jepang dikalahkan Sekutu, orang-orang Ambon di penampungan tersebut mencari penghidupannya sendiri-sendiri. Banyak dari antara mereka ikut mempertahankan kemerdekaan di Indonesia, bahkan terlibat dalam peristiwa penyobekan bendera Belanda di hotel Oranye.
Diceritakan dari sudut pandang keluarga Johanes Pastora, cerita di penampungan orang Ambon di Kapas Krampung melibatkan konflik golongan tua yang sangat menjaga relasi dengan Jepang dengan golongan muda yang bersemangat untuk ikut berjuang mengusir Jepang. Dalam situasi yang serba tegang dan penuh konflik setiap hari, muncul juga kegembiraan anak-anak, Jootje, yang sering sembunyi-sembunyi keluar dari kamp penampungan, bermain dan mencari informasi dari warga sekitar Kampung Sawah.
Suparto menulis sejak tahun 1952. Karangannya dimuat di berbagai koran dan majalah, termasuk Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Tanahair, Surabaya Post, Jawa Pos, Kompas, dan Indonesia Raya. Sejak 1958 juga menulis dalam bahasa Jawa, yang hasilnya diterbitkan di koran-koran dan majalah seperti Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, Mekar Sari, dan Damar Jati.
Di antara puluhan karya sastra Suparto Brata yang sudah dibukukan antara lain yng berjudul Surabaya Tumpah Darahku, Saksi Mata, Gadis Tangsi, Saputangan Gambar Naga, Mencari Sarang Angin, Kremil, Republik Jungkir Balik, Donyané Wong Culika, Lelakoné Si lan Man, Ser! Randha Cocak, Suparto Brataès Omnibus, dan Pawèstri Tanpa Idhèntiti.
Nama Suparto Brata tercatat dalam buku Five Thousand Personalities of the World (edisi VI, 1988), terbitan The American Biographical Institute.
Surabaya Tumpah Darahku
Suparto Brata
Penerbit Buku Kompas, 2016
344 halaman, 400 gram