Kumpulan Novel by Elota15

Kumpulan Novel by Elota15 Hanya seorang amatir yang hobi menulis:)

09/03/2024

Bantu support author yok🤗
Caranya gampang kok, cukup like, komen, dan share cerita yg author tulis biar author makin semangatt..🤗

09/03/2024

DESA BERDARAH PENCURI NYAWA
Part 8


By: Edista Elota
_____________________________

Aku terus memaksa tubuhku masuk dalam lubang kecil ini. Pemandangan di dalam sangat gelap. Tapi aku terus berusaha menyusurinya dengan cara menyeret tubuhku.

"Cepat, masuk lubang itu dan kejar diaa..!!" Teriakan makluk itu menggema. Membuat tubuhku semakin bergetar hebat.

"Tidak bisa Gaga.. ini terlalu sempit untuk ukuran tubuhku.." Kudengar suara itu menyahuti makluk tadi yang dipanggil Gaga.

"Pergi kemana lubang itu berujung..!! Dan cegat diaa..!!!" Kudengar Gaga berteriak lagi dengan suara menggelegarnya.

Aku mulai panik, aku terus berusaha menyeret tubuhku hingga aku tiba di tempat dimana terdapat sedikit cahaya. Entah darimana cahaya tersebut.

Lubangnya juga tidak sempit seperti awal aku masuk. Disini terasa sedikit lenggang, hingga aku bisa merangkak untuk terus menyusuri lorong ini.

Lorong yang kumasuki berliku-liku, namun tak ada cabang sama sekali. Aku takut jika nanti telah sampai keujung dan bertemu makluk menyeramkan tadi.

Aku berhenti sejenak hanya sekedar menghela nafas dan mengelap keringat yang bercucuran.

Kurentangkan tubuh ini dan melihat langit-langit lorong dimana aku masih terdiam.

"Apa itu?" Aku terheran ketika mendapati seperti ada lingkaran kecil.

Aku mulai mengusapnya karena tertutupi oleh debu. Ternyata dalam lingkaran itu terdapat sebuah tulisan.

"TEKAN AKU"

"Hah? Maksudnya apa? Tekan ni lingkaran?" Aku merasa bingung, tapi rasa penasaran yang tinggi akhirnya aku menekan lingkaran kecil yang berada tepat depan wajahku.

Seketika lubang ini terasa bergetar, dan tiba-tiba lubang ini terbuka tepat dibawahku, dan membuatku terjatuh kedalamnya.

"Aaakkkkkhhh...." Aku berteriak, berharap seseorang menolongku.

Tubuhku terasa seperti melayang di udara, entah kenapa rasanya aku tidak akan mendarat. Pemandangan disekitarku juga gelap.

Aku hanya bisa berteriak dan menutup mataku. Siapapun, tolong aku.

"Zey...!! Bangun Zey...!! Ngapa dah ni bocah..!!"

Kubuka mataku, nafasku tersengal-sengal. Apakah yang barusan terjadi adalah mimpi?

"Zey..? Lu nggak papakan? Ni minum dulu.." Dea menyodorkan gelas berisi air.

Aku segera menenggaknya hingga tandas. Kini perasaanku mulai sedikit tenang.

"Lu mimpi apaan si Zey? Sampai teriak-teriak gitu.." Tanya Dea dengan mimik muka yang tampak kawatir.

"Tadi....."

Belum sempat kulanjutkan, Jihan muncul dari arah pintu. Dia berjalan mendekat lalu duduk ditepi ranjang.

"Zeyla kenapa? Kok tadi aku lihat, kamu buru-buru pas ngambil air di dapur De?" Tanya Jihan dengan logat yang bukan seperti dirinya.

"Nggak papa cuma mimpi.." Dea tersenyum kepadaku.

"Yaudah yuk Han keluar. Pengap banget disini.." lanjutnya kemudian beranjak sambil menarik tangan Jihan keluar. Dea juga tak lupa menutup pintu.

Kusandarkan tubuh ini, dan masih memikirkan kejadian tadi. Aku yakin itu bukanlah mimpi. Karena rasanya seperti nyata. Apakah tadi Jihan asli? Dan yang barusan siapa?

Aku akan memcari tau diam-diam. Karena semenjak Jihan pingsan akibat wangi mawar itu muncul, Jihan mulai berubah.

Aku takut, jika sesuatu yang buruk terjadi kepada sahabatku itu. Jangan sampai. Sungguh, aku takut sekali.

"Tok.. tok.. tok.."

Ketukan pada pintu kamar, membuyarkan lamunanku. Aku beranjak dan segera membuka pintu.

"Teguh?" Aku terkejut, tidak biasanya Teguh mendatangi aku seperti ini.

"Gimana?" Tanyanya tiba-tiba dengan tatapan elangnya itu. Membuatku bergidik geri karena auranya yang tak biasa.

"A-apanya?" Jawabku tergagap.

"Barusan kamu lihatkan?" Tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaanku.

Lihat apa yang dia maksud? Apakah mimpi barusan? Lalu yang mana? Apakah kejadian di pantai? Atau Jihan?

Tunggu, bukankah tadi aku keluar karena marah dengan Dea? Lalu bagaimana bisa aku terbangun di atas ranjang?

"Bagaimana caranya bisa aku terbaring di atas ranjang?" Seketika pertanyaan itu terlontar begitu saja kepada Teguh.

Seperkian detik, tatapan Teguh berubah. Kini tatapan itu terasa lebih teduh.

"Kan kamu sendiri yang baring, kok caranya tanya ke aku? Apakah cara kita berbeda?" Lagi, dia malah melontarkan pertanyaan kepadaku.

Eh, benar juga. Sepertinya pertanyaanku salah. Aku malah dibuat salah tingkah olehnya.

"Tauk aahh.." Aku bergegas masuk kamar dan menutup pintu dengan rapat.

Jujur saja, kini jantungku terasa ingin meledak. Pliss.. tolong kondisikan diriku.

Apakah aku mengidap penyakit baru? Aku butuh dokter. Ya dokter..! Dokter cinta.

***

"Tumben pada anteng.." Sapaku kepada keempat sahabatku itu yang terlihat sedang serius memainkan papan catur.

Kudaratkan b*kongku tepat di samping Jihan, namun tak siapapun menoleh kepadaku.

"Serius amat siii..." keluhku karena tak mendapati respon dari mereka.

"Sssttt... berisik amat si Zey.. diam dulu ih.." celoteh Gani tanpa melirik aku sedikitpun.

"Hmmmm..." Kuhembuskan nafas kasar, lalu bersandar di sofa.

"Nggak kerasa kita udah enam hari disini.." kupandangi langit-langit rumah yang deknya terukir sangat indah.

Setelah mimpi tempo hari, aku mencoba mendekati Jihan dan meminta maaf.

Namun beberapa hari ini, tingkahnya masih sama. Yaitu berbeda dengan Jihan yang kukenal.

Ia akan agresif ketika ada Teguh, entah itu caper, atau sekedar basa basi untuk mendekati Teguh.

Tentu saja, aku dan Dea risih dengan sikapnya itu. Karena terkesan 'gatal'.

Beberapa hari ini juga, aku tak pernah melihat penampakan sosok berkebaya merah lagi semenjak Jihan pingsan waktu itu.

Ini aneh, aku merasa bahwa Jihan yang sekarang adalah wanita berkebaya merah yang merasuki tubuh Jihan.

09/03/2024

DESA BERDARAH PENCURI NYAWA
Part 7


By: Edista Elota
_____________________________

"Zey..!! Lu dari mana aja sih.. gue khawatir banget sama lu.." Dea langsung berhambur kepelukanku begitu aku memasuki rumah Pak Gatot.

"Iya Zey.. gue juga khawatir sama lu.." Jihan juga ikut memelukku.

"Ihh.. apa-apaan sih kalian.." Aku langsung melepas pelukan mereka.

"Ya sudah.. Zeyla kan udah ketemu. Mari kita sarapan.." Ucap Pak Gatot lalu menyuruh kami semua untuk menuju ruang makan.

Kami langsung duduk mengitari meja makan. Mbok Karsi baru saja selesai menyajikan hidangan di atas meja.

"Gani tadi juga nyariin elu Zey. Lu nggak ketemu?" Tanya Fauzi kepadaku.

"Nggak ada Gani..!" Teguh langsung menyahut pertanyaan Fauzi. Padahal aku baru saja ingin berucap.

"Beneran Zey??" Fauzi nampak tak percaya dengan ucapan Teguh.

"Tadi....." Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Gani datang dan segera duduk disebelah Fauzi.

"Lu dari mana sih? Tadi katanya nyariin Zeyla..?" Cercah Fauzi ketika mendapati Gani.

Gani hanya diam tak menjawab. Ia segera mengambil makanan lalu menyuapkannya ke mulutnya.

Nampak sekali kekesalan pada raut wajah Gani. Apa karena aku tinggalkan? Ah entahlah.

Seperti biasa, kami hanya makan dalam diam. Sesekali kulirik Jihan yang terkadang asik memandang Teguh.

Aku juga bingung dengan tingkah Jihan. Apa dia menyukai Teguh? Lantas sejak kapan?

Selesai makan, aku langsung mandi dan segera kembali ke kamar. Disana sudah ada Jihan dan Dea yang sedang asik bersenda gurau.

"Sini Zey..." Dea menepuk-nepuk tempat disebelahnya menyuruhku duduk.

Aku segera duduk bergabung dengan mereka. Jujur, rasa kesal kepada Jihan masih ada. Namun aku berusaha menyembunyikannya kepada Dea.

"Lu tadi kemana?" Tanya Dea.

"Ke pantai cari angin.." Ucapku sembarang.

"Tadi Jihan bilang dia ngelihat lu kayak kelai sama Teguh di dapur. Terus pas dia datang, elu langsung pergi gitu aja..!"

Aku langsung melirik Jihan tak percaya. Bagaimana dia bisa berbicara seperti itu kepada Dea. Pantas saja jika Dea sangat menghawatirkanku.

"Lu sebenernya ada hubungan apa si Zey sama Teguh. Baru juga tiga hari ini kita disini, masak lu segampang itu s**a sama Teguh. Nggak pernah-pernahnya elu kek gini.." Lanjut Dea.

Aku diam tak menjawab pertanyaan Dea. Aku masih tak percaya dengan Jihan.

"Han? Lu s**a sama Teguh?" Tanyaku langsung, dan berharap dia mengakuinya.

"Kamu apaan si Zey. Aku tau kali kamu tu s**a sama Teguh. Ya kali aku nusuk sahabat aku sendiri.." Jawab Jihan dengan tatapan mata yang sulit sekali kujelaskan.

"Kok lu malah nanya gitu ke Jihan si Zey? Lu cemburu sama Jihan?" Kini Dea juga seakan memojokkanku.

"Tauk ahh.."

Aku beranjak meninggalkan mereka. Kepalaku terasa sakit sekali. Lalu aku menuju pintu keluar.

Saat kubuka pintu dan menutupnya, aku terpenjarat melihat pemandangan di depanku.

Ini masih pagi, bagaimana bisa diluar sangat gelap. Bahkan rumah-rumah warga diterangi oleh cahaya obor.

Warga ramai sekali berjalan berbaris sambil memegang obor menuju pantai. Aku yang penasaran akan hal ini segera mengikuti mereka.

Wajah mereka semua asing, bukan wajah warga yang biasa kutemui. Saat kutanya ada apa, mereka semua diam tak menjawabku.

Saat di pantai, mereka menyalakan api unggun. Mereka mengitari api unggun sambil menyanyikan sesuatu. Lagu yang tak pernah sekalipun kudengar. Bahkan bahasanya juga tak kumengerti.

"Lepas..!! Kumohon lepas..!!!"

Kulihat seseorang ditarik paksa oleh 2 orang pria. Seseorang itu adalah... wanita berkebaya merah yang sering menampakkan dirinya!

Aku terperangah kaget, saat wanita itu diikat dan digantung ke api unggun. Ia terus berteriak namun tak ada satupun yang menolongnya.

Teriakannya sungguh menyayat hati, namun warga malah semakin asik menyanyi sambil terus memutari api unggun itu.

Duaaarrr...

Seketika dalam api unggun itu terdengar ledakan yang sangat keras saat tubuh wanita itu hangus terbakar.

Para warga semakin bersorak gembira. Aku hanya diam mematung. Syok, tentu saja. Keadaan apa ini?

"Yee.. Ratu telah kembali..!!!" Kudengar teriakan para warga.

Lalu, kelopak mawar berjatuhan dari langit yang gelap. Seketika aroma mawar menyeruak masuk menusuk hidungku.

Para warga menikmati aroma itu, dan satu persatu dari mereka tiba-tiba tersungkur di tanah. Anehnya, tak ada satupun yang menolong.

Dan.. duaarrr... duaarr.. duaarr...

Tubuh dari warga satu persatu meledak membuatku menjerit histeris.

Bagaimana bisa tubuh itu meledak sendirinya?

Jantungku terpompa sangat cepat. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku. Ingin rasanya lari dari sini, namun lututku lemas sekali.

Dan tubuhku ikut ambruk. Dadaku sakit, nafasku juga sesak. Kepalaku pusing sekali, sementara seluruh tubuhku terasa lemas.

Lalu pandanganku kabur, dan tak sadarkan diri.

**

Aku terbangun di sebuah tempat yang tak kukenal. Tempat ini seperti gua.

"Haloo...??!"

Teriakanku menggema hingga ke ujung, namun tak kudapati sahutan dari siapapun.

Aku beranjak dan menyusuri lorong gua yang remang-remang karena diterangi cahaya dari api obor yang mulai meredup.

Obor-obor itu tersusun rapi pada dinding gua berjarak sekitar 2 meteran.

Kuikuti susunan obor, hingga memasuki ruangan gua yang lebih luas membentuk lingkaran.

"Jihann..!!!" Aku terperangah ketika mendapati tubuh Jihan sedang dirantai.

"Zey..? Tolong gue..." Suara Jihan tampak lemah.

Aku segera mendekati tubuhnya yang terlihat semakin kurus. Aku tak tahu apa yang terjadi, bahkan aku juga tak tahu ini dimana.

"Jihann.. bertahan.. gue bakalan nolongin lu.." Aku mencoba melepas ikatan rantai yang mengikat tubuh Jihan.

Nyatanya aku sama sekali tak bisa membukanya. Jihan pasti sangat lelah dengan tubuh yang berdiri dan tangan diikat terentang.

"Percuma Zey.. lebih baik lu pergi.. sebelum dia datang.."

"Nggak mungkin gue tinggalin lu disini. Apa yang sebenarnya terjadi?" Aku masih mencoba melepaskan rantai tersebut.

"Gue nggak tauu.. pas gue bangun, gue udah ada disini.." Jihan terlihat lemah sekali. Bahkan tatapan matanya terlihat kosong.

Dug.. dug.. dug..

Terdengar langkah kaki yang begitu keras. Membuat keringat dingin bercucuran. Sampai seluruh tubuhku bergetar.

"Pergi Zey..!!! Cepat..!! Dia datang..!!!"

Aku mencoba tak menghiraukan ucapan Jihan. Aku masih mencoba melepas rantai yang mengikat tubuh Jihan.

"Nggak usah peduliin Gue. Mending lo cari pertolongan..!! Pergi Zey..!! Masuk ke lubang ituu..!!" Jihan menunjukan lubang yang sangat kecil dengan tatapan matanya.

"Tapi Han..."

"Pergi..!!!"

Awalnya aku ragu, namun benar kata Jihan bahwa percuma jika aku terus disini. Yang ada aku bisa tertangkap oleh sesuatu yang berjalan ke sini.

Karena langkah itu semakin dekat, aku mencoba memasuki lubang yang Jihan tunjuk. Ternyata muat untuk tubuhku.

Aku mulai menyeret tubuhku masuk dalam lubang yang sangat gelap, namun saat tubuhku belum sepenuhnya masuk, dia datang.

"Tangkap dia..!!!"

-

09/03/2024

DESA BERDARAH PENCURI NYAWA
Part 6


By: Edista Elota
____________________________

Malam ini aku tak dapat tidur. Begitupun dengan Dea dan Jihan.

"Duh.. susah amat si ni mata pejem..!!" Dea mendengus kesal.

Tiba-tiba aroma mawar menyeruak masuk ke dalam indra penciuman kami.

"Kalian nyium bau mawar nggak sih..?" Tanya Dea sambil ia mengendus-ngendus.

Aku dan Jihan hanya mengangguk. Kulirik mawar yang tadi pagi kuletakkan dalam gelas. Mawar itu merekah merah menyala. Ia terlihat sangat segar dan, hidup!

Apakah aroma ini dari mawar itu? Sepertinya Dea dan Jihan tak menyadari keberadaan mawar itu.

"Berarti bener yang lo bilang De, kalo desa ini wangi mawar kalo malem..!!" Seru Jihan.

"Tapi kan kemarin malem nggak..!!" Protesku karena yang kuyakini ini bukan soal tiap malam wangi mawar, tapi bunga dari sosok berkebaya merah itu.

Brug..!!

"Jihaan...!!!!" Seruku dan Dea bersamaan saat kami dapati Jihan jatuh pingsan.

"Han.. lu kenapa..??!!" Kutepuk-tepuk pipinya. Namun nihil, ia tidak juga sadar.

"De.. ambilkan air..!!" Dea segera beranjak dan bergegas pergi ke dapur.

"Jihan.. bangun Han..!! Lu kenapa sihh..??" Kugoyang-goyangkan tubuhnya berharap ia segera bangun.

Takut? Jelas sekali. Aroma mawar yang tercium kini perlahan memudar bersama tak sadarkan diri Jihan. Aku takut terjadi sesuatu kepada Jihan.

Dea tergopoh membawakan air dalam gelas, lalu aku menciprat-cipratkan pada wajah Jihan.

"Bangun Han.. hiks..." Air mataku luruh begitu saja saat kudapati satu sahabatku terbaring lemah seperti tak bernyawa.

Nafas Jihan perlahan melemah, begitu juga dengan detak jantungnya.

"De.. panggil Pak Gatot atau siapapun cepett..!!!" Seruku kepada Dea.

Ketika Dea hendak beranjak, kulihat tangannya dicekal oleh Jihan.

Aku dan Dea saling pandang. Jantungku berdetak sangat cepat.

Kuperhatikan mata Jihan perlahan terbuka. Matanya terlihat sendu. Sorot matanya seperti...

"De.. aku udah nggak papa.." Ucap Jihan dengan lembut.

"Aku? Sejak kapan lu pake aku kamu Han?" Aku benar tak percaya, dia seperti bukan Jihan.

"Lu apa-apaan si Zey.. Jihan itu baru sadar seharusnya lu tuh bersyukur..!" Protes Dea atas ucapanku.

"Maaf ya Han.. lu nggak papa kan?" Jihan hanya menggeleng sambil tersenyum.

Tatapan itu.. aku pernah melihatnya. Sorot matanya yang memancarkan aura dendam, namun terlihat sendu. Ah.. sorot mata Jihan saat ini seperti sorot mata sosok berkebaya merah itu.

Kami bertiga langsung berpelukan. Tercium aroma mawar dari tubuh Jihan. Mungkin bekas aroma tadi masih menempel pada tubuh Jihan.

**

Aku terbangun di pagi hari saat sinar sang surya itu masuk dari sela-sela ventilasi.

Kutoleh Dea dan Jihan, namun tak kudapati Jihan ditempatnya. Hanya Dea yang masih nyenyak dalam alam mimpinya.

Aku segera beranjak karena tenggorokanku terasa kering sekali.

Ketika hendak sampai di dapur, kudapati Jihan dan Teguh disana. Kulihat Jihan memeluk erat tubuh tegap Teguh.

Seketika langkahku terhenti. Ada perasaan sesak menelisik di dalam hati. Jantungku seakan diremat hingga sulit sekali bernafas.

Perasaan apa ini? Apakah begini rasa cemburu itu? Tapi untuk siapa aku cemburu. Bahkan Teguh itu bukan milikku.

Kulangkahkan kaki yang terasa gontai. Lututku terasa lemas begitupun dengan semangatku yang memudar seketika.

Kulewati tubuh mereka berdua, dan segera menuang air yang tersaji di atas meja makan.

"Zey..!!" Teguh nampak terkejut dengan kehadiranku. Ia segera melepas pelukan Jihan dan mendekatiku.

"Kamu sudah bangun?" Mendengar suara Teguh saat ini benar-benar membuat dadaku sesak sekali.

Jihan duduk dikursi lalu ikut menuang air dalam gelas. Gelagatnya bukan seperti Jihan yang kukenal. Kini ia tersenyum seakan telah memenangkan sesuatu.

Aku berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Teguh.

Entahlah. Begitu sakit rasanya ketika mulut ini hendak bicara. Suara yang biasanya mampu membuatku tersenyum, kini suara itu telah mematahkan hatiku.

Lucu sekali diri ini berharap pada pria yang sejatinya tak pernah menyatakan perasaannya padaku. Hanya aku yang terbawa perasaan olehnya.

Jika ia memilih Jihan itu haknya bukan? Lantas mengapa hati ini seakan tak trima jika suara yang selalu ingin kudengar itu kini akan selalu didengar oleh Jihan.

"AAAAAHHHH....!!!!"

Aku berteriak sekuat mungkin ketika sampai di pantai. Berharap semesta mendengarkan keluh kesahku.

Mendengar kebodohanku yang berharap pada harapan semu.

Aku tersenyum kecut ketika kusadari bahwa kenyataanya aku telah jatuh cinta pada Teguh.

Bukan kebeberapa kalinya, namun ini pertama kalinya aku merasakan apa itu cinta. Namun cinta itu segera jatuh tenggelam pada kesengsaraan yang tak berdasar.

Aku terduduk bersimpuh sendiri menghadap deburan ombak yang saling bersahutan itu. Aku berharap rasa ini segera hilang di lautan yang tak berujung di sana.

"Zey..!!!" Teriak Gani dari jauh, lalu datang menghampiriku.

Nafasnya ngos-ngosan, "Dea panik nyariin lu nggak ada di rumah. Lain kali kalo mau kemana-mana bilang d**g biar nggak pada khawatir..!!"

"Jihan khawatir juga?" Ah pertanyaan ini sungguh tak masuk akal.

"Kami semua khawatir Zey.. !!" Gani kini duduk tepat disebelahku.

Aku hanya tersenyum kecut ketika mendengar Jihan khawatir kepadaku. Padahal dialah yang telah memporak-porandakan hatiku. Mengoncang-goncangkannya hingga hancur lebur.

"Zey...?" Ucap Gani pelan lalu ia berpindah duduk didepanku.

Aku tak kuat lagi menahan air mata ini. Terkesan konyol memang, akhirnya tangisku pecah. Gani hanya menepuk-nepuk punggungku tanpa berkata sepatah katapun.

"Mencintai seseorang itu memang nggak ada yang indah Zey. Bahkan perasaanku saat ini saja tak pernah ia ketahui. Karena aku tau, dia tak pernah mencintaiku.."

Kutatap lekat mata Gani. Kini ia juga menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.

Jujur, baru kali ini Gani bicara mengenai soal cinta. Siapa yang ia cinta?

Ia lalu mengusap air mataku dengan jarinya, lalu menangkupkan kedua tangannya pada wajahku, "lu tuh kalo nangis makin jelek. Duh duh.. kayak anak kecil kehilangan permen aja lu.."

Ah Gani.. sahabatku sejak aku masih duduk di kelas 2 SD. Saat itu dia menolongku ketika aku dirundung oleh teman-teman cewek sekelasku. Sejak itu dia selalu bersamaku.

"Makasih yaaa.." Aku lalu tersenyum dan mencubit hidungnya.

Ia meringis kesakitan sambil mengusap-ngusap hidungnya yang mancung itu.

"Ayo balik..!!" Kurasakan tanganku ditarik oleh seseorang dengan paksa. Rupanya dia adalah Teguh.

Ada apa dengan manusia satu ini. Saat sedang asik bercanda dengan Gani, ia malah seenaknya menarikku dan menjauh dari pantai.

Gani hanya melihat kami menjauh, aku sungguh tak mengerti dengan pola pikir Teguh yang tiba-tiba seperti ini.

"Apaan sih..! Lepasin..!!" Aku mencoba melepas genggaman tangannya, namun ia semakin erat menggenggam tanganku.

"Gue teriak nih kalo lu nggak lepasin. Gue bakalan bilang kalo lu mau memperk0sa gue..!!" Ancamku dan membuat langkahnya terhenti.

Dia menatapku tajam, dan perlahan wajahnya mendekat kearahku. Lalu ia berbisik ditelingaku, "Kamu beneran mau aku perk0sa?"

Deg.

Jantungku berdesir ketika mendengar bisikannya. Aku diam seribu bahasa tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata.

Ia lalu menarikku kembali dan aku hanya diam menurutinya. Mengikuti langkahnya yang berjalan menuju kembali ke rumahnya.

Teguh. Tidak bisakah sekali saja tidak muncul dihadapanku. Karena sikap tak jelasnya, membuat perasaan ini tak menentu.

Dia telah memainkan hatiku layaknya permainan ular tangga.

-

05/03/2024

DESA BERDARAH PENCURI NYAWA
Part 5


By: Edista Elota
____________________________

"Lama amat si Zey.." Gerutu Gani ketika aku menghampiri mereka yang sedang asik membuat istana pasir di pantai.

"Iyaa.. kang ngaret luu.." Sahut Fauzi.

"Sorry..." Aku lalu ikut jongkok mereka yang mengelilingi istana pasir.

"Emm guys.. kalian nggak pengen pulang?" Tanyaku kepada mereka.

"Ngapain sih pulang Zey.. baru juga semalem kita kesini.." Protes Gani yang berada disebelahku.

"Tau ni si Zey.." Fauzi menimpali.

"Emang kalian nggak ngrasa aneh gitu sama ni desa? Gue udah beberapa kali diteror..!!" Kini suara sedikit keras agar mereka tau jika aku sebenarnya takut sekali.

"Udah Zey.. tenang.." Jihan mendekatiku lalu memelukku dari samping.

"Teror gimana maksud lu?" Kini Gani tidak lagi sibuk menyelesaikan pucuk menara istana pasir itu.

"Gue beberapa kali diteror sama wanita berkebaya merah. Gue takuuttt.." Akhirnya tangisku pecah didepan semua sahabatku.

"Kalian gimana?" Tanya Gani kepada teman yang lain.

Jihan, Dea, dan Fauzi hanya menggeleng. Berarti cuma aku yang diteror. Entah apa yang diinginkan sosok itu.

"Semalem gue nyoba kabur, tapi percuma.. gue malah balik lagi dari arah sini.." Aku mencoba menjelaskan kepada mereka tentang apa yang kualami semalam.

"Lu seriusan??" Mimik muka Fauzi nampak serius. Ada kilatan kekhawatiran disana.

Aku mengangguk pelan, lalu kami semua diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Gimana kalo sekarang kita coba keluar dari desa ini.." Usul Dea dan mendapat persetujuan dari kami semua.

Kami segera beranjak meninggalkan pantai. Lalu berjalan melewati rumah-rumah warga.

Tibalah kami di hutan jati. Langkah kami mantap untuk meninggalkan desa itu tanpa mengambil satupun barang kami.

Brug...

Langkahku terhenti ketika kudapati satu persatu sahabatku jatuh tersungkur di tanah.

Belum sempat mendekati mereka, pandanganku kabur, kepalaku sangat pusing dan kurasakan tubuhku terjatuh menghantam tanah. Lalu akupun tak sadarkan diri.

**

Kami berlima bangun dalam keadaan linglung. Bagaimana tidak, kami terbangun di pantai. Padahal jelas sekali kami tadi berjalan sudah sampai di hutan jati.

Kami hanya diam saling pandang. Kuperhatikan raut wajah satu persatu sahabatku. Mereka tampak agak berbeda.

Lalu mereka berdiri dan berjalan. Aku hanya mengikuti langkah mereka. Rupanya mereka kembali menuju rumah Pak Gatot, lalu masuk ke kamar masing-masing.

Dea dan Jihan langsung merebahkan diri mereka di kasur. Dan mulai memejamkan mata lalu tertidur.

Aku tak mengerti dengan apa yang mereka alami. Mereka tak seperti biasanya. Entahlah..

Kulirik jam yang tertempel di dinding. Rupanya sudah jam 2 siang. Ternyata kami telah melewati jam makan siang secepat itu? Pantas saja perutku sangat lapar.

Aku segera beranjak dan menuju ke dapur. Dapur dalam keadaan sepi. Mbok Karsi saja tidak ada di sana.

Kubuka tudung saji, masih banyak lauk dan sayur dan berada di atas meja. Aku segera duduk lalu mulai mengambil makanan.

Mungkin Pak Gatot dan Teguh sengaja menyisakan makanan untuk kami. Tapi aku masih tak mengerti dengan waktu. Padahal tadi pergi ke pantai masih pagi. Lalu bagaimana bisa kembali di waktu yang sudah hampir sore? Apakah kami pingsan selama itu?

"Uhukk.. uhukk.. uhukk.." Aku tersedak ketika terkejut dengan kehadiran Teguh secara tiba-tiba.

Ia segera menyodorkan air minum dalam gelas kepadaku. Aku segera meneguknya hingga habis.

"Kalau makan pelan-pelan.." Teguh kemudian duduk tepat dihadapanku.

Aku tak menggubrisnya, lalu segera kuhabiskan makanan yang ada dipiringku.

Teguh hanya terdiam sambil terus memandangku dengan tatapan tajamnya. Ah.. aku jadi teringat raut wajah khawatirnya saat menolongku tadi.

"Ngapain si lu??" Tanyaku setelah makananku habis.

"Jagain kamu." Singkat, padat, jelas. Sampai membuat jantungku hampir meledak.

"Dih! Ngapain dijagain..!!" Aku sengaja mengalihkan pandanganku agar dia tak tau kalau aku sebenarnya salting. Haha

"Takut dimakan sama hantu..!aarrgg..!!" Ia membuat ekspresi seakan akan ingin menerkamku.

"Hahahaha... apaan sih. Ngga lucu.." Aku terkekeh melihat tingkahnya.

"Tuh ketawa..! Ya udah.." Ia lalu beranjak dan meninggalkanku.

Aku hanya melihatnya pergi berjalan dalam lorong, lalu menghilang dibalik pintu kamarnya.

"Dih apaan sih. Random banget tingkahnya.." Tak terasa senyumku terukir akibat memikirkan tingkahnya yang terkadang mampu memompa jantungku hingga berdetak sangat cepat.

Tuhan.. jangan Engkau jodohkan aku dengan Teguh. Bisa-bisa mati muda aku karena terkena serangan jantung.

Jantungku masih berdetak cepat, ada sesuatu rasa bergejolak disana. Apa ini yang namanya jatuh cinta?

Aku segera menggeleng. Kutepis bayangan Teguh yang terus menari-nari dalam pikiranku.

"Zey..!!" Sapa Gani membuatku terbangun dari imajinasiku tentang Teguh.

Ternyata keempat sahabatku sudah bangun. Lalu duduk dan segera mengambil makanan.

"Gila.. laper banget gue.." Celutuk Jihan sambil memasukkan makanan ke mulutnya.

"Lu bangun kok nggak bagunin kami si Zey..?" Dea memanyunkan bibirnya sambil terus mengunyah makanannya.

"Gue nggak ada tidur.." Aku memprotes ucapan Dea. Karena sepulang dari pantai aku tidak tidur.

"Dih. Tadi kita habis main di pantai terus lu malah tidur duluan. Ngorok lagi. Hahah.. iya kan Han??" Tanya Dea dan dijawab anggukan oleh Jihan.

"Tadi kita mainkan cuma sebentar. Terus kita berjalan mau pergi dari desa ini. Eh kita malah pingsan..! Bangun-bangun kita balik lagi ke pantai..!!" Jelasku atas kejadian yang tadi menimpa kami, tidak mungkin mereka lupa.

"Pergi dari desa ini? Ngapain juga kita pergi Zey..??" Kini Gani berucap santai seakan-akan tak ada yang terjadi.

"Iyaa.. disini seru tauu... baru juga semalam kita disini.." Sahut Fauzi menimpali.

"Tauk nih. Ngelindur ya lu Zey..??!" Kini Jihan juga seakan akan lupa tentang kejadian tadi.

"Ta-tapi kan tadi..."

Belum selesai aku berucap, Dea langsung memotong ucapanku, "Udah lah Zey.. mungkin lu tuh tadi mimpi. Dah ah kami makan dulu. Laper.."

Aku terdiam, kuperhatikan mereka. Apa mungkin benar mereka melupakan atau benar-benar lupa tentang kejadian tadi?

Aku lalu beranjak dan meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun. Malas sekali rasanya melihat muka mereka yang santai sekali. Padahal aku sudah 3 kali diteror oleh sosok berkebaya merah.

-

05/03/2024

DESA BERDARAH PENCURI NYAWA
Part 4


By: Edista Elota
_____________________________

"Oooaaammmm..." Kuregangkan otot-ototku yang terasa tegang.

"Loh..!!" Aku terperajat kaget ketika mendapati diri ini di kamar. Iya! kamar yang kutempati bersama Dea juga Jihan.

"Ehem.. cie.. ciee.." Ucap Jihan sambil tertawa kecil.

"Kok gue bisa di sini?" Tanyaku pada kedua sahabatku yang saat ini sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing.

"Emang lo semalam kemana?" Tanya Dea dengan nada yang terdengar agak ketus.

"Ke pantai, lalu....." Ah aku baru ingat kalau aku tertidur bersandar pada pundaknya Teguh.

"Lo tu ya Zey.. baru aja ketemu Teguh sekali, udah main embat aja lu..!!" Dea menimpali lalu beranjak dan duduk di ranjang dekat denganku.

"Maksud lo gimana?" Aku masih tak mengerti dengan ucapan Dea.

"Lo tu semalem digend**g Teguh kemari. Katanya lo ketiduran pas di pantai.. hihi" Kini Jihan juga ikut duduk berdekatan denganku.

"Maafin gue ya Zey.." Dea meremat tanganku, lalu berhampur kepelukanku.

"Maafin gue juga.." Aku membalas pelukannya.

Sahabat memang harusnya begini. Jika ada masalah kita slesaikan bareng-bareng. Lalu siapapun yang salah, harus saling memaafkan.

Dea lalu melepas pelukannya, "Seharusnya gue rundingin ini dulu ke kalian semua. Tapi karna ego gue yang ngebet banget sama ni desa, kalian jadi ikut terlibat.."

"Sekarang lo jelasin apa yang lo tau tentang desa ini.." Jihan mengangguk setuju atas ucapanku.

"Kata Bik Inem, desa ini tu setiap lima puluh tahun sekali selalu ada tragedi. Dan akan ada orang spesial yang dikhususkan sebagai 'Ratu' dalam tragedi ini." Jelas Dea.

"Tragedi apa?" Tanyaku penasaran.

"Nah itu, Bik Inem nggak ngejelasin. Intinya siapapun yang bisa masuk kesini dan bisa jadi 'Ratu' katanya hidupnya bakalan abadi.." sambung Dea.

"Lo percaya?"

"Percaya.." Jawab Dea pelan.

Aku terdiam sejenak, "Bik Inem bisa tau tentang desa ini dari mana?"

"Nah itu.. aku juga kurang tau. Pokoknya waktu ada Fauzi maen ke rumah, Bik Inem juga ceritain tentang ni desa. Katanya kalo malem bau mawar. Tapi nyatanya semalem kagak bau apa-apa.." Jelas Dea dengan nada kecewa.

"De, kita harus keluar dari desa ini..!!" Ucap Jihan dengan serius.

Aku menggeleng kepala, "Ngga bisa, percuma. Gue udah nyoba semalem..!!"

"Serius lu Zey..??!" Ucap Dea dan Jihan bersamaan.

Aku mengangguk pelan, dan mereka juga nampak putus asa.

Ya udahlah, mending mandi dulu yuk, biar seger.." Dea lalu segera beranjak dan meninggalkan kamar.

"Bareengg..!!!" Teriak Jihan menyusul Dea.

"Hmmm.." kurebahkan diri ini lagi. Bingung! entah langka apa yang harus kujalani nanti.

"Jangan dekati dia..!!!"

Aku seketika mengedarkan pandanganku karena mendengar suara teriakan itu.

"De..?? Han..??" Ucapku seraya mendekati pintu kamar.

Namun nihil saat kubuka pintu, tak kudapati siapapun. Lalu kuputuskan menutup pintu kembali, mungkin aku salah dengar.

Saat kubalikkan badan, aku dikejutkan dengan kehadiran sosok berkebaya merah tepat dihadapanku.

"Aaakkhh.." Seketika aku berteriak.

"Jangan dekati diaa.." kini suara terdengar perlahan.

Kuberanikan diri bertanya kepadanya dengan tubuh yang bergetar, "Di-dia siapa..?"

Sosok itu hanya diam menatapku tajam. Kali ini dia tidak menampakan sosok seramnya lagi. Tapi sosok manusianya namun terlihat pucat

"Ka-kamu siapa?" Tanyaku kepadanya berharap sosok wanita itu menjawab.

Wuussss....

Ia menghilang seketika bersama hembusan angin yang sangat dingin.

Kulihat setangkai bungai mawar jatuh dari atas, lalu segera menangkapnya.

"Mawar dari mana nih?" Kulangkahkan kaki lalu menempatkan bunga mawar itu pada gelas yang berisi air.

"Apa dari wanita tadi yaa..?" Aku penasaran dari mana jatuhnya mawar ini.

"Ah entahlah.." Aku segera mengambil handuk dan peralatan mandi lalu menuju kamar mandi.

Ketika aku sampai di depan kamar mandi, rupanya kedua sahabatku itu belum selesai. Kudengar guyuran air bersama dengan tawanya mereka.

Aku memilih duduk di kursi yang ada di dapur. Karena kamar mandinya berdekatan dengan dapur. Lalu disebelahnya terdapat ruang makan yang hanya di sekat dengan rak yang berisi bunga hias.

Kulihat dari sela-sela rak bunga itu, Mbok Karsi sedang sibuk menata makanan di meja. Kudekati beliau dan berniat membantunya.

"Eh.. Neng.." sapa Mbok Karsi dengan senyuman yang begitu ramah.

"Saya bantuin ya Mbok.."

"Aduuhh nggak usah Neng.. nanti kalau Aden Teguh tau bisa dimarah saya..." Mbok Karsi segera memegang tanganku yang hendak membantunya.

Ia lalu menuntunku dan menyuruhku untuk duduk. " udah, Neng duduk aja disini yaa.."

"Tapi Mbok..."

Belum selesai ucapanku tiba-tiba Teguh datang lalu duduk bersebrangan denganku.

"Maaf Den.. Simbok kesiangan..." Mbok Karsi segera menyelesaikan kegiatannya dan kembali menuju dapur.

Ketika aku hendak bediri, Teguh mencegahku. Dan menyuruhku untuk duduk kembali.

"Mau kemana? Duduk..!!" Tatapannya padaku sangat tajam setajam silet. Bukan lagi tatapan yang menenangkan seperti semalam.

"Gue mau mandi.." Aku dibuat kesal karena tingkahnya.

"Yang sudah duduk di meja makan, artinya dia ingin makan." Kini nada bicaranya terdengar tegas namun datar.

"Ya tapi gue belum mandii..." Huh dasar ni manusia satu, benar-benar menjengkelkan.

"Nggak ada tapi-tapian.."

"Huh..!!" Aku mendengus kesal.

Tak lama Dea dan Jihan keluar dari kamar mandi, dan berlalu dengan berbisik-bisik ketika melihatku hanya berdua dengan Teguh. Aku tau apa yang mereka pikirkan.

Kemudian Fauzi dan Gani datang ke meja makan bersamaan dengan Pak Gatot. Kedua sahabatku itu terlihat segar dengan rambut yang sedikit basah. Pasti mereka sudah mandi.

"Cepet banget lu Zey.." Ejek Gani lalu duduk disebelah Teguh.

Mereka menyapa Teguh dengan anggukan sambil tersenyum. Namun lihat manusia batu itu, ia hanya melirik tanpa membalas senyuman kedua sahabatku.

Sementara Pak Gatot duduk dikursi utama. Aku juga hanya menyapanya dengan senyuman.

"Tu handuk ngapain masih melingkar dileher lu Zey? Lu belum mandi..?" Fauzi terkekeh melihat penampilanku.

"Sstt.. diam lu.!!" Aku sangat kesal. Ditambah dengan ocehan Fauzi yang membuatku semakin terlihat semrawut.

"Hii masih bauu iler luu.. hahahaha.." Kini kedua tawa sahabatku menggelegar di ruang makan ini.

"Ehem..!!" Teguh berdemen, seketika membuat kedua manusia yang minim akhlak itu terdiam. Namun masih menahan tawa mereka.

Lalu Jihan dan Dea datang. Mereka segera duduk sambil meminta maaf kepada Pak Gatot karena telah lama menunggu mereka.

Kamipun makan dalam diam seperti semalam. Tak ada percakapan diantara kami.

Selesai makan, sahabatku mengajakku ke pantai. Namun aku menyuruh mereka duluan karena aku belum mandi.

Aku segera menuju kamar mandi, kulihat dapur sepi. Sepertinya Mbok Karsi sedang membersihkan halaman depan.

Setelah kumasuk, aku segera mengunci pintu kamar mandi dan meletakkan handuk pada gantungan.

Tiba-tiba lampu kamar mandi berkedip-kedip lalu mati. Untung saja cahaya matahari masuk dari lubang ventilasi, sehingga kamar mandi ini tidak terlalu gelap.

Ketika hendak melepas baju, tiba-tiba ribuan kelopak bunga mawar terjatuh dari atas.

Kutengadahkan wajah keatas, tak kutemui apapun. Hanya kelopak yang terus berjatuhan.

Lalu pandanganku teralih pada bak yang terisi air penuh. Air itu perlahan berubah warna menjadi merah pekat seperti darah.

Aku pendekat perlahan, memastikan bahwa air itu baik-baik saja.

Blup.. blup.. blup..

Air dalam bak tiba-tiba seperti mendidih dan mengeluarkan asap, seketika aroma mawar menguar di indra penciumanku.

Perlahan keluar sosok dari dalam air. Jantungku berirama hebat, nafasku tercekat. Kutelan ludah dengan susah payah. Tubuhku juga bergetar hebat.

Sosok itu semakin naik, kini nampak jelas jika sosok itu adalah wanita berkebaya merah.

Rambutnya panjang terurai, wajahnya sama seperti yang kulihat tadi. Tidak seram seperti semalam.

"Aaarrgghh.." Erangnya dan wajahnya berubah.

Ia melesat dan langsung mencekikku. Membuat tubuhku menghantam dinding dengan keras.

"Aaakhh.. tolong.. tolong.." Aku mencoba berteriak meski dengan bersusah payah.

Sosok itu terus mencekikku, cengramannya semakin kuat. Membuat nafasku seakan tertahan dikerongkongan.

Tanganku mencoba melepas cengkramannya, namun nihil, cengkraman itu semakin kuat.

Kucoba menggedor-ngedor pintu kamar mandi yang kukunci, berharap seseorang mendengar dan menolongku.

"Siapa?" Kudengar suara dari luar membuatku semakin mengeraskan gedoranku dengan sisa tenaga karena suaraku tak bisa keluar.

"Siapa??" Tanya suara itu yang terdengar mendekat.

"To-to-long.." Aku mencoba mengeluarkan suaraku meski terdengar pelan.

"Zey..?" Lalu orang di sebrang pintu nampak mendobrak pintu.

"Zey.. kamu nggak papa??!!" Kini terdengar nada cemas darinya.

Brak.. brak.. brakk..

Pintu itu lalu terbuka dan sosok wanita tadi hilang entah kemana.

"Uhuk uhuk uhukk..." Tubuhku terkulai lemas, seketika tangisku pecah.

Kupeluk tubuh kekar yang telah menyelamatkanku itu. Aku sangat berterima kasih dengannya karena sudah menyelamatkanku dari cengkraman sosok tadi.

"Huuhuhuu~.." Aku menangis dalam pelukannya, dan dia membalas pelukanku sambil membelai rambutku.

"Udah.. nggak papa.." Ucapnya mencoba menenangkanku.

"Gue takut Guh.. dia mau bunuh gue.." Ucapku disela tangisku.

Teguh tak merespon ucapanku, ia semakin mendekap erat tubuhku. Membuatku beransur merasa tenang.

"Gue mau mandi.." Aku segera melepas pelukannya.

"Ya udah. Aku jagain di luar." Teguh berlalu meninggalkanku dan duduk di kursi dekat dengan kamar mandi.

Aku segera menutup pintu dan dengan kecepatan super menyelesaikan ritual mandiku.

Setelah selesai, aku segera keluar dan mendapati Teguh masih terduduk ditempatnya tadi sambil menatapku tajam

"Udah?" Tanyanya yang melihatku keluar dari kamar mandi.

Aku hanya menganggu pelan, kemudian ia berlalu meninggalkanku.

Aku berjalan mengekor di belakangnya. Dan kami berpisah di depan kamarku.

-

Address

Pontianak

Telephone

+6281352962751

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kumpulan Novel by Elota15 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category