05/03/2024
DESA BERDARAH PENCURI NYAWA
Part 4
By: Edista Elota
_____________________________
"Oooaaammmm..." Kuregangkan otot-ototku yang terasa tegang.
"Loh..!!" Aku terperajat kaget ketika mendapati diri ini di kamar. Iya! kamar yang kutempati bersama Dea juga Jihan.
"Ehem.. cie.. ciee.." Ucap Jihan sambil tertawa kecil.
"Kok gue bisa di sini?" Tanyaku pada kedua sahabatku yang saat ini sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Emang lo semalam kemana?" Tanya Dea dengan nada yang terdengar agak ketus.
"Ke pantai, lalu....." Ah aku baru ingat kalau aku tertidur bersandar pada pundaknya Teguh.
"Lo tu ya Zey.. baru aja ketemu Teguh sekali, udah main embat aja lu..!!" Dea menimpali lalu beranjak dan duduk di ranjang dekat denganku.
"Maksud lo gimana?" Aku masih tak mengerti dengan ucapan Dea.
"Lo tu semalem digend**g Teguh kemari. Katanya lo ketiduran pas di pantai.. hihi" Kini Jihan juga ikut duduk berdekatan denganku.
"Maafin gue ya Zey.." Dea meremat tanganku, lalu berhampur kepelukanku.
"Maafin gue juga.." Aku membalas pelukannya.
Sahabat memang harusnya begini. Jika ada masalah kita slesaikan bareng-bareng. Lalu siapapun yang salah, harus saling memaafkan.
Dea lalu melepas pelukannya, "Seharusnya gue rundingin ini dulu ke kalian semua. Tapi karna ego gue yang ngebet banget sama ni desa, kalian jadi ikut terlibat.."
"Sekarang lo jelasin apa yang lo tau tentang desa ini.." Jihan mengangguk setuju atas ucapanku.
"Kata Bik Inem, desa ini tu setiap lima puluh tahun sekali selalu ada tragedi. Dan akan ada orang spesial yang dikhususkan sebagai 'Ratu' dalam tragedi ini." Jelas Dea.
"Tragedi apa?" Tanyaku penasaran.
"Nah itu, Bik Inem nggak ngejelasin. Intinya siapapun yang bisa masuk kesini dan bisa jadi 'Ratu' katanya hidupnya bakalan abadi.." sambung Dea.
"Lo percaya?"
"Percaya.." Jawab Dea pelan.
Aku terdiam sejenak, "Bik Inem bisa tau tentang desa ini dari mana?"
"Nah itu.. aku juga kurang tau. Pokoknya waktu ada Fauzi maen ke rumah, Bik Inem juga ceritain tentang ni desa. Katanya kalo malem bau mawar. Tapi nyatanya semalem kagak bau apa-apa.." Jelas Dea dengan nada kecewa.
"De, kita harus keluar dari desa ini..!!" Ucap Jihan dengan serius.
Aku menggeleng kepala, "Ngga bisa, percuma. Gue udah nyoba semalem..!!"
"Serius lu Zey..??!" Ucap Dea dan Jihan bersamaan.
Aku mengangguk pelan, dan mereka juga nampak putus asa.
Ya udahlah, mending mandi dulu yuk, biar seger.." Dea lalu segera beranjak dan meninggalkan kamar.
"Bareengg..!!!" Teriak Jihan menyusul Dea.
"Hmmm.." kurebahkan diri ini lagi. Bingung! entah langka apa yang harus kujalani nanti.
"Jangan dekati dia..!!!"
Aku seketika mengedarkan pandanganku karena mendengar suara teriakan itu.
"De..?? Han..??" Ucapku seraya mendekati pintu kamar.
Namun nihil saat kubuka pintu, tak kudapati siapapun. Lalu kuputuskan menutup pintu kembali, mungkin aku salah dengar.
Saat kubalikkan badan, aku dikejutkan dengan kehadiran sosok berkebaya merah tepat dihadapanku.
"Aaakkhh.." Seketika aku berteriak.
"Jangan dekati diaa.." kini suara terdengar perlahan.
Kuberanikan diri bertanya kepadanya dengan tubuh yang bergetar, "Di-dia siapa..?"
Sosok itu hanya diam menatapku tajam. Kali ini dia tidak menampakan sosok seramnya lagi. Tapi sosok manusianya namun terlihat pucat
"Ka-kamu siapa?" Tanyaku kepadanya berharap sosok wanita itu menjawab.
Wuussss....
Ia menghilang seketika bersama hembusan angin yang sangat dingin.
Kulihat setangkai bungai mawar jatuh dari atas, lalu segera menangkapnya.
"Mawar dari mana nih?" Kulangkahkan kaki lalu menempatkan bunga mawar itu pada gelas yang berisi air.
"Apa dari wanita tadi yaa..?" Aku penasaran dari mana jatuhnya mawar ini.
"Ah entahlah.." Aku segera mengambil handuk dan peralatan mandi lalu menuju kamar mandi.
Ketika aku sampai di depan kamar mandi, rupanya kedua sahabatku itu belum selesai. Kudengar guyuran air bersama dengan tawanya mereka.
Aku memilih duduk di kursi yang ada di dapur. Karena kamar mandinya berdekatan dengan dapur. Lalu disebelahnya terdapat ruang makan yang hanya di sekat dengan rak yang berisi bunga hias.
Kulihat dari sela-sela rak bunga itu, Mbok Karsi sedang sibuk menata makanan di meja. Kudekati beliau dan berniat membantunya.
"Eh.. Neng.." sapa Mbok Karsi dengan senyuman yang begitu ramah.
"Saya bantuin ya Mbok.."
"Aduuhh nggak usah Neng.. nanti kalau Aden Teguh tau bisa dimarah saya..." Mbok Karsi segera memegang tanganku yang hendak membantunya.
Ia lalu menuntunku dan menyuruhku untuk duduk. " udah, Neng duduk aja disini yaa.."
"Tapi Mbok..."
Belum selesai ucapanku tiba-tiba Teguh datang lalu duduk bersebrangan denganku.
"Maaf Den.. Simbok kesiangan..." Mbok Karsi segera menyelesaikan kegiatannya dan kembali menuju dapur.
Ketika aku hendak bediri, Teguh mencegahku. Dan menyuruhku untuk duduk kembali.
"Mau kemana? Duduk..!!" Tatapannya padaku sangat tajam setajam silet. Bukan lagi tatapan yang menenangkan seperti semalam.
"Gue mau mandi.." Aku dibuat kesal karena tingkahnya.
"Yang sudah duduk di meja makan, artinya dia ingin makan." Kini nada bicaranya terdengar tegas namun datar.
"Ya tapi gue belum mandii..." Huh dasar ni manusia satu, benar-benar menjengkelkan.
"Nggak ada tapi-tapian.."
"Huh..!!" Aku mendengus kesal.
Tak lama Dea dan Jihan keluar dari kamar mandi, dan berlalu dengan berbisik-bisik ketika melihatku hanya berdua dengan Teguh. Aku tau apa yang mereka pikirkan.
Kemudian Fauzi dan Gani datang ke meja makan bersamaan dengan Pak Gatot. Kedua sahabatku itu terlihat segar dengan rambut yang sedikit basah. Pasti mereka sudah mandi.
"Cepet banget lu Zey.." Ejek Gani lalu duduk disebelah Teguh.
Mereka menyapa Teguh dengan anggukan sambil tersenyum. Namun lihat manusia batu itu, ia hanya melirik tanpa membalas senyuman kedua sahabatku.
Sementara Pak Gatot duduk dikursi utama. Aku juga hanya menyapanya dengan senyuman.
"Tu handuk ngapain masih melingkar dileher lu Zey? Lu belum mandi..?" Fauzi terkekeh melihat penampilanku.
"Sstt.. diam lu.!!" Aku sangat kesal. Ditambah dengan ocehan Fauzi yang membuatku semakin terlihat semrawut.
"Hii masih bauu iler luu.. hahahaha.." Kini kedua tawa sahabatku menggelegar di ruang makan ini.
"Ehem..!!" Teguh berdemen, seketika membuat kedua manusia yang minim akhlak itu terdiam. Namun masih menahan tawa mereka.
Lalu Jihan dan Dea datang. Mereka segera duduk sambil meminta maaf kepada Pak Gatot karena telah lama menunggu mereka.
Kamipun makan dalam diam seperti semalam. Tak ada percakapan diantara kami.
Selesai makan, sahabatku mengajakku ke pantai. Namun aku menyuruh mereka duluan karena aku belum mandi.
Aku segera menuju kamar mandi, kulihat dapur sepi. Sepertinya Mbok Karsi sedang membersihkan halaman depan.
Setelah kumasuk, aku segera mengunci pintu kamar mandi dan meletakkan handuk pada gantungan.
Tiba-tiba lampu kamar mandi berkedip-kedip lalu mati. Untung saja cahaya matahari masuk dari lubang ventilasi, sehingga kamar mandi ini tidak terlalu gelap.
Ketika hendak melepas baju, tiba-tiba ribuan kelopak bunga mawar terjatuh dari atas.
Kutengadahkan wajah keatas, tak kutemui apapun. Hanya kelopak yang terus berjatuhan.
Lalu pandanganku teralih pada bak yang terisi air penuh. Air itu perlahan berubah warna menjadi merah pekat seperti darah.
Aku pendekat perlahan, memastikan bahwa air itu baik-baik saja.
Blup.. blup.. blup..
Air dalam bak tiba-tiba seperti mendidih dan mengeluarkan asap, seketika aroma mawar menguar di indra penciumanku.
Perlahan keluar sosok dari dalam air. Jantungku berirama hebat, nafasku tercekat. Kutelan ludah dengan susah payah. Tubuhku juga bergetar hebat.
Sosok itu semakin naik, kini nampak jelas jika sosok itu adalah wanita berkebaya merah.
Rambutnya panjang terurai, wajahnya sama seperti yang kulihat tadi. Tidak seram seperti semalam.
"Aaarrgghh.." Erangnya dan wajahnya berubah.
Ia melesat dan langsung mencekikku. Membuat tubuhku menghantam dinding dengan keras.
"Aaakhh.. tolong.. tolong.." Aku mencoba berteriak meski dengan bersusah payah.
Sosok itu terus mencekikku, cengramannya semakin kuat. Membuat nafasku seakan tertahan dikerongkongan.
Tanganku mencoba melepas cengkramannya, namun nihil, cengkraman itu semakin kuat.
Kucoba menggedor-ngedor pintu kamar mandi yang kukunci, berharap seseorang mendengar dan menolongku.
"Siapa?" Kudengar suara dari luar membuatku semakin mengeraskan gedoranku dengan sisa tenaga karena suaraku tak bisa keluar.
"Siapa??" Tanya suara itu yang terdengar mendekat.
"To-to-long.." Aku mencoba mengeluarkan suaraku meski terdengar pelan.
"Zey..?" Lalu orang di sebrang pintu nampak mendobrak pintu.
"Zey.. kamu nggak papa??!!" Kini terdengar nada cemas darinya.
Brak.. brak.. brakk..
Pintu itu lalu terbuka dan sosok wanita tadi hilang entah kemana.
"Uhuk uhuk uhukk..." Tubuhku terkulai lemas, seketika tangisku pecah.
Kupeluk tubuh kekar yang telah menyelamatkanku itu. Aku sangat berterima kasih dengannya karena sudah menyelamatkanku dari cengkraman sosok tadi.
"Huuhuhuu~.." Aku menangis dalam pelukannya, dan dia membalas pelukanku sambil membelai rambutku.
"Udah.. nggak papa.." Ucapnya mencoba menenangkanku.
"Gue takut Guh.. dia mau bunuh gue.." Ucapku disela tangisku.
Teguh tak merespon ucapanku, ia semakin mendekap erat tubuhku. Membuatku beransur merasa tenang.
"Gue mau mandi.." Aku segera melepas pelukannya.
"Ya udah. Aku jagain di luar." Teguh berlalu meninggalkanku dan duduk di kursi dekat dengan kamar mandi.
Aku segera menutup pintu dan dengan kecepatan super menyelesaikan ritual mandiku.
Setelah selesai, aku segera keluar dan mendapati Teguh masih terduduk ditempatnya tadi sambil menatapku tajam
"Udah?" Tanyanya yang melihatku keluar dari kamar mandi.
Aku hanya menganggu pelan, kemudian ia berlalu meninggalkanku.
Aku berjalan mengekor di belakangnya. Dan kami berpisah di depan kamarku.
-