Bulan Novel

Bulan Novel Penulis di KBM App

Suamiku adalah "Om" yang membesarkanku.Aku memohon agar suamiku tetap di sisiku selama tiga hari. Bukan karena manja, me...
28/07/2026

Suamiku adalah "Om" yang membesarkanku.
Aku memohon agar suamiku tetap di sisiku selama tiga hari. Bukan karena manja, melainkan karena aku tahu... setelah tiga hari ini, suamiku bukan lagi milikku, melainkan milik...

***

Beberapa menit lalu, ru mah ini dipenuhi tawa.

Sekarang ...

Lenyap seketika. Yang tersisa hanyalah tatapan ta k*t di ma ta istriku.

Tatapan yang pernah kulihat bertahun-tahun lalu... Saat seorang gadis remaja ke hi la ngan ayahnya yang gu gu r dalam tugas negara.

Da da ku terasa se sak.

Andai aku hanya seorang laki-laki biasa...

Mungkin hari ini aku bisa memilih tetap tinggal di ru mah.

Namun aku bukan hanya suami Kania. Aku adalah seorang pr a ju rit. Sejak hari pertama mengenakan se ra g am itu, aku telah mengucapkan sum pah.

Sapta Marga bukan sekadar hafalan. Ia adalah jalan hidup. Ten ta ra tidak pernah memilih kapan negara memanggil.

Dan ketika panggilan itu datang...

Tak ada ruang untuk menawar.

Se sa kit apa pun me ning gal kan keluarga...

Kami tetap berangkat.

Karena di balik ru mah yang harus kami tinggalkan...

Ada ju ta an ru mah lain yang juga harus kami jaga.

Kami ingin memastikan negeri tempat kami tinggal tetap aman.

Sekarang...

Yang terdengar hanya keheningan.

Da da ku seperti di re mas.

Tanpa sa dar aku meraih kedua pi pi nya.

Ku pak sa ia menatapku.

"Nai."

"Dengar saya!”

Ma ta nya mulai dipenuhi air ma ta.

"Saya memang pergi."

"Tapi saya bukan pergi untuk me ning gal kan kamu selamanya, hanya untuk sementara.”

Aku me ngu sap pelan pi pi nya.

"Saya akan kembali."

Air ma ta yang sejak tadi di ta han nya akhirnya ja tuh.

Aku menghapusnya perlahan...

Aku bisa merasakan ke pa la nya perlahan ber san dar di ba hu ku.

Lalu ia berkata lirih.

"Om..."

"Hm?"

"Selama tiga hari ini..."

"...aku pin jam Om."

Aku menoleh.

"Pin jam?"

"Iya."

"Om jangan ke mana-mana selain sama aku."

Aku tersenyum tipis.

"Siap."

"Nggak boleh sibuk kerja loh!”

"Baik."

"Nggak boleh ning ga lin aku sendirian!”

"Baik."

"Nggak boleh panggil teman kalau nggak penting."

Aku terkekeh pelan.

"Kok saya jadi kayak ta ha nan, sih?"

"Biarin."

"Soalnya..."

"...setelah tiga hari ini..."

"...Om kembali jadi milik negara."

“Berarti saya benar-benar nggak boleh lepas dari kamu?"

"Iya."

"Kok sekarang lengket?"

"hah?"

"Kirain se ma lam doang lengketnya."

DEG.

Wa jah nya memerah dalam sekejap.

"Om!"

Aku menatapnya po los.

"Kenapa?"

"Jangan bahas se ma lam!”

"Memangnya kenapa?"

Ia buru-buru men cu bit pelan le ngan ku.

"Jangan g o d ai n aku!”

Aku me nang kap per ge la ngan ta ngan nya sebelum sempat di ta rik kembali.

"eh?"

Tanpa banyak bicara...

Aku me nge cu p cepat pung gung ta ngan nya.

Ma ta nya membulat.

"Om..."

Aku tersenyum tipis.

"Kalau nyu bit, ada den da nya."

"Ih, Om cu ra ng."

Ia kembali me mu kul pelan le ngan ku.

Lalu aku mulai me na tap nya. Ma ta nya kembali membulat dan dengan gerakan cepat aku me nge cu p bi bi r nya.

“OM Evaaan!!!!

"Jadi... boleh nggak...selama tiga hari ini...Om jadi milik aku dulu? Harus sama aku saja!”

Aku mengangkat sebelah alis.

“Berarti saya benar-benar di ku rung?”

“Iya.”

“Kalau lapar?”

“Aku yang masakin.”

“Kalau haus?”

“Aku yang ambilin.”

Aku tersenyum ge li.

“Kalau bosan?”

“Aku temenin.”

“Kalau Om kedinginan?”

Aku melihat pi pi Kania memerah.

“Ih, om."

Ia tiba-tiba me ngang kat ja ri ke ling king.

“Satu lagi.”

“Hm?”

"Kalau Om pergi, harus janji kembali dengan selamat!"

Aku mengik*ti saja mau dia. Karena itu pun yang aku mau. Kami saling me ng*it kan ja ri kelingking. "Saya akan berusaha kembali dengan selamat."

Aku juga ingin meminjam waktu. Walau hanya tiga hari bersamamu Kania.

Tiga hari.

Waktu yang bagi orang lain mungkin terasa biasa.

Namun bagi kami...

Tiga hari itu adalah seluruh dunia yang masih tersisa sebelum perpisahan.

***

Suamiku adalah "Om" yang membesarkanku sejak A yah gu gur saat bertugas. Meski usia kami terpaut tiga belas tahun, entah kenapa kami selalu sejalan. Baru se ma lam aku benar-benar menjadi istrinya, tetapi pagi ini negara sudah kembali memanggilnya.

Aku tidak ta k*t menunggu. Aku tidak ta k*t ditinggal. Aku hanya ta k*t... keberangkatan kali ini menjadi pertemuan terakhir kami.

❤️
📖 Aku Udah Gede, Om Kapten!
Novel by Mbak Engz
Selengkapnya hanya di KBM App
Buruan buka Sekarang!

"Bunda nanti saja ik*tnya. Mobil udah penuh," ucap Alina, mena rik koper kecil bermotif kartun menuju mobil kantor yang ...
24/07/2026

"Bunda nanti saja ik*tnya. Mobil udah penuh," ucap Alina, mena rik koper kecil bermotif kartun menuju mobil kantor yang diparkir Mas Arya di depan pagar.

Aku menatap kursi belakang yang masih benar-benar kosong. "Penuh? Itu kursi belakang masih longgar, Alina. Bunda bisa duduk di sana."

Mas Arya yang sedang memasukkan tas kerjanya ke bagasi, menoleh. Tatapannya dingin, nyaris beku. Tak ada lagi binar yang dulu selalu ada tiap kali kami akan mudik bersama.

"Barang-barang kantorku banyak, Ren. Lagipula Mas harus mampir ke beberapa tempat dulu untuk urusan pekerjaan. Kamu menyusul saja hari kedua Lebaran nanti, ya? Biar Mas jemput," ujar Mas Arya dengan nada datar. Menatap lurus ke depan seakan-akan aku tak ada.

"Hari kedua?" ulangku perlahan. Suaraku menahan gemetar.

"Iya. Lagipula kamu masih harus mengurus desainmu yang belum selesai, 'kan? Fokus saja di sini dulu," tambahnya lagi tanpa menatapku.

Aku menarik napas panjang, menelan getir yang mulai naik ke teng gorokan.

"Baiklah. Aku tidak akan ik*t sekarang," jawabku tenang, meskipun ada sesak dan perasaan aneh yang mulai menggero goti da da.

Aku berdiri di teras, memandangi mobil itu menjauh hingga hilang di tikungan komplek.

Tiga jam kemudian, aku duduk di dalam taksi yang membe lah jalanan panjang. Ha ti terasa kosong. Setiap napas hanya mengingatkanku pada satu hal: aku sedang menuju jawaban yang entah ingin k*temukan atau tidak.

Ru mah Bu Laila, mertuaku, sudah di depan. Entah apa yang menungguku di sana.

Begitu sampai di halaman ru mah mertua di kampung, suasana terasa sangat asing. Banyak pasang sandal berjajar di teras. Harum melati menyeruak, bercampur dengan aroma masakan santan yang gurih.

Jan tungku berdegup kencang. Firasat aneh merayap, sesuatu yang tak ingin kuabaikan.

Aku bergegas masuk lewat pintu samping. Baru menginjak ambang ruang tamu, tu buhku seketika membeku.

Di sana, di bawah lampu gantung yang terang, aku menyaksikan Mas Arya sedang menjabat tangan seorang pria tua. Di sampingnya Naura duduk, mengenakan kebaya putih cantik yang memantulkan cahaya lampu. Senyumnya tenang, memancarkan kepuasan.

"Saya terima ni kahnya Naura Bella binti Samsudin dengan mas ka win seuntai gelang emas, tunai!"

Saat itu, semua rasa—kaget, hampa, pedih, dan ma rah—langsung menyerbu sekaligus, membuat da da sesak dan napas tersendat.

Seruan "sah" yang lantang menggema sontak meredup saat mereka menyadari kehadiranku. Semua orang menoleh bersamaan.

Mas Arya mematung, ta ngannya yang baru saja menjabat penghulu menda dak gemetar. Wa jahnya yang semula penuh kemenangan kini memucat pasi.

"Arena?" bisiknya lirih.

Bu Laila langsung bangkit dari duduk. Wa jahnya merah padam, tampak sangat terganggu dengan kehadiranku. Langkahnya cepat mengikis jarak kami.

"Kamu kenapa datang awal, sih? Arya sudah bilang akan menjemputmu hari kedua nanti!" desisnya ta jam sambil menceng keram le nganku. Rasanya nye ri, tetapi tidak sedalam yang kurasakan di ha ti.

Bi bir ini berusaha melengkung tipis, membentuk senyum pahit seseorang yang baru saja disingkirkan dari hidupnya sendiri.

Ma taku menatap Mas Arya lurus-lurus.

"Jadi ini alasan kursi mobilnya penuh tadi pagi? Karena harus menjemput mempelai wanita di tengah jalan?" tanyaku datar, walaupun setiap kata bergetar oleh kecewa.

"Rena! Jangan bikin onar di sini!" bisik Bu Laila, sambil menekan lengan seperti ingin mendo rongku keluar.

Dari pojok ruangan, Mbak Ratna, kakak ipar yang paling memben ci aku sejak dulu, menatap ta jam. Bi birnya mengecil, tangan mengepal di samping. Sedangkan kakak iparku yang lain, Mbak Dinda, menunduk. Aku bisa merasakan ketegangan dari sikapnya. Dia tampak ingin menenangkan situasi, tetapi ragu saat menatap ibunya.

"Tenang, Bu. Aku tidak akan membuat keributan," jawabku, menahan napas, menahan detak jan tung yang serasa ingin meluapkan ama rah dan kesedihan.

Kupikir aku sudah cukup kuat, bisa menahan semua sa kit saat melihat mereka bersama. Akan tetapi, begitu ma taku menangkap Mas Arya dan Naura duduk berdampingan sebag*i pasangan suami istri, nyatanya ha ti ini tetap remuk redam.

Lu tutku melemas, kupaksa untuk berdiri tegak. Melangkah maju, aku menatap pasangan yang baru saja mengikat janji.

"Rena, dengar dulu---" Mas Arya berdiri. Ada rasa ta k*t, bersalah, atau mungkin ... sesuatu yang belum bisa ia ucapkan di manik ma tanya.

Di sampingnya, Naura mere mas ujung kebaya. Wa jahnya tetap tenang, meskipun kete gangan terlihat jelas di sana.

"Selamat ya, atas pernikahan kalian," ucapku, memot ong kalimat Mas Arya. Suaraku dingin, berusaha menutupi lu ka. "Rapi sekali, Mas. Kamu memilih waktu yang tidak akan pernah bisa aku lupakan."

Napas Mas Arya tersengal. "Ren ... Mas—Mas nggak bermaksud—" Suaranya pe cah, ingin menjelaskan, tetapi lidah tak mampu menyusun kalimat.

“Tidak bermaksud?” Aku tersenyum tipis. “Mas, tidak ada yang terjadi tanpa maksud. Mas hanya nggak menyangka aku akan melihatnya sendiri.”

Aku tertawa kecil. “Lucu ya. Selama ini Mas begitu tak*t kehilangan aku. Sekarang, Mas sendiri yang menggantikanku.”

Aku berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung.

"Mas nggak kehilangan aku hari ini," lanjutku pelan.

Sejenak, wajahnya tampak lega.

Aku tersenyum tipis. "Mas memilih melepaskanku."

Wa jahnya langsung berubah gelap.

"Mbak, mungkin kita bisa bicara baik-baik nanti. Ini semua demi kebaikan Alina," timpal Naura, lembut, penuh kebanggaan terselubung.

"Demi kebaikan Alina?" Aku tertawa kecil lagi, tawa yang asing di te linga sendiri. "Kamu berhasil, Naura. Kamu berhasil mendapatkan apa yang selama ini aku jaga."

Aku memutar tu buh, melewati Mas Arya yang berdiri mematung.

Langkahku menuju sudut ruangan, ke arah Alina yang tengah duduk bersama sepupu-sepupunya.

"Alina, ayo ik*t Bunda pulang," ajakku seraya mengulurkan ta ngan.

Alina menggeleng. Ia justru mendekat ke arah Naura dan meme luk le ngan perempuan itu erat. "Bunda, cepat pulang sana! Ayah lagi mau sama Mama Naura! Bunda jangan di sini!"

Kata-kata itu ja tuh bag*i batu besar yang menghan tam kepalaku. A nak yang dulu kuajarkan berbicara, kini menggunakan suaranya untuk mengu sirku.

"Alina, ini Bunda ...." Aku mencoba menenangkan suara.

"Mama Naura lebih baik! Dia selalu ada buat aku! Bunda pulang saja!" teriaknya lagi. Tegas, tanpa ragu.

Bisikan dan tatapan orang-orang di sekitar menambah panas suasana.

Mbak Ratna menatapku sambil menyering*i tipis dari kursi pojok. "Sudahlah, Ren. Kamu lihat sendiri 'kan, a nakmu lebih nyaman sama siapa? Jangan memaksakan diri."

Aku menarik kembali ta ngan yang menggantung di udara. Dingin ... sekaku ha tiku saat ini.

Aku menatap Mas Arya yang hanya diam, tidak membela, tidak juga menjelaskan. Ia hanya membalas pandangan dengan sorot ma ta yang dipenuhi rasa ta k*t sekaligus rasa bersalah, rasa yang tak berguna sama sekali.

"Baiklah," ucapku pelan. "Kalau kehadiranku sudah tidak diinginkan lagi di sini, aku akan pergi."

Aku berbalik menuju pintu. Mantap, tidak goyah sedikit pun. Di ambang pintu, aku sempat berhenti sebentar tanpa menoleh ke belakang.

"Ingat, Mas. Aku pergi bukan karena kalah. Tapi, karena akhirnya sadar ... aku berada di tempat yang salah."

Aku melangkah keluar.
Kali ini, benar-benar tanpa ingin kembali.

Judul : Berlian yang Kalian Abaikan
Penulis : BulanSabit LTF SKMM
di KBM App

Dua hari Arfan tidak pulang. Biasanya Saras akan uring-uringan dan terus menghubungimya. Namun, kali ini dia terlihat ta...
25/05/2026

Dua hari Arfan tidak pulang. Biasanya Saras akan uring-uringan dan terus menghubungimya. Namun, kali ini dia terlihat tak acuh.

Saras turun ke ruang makan untuk sarapan. Rumah berlantai dua yang mewah itu terlihat sepi seperti biasanya. Tiga tahun dia menjadi istri Arfan, baru kali ini dia merasa hidupnya damai tanpa perlu ada rasa cemburu dan penge kangan.

Suara mobil terdengar di halaman. Arfan baru saja pulang. Saras tetap sarapan tanpa peduli dengan Arfan yang kini duduk tak jauh darinya.

Arfan bersandar sambil menatap Saras yang tidak melihatnya sama sekali.

"Mana kopi untukku?"

"Bik, buatin Tuan kopi."

"Baik, Nyonya."

Bik Lela datang membawa segelas kopi dan meletakkannya di depan Arfan. Arfan mengambil gelas itu dan menyeruputnya.

"Kenapa rasanya beda?" batin Arfan.

Saras berdiri karena sudah selesai sarapan. Tanpa bicara, dia pergi begitu saja meninggalkan Arfan yang menatapnya heran.

"Bik, kenapa kopinya kemanisan? Kenapa rasanya beda?" protes Arfan pada wanita paruh baya itu.

"Maaf, Tuan. Biasanya nyonya yang buatin kopinya, bukan saya."

Arfan berdiri. Dia mengik*ti Saras yang sedang menaiki tangga menuju ke ka mar. Saras masuk ke ka mar. Arfan menahan pintu yang hampir tertutup.

Arfan melem par jas begitu saja ke sofa di ujung ka mar. Dia duduk di sofa saat Saras membuka lemari.

"Ambilin pakaianku yang baru."

"Ambil aja sendiri. Punya tangan, 'kan?"

Arfan seketika berdiri. Dia marah dengan penolakan Saras. Dia menghampiri Saras dan mena rik bahunya hingga mereka berhadapan.

"Kamu udah berani bantah perintahku?"

"Nggak s**a? Kalau ingin dila yani, bawa perempuan itu ke sini biar dia yang la yani kamu. Sudah tiga tahun aku mela yanimu walau aku tahu kamu ji jik padaku. Sekarang aku nggak akan la yani kamu lagi!"

Arfan geram. Dia mendo rong Saras hingga telen tang di tempat ti dur. Kini tu buhnya berada di atas Saras. Arfan menopang tu buhnya dengan siku agar tidak menin dih Saras.

"Jangan bilang kamu udah nggak ji jik lagi sama aku."

Saras sengaja membu ka kan cing kemeja Arfan. Namun, Arfan segera berdiri.

"Lihat, kamu bahkan nggak ingin aku sen tuh. Dulu aku bisa menyen tuhmu hanya saat kamu lagi ingin melam piaskan has ratmu padanya. Sudah berulang kali aku mendengarmu menyebut namanya padahal akulah yang sedang bersamamu."

Saras bangkit. Dia mengambil tasnya di atas meja.

"Mau ke mana?"

"Ke rumah sakit. Kenapa? Kamu mau ik*t? Apa semalam kamu belum puas bersamanya?"

"Kamu cemburu?"

Saras tertawa kecil.

"Ngapain aku harus cemburu? Kalau belum puas bersamanya, mending kamu balik lagi ke sana. Lagian, aku sudah terbiasa sendirian di rumah. Kamu nggak pulang pun, nggak jadi masalah buatku."

Sarah keluar dari ka mar. Arfan mengik*tinya.

"Aku akan mengantarmu."

"Ternyata kamu belum puas bersamanya. Baguslah."

"Apanya yang bagus?"

"Bagus aja biar aku nggak repot ngurusin semua keperluanmu. Semakin cepat kalian nikah, semakin cepat aku terbebas darimu."

Arfan tersenyum sinis.

"Nggak akan semudah itu. Selamanya kamu akan terus terikat denganku."

"Terserah."

"Masuk!" Arfan membuka pintu mobil depan.

"Aku akan duduk di belakang."

"Aku bilang masuk ya masuk!"

Saras masuk. Arfan ik*t masuk. Mobil perlahan meninggalkan pelataran dan berhenti di parkiran rumah sakit setengah jam kemudian.

"Pergilah temui dia. Aku bisa ke ruangan dokter sendiri. Oh iya, nggak usah tunggu aku."

Saras berjalan menuju ruangan dokter. Arfan mengik*tinya, tapi dia belok kiri menuju ruangan Audi.

Di ruangan dokter, Saras duduk mendengar penjelasan.

"Gimana keadaan saya, dok?"

"Sangat baik, tapi kamu jangan terlalu memak sa untuk berjalan dulu. Pelan-pelan saja biar otot kamu lebih rileks."

"Baik, dok."

"Saya sudah resepkan o batnya. Oh iya, sebaiknya jangan pernah minum o bat ti dur lagi apalagi dengan do sis tinggi."

"Iya, dok. Aku tidak akan minum o bat ti dur lagi."

Saras sengaja membawa dua botol o bat ti dur dari rumah dan memberikannya pada dokter. Dokter memeriksanya.

"Kenapa ada o bat kontra sepsi di botol o bat ti dur?"

"Maksud dokter?"

Dokter mengeluarkan o bat dari salah aatu botol dan memperlihatkannya pada Saras.

"Ini bukan o bat ti dur, tapi o bat kontra sepsi. Sayang kalau kamu menunda punya a nak karena usiamu tergolong pas untuk ha mil. Sayang sekali."

Saras terkejut saat tahu o bat ti dur yang selama ini dia minum ternyata o bat kontra sepsi. Dia akhirnya sadar kalau o bat itu selalu Arfan berikan setelah mereka selesai berhu bungan yang katanya karena terpak sa. Menurut Arfan, o bat itu ampuh buat dia terti dur.

Saras keluar dari ruangan dokter. Kakinya goyah saat tahu tentang o bat itu. Selama ini dia berpikir mungkin dengan kehadiran a nak di antara mereka, Arfan akan berubah sikap. Namun, sejak awal Arfan memang tidak menginginkan a nak darinya.

Saras berjalan berpegangan pada dinding. Dia syok hingga akhirnya dia terduduk di lantai.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya seorang dokter yang kebetulan baru keluar dari sebuah ruangan.

"Mari saya bantu berdiri."

Lelaki itu berjongkok di depan Saras. Mereka saling menatap.

"Saras?"

"Rangga?"

Tanpa diminta, Rangga membo pong Saras. Namun, Arfan datang dan mengambil Saras darinya.

"Biar aku saja."

Judul. : Istriku Berubah Usai Ko ma 3
Penulis : Yathie01
Hanya di KBM

"Bunda tidak mengambilkan Alina sup?"Pertanyaan itu meluncur dari bi bir kecil Alina saat kami baru saja duduk untuk san...
25/05/2026

"Bunda tidak mengambilkan Alina sup?"

Pertanyaan itu meluncur dari bi bir kecil Alina saat kami baru saja duduk untuk santap sahur. Suasana ruang makan yang diterangi lampu gantung kuning terasa lebih dingin dari biasa. Aku hanya melirik sekilas ke piringnya, lalu kembali pada makananku seolah-olah itu bukan lagi tugasku.

"Supnya ada di meja, Nak. Ambil sendiri ya, Bunda sedang makan," jawabku pelan tanpa menoleh.

Alina tampak terkejut. Biasa, aku akan dengan sigap menuangkan kuah, memastikan sayurannya cukup, dan meniupnya pelan agar ia tidak kepanasan. Kali ini, aku membiarkan sendok sayur itu tergeletak begitu saja di dalam mangkuk keramik.

"Kamu kenapa?" tanya Mas Arya yang duduk di kepala meja. Ia menatapku dengan alis menukik. Ta ngannya terangkat, ragu sejenak seperti baru sadar, aku tidak lagi bergerak untuknya.

"Tidak apa-apa, Mas," jawabku singkat.

"Kamu sa kit?"

Dulu, kalimat itu akan diik*ti dengan telapak ta ngannya yang hangat menempel di ke ningku. Aku akan merasa sangat dicintai hanya dengan perhatian kecil itu. Namun, kini Mas Arya tetap di tempatnya. Ia tidak bergerak sedikit pun, hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ia meletakkan sendok sedikit lebih ke ras ke piring, menimbulkan bunyi denting yang meme kakkan telinga di kesunyian Subuh. "Kamu masih ma rah soal u ang kemarin?"

Aku menghentikan kunyahan sejenak, menelan nasi yang terasa hambar di tenggorokan. "Mas merasa ini hanya soal u ang?"

"Ya ... lalu apa lagi?" Alisnya terangkat. "Sejak kejadian itu kamu jadi aneh. Diam terus, nggak ngurus a nak, nggak ngurus suami. Tiba-tiba mau kuliah."

"Aku cuma mulai belajar menjadi biasa saja. Supaya kalau suatu saat aku tidak ada, kalian nggak kaget," ucapku sambil menyuap sesendok nasi lagi dengan tenang. Padahal, di dalam sana, jan tungku berdegup tidak karuan.

Ra hang Mas Arya tampak menge ras. Ia hendak menyahut, tetapi suara Alina meme cah kete gangan di antara kami.

"Yah, hari ini Alina ada acara buka puasa bareng di sekolah. Ayah datang, 'kan? Orang tua wajib ik*t."

Wajah Mas Arya yang semula te gang seketika melunak saat menatap putri kesayangannya. "Tentu saja Ayah akan datang. Jam berapa acaranya?"

"Sore jam lima, Yah."

Aku menoleh sekilas ke arah Alina. "Bunda boleh ik*t?"

Alina memandangku, tatapannya berubah kesal seakan-akan aku baru saja menanyakan sesuatu yang sangat mengganggu. "Ayah saja cukup, Bunda. Bunda 'kan, harus ju alan kue?"

"Bunda bisa libur sehari kalau Alina mau Bunda datang," sahutku, mencoba menawarkan kehadiran yang mungkin tak ia inginkan.

"Tidak usah, Bunda. Alina mau pergi dengan Ayah saja."

Ta ngan menceng keram sendok erat, mencoba menahan nada suara agar terdengar lembut. "Bunda juga mau ik*t, Nak. Bunda ingin lihat kamu senang."

Alina menatapku sebentar, bi birnya mene gang, lalu dengan tegas menggeleng. "Alina cuma mau sama Ayah."

Aku menelan napas. Kata-kata itu menu suk, tetapi aku tidak ingin terdengar ma rah atau kecewa di hadapannya. Perlahan, aku melepaskan genggaman pada sendok dan menunduk, menatap sup di atas meja.

"Bunda akan tetap datang, Alina," bisikku pada diri sendiri. "Mau kamu setuju atau tidak."

***
Sore harinya, Mas Arya dan Alina sudah berangkat lebih awal. Aku pun sudah bersiap dengan gamis terbaik, membawa bakul kue kecil yang kugantung di motor. Sambil jalan, aku tetap harus mencari u ang.

Aku membuntuti mereka dari kejauhan. Seperti dugaan, Mas Arya memarkir motornya di sebuah minimarket tak jauh dari komplek. Tak lama, mobil kantor yang biasa ia pakai muncul. Kaca jendela terbuka, menampakkan wajah Naura yang tersenyum manis.

"Sebegitu berha rganya Naura di hatimu, Mas? Sampai mobil yang seharusnya kamu pakai sendiri, kamu biarkan dia yang memegang kemudi?" bisikku perih di balik helm.

Alina berlari kecil, lalu menghambur meme luk wanita itu dengan penuh cinta. Mereka bertiga masuk ke mobil, tertawa riang seperti sebuah keluarga kecil yang sedang berangkat liburan.

Dingin tiba-tiba merayap. Napasku tercekat, jan tung berdegup tak karuan.

Dengan ta ngan sedikit gemetar, aku terus mengik*ti dari jarak aman hingga mobil itu berhenti di depan sebuah gerbang sekolah yang sangat megah. Sekolah internasional.

Sejak kapan Alina pindah sekolah? Kenapa aku tidak tahu?

Aku pun berhenti, tetap menjaga jarak. Ta ngan di stang motor masih gemetar. Setiap tawa yang mereka lepaskan menu suk da daku, lebih dalam daripada apa pun yang pernah kurasakan.

Perlahan, aku menepikan motor di dekat lampu merah. Mengatur napas berulang kali, mencoba menenangkan ha ti yang berge jolak.

Sambil mencoba menata ha ti, aku meraih bakul kue. Menjajakannya di lampu merah hingga waktu berbuka.

Usai berbuka, aku bergegas menuju parkiran sekolah, tepat di samping mobil kantor Mas Arya.

"Kok, Bunda ada di sini?" Suara Alina terdengar taj am saat ia baru saja keluar dari gedung sekolah bersama Mas Arya dan Naura.

Langkah Mas Arya terhenti seketika. Wa jahnya yang semula ceria langsung memucat. Genggaman ta ngannya pada jemari halus Naura terlepas begitu saja.

Naura menoleh sekilas ke arahku, ma tanya melebar sesaat. Detik berik*tnya, ia menunduk sambil menahan senyum.

"Kamu mengik*ti kami?" tanya Mas Arya te gang. Setengah mar ah, setengah cemas.

Aku tidak menjawab. Ma taku melirik sekilas pada genggaman tangan yang baru saja lepas, lalu beralih pada papan nama sekolah di belakang mereka.

"Aku cuma ingin tahu," ucapku pelan, bergetar sedikit tanpa kusadari. "Sejak kapan a nakku pindah ke sekolah ini tanpa sepengetahuanku?"

Mas Arya menghela napas panjang. Entah kesal karena momen bahagianya terusik atau mungkin juga karena rahasinya terbongkar.

"Ren, jangan mulai di sini. Malu dilihat orang," katanya dengan rahang mengetat, menahan suara agar tak terdengar sekitar.

"Malu karena apa?" jawabku cepat. "Karena istrimu yang penju al kue ini tahu rahasiamu?"

Alina tiba-tiba melangkah ke depan Naura, berdiri tegap seperti ingin melindungi perempuan itu dariku. "Bunda, Mama Naura yang mindahin sekolah Alina. Mama Naura lebih tahu sekolah yang bagus buat aku."

Kata itu tetap menghan tam. Walaupun sudah pernah mendengar “Mama Naura,” tetapi mendengarnya langsung dari jarak sedekat ini membuat lu ka itu terasa segar.

Aku menatap Alina cukup lama. Wajah yang dulu berseri saat kubawakan kue buatanku kini menatap dingin.

Bi birku tetap melengkung tipis. Cukup untuk menyembunyikan apa pun yang tidak perlu mereka lihat.

"Baik kalau begitu," ucapku singkat, pelan, menahan getar yang ingin mele dak.

Aku berbalik tanpa menunggu kata-kata mereka lagi. Langkah pelan, tidak goyah. Di tengah langkah menuju motor, ponsel di saku bergetar. Satu pesan masuk.

Dari Arkhan Narendra.

"Ren, kamu datang ke acara buka bersama besok malam, 'kan? Ada hal penting yang ingin kubicarakan. Tentang kelanjutan pekerjaanmu sebag*i desainer lepas."

Aku berhenti melangkah. Senyumku tersungging samar.

Dunia memang pandai membalikkan keadaan. Suamiku bekerja di bawah seseorang yang dulu menghar g*i karyaku tanpa ragu.

Ini bukan lagi tentang pembuktian. Ini tentang mengambil kembali diriku yang dulu sempat k*tinggalkan.

Aku mengetik balasan dengan jari yang mantap. "Aku akan datang, Khan."

Tekad itu mengalir di setiap urat nadi.
Dalam ha ti, aku berbisik pada angin malam. Jika peranku di ru mah bisa digeser begitu mudah, maka aku tak perlu lagi bertahan di tempat yang tak lagi menginginkanku.

Judul: Berlian yang Kalian Abaikan
Penulis: BulanSabit LTF SKMM
di aplikasi KBM App

Siang jadi Nona Muda penghuni kastil, malam jadi 'sampah' di dunia maya. Semua dilakukan olehku karena ....--"Lily, leta...
25/05/2026

Siang jadi Nona Muda penghuni kastil, malam jadi 'sampah' di dunia maya. Semua dilakukan olehku karena ....
--
"Lily, letakkan sendokmu. Suaranya berdenting terlalu ke ras, tidak elok didengar."

Suara itu pelan, tetapi sanggup membekukan aliran darah di ruangan tersebut. Handoko Dirgantara tidak perlu berteriak untuk mengin timi dasi. Pria itu hanya menatap lurus ke arah piring porselen di depannya, tetapi Lilyana merasa seolah sedang diseret ke kursi pesakitan.

Lily meletakkan sendok peraknya dengan gerakan yang sangat hati-hati. "Maaf, Ayah."

"Ayah dengar dari Dekanmu, kau menolak tawaran beasiswa riset ke London hanya karena alasan lelah?" Ibunya, Sofia, menyela sembari mengusap sudut bibirnya dengan serbet kain sutra. Tidak ada noda di sana, Sofia hanya menyukai gestur kesempurnaan.

"Ibu tidak membesarkan seorang pecu-ndang, Lily. Lelah adalah kata untuk mereka yang tidak memiliki kelas." Sang Ibu menambahkan.

"Aku hanya ingin mengambil jeda satu semester, Bu. Fokus pada tugas akhirku sendiri," jawab Lily lirih, jemarinya meremas serbet di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Handoko meletakkan gelas kristalnya dengan sentakan yang cukup kuat. Air di dalamnya bergoyang hebat, merefleksikan wajah Lily yang pucat pasi.

"Jeda adalah celah bagi kegagalan untuk masuk!" tegas Handoko. "Kau adalah anak sulung. Kau adalah contoh nyata bagi adik-adikmu. Jika kau retak, maka runtuhlah standar keluarga ini. Besok, temui Dekanmu dan tanda tangani formulir itu. Tidak ada diskusi."

Lilyara menatap dua adiknya yang duduk di seberang meja. Mereka hanya menunduk dalam, menyantap makanan dalam diam seolah-olah kakak mereka sedang tidak dikuliti hidup-hidup di depan mata mereka sendiri.

Di rumah ini, empati adalah barang langka yang dianggap sebag*i kelemahan.

"Baik, Ayah," bisik Lily. Kalimat itu adalah mantra wajib untuk mengakhiri siksaan di meja makan.
---
Pukul 22.00 WIB ....

Lilyara mengunci pintu kamar mandinya, lalu menyalakan kran air agar suaranya menyamarkan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Dia menatap cermin.

Di sana berdiri seorang gadis dengan gaun tidur berbahan satin ma hal, rambut tertata rapi, dan wajah yang tampak tanpa cela.

Namun, di dalam sana, gadis cantik itu merasa seperti bangunan tua yang sedang dikerogoti rayap. Keropos dan tinggal menunggu waktu untuk roboh.

Dia keluar dari kamar mandi, mematikan seluruh lampu, dan merangkak ke pojok tempat tidurnya. Di bawah tumpukan bantal, dia mengambil laptop yang selalu dia sembunyikan setiap pagi.

Layar menyala, membiaskan cahaya biru ke wajahnya yang lelah.

Klik.

Lilyara Azalea menghilang. Di balik ID anonim Vixen, dia terlahir kembali.

[Gue benci semua orang yang pakai baju rapi, tapi otaknya cuma isi angka dan reputasi.]

[Bang-sat!!! Gue kek pajangan di ruang tamu yang nggak boleh berdebu dikit pun. Kalau gue pecah, mereka cuma bakal beli pajangan baru, kan?!]

Dia mengetik dengan cepat, mengabaikan tata bahasa yang sopan. Dia mengeluarkan semua kata ko tor yang selama dua puluh tahun ini tertahan di ujung lidahnya. Hanya di ruang digital ini, dia tidak perlu menjadi 'Putri Konglomerat'. Dia bisa menjadi sam pah, dia boleh li ar, dan dia bisa menjadi apa saja.

Tangannya berhenti gemetar saat melihat deretan pesan masuk dari orang-orang asing yang tidak mengenalnya secara nyata. Mereka tertawa, mengvmpat balik, mereka terasa lebih "manusia" daripada orang tua yang tinggal satu atap dengannya.

Namun, di antara ratusan notifikasi itu, matanya terpaku pada sebuah ikon singa bermahkota raja yang baru saja mengirimkan sebuah pesan singkat.

Regal_Leo.99.

[Bernapaslah, Vixen. Dunia nyata mungkin sempit, tapi di sini ... lu bebas teriak sekencang mungkin.]

Lily terdiam. Hanya satu baris kalimat, tetapi entah mengapa, terasa seperti seseorang baru saja memberikan oksigen ke paru-parunya yang sedang tercekik.

Tanpa sadar, jemarinya mulai mengetik balasan, menjauh dari amarahnya dan mulai masuk ke dalam sebuah ketergantungan baru yang dia sendiri belum sadari bahayanya.

Lilyara menatap layar laptopnya, membiarkan bias cahaya biru menerangi senyum tipis yang jarang sekali terbit di wajahnya jika matahari sedang tegak.

Jari-jarinya menggantung di atas papan ketik, menimbang-nimbang jawaban untuk akun dengan nama pengguna unik yang beberapa minggu ini menyita perhatiannya. .99.

Ikon singa bermahkota raja milik akun itu seolah menjadi simbol bahwa di balik anonimitas ini, si pemilik akun adalah seseorang yang dominan, tetapi entah mengapa selalu berhasil menjadi penenang bagi isi kepala Lily yang bising.

[Bebas teri ak gimana? Lu pikir ketikan caps lock gue bisa nggantiin suara teriakan beneran?]

[Bisa. Gue bahkan bisa denger nada frustrasi lu lewat tanda seru yang lu pakai tadi. Tiga tanda seru berturut-turut itu artinya lu lagi mau makan orang. Bener?] Regal_Leo.99 membalas.

Lily tertawa kecil. Tebakan yang sialnya sangat akurat. Dia mengubah posisi duduknya, meluruskan kaki di atas kasur king size-nya yang terasa terlalu luas dan dingin untuk ditinggali sendiri.

[Sok tahu lu, Singa. Gue cuma lagi capek. Capek akting jadi manusia sempurna.]

[Emang siapa yang nuntut lu sempurna? Pacar lu? Atau bos di tempat kerja?]

[Pemilik saham terbesar dalam hidup gue. Orang tua.]

[Ah, klasik. Tuntutan generasi pertama ke generasi kedua. Mau denger saran dari gue nggak?]

[Apa? Jangan bilang lu mau nyuruh gue buat 'berbakti dan nurut aja'? Kalau itu, mending lu gue blok sekarang juga.]

Di seberang sana, nun jauh di dalam jaringan virtual yang tidak kasatmata, akun .99 sedang mengetik. Status typing ... di pojok bawah ruang obrolan itu membuat dada Lily berdebar aneh. Ada rasa ngeri sekaligus candu yang bercampur menjadi satu.

[Nggak akan. Saran gue cuma satu.
Sesekali, jadilah ca cat di mata mereka. Sengaja bikin kesalahan kecil. Dunia nggak bakal kiamat karena lu dapet nilai B, atau karena lu numpahin kopi ke taplak meja mahal mereka.]

Lily terpaku menatap barisan kalimat itu. Menjadi cacat sengaja? Bagi seorang Lilyara Azalea, satu coretan kecil di atas kertas putih hidupnya adalah bencana besar yang bisa memicu perang dunia di rumah keluarga Dirgantara.

[Lu nggak tahu apa-apa soal keluarga gue. Bikin satu kesalahan artinya lu siap dide pak atau dikurung dalam aturan yang lebih ketat lagi.]

[Gue emang nggak tahu. Tapi gue tahu rasanya diku rung. Makanya, kalau sangkar lu terlalu sempit, pinjam dunia gue bentar buat sekadar selonjoran.]

Seketika itu juga, pertahanan Lily runtuh. Kalimat-kalimat dari .99 mengalir seperti air es di tengah gurun pasir jiwanya yang gersang. Dia beralih dari aplikasi anonim itu, menuruti ajakan sang singa beberapa hari lalu untuk berpindah ke aplikasi pesan instan lain yang sedikit lebih privat, meskipun tetap menggunakan akun tiruan tanpa identitas asli.

Malam itu, obrolan mereka merambah ke hal-hal lain. Mereka tidak bertukar suara, tidak juga mengirim foto. Hanya barisan teks digital yang bergerak cepat. Mereka membahas tentang game daring yang sedang naik daun, bertukar lelucon satire tentang dunia luar, hingga menjelang pukul tiga pagi.

Untuk pertama kalinya, Lilyara merasa ketergantungan. Setiap kali laptopnya ditutup dan matahari terbit memaksanya kembali memakai topeng 'Nona Muda Dirgantara yang Sempurna', dia tahu dia hanya perlu bertahan sampai malam tiba.

Sampai singa bermahkota itu kembali menyalakan lampunya di dunia virtual.

Namun, Lily terlalu naif untuk menyadari bahwa kedekatan yang intens ini mulai menyeretnya ke tepi jurang yang berbahaya. Sesuatu yang semula menjadi pelarian, perlahan-lahan mulai memunculkan riak masalah baru dalam hidupnya.
Halo! Semoga s**a, ya.
TAMAT 33 bab saja di KBM APP.
Judul : ALTER EGO (Pelarian Lilyara)
Penulis : senjakala_bercerita

Address

Pontianak
79842

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bulan Novel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category