04/12/2025
EPILOG: CALLEJON
Ketika saya berusia tujuh tahun, lapangan impian saya adalah gang sempit di belakang rumah kami di kawasan La Comercial di Montevideo. Di ujung jalan tumbuhlah sebatang pohon lemon yang ditanam oleh nenek saya bertahun-tahun sebelum kami pindah ke rumah kecil miliknya yang terdiri dari satu lantai sementara kedua orangtua saya mencari kerja di kota. Di ujung satunya lagi berdirilah tembok tinggi abu-abu, kawat berduri, dan menara pengawas penjara perempuan. Diapit oleh panti asuhan milik penjara dan deretan toko serta bengkel di samping rumah kami, tersempil sebuah jalan berkerikil yang kami jadikan lapangan ala kadarnya.
Callejón, begitu kami menyebutnya, cukup lebar untuk menampung permainan kami meski terlampau sempit sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. Jauh dari kep**an asap knalpot dan keriuhan bus serta mobil yang mendesing di Bulevar Artigas, tempat itu bukanlah lapangan terbuka seperti di Salto, yang menjadi rumah kami sampai saya berumur enam tahun, tapi tempat itulah suaka kami di tengah hiruk pikuk Montevideo. Ada orang lain yang juga gemar berlalu lalang di sini. Selepas gelap, orang-orang yang melintas datang untuk membeli g***a atau kokain; untuk mengelem atau mabuk-mabukan. Celaka kalau sampai kita keluyuran ke tempat semacam itu tanpa sengaja, tapi jalan itu secara harfiah adalah halaman belakang rumah saya dan di sanalah saya berada siang-malam, bermain sepak bola.
Semakin bertambah usia saya, semakin saya menyadari maraknya penggunaan obat-obatan dan alkohol. Bau g***a kerap menguar dari segerombolan orang yang datang untuk mengunjungi penjara. Banyak yang berusaha menyelundupkan narkoba, sebagian malah coba-coba mengeluarkan narapidana-dalam kurun beberapa tahun, sempat terjadi sejumlah upaya pelarian. Segelintir malah berhasil kabur.
Kakak laki-laki saya Paolo, yang enam tahun lebih tua daripada saya, bermain di callejón bersama teman-temannya dan saya ikut-ikutan. Tidak tersedia ruang yang luas dan saya termasuk yang paling kecil. Teman-teman kakak saya semula menjaga jarak ketika melihat betapa kecilnya saya, tapi begitu mereka menyadari bahwa saya lihai dan tak kenal takut, mereka urung menahan diri. Mereka terkejut melihat kepiawaian saya membawa diri-dada dibusungkan, kepala ditundukkan, menabrak anak-anak lelaki yang lebih tua, terpental dari dinding, tapi tidak pernah terintimidasi dan selalu memakukan pandang ke bola, bertarung, berjuang untuk menguasai barang sejengkal wilayah.
Jika jumlah pemain mencukupi, kami bermain memanjang, dari pohon lemon sampai tembok penjara, bola akan senantiasa dipentalkan ke area pertandingan oleh teralis bengkel dan kawat berduri panti asuhan. Jika jumlah kami sedikit, kami bermain melebar, menendang bola ke dinding sarat grafiti yang digambari bentuk gawang dengan cat semprot.
Saya kangen bermain sepak bola di rumput hijau Salto, tempat saya tinggal di Paraguay Street dan pintu depan rumah semua orang dibiarkan terbuka dan kita bermain dengan teman-teman di udara segar tiap hari. Salto ibarat desa dibandingkan dengan Montevideo. Semua orang saling kenal. Saya mulai bermain Baby Fútbol sewaktu berusia empat tahun untuk tim bernama Deportivo Artigas, yang dilatih oleh paman, saudara ayah saya. Lapangan permainan terletak di pangkalan militer tempat ayah saya pernah sebentar mengabdi sebagai prajurit dan beliau bermain juga di tim sepak bola tentara. Beliau bek kiri keras yang sering menendang lawan tapi juga piawai menendang bola dengan kaki kiri. Ketika keluarga saya terpaksa pindah ke Montevideo karena ayah saya mesti mencari kerja, orangtua saya pergi dengan saudara-saudari saya dan saya tinggal bersama kakek-nenek karena paman ingin saya bermain dalam turnamen. Alasan itu sempurna. Lagi p**a, saya tidak ingin meninggalkan kampung halaman. Saya s**a sekali bermain sepak bola bersama teman-teman. Selama beberapa waktu, saya menolak meninggalkan Salto. Saya sudah menjadi pemberontak pada usia enam tahun. Ketika akhirnya pergi, saya membawa serta nama kota itu saya masih dipanggil "El Salta" oleh banyak teman lama saya.
Berpindah dari lapangan terbuka ke gang ternyata berat dan tantangan itu menjadikan saya tangguh. Saya terkadang menangis sep**ang bermain, kaki saya lecet dan babak belur gara-gara menggunakan sandal murahan sebab saya hanya memiliki sepasang sepatu untuk dipakai ke sekolah.
Di seberang jalan dari kawasan tempat rumah lama kami berdiri dan tempat kami bermain, terletaklah blok tempat "El Jefe Negro" Obdulio Varela dulu tinggal. "Bos Hitam" adalah kapten tim yang memimpin negara kami meraih prestasi terbaik, menjuarai Piala Dunia 1950 di Maracanā. Bukan berarti saya menyadari hal tersebut semasa kanak-kanak-pada masa ketika saya bolak-balik di gang, panutan saya adalah pemain-pemain yang lebih kontemporer.
Kami kerap bermain sambil menyerocos seperti komentator: "Francescoli membawa bola, dioper kepada Ruben Sosa dan kembali lagi ke Francescoli." Sepatu sepak bola betulan pertama yang saya miliki adalah Adidas Francescoli-hadiah ulang tahun dari ibu saya pada 1997 ketika Francescoli baru pensiun dan saya menginjak usia sepuluh tahun. Tiap kali mencetak gol saya teriakkan nama idola dan pemain sepak bola pertama yang betul-betul menjadi panutan saya, pemain depan Argentina, Gabriel Batistuta. "Bat-is-tuuuuut-a!"
Ketika tidak bisa bermain di callejón, kami bermain di dalam ruangan. Jika kami disuruh masuk kamar, seharusnya kami mematikan lampu dan tidur, tapi kami malah membuat bola dari gumpalan kertas koran yang dimasukkan ke kaus kaki dan kami kemudian berlatih melakukan voli akrobatik atau menyundul sambil terjun ke kasur. Hasrat untuk bermain sepak bola, apa pun rintangannya, tidak dapat terpuaskan.
Kami juga bermain Subbuteo alias sepak bola papan dengan tutup botol berwarna-warni sesuai warna tim, sedangkan gawangnya adalah kotak sepatu bekas. Jika ibu kami membuang mainan tersebut karena kami nakal, kami akan berimprovisasi lagi; kali ini dengan pemain dari kardus yang dilipat dan bola dari kancing.
Jika sedang tidak bermain atau berimprovisasi, kami menonton sepak bola. Final Piala Dunia 1994 adalah yang pertama yang saya ingat, menghadapkan Italia dengan Brazil dan ditutup oleh penalti Roberto Baggio yang gagal. Saya mengingat Romário dan Bebeto dengan perayaan "membuai bayi" yang terkenal. Pada 1997 Uruguay tampil melawan Argentina di final Piala Dunia U-20 yang digelar di Malaysia. Kami luar biasa bangga karena Uruguay lolos ke final, sekalipun hanya di gelaran U-20, dan kami sudah melek pukul lima pagi untuk menonton Fabián Coelho, César Pellegrin, Marcelo Zalayeta, dan Nicolás Olivera bermain di final melawan Argentina. Saya tidak pernah kesulitan memahami antusiasme para penggemar terhadap olahraga ini karena saya tinggal memutar jam ke belakang untuk mengenang masa-masa itu dan membanjir kembalilah semua perasaan yang pernah menghinggapi saya.
Kepindahan dari Salto tidak melulu jelek. Di tiap daerah Montevideo terdapat klub dan klub saya adalah Nacional. Dua klub tersukses di Uruguay-tim yang mendominasi persepakbolaan di sana-adalah Nacional dan Peñarol, sedangkan keluarga kami terbelah dalam memberikan dukungan. Konon katanya Peñarol adalah klub pekerja kereta api dan dan Nacional tim kaum elite, tapi menurut saya tidak demikian. Yang benar adalah Nacional merupakan tim terbesar, sekalipun adik laki-laki saya Maxi tidak setuju. Dia mendukung Peñarol. Maxi setahun lebih muda daripada saya dan kami tidak terpisahkan. Kami adu mulut gara-gara sepak bola dari pagi hingga petang dan ibu kami yang enggan dan kewalahan mesti berperan sebagai wasit untuk menengahi pertengkaran kami. Pertarungan terbesar adalah untuk mendatangi pertandingan. Maxi ingin nonton Peñarol dan saya ingin nonton Nacional. Kami berkompromi akan ke pertandingan Peñarol hari ini dan pada hari pertandingan berikutnya ke Nacional, tapi saya tidak s**a berkompromi. Akan saya katakan: "Kenapa aku harus nonton Peñarol, padahal aku tidak mau?"
"Wah, kalau kau ingin pergi menonton Nacional, kau harus ikut adikmu untuk menonton Peñarol dulu."
Kapan pun saya mendatangi pertandingan Peñarol, saya diam saja. Saya duga orang-orang bahkan tidak membayangkan bahwa saya hadir sebagai penggemar Nacional yang semata-mata menemani adiknya, sekalipun kadang-kadang mereka bisa menebak. Saya ingat ketika Peñarol melawan Racing di pertandingan Copa Libertadores yang digelar di Stadion Centenario. Di dalam mangkuk beton besar yang sempat menjadi saksi final Piala Dunia 1930, saya berusaha sebaik-baiknya untuk bersembunyi, tapi hati saya tersiksa gara-gara dikelilingi oleh suporter Peñarol. Saya menghadiri pertandingan semata-mata agar boleh ke pertandingan Nacional yang berikut.
Yang tidak saya sadari sampai masuk ke stadion adalah saya mengenakan kaus kaki Nacional.
Peñarol mencetak gol dan saya diapit oleh anak gemuk besar di satu sisi dan adik serta ibu saya di sisi lain. Ibu saya pendukung Peñarol juga. Saat Peñarol memasukkan gol, semua orang melompat-lompat kegirangan sambil menyanyi-nyanyi, kecuali saya. Si gemuk di sebelah saya berkata: "Kenapa kau tidak ikut merayakan? Peñarol unggul." Maka saya mulai melompat-lompat sedikit, sedangkan adik saya berusaha menahan tawa karena tahu persis bahwa saya sama sekali tidak ingin merayakan kemenangan Peñarol di Copa Libertadores, terutama karena kaus kaki Nacional saya sekarang kelihatan jelas. Rasanya bagai di neraka.
Ceritanya sama juga ketika kami minta menjadi maskot dan ibu saya memberi tahu kami: "Oke, tidak masalah kalian berdua boleh menjadi maskot, tapi kalian kakak-adik harus bersama-sama, minggu ini menjadi maskot di Peñarol dan minggu depan di Nacional."
Baju tim junior Urreta milik saya bergaris-garis kuning-hitam, agak mirip dengan seragam Peñarol, maka saya kenakan baju itu supaya tidak perlu berseragam Peñarol. Satu-satunya seragam yang saya ingin kenakan adalah biru-putih Nacional.
Mungkin yang lebih tersiksa justru adalah adik saya karena belakangan kami sama-sama masuk ke sistem pembinaan usia dini Nacional. Saya malah memprovokasinya lebih daripada dia menggoda saya. Dalam perjalanan ke sekolah, saya suatu kali menemukan bendera Nacional di taman dan saya persembahkan bendera itu kepada adik saya di lapangan bermain, di hadapan semua temannya. Dia berusaha sebaik-baiknya untuk menegaskan bahwa dia mendukung Peñarol seratus persen, tapi lagak itu mustahil dipertahankan begitu tersiar kabar bahwa dia bermain di tim seteru.
Pada hari-hari clasico, seorang dari kami menangis sementara yang seorang lagi berteriak ke telinganya tiap kali terjadi gol. Dan jika tim yang didukung kalah, siap-siap saja untuk diejek tak henti-henti. Ayah saya Rodolfo mendukung Nacional dan begitu p**a dengan kakak saya Paolo. Saudari saya Giovana mendukung Nacional dan saudari lain, Leticia, mendukung Peñarol. Jadi, dalam keluarga kami terdapat empat pendukung Nacional dan tiga pendukung Peñarol. Adik bungsu saya Diego dibujuk rayu dan didesak-desak oleh kedua kubu, tapi kami selalu menang dan dia akhirnya mendukung Nacional juga. Maxi dan saya tidak selalu berdiri di pihak berseberangan. Paman saya memasukkan saya ke Urreta ketika saya tujuh tahun dan Maxi bergabung ketika usianya enam tahun. Faktor utama penyumbang kesuksesan sepak bola Uruguay adalah Baby Fútbol-liga sepak bola enam lawan enam teramat kompetitif yang diikuti oleh anak laki-laki berusia lima sampai tiga belas tahun, di lapangan berukuran sepertiga dari lapangan sepak bola biasa. Sekilas pandang, model pembinaan usia dini tersebut mirip dengan yang diterapkan di seluruh dunia, tapi di Eropa anak-anak usia itu tidak dianjurkan untuk melakukan kontak fisik. Baby Fútbol di Uruguay jelas berbeda. Permainan berlangsung agresif dan kontak fisik sudah biasa, sedangkan orangtua dan pelatih menyikapinya dengan sangat serius sampai-sampai sebagian ibu dan ayah melarang anak mereka berpartisipasi karena meyakini olahraga tersebut tidak lagi menyenangkan saking intensnya. Sebagian bahkan menganggapnya berbahaya. Baby Fútbol menanamkan semangat kompetitif yang menggebu-gebu sejak usia dini dan menggarisbawahi pelajaran yang sudah saya petik dari jalanan-bahwa kita harus bermain untuk menang, apa pun taruhannya.
Lapangan latihan Urreta yang berpagar dan satu sisinya bertribun kecil tiga tingkat sekarang berumput hijau subur, tapi dahulu saya dan adik menghabiskan petang dengan menggelongsor di lapangan berkerikil tak kenal ampun. Waktu tempuhnya sepuluh menit dengan bus, tapi kami lebih sering tidak punya uang untuk ongkos bus, maka kami biasanya jalan kaki setengah jam ke sana.
Saya masih ingat betapa kami berdampingan untuk menuju ke kompleks Urreta, berzigzag di jalanan Montevideo di tengah kegelapan dan hawa dingin, jalan kaki lima belas blok untuk latihan. Ketika saya lulus dari level U-9 di Urreta, ayah rekan setim saya Martín Pírez mengajak saya bergabung dengan tim junior di Nacional. Urreta tidak memperbolehkan saya pindah; inilah kali pertama saya menjadi bahan rebutan.
Tarik-tarikan ini sebenarnya konyol. Urreta tidak memiliki klaim atas seorang penyerang belia. Mereka adalah tim lokal, sedangkan klub terbesar di Uguruay-klub saya-sudah memanggil. Kesempatan tersebut harus saya ambil. Namun, Urreta bersikukuh tidak mau melepas saya. Percakapan terakhir berlangsung kira-kira seperti ini:
"Terserah, saya tetap saja akan pindah."
"Wah, kalau begitu, kembalikan perlengkapan kami."
"Tentu saja perlengkapan kalian akan dikembalikan, tapi saya akan tetap ke Nacional."
Adik saya ikut dan sejak saat itu, jalan kaki tiga puluh menit ke Urreta menjadi empat puluh menit naik bus untuk berlatih di klub juara Copa Libertadores tiga kali. Latihan dimulai pukul 19.30, tapi kami baru keluar dari sekolah pukullima dan kami tahu bahwa sampai pukul enam kami masih bisa naik bus gratis asalkan berseragam sekolah. Jadi, kami datang sejam lebih awal semata-mata supaya tidak perlu membayar ongkos bus dan kemudian kami p**ang menumpang kendaraan ayah teman ketika latihan selesai pukul 21.30.
Pada saat itu, saya masih rutin p**ang ke Salto tiap musim panas untuk mengikuti turnamen di kampung halaman saya yang lama. Saya digoda gara-gara logat kota besar, sebagaimana saya digoda di Montevideo karena logat Salto ketika saya pindah pada usia enam tahun. Pulang selalu asvik, tapi saya dan yang lain mulai tersadar bahwa saya barangkali agak sedikit lebih bagus dibandingkan pemain-pemain lain yang sebaya saya ke liga sepak bola kompetitif sewaktu saya baru empat Paman saya Sergio Suárez berperan dalam mengikutsertakan tahun. Pamanlah yang mengajari saya cara menendang bola dengan benar dan memastikan agar saya bermain di pertandingan sejak usia sangat belia. Turnamen digelar tiap Desember sewaktu liburan dan sepanjang durasi tersebut saya menginap di rumah nenek. Namun, ketika berumur sebelas, saya diberi tahu bahwa saya tidak boleh bermain di turnamen musim panas. Saya sudah di Nacional ketika itu dan kami adalah juara. Saya merupakan salah seorang pemain terbaik mereka, jadi menurut panitia turnamen Salto kelewat remeh untuk saya.
Jika tidak mengikuti turnamen, berarti saya takkan ke Salto tiap tahun. Inilah sebuah penutup dalam babak kehidupan saya. Saya sedih, tapi diberi tahu bahwa saya terlalu jago untuk bermain di turnamen tersebut sekaligus memberikan dampak positif terhadap saya. Pernyataan itu adalah sebuah pertanda. Baru kali itu saya berpikir: "Mereka takut padaku. Aku ternyata pemain yang sejago itu."
Sebagai anak sebelas tahun yang bermain di Nacional, temperamen saya sudah meledak-ledak. Saya adakalanya emosi sampai-sampai menangis jika tidak mencetak gol. Kadang-kadang saya urung mengoper bola di pertandingan karena rekan setim sudah memasukkan gol dan saya belum. Saya tumbuh besar di lingkungan tempat kita tidak bisa mendapatkan apa pun secara cuma-cuma. Jika kita menginginkan sesuatu, kita harus merebutnya. Sebagai negara, Uruguay memiliki kaum sangat papa; kaum miskin yang setidak-tidaknya mempunyai pekerjaan dan bisa membanting tulang demi menafkahi diri; kaum pekerja, dan kaum kaya. Saya tumbuh besar di golongan kedua. Orangtua dan saudara-saudari saya membuat dan menjual apa saja yang kami bisa untuk mendapatkan nafkah dan menyambung hidup. Hidup kami tidak pernah mudah. Saya sudah sejak kecil sekali belajar bahwa kerja keras itu bernilai dan bahwa kita wajib berjuang jika ingin maju. Kita harus menyambar kesempatan apa saja, tidak peduli sekecil apa pun, berjuang mati-matian untuk mempertahankannya begitu kesempatan tersebut kita dapat.
Selain kerja keras, fokus juga perlu-tekad untuk meraih tujuan, yang sudah saya miliki sejak awal dan yang membantu saya sepanjang perjalanan. Kita harus tangguh secara mental. Bakat saja tidak cukup.
Maxi adalah pemain yang lebih baik daripada saya. Dia bermain di kelompok usia saya, padahal usianya setahun lebih muda. Dia secara teknis berbakat. Namun, dia salah pergaulan. Saya bisa bertahan di jalur yang benar dan dia menyimpang ke arah lain. Kami mengalami masa-masa sulit selepas orangtua kami berpisah. Kakak sulung saya, yang belakangan berkarier sebagai pemain di El Salvador dan Guatemala, sudah meninggalkan rumah dan tinggal dengan pasangannya dan kami anak-anak kecil mendapat kesan bahwa keluarga kami tercerai-berai. Kami lumayan sering berpindah-pindah rumah-semua di lingkungan yang sama-dan tidak ada stabilitas. Kami adakalanya menghabiskan waktu dengan satu orangtua, lalu pindah untuk tinggal dengan yang lain.
Saya tidak pernah berkesempatan untuk duduk dan berbincang dengan orangtua saya dan mendapat wejangan seperti: "Dengar, Nak, ketika besar nanti, pastikan agar kau bersyukur atas anugerah yang kau miliki"; "Bersikaplah begini"; atau "Jangan pernah melupakan asal-usulmu."
Mereka berpisah, kami kakak-beradik banyak, sebagian dari kami meninggalkan rumah, ibu saya bekerja seharian, ayah saya bekerja, maka sulit untuk mendapatkan nasihat dari mereka mengenai kehidupan, cara bersikap saat kita mesti cepat dewasa, dan cara untuk bertindak-tanduk ketika sudah berhasil. Saya akan senang sekali apabila diajak bicara seperti itu semasa kanak-kanak. Sayangnya tidak pernah, tapi sebagian sebabnya karena watak saya sendiri. Seingat saya, saudara-saudari saya, atau paling tidak sebagian dari mereka, pernah dinasihati seperti itu. Namun, saya pribadi lebih s**a menjaga diri sendiri. Dan ketika saya nyaris terjerumus, Sofi hadir untuk mengingatkan saya.
Saya sempat tersendat di Nacional, tapi saya bermain terus sepanjang usia remaja dan secara bertahap menapaki tangga karier sebagai pemain. Maxi mentok. Dia tidak berkembang karena salah pergaulan. Dia tahu, dan seluruh keluarga kami tahu, bahwa dia lebih jago daripada saya. Jika dia lebih menjaga fokus dan lebih bersungguh-sungguh, dia pasti berkembang terus. Namun, dia justru lebih s**a ke disko atau dia adakalanya menghilang beberapa hari dengan teman padahal usianya baru empat belas.
Sebagai kakak, saya selalu berusaha membantu, mengajaknya bicara, tapi kami berdua masih kanak-kanak. Saya bisa bicara sampai berbusa-busa dan dia tetap saja akan berkegiatan sama seperti semua temannya, bukan menuruti kata kakaknya. Bukan berarti hidupnya pernah nyaris berantakan, tapi dia memang telah mencederai potensi untuk meraih karier gemilang. Dia tahu kita harus bekerja keras seperti apa supaya bisa maju pesat. Dia mengetahui perjuangan saya sehingga berhasil. Menurut saya, dia bangga akan capaian saya karena dia tahu sesusah apa hidup kami berdua dulu dan ketangguhan seperti apa yang kadang-kadang kita butuhkan.
Anda bisa saja mengatakan bahwa untuk ukuran "lelaki tangguh, saya sering sekali menangis sepanjang karier. Saya tidak malu mengakuinya-saya banyak menangis. Saya sudah begitu semasa kecil dan saya belum berubah. Saya tipe orang yang meninggalkan lapangan sambil bersimbah air mata ketika tahu peluang menjuarai liga telah kandas; tipe yang menangis ketika tercabik-cabik kebimbangan karena mengatakan ingin pindah klub tapi sekarang meyakini bahwa kepindahan akan semakin menyusahkan diri sendiri dan keluarga; pria yang menangis ketika harus bangun pukul setengah delapan pagi untuk berangkat ke hotel dan duduk sambil mendengar pengacara membahas putusan yang terkesan tak terelakkan dan akan menodai reputasinya seumur hidup.
Saya menangis sewaktu para pendukung Ajax mengucapkan selamat tinggal kepada saya. Dan saya sungguh tidak mengerti bisa-bisanya Jamie Carragher tidak menangis ketika dia melambaikan salam perpisahan di Anfield untuk kali terakhir sebagai pemain. Ayolah, menangislah-keluarkan air mata barang setetes. Saya menangis selama kira-kira sepuluh atau lima belas menit di Amsterdam Arena ketika mereka melepas saya, padahal saya cuma di sana tiga musim. Carragher sudah di Liverpool seumur hidup ketika dia pensiun, tapi ketika mengucap selamat tinggal, dia bahkan tidak berjengit. Mungkin acara perpisahan di lapangan harus lebih besar, dilengkapi layar-layar raksasa yang menunjukkan semua momen terbaiknya di klub. Pada hari ketika Stevie Gerrard pensiun, saya harap semoga dia dilepas dengan meriah.
Saya akan senang sekali andaikan diberi pertandingan perpisahan di Liverpool dan tidak diragukan lagi air mata saya akan bercucuran. Saya orang yang emosional. Saya orang yang sentimental sampai-sampai rela membubuhkan tato di punggung berupa lirik lagu yang dilantukan ketika Sofi dan saya menikah: "Waktu kita singkat. Inilah takdir kita, aku milikmu." Dan saya adalah pria yang rela berepot-repot mempersembahkan gol kepada orang-orang terkasih sampai-sampai perayaan menjadi jauh lebih lama daripada gol itu sendiri. Saya juga memiliki tato di kaki: Uruguay: Campeones de América beserta tanggal kemenangan kami di 2011. Saya memiliki tato nama kedua anak saya dan satu lagi yang bertuliskan "Sofi" saja.
Lelaki yang membubuhkan tato nama putra saya Benjamin juga membuat tato lirik lagu pernikahan di punggung saya. Dia penggemar berat Liverpool dan ingin saya menato dirinya. Saya katakan bahwa menurut saya, dia sinting, tapi dia berhasil menemukan sepetak kulit yang masih kosong di badannya.
"Di sini saja."
Saya kira pertama-tama kita harus menggambar garis tepinya dan kemudian baru mengisinya dengan tinta. Ternyata tidak.
"Langsung saja," katanya. Tanpa garis tepi, tanpa latihan, cuma saya, sebatang jarum, dan kulitnya. Jadi, itulah yang saya lakukan. Saya menerakan L, S, dan 7. Sofi merekam seluruh proses itu dengan ponsel dan hasilnya ternyata tidak jelek-jelek amat.
Saya akan senang sekali andaikan bisa membubuhkan tato yang mengabadikan keberhasilan Liverpool menjuarai liga pada musim 2013-2014, tapi ternyata takdir berkata lain. Saya tidak keberatan kalaupun adegan ketika saya meninggalkan Selhurst Park menjadi kesan terakhir mengenai saya di benak banyak orang. Mungkin malah lebih pas begitu karena adegan tersebut mengilustrasikan betapa berartinya gelar juara bagi saya dan sudah seberapa dekat kami dengan raihan luar biasa.
Saya tahu bahwa tidak semua orang teringat akan itu ketika memikirkan saya. Bagi mereka yang bukan penggemar Liverpool, saya juga akan dikenang karena insiden gigitan dan tuduhan Evra.
Pandangan berubah seiring berjalannya waktu dan anugerah Player of the Year dari para wartawan pada 2014 adalah hadiah istimewa dan kemudian penghargaan dari rekan-rekan seprofesi malah lebih berarti lagi. Wayne Rooney menyampaikan yang baik-baik tentang saya sebelum Piala Dunia 2014; katanya dia s**a sekali cara main saya. Opininya berarti bagi saya. Dia tahu bagaimana rasanya berada di lapangan; dia tahu betapa besar tekanan yang kami hadapi, betapa besar ekspektasi publik, dan betapa tiap gerak-gerik kami senantiasa dianalisis sampai sekecil-kecilnya. Peristiwa di Brazil lagi-lagi memengaruhi penilaian orang terhadap saya. Namun, saya pasti bisa bangkit lagi dan menunjukkan sisi baik kepada orang-orang. Itulah yang saya usahakan saat ini.
Saya rasa orang-orang menghormati saya sebagai pemain. Saya telah dikritik atas macam-macam kelakuan saya dan atas macam-macam yang tidak saya lakukan. Namun, saya selalu bangkit dari keterpurukan dan kembali bekerja, kembali melakukan pekerjaan yang saya cintai.
Saya tahu bahwa kali ini ketika kembali bekerja, saya akan tampil di hadapan 98.000 orang di Camp Nou-jauh sekali dari callejón sampai-sampai nyaris tak terbayangkan.
Oktober 2014