22/08/2025
• كتاب : بيان تلبيس الجهمية وتأسيس بدعهم الكلامية (رد على تأسيس التقديس)
• تأليف : شيخ الإسلام ابن تيمية
• تحقيق: احمد بن علي الاقصرى - ابو عثمان محمد بن رمضان - اشرف بن موسى - عيد بن على الزعيقى
4 Jilid, Maktabah Tauqifiyyah
• Review Kitab
Kitab Bayān Talbīs al-Jahmiyyah fī Ta’sīs Bida‘ihim al-Kalāmiyyah atau Naqd al-Ta’sīs karya Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abd al-Halim bin ‘Abd al-Salām Ibn Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H).
Kitab ini sebuah ensiklopedis yang membantah mazhab Asy'ariyah, khususnya sebagai bantahan terhadap syubhat yang dilontarkan Ar-Razi dalam kitabnya Ta’sīs at-Taqdīs.
Ta’sīs al-Taqdīs karya Fakhruddin al-Rāzī — kitab yang dijadikan pegangan utama para Asy‘ariyyah dan mutakallimīn. Al-Rāzī di situ berlebihan dalam metode mereka, sampai-sampai kitab itu dijadikan semacam “konstitusi” bagi para penakwil setelahnya. Ibn Taimiyyah membantahnya secara panjang dalam kitab Bayān Talbīs al-Jahmiyyah.
Sebab Penulisan Kitab
Setelah Ibn Taimiyyah menulis al-Fatwā al-Hamawiyyah sebagai bantahan terhadap kaum mu‘aththilah (penolak sifat Allah), muncul pertanyaan dan sanggahan dari sebagian mereka. Beliau lalu menjawabnya dalam kitab Jawāb al-I‘tirādhāt ‘ala al-Fatwā al-Hamawiyyah.
Kemudian kaum mu‘aththilah menimbulkan syubhat baru dengan bersandar pada kitab Abu ‘Abdillah Ar-Razi berjudul Ta’sīs at-Taqdīs, di mana Ar-Razi membantah Ahlus Sunnah yang menetapkan sifat-sifat Allah dengan beragam argumen untuk menafikannya.
Dalam kitab itu, Ar-Razi mengumpulkan hujjah-hujjah kaum Jahmiyyah secara lengkap, tidak terdapat dalam kitab lain. Maka Ibn Taimiyyah menulis kitab Bayān Talbīs al-Jahmiyyah ini untuk membantah Ta’sīs karya Ar-Razi, meruntuhkan bangunan dari pondasinya, hingga roboh dan sirnalah hujjah mereka di hadapan pengikut kebenaran dari kalangan salaf.
Ar-Razi dalam kitabnya banyak menggunakan argumen rasional untuk menentang nash-nash yang shahih. Karena itu, Ibn Taimiyyah meneliti argumen-argumen akal yang benar, agar tampak jelas kerusakan cara mereka dalam menentang nash, yang karenanya banyak orang tertipu dan tersesat.
Adapun Jahmiyyah yang dibantah Ibn Taimiyyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan as-Samarqandi, bekas budak Bani Rasib, yang terbunuh oleh Nashr bin Sayyar pada tahun 128 H.
Perlu diketahui, istilah Jahmiyyah dalam perkataan salaf kadang dipakai untuk semua kelompok yang menempuh jalan rasionalisme dalam menafikan sifat-sifat Allah, seperti Mu‘tazilah, Asy‘ariyah, dan lainnya.
Dalam kitab ini, Ibn Taimiyyah membatalkan hujjah-hujjah kaum kafir dan mulhid dari kalangan filsuf, hululiyah, ittihadiyah, Jahmiyyah, dan lainnya. Ia juga membantah syubhat para penentang dari kalangan filsuf, batiniyah, Jahmiyyah, Mu‘tazilah, dan Asy‘ariyah.
Meski begitu, beliau tetap adil terhadap lawan-lawan ilmiahnya, menjelaskan kebenaran yang ada pada mereka, lalu membantah dengan perkataan dan hujjah mereka sendiri, hingga jelas bahwa hujjah itu berbalik menjadi bantahan atas mereka.
Ibn Taimiyyah memberi perhatian khusus pada persoalan ta’wil (penyelewengan makna) terhadap nash, menjelaskan bahwa ta’wil adalah sebab utama penyimpangan dan perpecahan umat. Ia menegaskan bahwa ta’wil di kalangan mutakallimin terhadap nash-nash sifat telah mendorong filsuf, batiniyah, dan qaramithah untuk melakukan ta’wil serupa terhadap ayat-ayat tentang Hari Akhir dan bahkan ibadah-ibadah.
Beliau rahimahullah juga menjelaskan aqidah salaf shalih dari kalangan sahabat, tabi‘in, dan generasi sesudahnya, yang sesuai dengan al-Qur’an, Sunnah, akal sehat, dan fitrah yang lurus.
Beliau memperluas pembahasan dalam mendiskusikan para filsuf secara umum, dan Ibn Rusyd secara khusus, dalam banyak masalah yang ia bahas dalam kitab Manāhij al-Adillah dan Fashl al-Maqāl fīmā bayna al-Hikmah wa asy-Syarī‘ah min al-Ittisāl.
Sebagai penutup, kitab Ibn Taimiyyah ini benar-benar unik, sangat luas bahasannya, penuh manfaat besar, sarat dengan penelitian, ketelitian, keteraturan, dan keluasan penjelasan. Beliau mengemukakan banyak sisi bantahan terhadap hujjah-hujjah para pengingkar.
Dalam buku ini, Ibnu Taimiyah membahas banyak hal terkait para ahli kalam dan filsuf, serta membantah pernyataan para filsuf yang menetapkan konsep jawahir ‘aqliyyah. Buku ini berfokus pada pembuktian beberapa sifat Allah yang ditakwil oleh golongan Asy'ariyah, termasuk sifat istiwa’ (bersemayam).
Al-Hafizh Ibn Abdul Hadi rahimahullah dalam bukunya al-‘Uqud al-Durriyyah memuji karya gurunya ini:
"وهو كتاب جليل المقدار ومعدوم النظير كشف الشيخ فيه إسرار الجهمية وهتك أستارهم ولو رحل طالب العلم لأجل تحصيله إلى الصين ما ضاعت رحلته! "
Wasiat dari Syaikh Prof. Shalih As-Sindi bahwa kitab ini atau "Dar'ut-Ta'arudh" atau "Minhajus-Sunnah" bagusnya dibaca setelah mempelajari "Mukhtashar Shawa'iq Mursalah" namun bagi yang telah khatam Ar-Risalah At-Tadmuriyyah in sya Allah bisa memahami isi kitab ini.