05/09/2026
Kutipan tentang kemunafikan manusia Indonesia sangat lekat dengan pandangan Mochtar Lubis, terutama dari ceramah terkenalnya “Manusia Indonesia” pada tahun 1977. Dalam konteks Orde Baru yang represif, Mochtar Lubis melihat bagaimana tekanan politik, budaya feodal, dan ketakutan sosial membentuk manusia yang terbiasa menyembunyikan isi hati demi keselamatan dan kenyamanan.
Topeng yang Kita Warisi
Sudah terlalu lama manusia Indonesia hidup dalam ketakutan. Ketakutan kepada kekuasaan, kepada atasan, kepada tradisi, bahkan kepada sesamanya sendiri. Dari ketakutan itu lahirlah kebiasaan memakai topeng. Orang berkata lain di depan, lain di belakang. Memuji ketika takut, mencaci ketika aman. Kita tersenyum bukan karena hormat, melainkan karena cemas akan akibat jika berkata jujur.
Inilah kemunafikan yang dimaksud Mochtar Lubis: bukan semata cacat moral pribadi, tetapi penyakit sosial yang dipelihara oleh sistem.
Dalam masyarakat yang menekan, kejujuran sering menjadi barang mahal. Orang yang terus terang dianggap berbahaya. Pegawai yang kritis dicap pembangkang. Mahasiswa yang bertanya dicurigai. Wartawan yang jujur dibungkam. Maka manusia belajar satu hal penting untuk bertahan hidup: menyimpan isi pikirannya sendiri.
Lama-kelamaan topeng itu tidak lagi terasa asing. Ia menjadi kebiasaan.
Kita melihatnya di mana-mana. Pejabat berbicara tentang kesederhanaan sambil mempertontonkan kemewahan. Orang mengecam korupsi sambil mencari “jalan belakang” ketika punya urusan. Di media sosial, banyak orang tampak saleh, bijak, dan nasionalis, tetapi pada saat yang sama gemar menyebarkan kebencian dan kebohongan. Moral berubah menjadi pertunjukan.
Yang lebih berbahaya, kemunafikan akhirnya diwariskan sebagai kecerdikan. Anak-anak diajari untuk “pandai membawa diri”, yang sering berarti pandai menyenangkan semua orang tanpa perlu mengatakan kebenaran. Kita memuji kepintaran beradaptasi, tetapi lupa bertanya: beradaptasi dengan apa? Dengan ketidakjujuran? Dengan ketakutan?
Padahal bangsa yang sehat berdiri di atas keberanian moral. Keberanian untuk mengatakan tidak ketika semua orang memilih diam. Keberanian untuk jujur meskipun merugikan diri sendiri. Tetapi keberanian semacam itu sulit tumbuh jika sistem terus menghukum keterbukaan dan memberi hadiah kepada kepura-puraan.
Karena itu, kemunafikan manusia Indonesia tidak bisa diselesaikan hanya dengan ceramah moral. Ia harus dimulai dengan membangun masyarakat yang tidak membuat orang takut menjadi dirinya sendiri.
Sebab selama manusia dipaksa hidup dengan topeng, kebenaran akan selalu berbisik pelan di belakang pintu, sementara kepalsuan berbicara lantang di panggung utama.
Salam Kato