Loka Banne

Loka Banne Toko buku daring, bermaksud menjadi tempatmu memanen bacaan��

Terima kasih telah mampir sangmane-sangbaine 👋Mohon maaf untuk sementara waktu Loka Banne sebagai ruang baca dan interak...
18/12/2024

Terima kasih telah mampir sangmane-sangbaine 👋
Mohon maaf untuk sementara waktu Loka Banne sebagai ruang baca dan interaksi tutup sejenak.

Sampai bertemu di halaman-halaman baru di tahun 2025.
Selamat natal,
Selamat berakhir tahun,
Selamat merefleksikan bacaanmu tahun ini dan selamat mempersiapkan buku yang akan kamu baca di tahun baru nanti.
Damai sejahtera!..
Dengan penuh kasih dan selalu bermaksud menjadi tempatmu memanen bacaan,

Loka Banne Bookstore 🌾

Seberapa pentingkah vaksinasi? Benarkah Bumi itu datar? Apakah telur baik untuk dikonsumsi? Pada era informasi seperti s...
20/02/2024

Seberapa pentingkah vaksinasi? Benarkah Bumi itu datar? Apakah telur baik untuk dikonsumsi? Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yang menyesatkan.

Kadang, dalam rimba informasi masa kini, penjelasan pakar tidak didengar, sementara jawaban dari tokoh yang mempunyai banyak pengikut justru lebih dipercaya dan membahayakan banyak orang.

Judul: Matinya Kepakaran
Penulis: Tom Nichols
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Jumlah halaman: 316 halaman
Kategori: Non Fiksi
Harga: Rp 115,000

Info dan pemesanan dapat dilakukan melalui inbox atau Whatsapp dengan mengklik tautan berikut https://wa.me/message/DATFTKPVQFCYK1 😊

Salama' 🌾

Tugas Puisi untuk Manusia adalah salah satu koleksi buku puisi yang sangmane-sangbene bisa panen di Loka Banne. Dan jika...
09/02/2024

Tugas Puisi untuk Manusia adalah salah satu koleksi buku puisi yang sangmane-sangbene bisa panen di Loka Banne. Dan jika sangmane-sangbene meminta satu rekomendasi buku puisi, puisi-puisi karya Nara Sutan dan Nellaneva adalah jawaban kami.

Puisi-puisi yang berkumpul dalam buku ini membawa kami dalam perenungan panjang dan menjadikan buku ini salah satu teman paling sunyi, silakan dibaca untuk tahu kenapa.

Ah nak, kerjakan tugas puisimu,

Judul: Tugas Puisi Untuk Manusia
Penulis: Nara Sutan & Nellaneva
Penerbit: Langgam Pustaka
Kategori: Kump**an Puisi
ISBN: 978-623-5600-67-3
Harga: Rp 70,000,-

Info dan pemesanan dapat dilakukan melalui DM atau WA (081355719909)

Salama' 🌾

**anpuisi

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi(Sebuah Pengantar) ​Sejak zaman Paleolitikum, manusia sudah akrab dengan panas bumi....
01/02/2024

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
(Sebuah Pengantar)

​Sejak zaman Paleolitikum, manusia sudah akrab dengan panas bumi. Hal yang paling sederhana untuk mendeteksinya yakni dengan melihat adanya sumber-sumber air panas. Pemanfaatannya mulai dari hal paling sederhana seperti mandi dan memasak makanan secara sederhana dengan teknik khusus semisal menguburkan makanan di sekitar tanah tempat adanya manifestasi panas bumi. Sesederhana itu. Namun seiring dengan sejarah perkembangan energi yang juga menjadi sejarah penaklukan yang berlangsung lintas zaman, kini manusia melihat panas bumi dengan cara yang sama sekali berbeda-tentunya dengan campur tangan medan perang bernama kapitalisme (baca: pasar).

Panas bumi (geothermal) sebagai pembangkit listrik sendiri mulai dilirik pada abad ke-20, saat permintaan suplai listrik yang tinggi menuntun pada eksperimen panas bumi sebagai pembangkit listrik. Negara pertama yang mencoba adalah Italia, di mana pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) pertama kali diuji oleh Prince Piero Ginori Conti pada 4 Juli 1904. Uji coba di Larderello ini menghasilkan listrik yang menyalakan empat bohlam. Tujuh tahun kemudian, didirikanlah sebuah PLTP komersial di sana. Uji coba selanjutnya dilakukan oleh Jepang dan Amerika Serikat, namun Italia menjadi satu-satunya yang mengkomersilkan listrik dari PLTP sampai akhirnya Selandia Baru juga membangun pembangkit listriknya pada 1958. Tahun-tahun selanjutnya, berbagai negara dengan potensi panas bumi terdeteksi akhirnya berlomba-lomba mengeksplorasi peluang yang sama. Kini panas bumi dimanfaatkan dengan dua cara, yakni sebagai pembangkit listrik dan pemanas.

Indonesia sendiri merupakan negara dengan potensi energi panas bumi yang besar karena berada di kawasan Cincin Api (Ring of Fire). Pencarian sumber panas bumi di Indonesia pertama kali dilakukan di pada tahun 1918, masih di zaman kolonial Belanda. Oleh J.B. van Dijk, proyek pertama dicetuskan setelah melihat proyek perdana Italia. 60 tahun kemudian, barulah pembangkitnya beroperasi dengan nama PLTP Kamojang di Jawa Barat. PLTP ini dieksekusi atas kerja sama Indonesia dan Selandia Baru, yang juga mengembangkan pengelolaan panas buminya.

Berdasarkan data yang dipublikasi oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat 357 titik panas bumi dengan total potensi energi 23.756 MW. Dengan potensi tersebut, Indonesia telah memanfaatkan 2.276 MW, urutan kedua setelah Amerika Serikat sebagai negara yang paling banyak memanfaatkan energi panas bumi. Di Provinsi Sulawesi Selatan sendiri terdapat 21 titik potensi panas bumi, dua diantaranya berada di Tana Toraja; Sangalla dan Bittuang. Bagaimana masyarakat Toraja memandang “potensi” ini?

Ada dua cara untuk memeriksanya, yaitu sebagai pihak yang menikmati pemanfaatannya, serta sisi lain sebagai pihak yang berada di lingkaran ancaman yang membayangi aktivitas pemanfaatannya. Hal ini tergantung bagaimana potensi itu dimanfaatkan. Di Sangalla, selama ini panas bumi dimanfaatkan sebagai tempat wisata masyarakat Toraja. Sementara di Bittuang, pemerintah punya ide untuk menjadikannya PLTP. Ide yang sama sekali tidak pernah dibicarakan secara partisipatif dengan masyarakat Bittuang. Ide yang belakangan memunculkan gejolak di masyarakat Bittuang.

Dari sana, dua sudut pandang yang tampak bertolak belakang akan terbaca. Namun kita mesti sangat berhati-hati, sebab melihat dari dua sudut pandang ini seharusnya tidak serta-merta membuat kita menyederhanakan persoalan ini menjadi kutub “pro dan kontra”. Kita mesti belajar banyak hal terkait; mulai dari hal sesederhana memeriksa kata “manfaat”, seperti apa situasi masyarakat di sekitar wilayah yang dibor, bagaimana jaminan keselamatan mereka, bagaimana mekanisme partisipasi yang disiapkan untuk memastikan mereka terlibat dan didengar, hingga hal fundamental seperti “ke mana dan siapa” tujuan pemanfaatan listrik dari proyek-proyek pembangkitan semacam ini diprioritaskan.

Sekalipun pembangkitan listrik dengan mengekstraksi panas bumi yang telah sedemikian berkembang setelah dipelajari berabad-abad, tetap tidak mengurangi tingkat resikonya yang sangat tinggi. Hal ini diakui p**a oleh pihak Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di samping besarnya investasi yang diperlukan untuk eksekusinya. Beberapa kasus di antaranya adalah penghentian pengeboran panas bumi di California, Amerika Serikat, penutupan permanen proyek serupa di Basel, Swiss, serta penutupan proyek kontroversial Pohang di Korea Selatan. Kesamaannya adalah adanya gempa yang dipicu oleh aktivitas proyek panas bumi. Korea menjadi negara yang paling jelas mengakui hal ini setelah pemerintah mengumumkan hasil investigasi yang dilakukan setahun lamanya. Penyuntikan air ke dalam batuan panas demi menghasilkan uap dalam proyek panas bumi menjadikan bebatuan di sekelilingnya mengalami retakan dan memicu gempa bumi.
Catatan besarnya jika dikaitkan dengan konteks di Indonesia adalah situasi di kawasan Cincin Api yang cenderung lebih tidak stabil karena inti buminya yang senantiasa bergolak. Artinya tanpa intervensi injeksi saat PLTP bekerja sekalipun, aktivitas bumi pada dasarnya di luar kendali sama sekali. Erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat pada Desember 2023 lalu menjadi contoh terdekatnya, yang mana menurut Kepala PVMBG terjadi tiba-tiba, tanpa adanya peringatan apapun. Keadaan ini membayangi seluruh aktivitas pemanfaatan sumber panas bumi yang pada prinsipnya justru berkaitan erat dengan aktivitas vulkanologi. Belajar dari kasus-kasus gempa di negara-negara di atas, tidak diakui secara terang-terangan bahwa penyebabnya adalah proyek PLTP. Dalam beberapa kasus di Indonesia sendiri, semisal ledakan di PLTP Dieng dan keracunan gas di PLTP Sorik Marapi justru diterjemahkan sebagai “bencana”. Sebuah kejahatan permainan bahasa setelah nyawa melayang dan korban jatuh berulang-kali.

Dengan banyaknya kasus kegagalan hingga kecelakaan yang mengorbankan nyawa manusia di seluruh dunia termasuk di Indonesia sendiri, menjadikan proyek PLTP sebagai permainan melempar dadu. Malangnya, nyawa manusia menjadi taruhannya sebab di Indonesia, ratusan titik yang jadi lokasi target proyek panas bumi bukanlah tanah kosong. Terlebih lagi dengan banyaknya masyarakat adat yang mendiami wilayah pegunungan -kebanyakan dari lokasi manifestasi panas bumi. Riaknya telah berlangsung bertahun-tahun, sekalipun banyak p**a masyarakat yang belum tahu apa itu geothermal sementara tanah adat mereka telah dibor beratus meter atas nama pencarian potensi panas bumi. Hal paling mencengangkan adalah adanya “kebijakan(?)” Kementerian ESDM yang mencaplok Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur sebagai Pulau Panas Bumi pada 19 Juni 2017. Tujuannya demi ekstraksi panas buminya. Masyarakat dan tanah leluhur di p**au ini jadi saksi, bagaimana kegagalan proyek panas bumi merusak tanah adat mereka, seperti muntahan lumpur panas yang ditinggal begitu saja setelah pengeboran ugal-ugalan di Mataloko. Di mana masyarakat diposisikan dalam “pembangunan” semacam ini?

Dalam narasi yang disebarluaskan oleh pemerintah, pembangkit-pembangkit listrik baru yang bercap “ramah lingkungan”, “hijau”, “rendah karbon” diperlukan di tengah situasi krisis iklim. Satu yang paling digembar-gemborkan adalah PLTP. Tentu saja kita sepakat dengan transisi energi, akan tetapi bila perencanaan transisi energi nasional tidak melibatkan publik secara luas, yang muncul justru rentetan masalah-masalah baru.

Cara kerja PLTP yang sama dengan PLTU, namun tidak membutuhkan pembakaran batu-bara, sekilas memang menjanjikan. Ditambah Pemerintah terkesan mempersempit makna pembangkit ramah lingkungan menjadi hanya sebatas persoalan emisi karbon. Padahal ramah lingkungan tidak boleh dibatasi pada persoalan emisi karbon semata, tetapi harus dilihat secara menyeluruh. Ramah lingkungan namun tidak ramah terhadap masyarakat di lingkar proyek adalah kekonyolan dalam memaknai lingkungan itu sendiri. Rendah karbon, mungkin iya. Namun ternyata justru tinggi korban. Bagaimana mungkin ini diabaikan begitu saja?

Penyediaan energi juga tidak melulu soal teknis belaka, hal yang utama adalah penghormatan terhadap hak masyarakat di setiap tahapan pembangunan. Pemerintah harus jujur untuk memberikan informasi kepada masyarakat, terutama di tapak, bahwa PLTP memiliki risiko yang tinggi. Demikian p**a dengan hak untuk mengatakan tidak saat mereka menolak untuk dijadikan tumbal demi melancarkan pembangunan dalam kacamata milik negara. No consent, no project!

Bagaimana dengan dampak ancang-ancang proyek geothermal di Bittuang?

Penulis: Wiwin Andi Lolo & Riski Saputra

Bersukacitalah senantiasa ✨Berdoalah untuk damai di bumi 🌳Selamat natal dari kami, keluarga kecil Loka BanneBermaksud me...
25/12/2023

Bersukacitalah senantiasa ✨
Berdoalah untuk damai di bumi 🌳

Selamat natal dari kami, keluarga kecil Loka Banne
Bermaksud menjadi tempatmu mamanen bacaan 🌾
Manasumo raka?

Feminisme sebagai sebuah gerakan dan teori sosial memiliki sejarah panjang perkembangannya. Di tiap zaman dan gelombang,...
06/12/2023

Feminisme sebagai sebuah gerakan dan teori sosial memiliki sejarah panjang perkembangannya. Di tiap zaman dan gelombang, ia saling berdialog, mengritik, dan menciptakan arus-arus pemikiran baru yang berperang untuk membedah ketidakadilan gender yang ada hingga hari ini.

Sebagai seorang sejarawan feminis, Nadya Karima Melati turut memberikan sumbangan pemikiran mengenai perkembangan feminisme di Indonesia lewat esai-esainya. Tidak berhenti sampai di situ, ia merelevansikan dan menautkan benang merah sejarah sehingga saling terhubung dengan berbagai permasalahan gender kontemporer saat ini.

Judul: Membicarakan Feminisme
Penulis: Nadya Karima Melati
Penerbit: EA Books
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 254 halaman
Dimensi: 13 x 19 cm
Jenis Sampul: Soft Cover
ISBN: 978-623-91089-0-8
Harga: Rp 83,000

Info dan pemesanan dapat dilakukan melalui DM (pesan instagram) atau Whatsapp dengan mengklik tautan berikut https://wa.me/message/DATFTKPVQFCYK1

Salama' 🌾

Dalam perjalanan p**ang dari Makassar menuju Toraja, kami (admin dan kurir Loka Banne) terkagum dengan hal-hal yang bisa...
18/07/2023

Dalam perjalanan p**ang dari Makassar menuju Toraja, kami (admin dan kurir Loka Banne) terkagum dengan hal-hal yang bisa dibuat oleh satu buku.

Ada yang di Indonesia ada yang di Amerika, ada siang ada malam, ada yang sudah tua dan ada yang masih muda, ada yang duduk ada yang berdiri, ada yang sudah membaca buku tersebut ada p**a yang belum, ada yang berada dalam media presentasional ada yang dalam media mekanis, ada yang minum air mineral ada yang minum kopi, ada yang kewalahan karena kipas angin ada yang kepanasan dsb., dst.
Hal-hal yang hanya sebuah buku bisa adakan dalam satu kejadian di halaman .

Buku bagus memang sudah seharusnya seperti itu. Buku Seni Sebagai Politik lagi-lagi memberikan kami banyak wawasan yang berlimpah siap panen bahkan ketika buku ini sudah kami baca.

Buku bagus memang begitu.

Terima kasih .id sudah mengajak Loka Banne merayakan di 🌾.

Ooh iya, foto-foto ini milik yang dalam ungkapan bahasa Toraja, disebut "To ussangkin bayo-bayo" (orang yang menangkap bayangan-bayangan).
Kurre sumanga' sangbene 🌾.

"... kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk...
10/06/2023

"... kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu.... surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya puluhan tahun lewat..."

Judul: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Jumlah halaman: 250 halaman
ISBN: 9786026208828
Harga: Rp 68,000

Info dan pemesanan dapat dilakukan melalui Messenger atau Whatsapp dengan mengklik tautan berikut https://wa.me/message/DATFTKPVQFCYK1 😊

Salama' 🌾

**auburu

Pernahkah Anda merasa kehabisan bahan pembicaraan saat sedang bersama pasangan? Atau percakapan dengan teman-teman kanto...
08/05/2023

Pernahkah Anda merasa kehabisan bahan pembicaraan saat sedang bersama pasangan? Atau percakapan dengan teman-teman kantor tiba-tiba berhenti begitu saja? Atau Anda selalu merasa canggung ketika harus bicara dengan orang lain? Jika hal demikian terjadi, mungkin ada yang salah dengan cara Anda bicara atau mungkin Anda hanya kurang tahu cara membangun percakapan yang baik.

Demi meminimalkan kesalahpahaman dalam percakapan, Anda perlu memahami psikologi dan berkomunikasi secara berbeda. Buku ini menjelaskan alasan psikologis mengapa kesalahpahaman dalam berkomunikasi tidak bisa dihindari. Di dalamnya juga dipaparkan berbagai panduan tentang cara membuka diri dan berkomunikasi dengan orang lain untuk mencegah kesalahpahaman yang langsung dipaparkan oleh pakar komunikasi psikologi ternama di Korea, Oh Su Hyang.

Jika sudah menguasainya, Anda dapat meraih keharmonisan dan kebahagian dalam hubungan antarmanusia, serta bebas dari konflik dan kecemasan yang muncul hanya karena suatu percakapan.

Judul: Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati
Penulis: Oh Su Hyang
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit: 2022
Jumlah halaman: 216 halaman
Kategori: Nonfiksi, Psikologi, Pengembangan Diri, Komunikasi
Harga: Rp 108,000

Info dan pemesanan dapat dilakukan melalui Messenger atau Whatsapp dengan mengklik tautan berikut https://wa.me/message/DATFTKPVQFCYK1 😊

Salama' 🌾

Orang Toraja adalah makhluk simbol.Untuk merekam sebuah pemikiran, orang Toraja gemar mengikatnya dalam simbol-simbol.Me...
26/04/2023

Orang Toraja adalah makhluk simbol.
Untuk merekam sebuah pemikiran, orang Toraja gemar mengikatnya dalam simbol-simbol.

Melalui simbol, orang Toraja bersosialisasi dan berpengertian. Adapun semuanya berasal dari empat ukiran dasar yang dalam bahasa Toraja disebut Garonto' Passura'.

Address

Rantepao
91831

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Loka Banne posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Loka Banne:

Share

Category