Warung Arsip

Warung Arsip Email: [email protected]

SMS/WA: 087839137459

Esai Y.B. Mangunwijaya: Rohaniawan Tak Boleh Berpolitik+++++++++Penulis: Y.B. Mangunwijaya Media: D & RTahun: 1996, 7 De...
29/04/2026

Esai Y.B. Mangunwijaya: Rohaniawan Tak Boleh Berpolitik

+++++++++

Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Media: D & R
Tahun: 1996, 7 Desember, No.17, Thn.28
Halaman: 62-63
Ukuran: 3,7 MB

+++++++++

"Rohaniwan jangan ikut main dalam medan Politik Kekuasaan yang sering memang kotor, tapi justru harus intensif dan memberi teladan dalam Politik Moral dan Iman yang berpijak pada kesejahteraan umum."

"Bukan untuk kepentingan golongan saya atau faksi dia, tapi demi kepentingan dan kesejahteraan semua warga, bahkan universal, semua bangsa, tanpa pandang siapa dan golongan, partai, ras, agama, atau ideologi tertentu."

Kliping berjudul "Rohaniwan Tak Boleh Berpolitik?" karya Y.B. Mangunwijaya yang dimuat di majalah D&R edisi 7 Desember 1996 ini merupakan sebuah pembelaan intelektual terhadap peran tokoh agama dalam ruang publik. Tulisan ini dipicu oleh kritik terhadap Uskup Belo yang dianggap terlalu jauh mencampuri urusan politik, khususnya terkait persoalan di Timor Timur (sekarang Timor Leste).

Romo Mangun membedah kerancuan pemahaman masyarakat mengenai terminologi "politik" dengan membaginya ke dalam dua paradigma utama:

Politik Kekuasaan (PK): Segala aktivitas yang berkaitan dengan perebutan, penyelenggaraan, dan pemeliharaan kekuasaan (power and might). Bidang ini memang bukan wilayah rohaniwan dan sering dianggap "kotor" karena sarat akan hegemoni pihak yang kuat terhadap yang lemah.

Politik Moral/Iman (PM): Segala upaya demi kepentingan dan kesejahteraan umum (bonum commune), keadilan sosial, dan kemanusiaan universal. Menurut Mangun, wilayah ini adalah panggilan esensial setiap rohaniwan.

Mangun menegaskan bahwa keterlibatan rohaniwan seperti Uskup Belo, Uskup Soegijapranata pada masa revolusi, hingga tokoh dunia seperti Nelson Mandela dan Desmond Tutu, bukanlah dalam rangka mengejar jabatan atau kekuasaan (PK). Sebaliknya, mereka bergerak di jalur PM untuk membela hak asasi manusia dan menyuarakan penderitaan rakyat kecil yang tertindas.

Esai ini juga mengajak pembaca untuk melihat masalah Timor Timur secara objektif dan dengan rasa tepo-seliro (empati). Mangun menyoroti bahwa penderitaan di wilayah konflik tersebut bukan sekadar angka atau komoditas politik, melainkan fakta kemanusiaan yang harus disikapi dengan hati nurani. Baginya, adalah sebuah kewajiban moral bagi seorang rohaniwan untuk berpihak pada kaum underdog (rakyat kecil yang menderita) tanpa harus terjebak dalam kepentingan politik praktis.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/esai-y-b-mangunwijaya-rohaniawan-tak-boleh-berpolitik/

Islam Rahmatan lil Alamin, Abdurrahman Wahid - Amien Rais: Antara Cap dan Hakikat++++++++Penulis: Imelda BachtiarMedia: ...
29/04/2026

Islam Rahmatan lil Alamin, Abdurrahman Wahid - Amien Rais: Antara Cap dan Hakikat

++++++++

Penulis: Imelda Bachtiar
Media: D & R
Tahun: 1996, 7 Desember, No.17, Thn.28
Halaman: 24-30
Ukuran: 6,7 MB

++++++++

"Islam itu rahmatan lil alamin. Mari kita buktikan bahwa Islam untuk siapa saja. Jangan memetingkan atribut atau cap, tapi hakikat dan semangat." — Gus Dur

"Saya tidak menekankan pada label, tapi visinya. Karena, bisa saja sebuah negara tanpa label Islam tapi lebih Islami." — Amien Rais

Kliping ini mengulas pertemuan bersejarah dan hangat antara dua tokoh besar Islam Indonesia, Gus Dur (Ketua Umum PBNU) dan Amien Rais (Ketua Umum PP Muhammadiyah), di Masjid Sunda Kelapa pada 1 Desember 1996. Dialog yang dipandu oleh Emha Ainun Nadjib ini membedah buku Islam: Demokrasi Atas Bawah karya Ariel Afandi, namun berkembang menjadi diskusi mendalam mengenai masa depan umat dan bangsa.

Meskipun sering dianggap mewakili kutub pemikiran yang berbeda—kultural (Gus Dur) dan struktural (Amien Rais)—pertemuan tersebut justru menunjukkan banyak titik temu. Gus Dur menekankan konsep Islam Rahmatan lil Alamin, di mana Islam harus diperjuangkan sebagai nilai yang mementingkan keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia, termasuk kelompok non-Muslim. Ia mengkhawatirkan tren "kelembagaan" atau institusionalisasi Islam yang berlebihan karena dapat mematikan kreativitas umat.

Di sisi lain, Amien Rais melalui wawancara terpisah menegaskan bahwa esensi dari perjuangan umat bukanlah label atau simbol, melainkan penegakan keadilan. Ia berargumen bahwa negara yang tidak berlabel Islam namun mampu mewujudkan keadilan sosial dan pendidikan yang non-feodalistik justru jauh "lebih Islami". Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang juga hadir sebagai pembahas, menyimpulkan bahwa kedua tokoh ini memiliki kepedulian (concern) yang sama terhadap keadilan dan sama-sama tidak tahan melihat kesewenang-wenangan penguasa. Pertemuan ini dianggap memberikan dampak psikologis positif bagi ribuan anak muda yang hadir, memberikan kesegaran di tengah ketegangan politik masa itu.

NARASUMBER

Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Ketua Umum PBNU.

Amien Rais: Ketua Umum PP Muhammadiyah (narasumber wawancara utama).

Nurcholish Madjid (Cak Nur): Cendekiawan Muslim/pembahas dalam dialog.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun): Budayawan/pemandu acara.

Yusril Ihza Mahendra: Ahli hukum tata negara (dikutip dalam konteks menanggapi Gus Dur).

Kiai Haji Ilyas Ruchiyat: Rais Am NU (dikutip dalam candaan Gus Dur).

Mohamad Sobary: Pembahas dalam acara.

Rachmat H. Cahyono: Wartawan D&R yang mewawancarai Amien Rais.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/islam-rahmatan-lil-alamin-abdurrahman-wahid-amien-rais-antara-cap-dan-hakikat/

Wawancara Muladi: Dari Protes, Hadiah Nobel, sampai udin dan Mafia Peradilan+++++++++Penulis: -Media: D & RTahun: 1996, ...
28/04/2026

Wawancara Muladi: Dari Protes, Hadiah Nobel, sampai udin dan Mafia Peradilan

+++++++++

Penulis: -
Media: D & R
Tahun: 1996, 7 Desember, No.17, Thn.28
Halaman: 64-70
Ukuran: 10,2 MB

+++++++++

"Hukum acara itu instrumen untuk menegakkan hak asasi manusia. Dalam hukum acara dijamin keseimbangan hubungan antara rakyat dan penguasa. Jadi, kalau hukum acaranya sudah tidak betul, terjadi pelanggaran hak asasi manusia."

Wawancara komprehensif ini menyoroti pemikiran Prof. Muladi mengenai beberapa krisis besar yang melanda Indonesia di pertengahan 1990-an. Salah satu poin sentral adalah kasus pembunuhan wartawan Udin di Yogyakarta. Muladi mengusulkan agar kasus ini dianggap sebagai dark number (perkara yang tak terpecahkan) untuk sementara waktu jika bukti material tidak mencukupi, daripada memaksakan tersangka yang diragukan keterlibatannya. Ia mengkritik metode kepolisian yang sering mengejar pengakuan melalui penyiksaan dan mengabaikan hukum acara, yang menurutnya merupakan sisa-sisa pola kolonial yang harus dihapuskan.

Dalam ranah hak asasi manusia, sebagai anggota Komnas HAM, Muladi membahas investigasi Peristiwa 27 Juli. Ia menegaskan kemandirian Komnas HAM dalam mengungkap fakta, termasuk revisi jumlah korban hilang, meskipun ada tekanan politik. Ia juga memberikan pandangan kritis terhadap dunia peradilan yang ia sebut sedang mengalami degradasi citra, dari kepolisian hingga Mahkamah Agung, serta munculnya fenomena "mafia peradilan".

Terkait politik internasional, Muladi menunjukkan sikap ambivalen terhadap tokoh-tokoh Timor Timur. Ia mendukung pemberian Nobel Perdamaian bagi Uskup Belo yang dianggapnya masih menghormati eksistensi Indonesia, namun mengkritik keras Ramos Horta yang dinilainya memanipulasi forum internasional untuk kepentingan pribadi. Di dalam negeri, ia menilai posisi politik Megawati Soekarnoputri sangat sulit karena hambatan aturan dan kekuasaan, sementara ia memuji Soerjadi sebagai politisi yang mampu membaca "tanda-tanda zaman".

Terakhir, di bidang pendidikan, Rektor Universitas Diponegoro ini menekankan pentingnya konsep link and match antara perguruan tinggi dan pasar kerja. Ia mendorong demokratisasi kampus yang bertanggung jawab, di mana mahasiswa diberikan kebebasan berdiskusi selama mengikuti prosedur akademis, guna menyiapkan sarjana yang tidak bermental "karyawan" tetapi menjadi ilmuwan yang memiliki kepekaan sosial dalam menghadapi globalisasi.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/wawancara-muladi-dari-protes-hadiah-nobel-sampai-udin-dan-mafia-peradilan/

Romo Sandyawan Sumardi: Untuk Mereka yang Terpinggirkan+++++++Penulis: Rachmat H. CahyonoMedia: D & RTahun: 1996, 7 Dese...
28/04/2026

Romo Sandyawan Sumardi: Untuk Mereka yang Terpinggirkan

+++++++

Penulis: Rachmat H. Cahyono
Media: D & R
Tahun: 1996, 7 Desember, No.17, Thn.28
Halaman: 32-33
Ukuran: 3,9 MB

+++++++

"Menurut saya, kita tak bisa memahami dan menghayati kehidupan rakyat kecil tanpa berbaur langsung."

"Konsekuensi hukum itu saya kalahkan dengan sikap moral. Sikap melindungi itu adalah sikap yang benar."

Kliping ini mengulas sosok Romo Sandyawan Sumardi, penerima Anugerah Yap Thiam Hien tahun 1996, yang mendedikasikan hidupnya bagi kaum terpinggirkan. Perhatian Romo Sandy terhadap rakyat kecil bukanlah hal baru; ia dikenal sering menyamar (inkognito) sebagai buruh perkebunan tebu di Kendal hingga buruh bangunan di Jakarta untuk merasakan langsung penderitaan rakyat. Baginya, pemahaman sejati terhadap wong cilik hanya bisa diraih melalui keterlibatan langsung, sebuah prinsip yang ia pegang teguh sejak masa pendidikan teologinya di Yogyakarta saat mendampingi keluarga gelandangan di Malioboro dan masyarakat Kedungombo.

Melalui Institut Sosial Jakarta (ISJ), Romo Sandy membangun sistem dukungan bagi kaum miskin kota, mulai dari pemulung hingga anak jalanan. Ia menciptakan selter yang berfungsi sebagai "miniatur keluarga," memberikan pendidikan dasar, serta ruang bagi anak-anak jalanan untuk tetap menjadi manusia di tengah kerasnya ibu kota. Fokus utamanya adalah mengubah kelompok yang dianggap "sampah masyarakat" menjadi subjek yang berdaya secara ekonomi dan sosial.

Nama Romo Sandy semakin mencuat pasca-Peristiwa 27 Juli 1996. Atas dasar kemanusiaan, ia memberikan perlindungan kepada aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), termasuk Budiman Sudjatmiko, yang saat itu menjadi buronan politik. Tindakan ini membuatnya berhadapan langsung dengan aparat keamanan dan ancaman hukum serius. Ia dituduh melanggar pasal-pasal subversif karena menyembunyikan pelaku kejahatan. Namun, Romo Sandy tetap bergeming pada prinsip moralnya bahwa melindungi mereka yang teraniaya adalah kewajiban iman, meskipun harus menanggung konsekuensi hukum yang berat.

Keputusan dewan juri memberikan penghargaan Yap Thiam Hien kepadanya merupakan bentuk pengakuan atas keberaniannya membela hak asasi manusia tanpa memandang latar belakang politik. Romo Sandyawan membuktikan bahwa perjuangan hak asasi bukan sekadar wacana di seminar, melainkan tindakan nyata di lapangan—bahkan jika itu berarti harus mempertaruhkan keselamatan diri demi mereka yang tidak memiliki suara.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/romo-sandyawan-sumardi-untuk-mereka-yang-terpinggirkan/

Cerita Pendek Badaruzzaman: Togog+++++++Penulis: BadaruzzamanMedia: INDONESIATahun: 1951, Maret, No.3, Thn.II Halaman: 2...
27/04/2026

Cerita Pendek Badaruzzaman: Togog

+++++++

Penulis: Badaruzzaman
Media: INDONESIA
Tahun: 1951, Maret, No.3, Thn.II
Halaman: 23-39
Ukuran: 8,52 MB

+++++++

"Togog itu simbol manusia burokrat, atau sindiran bagi orang jang s**a bermalas-malas duduk dikursi berdjang-djang lamanja dengan tiada ada pekerdjaan jang dihadapanja... Itulah Togog! Manusia patung!"

"Hina! seperti pengemis! Sudah tahu dirinja tidak seberapa berguna bagi djawatan itu... hanja karena mau makan gadji buta, seperti lintah menempel dibetis orang."

Cerita pendek berjudul "Togog" karya Badaruzzaman (nama pena dari Muhammad Dimyati) yang diterbitkan pada 1951 ini membedah kegelisahan eksistensial seorang kakitangan kerajaan bernama Hartono yang bekerja di sebuah jabatan rasmi di Solo. Hartono merasa dirinya terperangkap dalam sistem birokrasi yang tidak cekap dan menjemukan. Setiap hari, dia datang ke pejabat hanya untuk menjalankan rutin yang dianggapnya mekanikal, tanpa ada pekerjaan nyata yang memberikan erti atau manfaat bagi masyarakat.

Hartono menyedari bahawa jawatan yang disandangnya hanyalah hasil "sistem kawan" atau nepotisme, di mana bapa saudaranya yang berpengaruh mendesak Ketua Jabatan untuk menerimanya bekerja. Di pejabat, dia menyaksikan fenomena "pengangguran terselubung": kakitangan yang berlebihan, pekerjaan yang sengaja dilambat-lambatkan agar kelihatan sibuk, serta tumpukan kertas arkib yang tidak berguna. Dia menyifatkan dirinya dan rakan setugasnya sebagai "Togog"—merujuk kepada watak wayang yang hanya diam mematung, atau dalam konteks ini, manusia birokrat yang makan gaji buta, statik, dan tidak efisien.

Ketegangan mencapai puncaknya apabila Hartono pulang ke rumah. Isterinya, Minah, melayaninya dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat, menyangka suaminya telah bekerja keras demi keluarga. Namun, kejujuran Hartono yang meluap-luap membuatkan dia mengakui bahawa dia merasa hina seperti pengemis atau lintah yang menghisap wang negara tanpa memberi sumbangan. Minah, yang berpikiran pragmatis, cuba memujuk Hartono agar tetap bertahan demi kestabilan kewangan dan status sosial, namun bagi Hartono, moraliti dan harga dirinya jauh lebih penting daripada gaji bulanan yang "mati" dalam kelesuan birokrasi. Cerita ini merupakan kritik tajam terhadap mentaliti birokrasi pasca-revolusi Indonesia yang dianggap hanya membuang-buang masa dan anggaran negara.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/cerita-pendek-badaruzzaman-togog/

Darmono S. Hubojo: Jalan Perkembangan Sandiwara di Indonesia++++++++Penulis: Darmono S. HubojoMedia: INDONESIATahun: 195...
27/04/2026

Darmono S. Hubojo: Jalan Perkembangan Sandiwara di Indonesia

++++++++

Penulis: Darmono S. Hubojo
Media: INDONESIA
Tahun: 1951, Maret, No.3, Thn.II
Halaman: 1-8
Ukuran: 4,5 MB

++++++++

"Memang kebudajaan lama bukan suatu beban jang kelebihan. Dengan menggunakan tehnik modern dan disesuaikan dengan djaman mungkin ia akan menambah semarak seni-seni dan perkembangan kebudajaan di Indonesia."

"Kegagalan sikap pendjadjah jang busuk untuk berusaha menekan perkembangan merdeka dari djiwa manusia djadjahan gar dapat disiarkan kesaluran jang tertentu, berkali-kali kita lihat di Indonesia."

Kliping bertajuk "Djalan Perkembangan Sandiwara di Indonesia" karya Darmono S. Hubojo (1950) ini mengulas evolusi seni pertunjukan di Indonesia, dimulai dari akar etimologis hingga transformasinya menjadi industri film modern. Darmono S. Hubojo menjelaskan bahwa istilah "sandiwara" berasal dari bahasa Jawa (sandi berarti tersembunyi, dan wara berarti kabar/ajaran). Istilah ini dipopulerkan oleh Sri Paduka Mangkunegara VII dari Solo sebagai media pendidikan budi pekerti yang halus.

Pada era sebelum Perang Dunia II, Solo menjadi pusat pertumbuhan kebudayaan Jawa modern yang sangat subur. Berkat otonomi dan dukungan materiil dari pihak kraton (Mangkunegaran), seni pertunjukan berkembang pesat di kalangan intelek maupun rakyat jelata. Pengaruh ini kemudian meluas menjadi fondasi kebudayaan nasional Indonesia. Penulis mencatat bahwa pemerintah Hindia Belanda cenderung membatasi pertumbuhan nasionalisme, namun memberikan ruang bagi perkembangan budaya daerah, yang justru dimanfaatkan oleh kaum muda untuk membangun identitas bangsa.

Evolusi panggung sandiwara bermula dari pemujaan dewa (tarian ritual), lalu bergeser ke cerita epik Hindu (Mahabharata dan Ramayana), hingga munculnya ketoprak dan lakon perjuangan seperti Wajang Suluh. Di Jakarta, pengaruh Barat dan Melayu melahirkan "Kemidi Bangsawan" atau "Kemidi Setambul" yang mengadopsi cerita 1001 Malam. Pada tahap ini, sandiwara mulai menjadi hiburan umum (komersial) dengan keterlibatan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang etnis.

Memasuki era 1950-an, fokus industri kreatif bergeser dari panggung ke layar perak (film). Tokoh-tokoh seperti Usmar Ismail, Armijn Pane, dan Kotot Sukardi mulai memproduksi film bertema perjuangan, seperti Enam Djam di Djokja. Penulis menekankan bahwa keahlian dalam seni tradisional (seperti tari daerah) bukanlah beban bagi aktor modern, melainkan keistimewaan yang memberikan corak asli Indonesia dan membedakannya dari sekadar imitasi budaya asing. Artikel ditutup dengan keyakinan bahwa perpaduan teknik modern dan jiwa kebudayaan lama akan memperkaya identitas nasional.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/darmono-s-hubojo-jalan-perkembangan-sandiwara-di-indonesia/

Leo Soekarno Kristi: Singa Bermata Elang+++++++++++++Penulis: -Media: EDITORTahun: 1990, 24 NovemberlHalaman: 39-42Ukura...
25/04/2026

Leo Soekarno Kristi: Singa Bermata Elang

+++++++++++++

Penulis: -
Media: EDITOR
Tahun: 1990, 24 Novemberl
Halaman: 39-42
Ukuran: 2,20 MB

+++++++++++++

"Kalau cermin tak lagi punya arti — pecahkan berkeping-keping — kita berkaca di riak gelombang ... musik saya adalah napas saya." Leo Kristi

Kliping ini mengulas sosok Leo Soekarno Kristi atau yang lebih dikenal sebagai Leo Kristi, seorang musikus balada legendaris Indonesia yang dikenal dengan idealisme dan gaya hidupnya yang sederhana. Leo digambarkan sebagai seniman yang tidak mau berkompromi dengan industri musik populer. Ia memiliki konsep musik "Konser Rakyat" yang lahir dari pengembaraannya ke desa-desa hingga gedung pencakar langit. Musiknya adalah campuran antara nada diatonis dan pentatonis yang ia sebut sebagai Diapenta, sebuah harmoni yang membawa pesan optimisme, kritik sosial, sekaligus cinta yang mendalam.

Lahir di Surabaya, bakat musik Leo sudah terlihat sejak kecil melalui paduan suara gereja dan pengaruh orang tuanya. Meski sempat mengenyam pendidikan Arsitektur di ITS, ia memilih meninggalkan bangku kuliah demi musik. Perjalanan kariernya diwarnai dengan kolaborasi bersama tokoh-tokoh besar seperti Gombloh dan Franky Sahilata. Leo dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, tidak memilih-milih teman, namun sangat keras kepala dalam mempertahankan prinsip bermusiknya. Baginya, musik bukan sekadar hiburan, melainkan napas kehidupan.

Selain di dunia musik, artikel ini juga menyoroti peran Leo sebagai aktor saat memerankan tokoh pahlawan B**g Tomo dalam film Soerabaia '45. Sutradara Imam Tantowi memilihnya karena "tatapan matanya yang cerdas dan sakti," yang dianggap sangat mirip dengan sang orator. Meski merambah dunia akting dan seni lukis, jati diri Leo tetaplah seorang musikus rakyat yang terus mencari inspirasi dari realitas kehidupan masyarakat kelas bawah.

NARASUMBER

Leo Soekarno Kristi: Subjek utama yang diwawancarai mengenai perjalanan hidup, filosofi musik, dan pengalamannya berakting.

Imam Tantowi: Sutradara film Soerabaia '45 yang memberikan testimoni mengenai alasan pemilihan Leo Kristi sebagai pemeran B**g Tomo dan karakter Leo selama syuting.

Mung Siwiana (30 tahun): Pemain bas dalam kelompok musik Leo Kristi yang memberikan kesaksian mengenai watak Leo yang disiplin, teguh pada pendirian, namun mau menerima saran.

Cecilia (16 tahun): Pendamping vokal kelompok Leo Kristi yang memberikan kesan mengenai kepribadian Leo yang humoris dan sabar.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/leo-soekarno-kristi-singa-bermata-elang/

Fenomena Pesantren Kota++++++++++++++++Penulis: Masduki Baidlawi, Musthafa HelmyMedia: TIRASTahun: 1995, 26 Oktober, No....
25/04/2026

Fenomena Pesantren Kota

++++++++++++++++

Penulis: Masduki Baidlawi, Musthafa Helmy
Media: TIRAS
Tahun: 1995, 26 Oktober, No.39, Thn.1
Halaman: A-H
Ukuran: 7,30 MB

++++++++++++++++

"Pesantren kota dianggap mampu memberikan tawaran alternatif kultural terhadap masyarakat sekelilingnya yang sudah dijangkiti kegelisahan mengenai berbagai ancaman negatif budaya global."

"Dulu, kiai berfungsi efektif sebagai makelar budaya... Namun, bila fungsi penyaring informasi itu hilang, maka perannya hanya akan menjadi alat justifikasi politik."

Laporan ini mengulas transformasi pendidikan Islam di Jakarta, yang secara historis tidak mengenal tradisi pesantren karena masyarakat Betawi lebih akrab dengan institusi "langgar". Namun, seiring pesatnya urbanisasi dan modernitas, muncul fenomena "Pesantren Kota" seperti Asshiddiqiyah, Darunnajah, dan As-Syafi'iyah sebagai jawaban atas kegelisahan masyarakat urban terhadap dampak negatif budaya global.

Pesantren kota hadir sebagai "alternatif kultural" bagi orang tua yang sibuk namun khawatir akan ancaman materialisme dan kenakalan remaja (tawuran). Institusi ini melakukan adaptasi dengan memadukan kurikulum salaf dan modern, bahkan merambah ke pendidikan kejuruan dan politeknik. Sosok K.H. Noer Muhammad Iskandar (Asshiddiqiyah) menjadi representasi utama "Ulama Megapolitan" yang urban; ia mampu bergaul dengan kalangan istana, pengusaha, hingga budayawan kritis seperti Rendra dan Emha Ainun Nadjib.

Namun, pengamat seperti Masdar F. Mas'udi mengingatkan bahwa keberhasilan pesantren kota juga didorong oleh psikologi masyarakat urban yang masih memiliki ikatan emosional dengan tata nilai desa.

Di sisi lain, Emha Ainun Nadjib melihat pesantren sebagai tempat "rekreasi spiritual" bagi warga kota yang jenuh dengan rutinitas duniawi. Meski begitu, terdapat tantangan politis di mana figur ulama populer sering kali dijadikan alat justifikasi bagi kelompok elite politik, yang menurut perspektif Clifford Geertz, menggeser peran kiai sebagai "makelar budaya" menjadi sekadar instrumen kekuasaan. Secara historis, akar pendidikan ini tetap berpijak pada tradisi "lekar-lekar langgar" dan guru-guru legendaris Betawi yang kini telah bermetamorfosis menjadi institusi pendidikan modern yang masif.

NARASUMBER

K.H. Noer Muhammad Iskandar, S.Q.: Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.

Masdar F. Mas'udi: Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun): Budayawan.
Drs. Ridwan Saidi: Pengamat budaya Betawi dan mantan politikus.

Dra. Hj. Tooti Alawiyah: Pimpinan As-Syafi'iyah.

H.M. Tamsur Marse: Direktur Pesantren Pertanian Darul Fallah, Bogor.

Ir. H.M. Zahri Syatriti Ahmad: Salah satu pimpinan Perguruan Attahiriyah.

DAFTAR ISI KLIPING

A:Fenomena Pesantren Kota. Pengantar mengenai kemunculan pesantren-pesantren besar di tengah megapolitan Jakarta yang dulu hanya mengenal langgar.

B - C: Pesantren Kota Sebagai Alternatif. Menjelaskan peran pesantren sebagai solusi bagi masyarakat urban untuk membentengi anak-anak dari dampak negatif modernitas.

D: Kegugupan Transformasi Diri. Analisis Budayawan Emha Ainun Nadjib mengenai peran pesantren sebagai tempat rekreasi spiritual dan tantangan globalisasi.

E - F: Mencari Figur Ulama Megapolitan. Profil K.H. Noer Muhammad Iskandar sebagai sosok ulama urban yang memiliki jaringan luas dari istana hingga kalangan budayawan.

G - H: Tumbuh dari Lekar-Lekar Langgar. Tinjauan historis mengenai silsilah guru-guru besar di Betawi dan evolusi pendidikan Islam dari sistem langgar ke sistem madrasah dan pesantren.

CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/fenomena-pesantren-kota/

Buku-Buku Emha Ainun Nadjib: Orang Jawa Mengkritik Politik Jawa+++++++++++++++++++Penulis: Idrus F. ShahabMedia: TIRASTa...
24/04/2026

Buku-Buku Emha Ainun Nadjib: Orang Jawa Mengkritik Politik Jawa

+++++++++++++++++++

Penulis: Idrus F. Shahab
Media: TIRAS
Tahun: 1995, 26 Oktober, No.39, Thn.1
Halaman: 80
Ukuran: 1,58 MB

+++++++++++++++++++

"Terkadang, mata seorang budayawan bisa memandang lebih tajam daripada ilmuwan politik."

Kliping yang ditulis oleh Idrus F. Shahab ini mengulas fenomena di mana budayawan sering kali memiliki ketajaman analisis politik yang melampaui para ilmuwan politik akademis. Ketajaman ini dibahas melalui tinjauan atas dua buku karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang terbit pada masa itu: Opini Plesetan (Oples) dan Gelandangan di Kampung Sendiri. Cak Nun dipandang sebagai prototipe budayawan yang mampu mengartikulasikan peristiwa politik mutakhir dengan bahasa yang lebih fasih dan merdeka dibandingkan disiplin sains murni yang sering kali terasa "tumpul" saat berhadapan dengan realitas lapangan.

Cak Nun menggunakan metafora, parodi, hingga mitologi rakyat untuk membedah kekuasaan. Salah satu contoh yang disorot adalah esai "Politik Islam: Politik Batu Hitam" dalam buku Oples.
Di sana, Cak Nun menghidupkan kembali narasi Mpu Gandring dan Ken Arok sebagai cermin politik kontemporer. Mpu Gandring, yang semula penasihat spiritual, justru tewas di tangan Ken Arok sebagai tumbal ambisi kekuasaan. Ken Arok sendiri digambarkan sebagai politikus pragmatis yang menghalalkan segala cara—termasuk membunuh Tunggul Ametung—untuk mencapai puncak kejayaan.

Gaya penulisan ini memancing pembaca untuk "membaca di antara baris" (read between the lines) dan menebak-nebak siapa sosok Ken Arok modern dalam peta politik Indonesia saat itu.

Kritik ala budayawan Jawa ini memiliki format yang unik: keras namun lentur karena sering dilancarkan secara anonim tanpa menyebut aktor politik secara langsung. Meskipun dalam Gelandangan di Kampung Sendiri Cak Nun sempat menyebut nama tokoh seperti Gus Dur dan Soedomo, inti kekuatannya terletak pada kemampuannya menyentuh aspek psikologis dan kultural masyarakat.

Kliping resensi buku ini menyimpulkan bahwa kemunculan karya-karya semacam ini merupakan konsekuensi logis dari kondisi masyarakat Indonesia yang sedang dalam masa transisi; "setengah tubuhnya masih berada dalam nilai-nilai agraris, sedangkan setengah lainnya telanjur basah di alam nilai industri modern." Kerancuan kultural inilah yang justru melahirkan kritik-kritik tajam yang dibungkus dalam bentuk tragedi maupun komedi.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/buku-buku-emha-ainun-nadjib-orang-jawa-mengkritik-politik-jawa/

Ketegangan di Timor Timur: Dari Dili Menuju Vatikan++++++++++++++++Penulis: M. Fdhilah ZaidieMedia: TIRASTahun: 1995, 26...
24/04/2026

Ketegangan di Timor Timur: Dari Dili Menuju Vatikan

++++++++++++++++

Penulis: M. Fdhilah Zaidie
Media: TIRAS
Tahun: 1995, 26 Oktober, No.39, Thn.1
Halaman: 71
Ukuran: 1,58 MB

++++++++++++++++

"Persoalan Timtim sesungguhnya tidak semata persoalan agama, tapi juga persoalan sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya." — Dr. Nurcholish Madjid

"Memang ada informasi-informasi yang ingin menambah suasana jadi kacau. Mereka biasanya mengaitkan dengan isu SARA, dan bentrokan dengan aparat." — Brigjen (TNI) Suwarno Adiwijoyo

Kliping ini menyoroti situasi keamanan yang mencekam di Dili, Timor Timur (saat itu provinsi ke-27 Indonesia), yang digambarkan menyerupai ketegangan di daerah Bronx, New York. Sepanjang pekan di awal Oktober 1995, kerusuhan pecah yang melibatkan pembakaran di jalanan, bentrokan antarkelompok pemuda, hingga jatuhnya korban jiwa dan luka-luka. Pemicu fisik kerusuhan bermula dari penus**an seorang warga bernama Salamao da Costa Soares, yang kemudian meluas menjadi konflik antarkampung (Caicoli dan Matadouro) serta melibatkan isu SARA.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Agama Dr. Tarmizi Taher memimpin delegasi berjumlah 20 orang menuju Vatikan pada 26 Oktober 1995. Meski muncul spekulasi bahwa kunjungan ini bertujuan membahas status keuskupan Timor Timur dengan Paus Johannes Paulus II, Tarmizi Taher membantah hal tersebut. Ia menegaskan bahwa agenda utamanya adalah kunjungan balasan dan memaparkan keberhasilan toleransi antaragama di Indonesia, bukan untuk mendiskusikan eksistensi Uskup Belo.

Analisis dari tokoh cendekiawan Nurcholish Madjid (Cak Nur) memberikan perspektif lebih dalam, bahwa persoalan di Timor Timur bukan sekadar masalah agama, melainkan akumulasi masalah sosial, ekonomi, dan politik. Dominasi gereja yang sangat kuat di masa Portugis mengalami pergeseran posisi setelah integrasi, menciptakan dinamika tarik-menarik kepentingan antara pemerintah dan peran Uskup Belo sebagai tokoh agama.

Kliping ini menyimpulkan adanya ketegangan laten di mana pemerintah ingin "memanfaatkan" Belo untuk mengatur stabilitas, sementara di sisi lain posisi tersebut juga digunakan untuk kepentingan politik lokal.

NARASUMBER

Dr. Tarmizi Taher: Menteri Agama Republik Indonesia saat itu.

Manuel Carrascalao: Anggota DPRD Timor Timur (adik kandung mantan Gubernur Mario Carrascalao).

Brigjen (TNI) Suwarno Adiwijoyo: Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI.

Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur): Cendekiawan Muslim.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

https://warungarsip.co/produk/kliping/ketegangan-di-timor-timur-dari-dili-menuju-vatikan/

Address

Sewon

Opening Hours

Tuesday 13:00 - 22:00
Wednesday 13:00 - 22:00
Thursday 13:00 - 22:00
Friday 13:00 - 22:00
Saturday 13:00 - 22:00
Sunday 13:00 - 22:00

Telephone

0878 39137 459

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Warung Arsip posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Warung Arsip:

Share