28/07/2026
Suamiku adalah "Om" yang membesarkanku.
Aku memohon agar suamiku tetap di sisiku selama tiga hari. Bukan karena manja, melainkan karena aku tahu... setelah tiga hari ini, suamiku bukan lagi milikku, melainkan milik...
***
Beberapa menit lalu, ru mah ini dipenuhi tawa.
Sekarang ...
Lenyap seketika. Yang tersisa hanyalah tatapan ta k*t di ma ta istriku.
Tatapan yang pernah kulihat bertahun-tahun lalu... Saat seorang gadis remaja ke hi la ngan ayahnya yang gu gu r dalam tugas negara.
Da da ku terasa se sak.
Andai aku hanya seorang laki-laki biasa...
Mungkin hari ini aku bisa memilih tetap tinggal di ru mah.
Namun aku bukan hanya suami Kania. Aku adalah seorang pr a ju rit. Sejak hari pertama mengenakan se ra g am itu, aku telah mengucapkan sum pah.
Sapta Marga bukan sekadar hafalan. Ia adalah jalan hidup. Ten ta ra tidak pernah memilih kapan negara memanggil.
Dan ketika panggilan itu datang...
Tak ada ruang untuk menawar.
Se sa kit apa pun me ning gal kan keluarga...
Kami tetap berangkat.
Karena di balik ru mah yang harus kami tinggalkan...
Ada ju ta an ru mah lain yang juga harus kami jaga.
Kami ingin memastikan negeri tempat kami tinggal tetap aman.
Sekarang...
Yang terdengar hanya keheningan.
Da da ku seperti di re mas.
Tanpa sa dar aku meraih kedua pi pi nya.
Ku pak sa ia menatapku.
"Nai."
"Dengar saya!”
Ma ta nya mulai dipenuhi air ma ta.
"Saya memang pergi."
"Tapi saya bukan pergi untuk me ning gal kan kamu selamanya, hanya untuk sementara.”
Aku me ngu sap pelan pi pi nya.
"Saya akan kembali."
Air ma ta yang sejak tadi di ta han nya akhirnya ja tuh.
Aku menghapusnya perlahan...
Aku bisa merasakan ke pa la nya perlahan ber san dar di ba hu ku.
Lalu ia berkata lirih.
"Om..."
"Hm?"
"Selama tiga hari ini..."
"...aku pin jam Om."
Aku menoleh.
"Pin jam?"
"Iya."
"Om jangan ke mana-mana selain sama aku."
Aku tersenyum tipis.
"Siap."
"Nggak boleh sibuk kerja loh!”
"Baik."
"Nggak boleh ning ga lin aku sendirian!”
"Baik."
"Nggak boleh panggil teman kalau nggak penting."
Aku terkekeh pelan.
"Kok saya jadi kayak ta ha nan, sih?"
"Biarin."
"Soalnya..."
"...setelah tiga hari ini..."
"...Om kembali jadi milik negara."
“Berarti saya benar-benar nggak boleh lepas dari kamu?"
"Iya."
"Kok sekarang lengket?"
"hah?"
"Kirain se ma lam doang lengketnya."
DEG.
Wa jah nya memerah dalam sekejap.
"Om!"
Aku menatapnya po los.
"Kenapa?"
"Jangan bahas se ma lam!”
"Memangnya kenapa?"
Ia buru-buru men cu bit pelan le ngan ku.
"Jangan g o d ai n aku!”
Aku me nang kap per ge la ngan ta ngan nya sebelum sempat di ta rik kembali.
"eh?"
Tanpa banyak bicara...
Aku me nge cu p cepat pung gung ta ngan nya.
Ma ta nya membulat.
"Om..."
Aku tersenyum tipis.
"Kalau nyu bit, ada den da nya."
"Ih, Om cu ra ng."
Ia kembali me mu kul pelan le ngan ku.
Lalu aku mulai me na tap nya. Ma ta nya kembali membulat dan dengan gerakan cepat aku me nge cu p bi bi r nya.
“OM Evaaan!!!!
"Jadi... boleh nggak...selama tiga hari ini...Om jadi milik aku dulu? Harus sama aku saja!”
Aku mengangkat sebelah alis.
“Berarti saya benar-benar di ku rung?”
“Iya.”
“Kalau lapar?”
“Aku yang masakin.”
“Kalau haus?”
“Aku yang ambilin.”
Aku tersenyum ge li.
“Kalau bosan?”
“Aku temenin.”
“Kalau Om kedinginan?”
Aku melihat pi pi Kania memerah.
“Ih, om."
Ia tiba-tiba me ngang kat ja ri ke ling king.
“Satu lagi.”
“Hm?”
"Kalau Om pergi, harus janji kembali dengan selamat!"
Aku mengik*ti saja mau dia. Karena itu pun yang aku mau. Kami saling me ng*it kan ja ri kelingking. "Saya akan berusaha kembali dengan selamat."
Aku juga ingin meminjam waktu. Walau hanya tiga hari bersamamu Kania.
Tiga hari.
Waktu yang bagi orang lain mungkin terasa biasa.
Namun bagi kami...
Tiga hari itu adalah seluruh dunia yang masih tersisa sebelum perpisahan.
***
Suamiku adalah "Om" yang membesarkanku sejak A yah gu gur saat bertugas. Meski usia kami terpaut tiga belas tahun, entah kenapa kami selalu sejalan. Baru se ma lam aku benar-benar menjadi istrinya, tetapi pagi ini negara sudah kembali memanggilnya.
Aku tidak ta k*t menunggu. Aku tidak ta k*t ditinggal. Aku hanya ta k*t... keberangkatan kali ini menjadi pertemuan terakhir kami.
❤️
📖 Aku Udah Gede, Om Kapten!
Novel by Mbak Engz
Selengkapnya hanya di KBM App
Buruan buka Sekarang!