02/02/2026
Dalam diam yang bergema ini, di bawah pencahayaan yang seperti restu dari langit, aku menyadari: rumah yang kubangun dari tanah liat ini mungkin rapuh. Ia bisa retak, bisa hancur. Tapi proses membangunnya, saat cahaya menyentuh tanah basah dan mengubahnya menjadi emas, saat kenangan buram berpadu dengan tekad yang jelas—itulah yang mengubahnya dari sekadar metafora menjadi sebuah ikrar. Dan di ruang ini, dengan tangan penuh tanah dan hati penuh gambar buram, aku adalah sang pencipta, sang pejuang, sang Ibu. Monumen ini, yang lahir dari tanah dan air, akan kujadikan istana.