12/12/2017
KOMENTAR BERACUN 😱😱
a self-reminder
by Agustina Djihadi ✏
Kemarin ada screenshot-an viral yang memuat percakapan dua mamak, satunya mamak bisnis satunya mamak rumah tangga.
Mak 1💁: Ngapain sih kamu bisnis? Kayak ga dinafkahin suami aja. Emang penghasilan suami kurang?
Mak 2: Saya bisnis bukan karena ga dinafkahin suami mba..
Pebisnis itu hebat loh.. Jangan Cuma nyusahin suami, minta-minta duit suami ini itu suami.. hahaha..
Mak 2🙅: Kata siapa pebisnis itu hebat, malah kaya nggak dinafkahi suami. Suami saya perbulan 3 juta, mungkin suami mba kurang penghasilan ya. Kasian amat kurang dibahagiain suami, nekat jadi pebisnis, miris hidupnya..
M1💁: Hadeeh.. Cuma bisa ngakak bacanya.. hahahhah..
Percakapan ini lalu dicapture lalu terjadi bullying-lah ke Mak 1. Penghasilan cuma 3 juta doang kok ya sempat sombong, gitu. Make ngurusin idup orang pulak. Hellow, 3 juta itu cuma cukup buat susu ama pampers, kata banyak mamak laennya mungkin sambil geleng-geleng kepala (soalnya kalo sambil ngulek cabe kok ya semangat banget).
Saya ga dalam rangka belain Mak 1 atau Mak 2 yes👀.
Jadi pebisnis itu warbiyazah. Banyak keutamaan berniaga seperti yang disebut dalam sebuah hadits bahwa 9 dari 10 pintu rezeki itu ada dalam perniagaan. Mamak-mamak pebisnis, OL shop owner, praktisi MLM endesbrei endesbrei itu owsem karena bisa menggerakkan roda ekonomi umat. Apalagi kalo bisnis itu bisa dilakukan dirumah, ih kece badai khatulistiwa palembang darussalam. Kantornya dirumah, anak-anak tetap bisa mengakses ibunya tiap saat, suami pulang juga istri udah standby dengan lingerie nan wangi. Gimana engga kece sakinah mawaddah warohmah.
Namun jadi full time mom yang mengandalkan suami sebagai pencari nafkah juga sama sekali ga buruk. Istri-istri yang ikhlas dengan gelar akademisnya yang tinggi tapi memutuskan memfokuskan idealismenya buat anak-anak, berusaha qonaah dengan rezeki melalui suaminya dan tidak menuntut lebih. Ya kalo gaji suami diatas rata2 kalo ngepas? Emang kita pikir hemat dengan gaji dibawah 5 juta sebulan dengan anak lebih dari 2 misalnya itu gampang? Duile. Emangnya kita yang dikit-dikit buka Shoppee belanja online ini itu sama mampir ke café buat ngupi-ngupi yang harga secangkirnya 5 kali lipat kopi di warteg dengan alasan “Kopi di café nih instagramable gitu loh!🙊😏”. Mereka yang mencukupkan diri dengan yang ada, ibarat struggling sambil salto dan kayang sekaligus tapi muka tetep semanis Shandy Aulia plus sendi-sendi tangan kakinya engga ada yang kena encok 😫😫. Bisa gak sistah? 😂 Dan apa yang salah dengan ibu-ibu yang minta-minta nafkah dari suaminya sendiri? Toh dia engga minta-minta ke suami orang 😆. Suaminya juga ridho. Terus kenapa kayanya istri yang segala hal minta dari suami ko ya hina dina nista durjana banget?
Jadi kesimpulannya kalo kita sama-sama wonderwoman (minimal yah dimata suami masing-masing😜🤘), kenapa juga kudu banget saling merendahkan? Padahal, orang yang beruntung itu adalah orang yang selalu diam-diam bisa mengambil pelajaran dari orang lain, sesepele apapun pelajaran itu👌.
Bayangkan kalo yang terjadi adalah kebalikannya.
Mamak 1 belajar lifestyle kebercukupan kaya Mamak 2.
Mamak 2 belajar cara oke menghasilkan uang dari rumah dari Mamak 1.
Mamak 3 yang wanita karir, belajar cara mengurusi tugas-tugas domestik dengan praktis dari Mamak 4.
Mamak 4 yang punya anak 5 dan ngga punya ART, belajar dari Mamak 3 skill mendelegas*kan tugas-tugas teknis dirumahnya hingga ia bisa lebih waras karena tetap punya me-time.
Jika dalam komunitas mereka saling mengenal sekitar 100 mamak, kita bisa belajar banyak banget jangan-jangan Shireen Sungkar juga minder liat kita saking kecenya.
Salah satu sumber ketidakwarasan kita sebagai mamak2 adalah karena mendengarkan toxic comment dari orang lain yang bahkan orang itu ga ada kontribusinya buat hidup kita. Ngasih makan dan belanja bulanan kita enggak❌. Bayar sekolah anak kita enggak❌. Atau ngasih dana liburan akhir tahun gitu minimal ke Jepang atau Lombok lah gitu yang lokal aja, tapi ya enggak juga❌. Tapi kalo komentar kok paling kenceng dan semangat😩😩.
Baru melahirkan aja banyak mamak-mamak mendengar komen toks*k. “Wah payudaranya kok kempes, pasti ASInya seret. Aku dulu hari pertama lahiran langsung deres banget kaya air terjun Niagara”.
Akibatnya yang down makin down yang bangga makin bangga. Iya kalik tiap mamak juga beda-beda kondisi.
Pas anak mulai MPASI, komentar toks*k menyerang tanpa ampun para mamak rempong.
“Kok anaknya dikasih bubur instan? Ya Allah jadi ibu kok ya pemales banget. Kalo saya sih sampe kiamat qubro juga gamau kasih anak makanan instan”.
Siapapun tau homemade lebih baik, tapi bukan berarti orang yang saat-saat tertentu ngasih MPASI instan itu mamak yang segitu nistanya kan ya? Yang dia kasih itu juga bubur instan bukan jengkol rica-rica bukan juga sianida.
Mamak-mamak yang LDR sama suaminya, kalik sering denger komentar toks*k orang-orang sekitarnya.
“Kok tahan ya ketemu seminggu sekali. Ga takut sama pelakor? Duh kalo saya sih sebagai istri solehah ya dimana suami pergi ya saya buntutinlah. Daripada daripada ya lebih baik lebih baik eimm..”
Teroos.. ngomentarin dengan sotoy rumah tangga orang padahal yang ngejalaninnya kok ya makin lengket kaya materai sama sertifikat rumah.
Kenapa s*k segala komen diatas disebut toks*k (beracun)? Emangnya yang dia katakan itu toksin (racun)?
Iyes 😒.
Karena komentar semacam ini dilontarkan tanpa rasa tanggungjawab terhadap dampaknya ke orang lain, dan beres*ko membuat kita yang kena racun ini untuk kehilangan rasa bahagia dan rasa syukur dengan keadaan masing-masing. Kalo keseringan ketemu orang yang hobi komen toks*k begini, imbasnya bisa kaya Dementor yang ngisap kebahagiaan kita tanpa sisa. Akibatnya kita kurus kering (atau gendut sekalian karena stress bikin nafsu makan meningkat) penuh ketidakbahagiaan plus iri dengki sesama mamak-mamak. Ga kebayang muka kita yang cute ala Barbie ini pasti jadi suram gelap bak malam Jumat kliwon.
Tahan mulut tutup kuping deh mak sama yang beracun😔😔. Cukuplah Ine Chyntia pedangdut jadul tahun 90an yang disuguhi Secangkir Kopi Beracun. Buat yang lupa, begini liriknya.. 🎤🎵🎶Secangkir kopi kau minum berdua.. 🎶Sambil bermanja dengan si dia.. Hingga kau lupa atau sengaja.. 🎸🎤 Dududu..
Ada hasil riset sebuah media judulnya, “Hasil riset menunjukkan ibu rumah tangga lebih bahagia ketimbang ibu pekerja”. Eh selang berapa hari, ada lagi hasil riset lain, “Ibu pekerja lebih bahagia dan anaknya lebih cerdas ketimbang ibu pekerja”. Riset pertama banyak diserang oleh ibu pekerja, dan riset kedua banyak diserang oleh ibu rumah tangga. Dan perdebatan memanas seolah ingin diakui sebagai pihak yang paling bahagia dan paling hebat. Oh, Mak. Nasibmu bener udah tahun 2017 masih diadu domba sama media.
Jika kita benar-benar bahagia dengan hidup kita, kita ga akan repot dengan kebahagiaan orang lain✔.
Jika kita benar-benar menikmati peran kita, kita ga akan segitu semangatnya mengomentari miring peran orang lain yang berbeda dengan kita✔.
Jika kita feeling okay with ourselves, kita ga akan mudah feeling not okay with others apalagi cuma karena beda pandangan✔ (akyu memandangmu dengan romantis namun kamyu malah memandang rembulan diatas sana, contoh beda pandangan).
Karena memang ga ada rumus yang sama untuk tiap orang tentang cara berbahagia dalam hidup..
Ada mereka yang punya passion untuk berkontribusi di ranah publik dengan menjadi pengusaha/pekerja selain memiliki peran sebagai ibu rumah tangga. Selama suaminya ridho & anak-anaknya tetap memiliki bonding dan attachment yang kuat padanya, kenapa kita yang menonton kok ya ribut? Selama diniatkan untuk kemaslahatan dan melakukannya juga dalam track yang benar, kenapa ya harus dicaci maki?
Sebaliknya ada yang passionnya mendedikas*kan seluruh waktunya pada rumah tangganya, memilih untuk menjadi orang dibalik layar kesuksesan suami dan anak-anak. Selama ia nyaman dengan pilihannya, kenapa masyarakat harus mengecam dengan berkata, “Sayang ya kuliah tinggi-tinggi kok cuma mentok di kasur sumur dapur”. Selama ia tidak mempermasalahkan penghasilan suaminya dan ga menuntut suaminya korupsi lantas kenapa kita heboh bener ngajak dia meninggalkan idealismenya itu?
Dan ada juga sebagian ibu-ibu di pertengahan. Berkarir berat jika harus keluar rumah tapi tetap ingin mendapat penghasilan tambahan. Bisa jadi solusi yang keren buat ibu-ibu yang ingin tetap berdaya ditengah tuntutan jaman now. Jika ia memang bisa membagi waktu dan menjadi solusi yang maslahat baginya kenapa juga harus sinis?
Tiap ibu memiliki perjuangannya sendiri-sendiri 🤗👏. Jika kita tidak bisa bersimpati sedikit saja dan malah nyinyir dengan komentar beracun ke mamak-mamak yang punya pilihan berbeda dengan kita, mungkin kita masuk kedalam mamak kurang piknik.
Bukan kurang piknik jasadnya, tapi pikirannya krn engga open-minded.
Selamatkan diri masing-masing 😁✌.
Kalo ada komentar toks*k, run 💨💨 😂.
Kalo gatel banget pengen komen toks*k, ganjel mulut pake kue cucur. Atau pake Pizza Cheesy Bite yang mozarellanya melimpah ruah juga enak deh. Atau yang Crown Crust? Itu pake stik daging ayam yang endess cucok meong. Tapi kalo saya s**a yang Tuna Melt sih.
Bebas deh bebaassss! Yang penting selamat😒.
dan tetap bahagia, Mak!! Trust me, nothing beats the power of happy mamak!! 😁😉🤘
*angkat barbell 💪
*kibas jilbab Rabbany modal diskon 50%😜😅