Pemakan BUKU

Pemakan BUKU Tempat bersenang-senang bagi penyuka bacaan

RIWAYATSEKOLAH RAKYAT PEREMPUAN KAB. SRAGEN.TAHUN: 1940-1948.Tahun 1940 Pemerintah Kolonial Belanda masih  bercokol di b...
08/12/2025

RIWAYAT

SEKOLAH RAKYAT PEREMPUAN KAB. SRAGEN.

TAHUN: 1940-1948.

Tahun 1940 Pemerintah Kolonial Belanda masih bercokol di bumi Indonesia dengan megahnya. Pada saat itu ada perintah supaya di Kabupaten Sragen didirikan sebuah sekolah yang khusus untuk anak-anak perempuan. Ibu Yetiningsih seorang uru wanita pindahan dari Klaten diberi tugas untuk mendirikan sekolah tersebut dan sekaligus sebagai Kepala Sekolah. Beliau datang seorang diri ang harus mencari murid dan segala peralatannya. Untuk mendapatkan murid sebagai modal pertama sekolah itu, beliau bekerja sama dengan Kepala-Kepala Sekolah Rakyat yang ada dalam kota (S.D. sekarang), ialah dengan mengambil/memindahkan murid-murid perempuan untuk dijadikan murid di sekollah tersebut hingga dapat mencapai murid sejumlah 45 orang anak ( k kelas) dan dimulai dengan kelas IV. Sekolah tersebut berdiri pada tgl. 1 Ag. 1940.

Ibu guru tersebut mempunyai cita-cita untuk memajukan pendidikan anak-anak perempuan, khususnya kota Sragen dimana beliau ditugaskan.

Sesuai dengan jenis muridnya yang melulu perempuan, maka sekolah tersebut dengan nama : MEISYES VERVOLG SCHOOL " dengan hanya seorang guru dan belum mempunyai gedung. Untuk dapat belajar sekolah masih harus menempati rumah perorangan ialah rumah bapak Gitoseputro di Kutorejo. Sebagai sekolah baru sudah sewajarnya kalau perjalanan hidupnya tidak semulus sekolah-sekolah yang sudah lama, baik soal gedung, soal murid maupun soal guru, dllnya. Namun berkat ketabahan, keuletan dan kegigihan ibu guru tersebut, dan karena penuh keyakinan, dilakukanlah segala daya dan upaya untuk mencapai cita-cita nya, juga demi keberhasilan tugas yang di embannya. Ibu Yeti mempunyai keyakinan, bahwa nanti bila sudah ada teman / tambahan guru lagi pasti apa yang dicita-citakan akan terlaksana. Segala hambatan, kesulitan dapat dilalui dengan segala ketabahan hati, yang akhirnya tahun ajaran pertama dapat dicapai dengan baik.

Datanglah tahun ajaran baru tahun 1941 -1942, dan bertambahlah murid lagi sejumlah 45 orang anak, sehingga yang dulu kelas IV sekarang naik menjadi kelas V. Bersamaan dengan itu datanglah seorang ibu guru ibu Soekiyati. Dengan dua orang ibu guru tersebut, ibu Yeti merasa gembira sekali, yang berarti ada teman untuk diajak bermusyawarah dan memikirkan langkah langkah apa yang harus dilaksanakan. Akhirnya ada usaha ialah setiap hari Selasa petang kedua ibu guru tersebut mengadakan kunjungan kepada orang tua murid, dengan maksud disamping memperkenalkan diri dan memperkenalkan sekolah tersebut, juga minta bantuan dan dukungan agar anak-anak mendapatkan dorongan untuk giat belajar. Usaha lain ialah mendatangi bapak Assisten Wedana ( sekarang Camat), minta agar diperbolehkan untuk ikut mendatangi rapat Desa yang diadakan, guna memberi penyuluhan tentang berdirinya sekolah itu. Berbahagialah rasanya kedua ibu guru tersebut, karena permintaannya dikabulkan. (Yang Menjadi Ass. Wedana pada saat itu ialah. Bp. Gunopranoto). Dengan tidak mengenal lelah dan penuh ketabahan kedua ibu guru tersebut mendatangi rapat-rapat Desa yang diadakan oleh Bapak Assisten Wedana tersebut.

Dunia bergolak, Perang Dunia Kedua pecah. Belanda kalah perang, Balatentara Jepang pada tgl. 9 Maret 1942 menggantikan Pemerintah. Kolonial Belanda untuk menjajah Bangsa Indonesia. Suasana perang berkecamuk di seluruh bumi Nusantara. Sekolah-sekolah ditutup, termasuk juga Meisyes Vervolg School yang baru saja berdiri itu. Baru setelah -+ 2 bulan sekolah-sekolah di buka kembali dengan wajah dan status yang baru p**a. Sekolah yang dulu berbau Belanda ditutup dengan diganti yang baru, dan namanya pun diganti baru p**a, sebagai misal: yang dulu Neutrale school diganti dengan Sekolah Rakyat MURNI, termasuk juga Meisyes Vervolg School diganti dengan SEKOLAH RAKYAT PEREMPUAN (S.R.P. ). Yang lebih tragis lagi ada sekolah yang ditutup dan harus digabungkan dengan sekolah lain, a.1. NAS (Nederlanche Adsiyah School), harus digabungkan dengan S.R.P. juga Sekolah MARDI KENYO, justru murid-murid dari sekolah tersebut adalah khusus anak-anak perempuan.

Setelah 2 bulan tutup, mulailah sekolah sekolah dibuka kembali, Murid-murid yang masuk tinggal 26% saja, sedangkan yang lain sudah tidak tahu kemana. Namun demikian S.R.P. tetap berjalan sesuai dengan jadwal dan aturan sekolah pada waktu itu. Karena ada gabungan dari sekolah-sekolah lain cukup banyak, sehingga sekolah yang dulu sudah tidak mampu untuk menampung jumlah mu rid sebanyak itu. Dengan keadaan dan kondisi seperti itu lalu pindah menempati gedung sekolah yang lebih besar dan baik ialah di E.L.S. (Europeche Lagere School) sekolah yang khusus untuk anak-anak orang Belanda dan pejabat tinggi, yang pada waktu itu sudah ditutup, sekarang SMP Neg.2.

Tiba-tiba ada perintah bahwa ibu Soekiyati harus mengikuti latihan di Jakarta selama 3 bulan, dan sebagai penggantinya ada bantuan guru untuk sementara sampai ibu Soekiyati p**ang, ialah bp. Tjitrotenoyo.

Tahun ajaran ke Ill datang, kelas bertambah menjadi 3 kelas, kelas IV, V dan VI. Keadaan guru silih berganti, baik yang semestinya Guru tetap maupun sebagai guru sementara, al. Bp. Hadisabroto (alm). Bapak Soedjadi (alm), Bp. Gitosaputro (alm). Sekolah dan pelajaran. berjalan Lancar, Ibu Yeti mendapat giliran untuk mengikuti latihan di Jakarta. Untuk mewakili sebagai kepala Sekolah ditugaskan kepada ibu Soekiyati. Sekolah hanya ada 2 orang guru, tugas ibu Soekiyati merangkap sebagai Kepala Sekolah juga mengerjakan administrasi sekolah, sehingga untuk memikirkan kepentingan pribadinya yang semestinya harus segera dilaksanakan terpaksa harus tertunda, Karena tidak sampai hati untuk meninggalkan sekolah, dengan keadaan kekurangan guru.

Waktu berjalan terus, ibu Yeti sudah kembali mengajar. Keadaan gurunya pun tetap tidak seperti yang diharapkan, sampai pada saatnya ibu Soekiyati harus meninggalkan sekolah tersebut karena menikah dengan bapak Djoewadi.

S.R.P. pada waktu itu menghadapi ujian terakhir bagi kl. VI. Ibu Soapardji datang, tetapi hanya 10 hari saja, dan disusul ibu Sulartri, itupun hanya sebentar karena terganggu kesehatannya.

Nasib S.К.Р. memang masih harus mengalami Kesulitan dan hambatan, ialah dengan selalu berpindah tempat dari, tempat yang satu ke tempat yang lain, ke bekas sekolah Zending (sekarang SMP Neg. I), ke gudang belakang Pegadaian dan di perumahan P.G. Mojo, karena memang belum mempunyai gedung sendiri, namun demikian, murid-serta ibu/bapak guru tetap tabah dan setia menghadapi segalanya itu.

Tahun ajaran demi tahun ajaran S.R.P. dapat meluluskan muridnya dengan baik, meskipun tidak semua dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, memang karena keadaan dan situasinya pada saat itu kurang mendukung, segala sesuatu dirasa sangat sulit dan berat, maklum masa Jepang, sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwa kehidupan masyarakat pada jaman itu sangat menyedihkan, apa-apa serba antre, pakaianpun tidak selayaknya dipakai orang, karena terbuat dari goni (karung) dan serat nanas, maka tidak mengherankan bila pada waktu itu untuk melanjutkan sekolah tidak setiap orang dapat membiayai.

Ibu guru silih berganti ada yang datang juga ada yang pindah/pergi. Tetapi pelajaran tetap berjalan dengan lancar sesuai dengan Keadaan pada saat itu, dimana murid-murid sekolah diharuskan mengikuti kegiatan diluar sekolah demi kepentingan pemerintahan pada waktu itu, misal nya: mencari iles-iles, menanam dan membersihkan/memberantas ulat, menanam padi, dlsb.nya. Situasi dan kondisi negara pada waktu itu dalam keadaan bergolak, termasuk juga nasib S.R.P., ialah dengan adanya perintah supaya S.R.P. dibagi menjadi 2, S.R.P. 1 dan S.R.P. 2, karena dengan kedatangan ibu Soegiarti pindahan dari Kabupaten Karanganyar yang menjadi Kepala Sekolah. Meski dengan rasa berat pembagian sekolah harus dilaksanakan.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia didengung kan ke seluruh dunia. Indonesia Merdeka. Bangsa Indonesia dengan gagah berani mempertahankan kemerdekaannya sampai titik darah yang penghabisan Banyak pemuda, rakyat Indonesia menjadi korban keganasan Belanda yang datang ke bumi Indonesia membonceng NICA, dengan maksud akan menjajah kembali bangsa dan Negara Indonesia. Perundingan demi perundingan dilakukan antara Indonesia dan Belanda, tetapi nyatanya Belanda mengkhianati perjanjian tersebut. Terjadilah adanya Clash ke I disusul dengan Clash ke II, dimana pada waktu Clash ke II, kota Sragen tidak luput dari akibat tersebut. Gedung-gedung yang penting termasuk juga gedung-gedung sekolah dibumi hanguskan. Rakyat dan Tentara Indonesia tetap mempertahankan kedaulatan negaranya, sampai akhirnya penyerahan kedaulatan kepada Bangsa Indonesia. Pada saat-saat itulah S.R.P akhirnya ditutup. Segala kekayaannya diserahkan kepada S.R,P. II. (pada waktu itu masih menempati gudang rumah Pegadaian).

Nasib ibu Yetiningsih selaku pendiri dan yang membidani SRP , yang dengan segala daya dan upayanya, serta dengan segala ketabahan kegigihannya serta penuh keyakinannya itu untuk membina SRP akhirnya sudah tidak memiliki apa-apa lagi. S.R.P. hanya tinggal kenangan, kenangan yang mengharukan, menyedihkan tetapi juga membahagiakan serta membanggakan hati bagi sang bidan pendirinya. Akhirnya ibu Yeti ditempatkan di S.G.B. Ini semua terjadi pada tanggal 1 Desember 1948 yang lalu. S.G.B. pada waktu itu juga baru saja didirikan dan menempati gedung S.R.P. I (SMP Neg. 2 sekarang). Sejak itulah nama dan keberadaan S.R.P. berakhir, tetapi meski hanya 8 tahun umur SRP. sudah dapat meluluskan 5 kali dengan jumlah murid -+ 200 anak. Dan sekarang sudah ada beberapa yang telah dipanggil menghadap Tuhan, baik ibu/bp. Guru maupun siswanya,

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Pengasih, bahwa pada waktu diadakan REUNI 90% dari para siswa yang masih ada dapat hadir dan kelihatan segar dan ceria, itu semua karena berkah dan Rakhmat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kapan kita mengadakan Reuni lagi, tergantung kepada keadaan dan minat dari pada siswa-Siswa sendiri.

Demikianlah sekedar Riwayat keberadaan S.R.P. di Sragen, meskipun hanya 8 tahun, tetapi tetap kita kenang. Semoga dengan adanya buku riwayat ini tali persaudaraan dan kekeluargaan kita akan menjadi akrab kembali.

Sekian, dan penyusun minta maaf yang besarnya terutama kepada ibu Guru, bila dalam penyusunan ini kurang lengkap.

Sedikit himbauan dari Panitia, bila mungkin kami minta tanggapan / saran / usul / pendapat mengenai adanya Reuni yang akan datang.

Terima kasih.

Sragen, 21 Nop.1993.

Panitia,

PRAKATA.Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan atas RakhmatNya, karunia serta bimbinganNya, kam...
08/12/2025

PRAKATA.

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan atas RakhmatNya, karunia serta bimbinganNya, kami Panitia REUNI Siswa S.R.P. Sragen telah dapat menyusun, merangkum selanjutnya menerbitkan buku Riwayat berdirinya Meisyes Vervolg School, yang Karena perubahan kondisi dan situasi Negara, dari jaman Penjajahan Belanda - penjajahan Jepang yang akhirnya Indonesia Merdeka, lalu berganti nama dengan SEKOLAH RAKYAT PEREMPUAN atau disingkat dengan S.R.P.

Buku ini diterbitkan/disusun dalam rangka adanya REUNI siswa SRP yang dilaksana kan pada tgl. 21 November 1993 genap 53 tahun berdirinya sekolah tersebut, dengan maksud agar baik para siswa maupun ibu/bapak Guru dari sekolah tersebut akan teringat kembali keberadaan S.R.P. di kota Sragen yang ASRI ini yang hanya dapat berlangsung selama 8 tahun saja dan baru mengeluarkan 5 kali lulusan.

Panitia yakin, bahwa penyusunan buku i-ni jauh daripada sempurna, tetapi cukuplah kiranya sebagai bahan bacaan atau renungan di kala tidak ada kesibukan.

SEMOGA TUHAN BESERTA KITA.

Amin, amin, amin.

Panitia,

SAMBUTANMANTAN IBU KEPALA SEKOLAH RAKYAT PEREMPUAN(S.R.P.)Dalam rangka REUNI S.R.P. Kab, SragenTanggal: 21 November 1993...
08/12/2025

SAMBUTAN

MANTAN IBU KEPALA SEKOLAH RAKYAT PEREMPUAN

(S.R.P.)

Dalam rangka REUNI S.R.P. Kab, Sragen

Tanggal: 21 November 1993.

Ass. w.w.

Anak-anakku yang sangat saya cintai, dengan rasa terharu, bangga dan berbesar hati, saya mengucap syukur kehadirat Illahi, yang telah dapat terlaksananya Reuni S.R.P. Sragen dengan sukses pada tgl. 21 November 1993 ini.

Tak lain dan tak bukan karena kegigihan dan ketekunan Panitia berusaha, ingin bernostalgia, menggali, menghidupkan kembali peristiwa yang sudah antara 1/2 abad berlalu.

Ibu merasa 50 tahun lebih muda, ingat waktu anak-anakku semua masih didalam didikan dan asuhanku. Butir-butir benih yang aku tanam waktu itu dalam keadaan s**a dan duka, dalam suasana damai dan perang silih berganti.

Waktu yang hanya 8 tahun, mengalami beberapa jaman, Jaman Kolonial Belanda - jaman penjajahan Jepang dengan masyarakat banyak makan gogik, bolgur Ósük dlsb.nya, berbaju karung, selendang bandil, sepeda ban paseg (dari karet mentah dan tidak dipompa, dsb., jaman Revolusi Kemerdekaan, jaman Clash ke I, II, juga jaman geger PKI, yang semua itu sangat menggoncangkan suasana sekolah. Tempat belajar mulai dari menyewa sampai menempati gedung megah, mondok-mondok, belajar di bawah pohon talok, hingga akhirnya ditutup, dibubarkan, sebab gedungnya akan dipergunakan S.G.B. sekolah baru untuk mencetak guru, yang waktu itu sangat dibutuhkan.

Sarana dan prasarana belajar yang mula-mula cukup baik, teratur, menjadi porak poranda kurikulum tak tertentu, tiap hari mengikuti "kingrohosi" ( gerakan paksa): mencari iles-iles, membrantas ulat jarak, dsb. Baru belajar sirene meluit lalu bersembunyi dibawah meja dan mengigit karet atau lari ke lubang perlindungan di bawah tanah, dsb. Tetapi pelajaran terus berjalan, agar anak-anak tidak menjadi liar. Dengan semboyan" terus mengajar pantang mundur" anak-anak dalam suasana revolusi harus terus di tempa menjadi anak yang sehat lahir dan batin, berdisiplin, berani mandiri, beremansipasi, cinta negara dan bangsa. Semua itu lamunan anakku, ada guru ada murid sekolah bisa dibuka, dengan tidak memperhitungkan berapa gajih, apa alatnya, dan dimana belajarnya.

Sekarang kubuka mataku, melihat anak-anakku bisa mengadakan REUNI, sudah menjadi orang, yang bisa berdiri sendiri, menjadi pendamping suami abadi, bisa mencetak orang yang bertitel: Dr, Ir, guru, dsb.nya, orang-orang terpandang dan eyang, yang kelihatan gembira dan riang.

Ibu telah tua dan rapuh. Inilah saya beri kenangan sekedar waktu ibu berulang tahun ke 75, menjadi sendirian lagi ( janda muda, karena bapak baru 3 tahun wafat). Tetapi ibu tetap merasa bahagia mengenang tumbuhnya tanamanku yg kini kelihatan subur, makmur, berguna bagi Nusa dan bangsa. Sekali lagi, dengan adanya Reuni ini bisa menebalkan semangat kita bersama.

a. Sapa temen tinemu,

b. Tekaning "pesti" ora kena didisiki.

c. Nanging manungsa kudu eling lan waspada.

d. Aja gampang kegliwang.

e. Samubarang dipikir lan ditimbang-timbang amrih gamplang.

Pangeran bakal minangkani sedya rahayu.

Hayu, hayu, hayu kang tinemu.

Sekian anakku tanggapan ibu tentang REUNI yang kamu adakan ini. Tetaplah jalin persaudaraan, kemanunggalan dan gotong-royong.

TUHAN SELALU BESERTA KITA.

Amien, Wass. W.W.

"Ibu yang melahirkan S.R.P. Sragen, yang hanya berumur 8 tahun) 1Aug.1940 1948), meluluskan anak 5 kali berjumlah 200 orang, ke peristirahatan yang abadi.

Sragen, 1 Desember 1993.

Ny. T. WARNOATMODJO.

SRI, si Nomaden CilikSiang itu matahari sedang bersinar dengan teriknya. Meski sudah memasuki bulan Desember yang biasan...
08/12/2025

SRI, si Nomaden Cilik

Siang itu matahari sedang bersinar dengan teriknya. Meski sudah memasuki bulan Desember yang biasanya sudah sering turun hujan, tetapi hari ini cuacanya lagi cetar, terasa gerah, agak lembab khas negara tropis. Sepertinya sore atau malam nanti akan turun hujan. Kebetulan hari itu aku nlusur, menjelajah ke wilayah Kabupaten Boyolali dan melewati rumahnya Sri, adikku. Jadi, setelah nlusur, mampir ke rumahnya, sekalian menengok anaknya yang belum lama ini lahir. Adik kecilku yang dulu sering menangis ketika mau berangkat sekolah, sekarang sudah punya anak empat.

Aku memarkir motor di depan tokonya Sri yang siang itu ramai sekali. Toko yang tadinya hanya berupa warung kelontong, sekarang berubah jadi warung serba ada dengan beberapa karyawan. Doni, suami adikku, sampai turun membantu melayani pembeli saking ramainya siang itu.

Doni tersenyum begitu melihat sosokku memasuki tokonya. "Dari mana, Pak Dhe?" sapanya di sela-sela melayani pembeli.

"Biasa, habis nlusur," jawabku.

"Sebentar, ya, Dhe. Aku tinggal melayani dulu. Dik Sri ada di belakang," ujar Doni.

Aku pun beranjak menuju ke bagian belakang rumah, menemui Sri

Rumah tempat tinggalnya terpisah dengan toko, bahkan tokonya pun sudah tingkat dua. Sangat berbeda ketika Sri kecil, terutama setelah ditinggal almarhum Ibu. Sri sampai harus berpindah-pindah tempat tinggal.

Awalnya, sepeninggal Ibu, Sri ikut paman, adik kandung Ibu. Dia tinggal di sana sejak berumur empat tahun sampai kelas 2 SD. Setelah kakak perempuan pertama kami menikah, Sri ikut Kakak pada akhirnya. Saat tinggal di rumah kakak yang ini juga beberapa kali Sri pindah tempat tinggal. Selain tinggal di rumah Kakak, Sri kadang juga tinggal di rumah nenek yang rumahnya dekat dengan rumah Kakak. Bahkan, saat kelas 4 SD, Sri pernah tinggal di rumah sepupu yang rumahnya berbeda kecamatan.

Sepupuku itu merasa kasihan melihat kehidupan kami yang tak tentu arah setelah jadi yatim piatu. Ya, kami tercerai-berai dan jarang sekali berkumpul bersama semenjak itu. Aku diambil Bu Dhe, kakak kandung Ayah, sedangkan Sri diambil paman dan kakak perempuan kedua, langsung merantau ke Jakarta setelah Ibu meninggal-walaupun cuma lulusan SD. Sementara itu, kakak pertama tak lama setelahnya menikah meski masih usia belasan demi menjadi tempat bernaung adik-adiknya. Di rumah sepupu yang kebetulan kedua anaknya lelaki semua, Sri malah tidak betah, hanya bertahan beberapa bulan saja.

"Aku tidak nyaman, Mas, waktu tinggal di sana." Begitu jawabnya ketika kutanya beberapa waktu setelah kembali ke rumah kakak pertama lagi.

"Tapi, kan, sekolahmu bisa lebih tinggi jika tinggal di sana."

"Ya, sih," sahutnya. "Tapi, aku merasa kesepian saat tinggal di sana, Mas."

"Bukankah di sana juga banyak kegiatan?"

"Kalau pagi sampai siang sep**ang sekolah, tidak begitu terasa sepinya. Karena, habis sekolah kadang main bareng teman-teman, walaupun sering juga tidak diizinkan main, tetapi masih ada kegiatan lain untuk menghilangkan kesepian itu dengan cara bersih-bersih rumah atau membantu memasak. Rasa sepi itu datang saat malam tiba ketika mau tidur, jadi sering nangis, Mas, kalau mau tidur. Bahkan, ketika mau tidur, bantal dan guling kutaruh di kedua sisi, terus berselimut biar berasa tidur di antara kalian," lanjutnya.

"Lha, terus, kok, bisa diantar balik ke rumah Kakak lagi?" tanyaku penasaran.

"Ketika mereka tahu aku sering nangis saat tinggal di sana, lantas aku diantar balik ke rumah Kakak lagi," jawabnya.

"Dulu apa tidak ditanya sebelum diajak ke sana?"

"Ya ditawari. Waktu itu aku seketika menggeleng tak mau, tetapi dirayu suami Mbak dan Nenek berulang kali sehingga aku tak punya pilihan lain," terangnya.

Peristiwa itu bukan kejadian terakhir Sri pindah tempat tinggal. Ketika aku sudah tidak ikut Bu Dhe-tepatnya setelah diadopsi orang-lantas, Sri gantian ikut Bu Dhe sampai lulus SD. Menjelang masuk SMP, Sri pindah lagi ikut kakak pertama setelah suaminya Bu Dhe sakit parah sampai harus menjual tanah dan rumahnya.

"Bu, Pak Dhe Teguh ke sini!"

Aku tersadar dari lamunan mendengar teriakan gadis cilik, anak ketiga adikku.

"Ory, salim dulu sama Pak Dhe," suruh Sri ketika melihat anaknya mau pergi.

Kusambut uluran tangan mungil gadis kecil itu sebelum dia kabur bermain dengan teman-temannya.

Salsabila Oryza, nama lengkap anak ketiga adikku itu.

"Namanya Ory, apa dari Oryza Sativa bahasa Latinnya padi, Nduk?" tanyaku pada Sri ketika pertama kali mendengar nama bocah itu dulu.

"Ya," jawabnya sambil tersenyum. "Lha, ibunya bernama Sri, sang dewi padi atau kesuburan. Makanya, anakku kuberi nama yang berunsur padi. He... he... he...."

Aku cuma geleng-geleng kepala saat itu.

"Dari rumah atau nlusur, Mas?" tanya Sri sambil menidurkan bayinya dalam gendongan.

"Habis nlusur dekat-dekat sini tadi," jawabku sambil duduk.

"Stroke-nya Ibu bagaimana? Sudah mendingan?" Sri menanyakan kabar soal ibu angkatku, begitu pantatku menyentuh kursi.

"Alhamdulilah, sudah bisa jalan walau masih membawa tongkat."

"Sebentar, ya, Mas, mau menaruh Genduk dulu, mumpung sudah tidur."

"Ya."

Sri membawa anaknya yang masih bayi itu masuk ke dalam kamar.

Entah kenapa, ingatanku seketika kembali datang, saat Sri masih berusia dua bulan. Ketika itu dia ditinggal almarhum Bapak. Bapak meninggal tak lama setelah lebaran, sedangkan Sri lahir di bulan ruwah alias Syaban. Makanya, saat lahir dia diberi nama Sri Ruwantini.

KEPADA SRI, AKU CEMBURU"Hooaaamh...." Aku terbangun pukul tujuh pagi, masih mengantuk. Salahku sendiri p**ang kerja jam ...
05/12/2025

KEPADA SRI, AKU CEMBURU

"Hooaaamh...." Aku terbangun pukul tujuh pagi, masih mengantuk. Salahku sendiri p**ang kerja jam dua malam tidak langsung tidur, malah main ponsel. Habis Subuh, baru tidur. Jadi, mata ini masih terasa begitu berat. Lagi p**a, hidup sendiri begini. Jadi, tak ada yang mewajibkanku harus bangun pagi.

Karena panggilan alam, ku singkap selimut berwarna merah gambar kuda jingkrak logo mobil terkenal asal Italia itu, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Setelah menunaikan hajat rutinitas pagi, lantas aku hidupkan kompor untuk merebus air guna menyeduh kopi tubruk favorit dari tanah Toraja.

Selagi menunggu air mendidih, tiba-tiba ponsel di kamar nyaring berbunyi dengan nada sambung khusus. Dari Kinkin.

Buru-buru aku lari ke kamar, mengangkat panggilan itu, sebelum Kinkin meledak marah.

"Halo," sapaku di antara rasa kantuk yang masih menyerang. Aku menguap sesaat.

"Baca WA-ku!" katanya tegas di seberang sana.

"Ya." Sambil berjalan gontai ke dapur, kubuka aplikasi hijau.

Sudah ada beberapa panggilan dan pesan darinya yang terkirim.

Siapa Sri Ueth?

Orang mana dia?

Ada hubungan apa kamu dengannya?

Sri Ueth yang mana?

Itu yang komen di status FB-mu!

Ntar, kulihat dulu.

Sebelum membuka aplikasi biru berlogo huruf F itu, kutuang air yang sudah mendidih ke dalam mug kesayangan bergambar wayang. Sambil mengaduk kopi, aku buka Facebook dan melihat sumber masalah penyebab kenapa pagi-pagi Kinkin sudah uring-uringan. Di postingan kemarin ada akun bernama Sri Ueth komen "Hei Ganteng, gimana kabarnya?"

Kubawa mug berisi kopi ke ruang baca sambil rebahan di kursi panjang. Aku balas WA Kinkin.

Sri Ueth itu mbakku, anaknya Pakde.

Tidak mungkin!

Kalau saudara, masa komen begitu?

Kok, tidak percaya?

Ya jelas tidak percayalah!

Kalau sekadar saudara, tak mungkin menyebutmu ganteng segala Saudaramu yang lain tidak pernah memanggilmu begitul Pasti ini ada sesuatu!

Waktu lebaran kemarin, kan, sudah kujelaskan, waktu posting foto bareng empat orang itu.

Memang sudah.

Tapi, aku belum tahu ada apa sebenarnya di antara kalian!

Terserah kalau tak percaya.

Nanti kalau kita ketemu, kamu bisa telepon dia langsung di depanku.

Kutaruh ponsel di tumpukan buku di atas meja. Sengaja tak ku-buka pesannya Kinkin lagi. Ini bukan kasus yang pertama kali dia tiba-tiba marah tak jelas. Beberapa bulan yang lalu juga pernah, dia marah setelah melihat akun dengan nama Jeng Sri seringkali komen di postingan FB-ku.

***

"Siapa itu Jeng Sri?" tanya Kinkin dengan tatapan menyelidik.

"Jeng Sri yang mana?" tanyaku balik.

"Itu, yang sering komen di postinganmu."

"Oh, itu. Teman kerja dulu waktu di Bekasi."

"Ada hubungan apa dengannya?" Dia terus mencecar.

"Tak ada hubungan apa-apa."

"Masa?!" serunya tak percaya.

"Ya."

"S**a inbok-an?"

"Nggak pernah." Aku berusaha menjawab semua pertanyaannya dengan sabar.

"WA-an?"

"Nomornya saja aku nggak punya, kok. Bagaimana ma WA-an?"

"Tapi, kok, kelihatan akrab sekali? Tak mungkin kalau tak ada hubungan apa-apa. Kok, bisa asyik begitu mengobrolnya...." katamu lagi, tidak dengan kalimat yang diakhiri tirik, tetapi masih dengan nada menggantung. Yang jelas, semua itu tidak membuatku nyaman, terlihat setengah menuduh.

"Duh, Gusti!" Nadaku meninggi, "Ya jelas akrab! Dia, kan, teman kerjaku dulu. Lagian, dia sudah ibu-ibu," jelasku.

"Tapi, dia janda, kan?" cecarnya lagi.

"Hufff!" Aku hembuskan napas kuat-kuat demi mengurangi emosi yang kian memuncak. "Lagian, kami juga tidak pernah ketemu. Dia di Bekasi, sedangkan aku di Sragen. Jauuuh!" Aku kibaskan tangan, tak mau berdebat lagi.

Aku terbangun saat kudengar suara ketukan berkali-kali di pintu ruang baca. Rupanya, tadi aku ketiduran lagi. Dengan malas, kuangkat suaraku. "Siapa?"

"Aku!"

Hah? Aku tersentak. Kaget. Itu suaranya Kinkin. Benarkah itu dia? Mau ngapain dia ke sini? Bukannya ini waktunya dia bekerja?

"Buka pintunya!" katanya lagi.

Dengan malas, aku bangun dari kursi panjang. Ini pasti mas membahas soal yang tadi, pikirku. Jujur, aku malas membuka pintu. tetapi akhirnya kubukakan juga meski aku tahu pasti, nanti terjadi perdebatan sengit jika dia sudah masuk mode cemburu begitu. Selain itu, pekak p**a telingaku mendengar suara ketukan-ketukan di pintu yang tak sabaran itu.

Kubuka pintu, tak kutatap wajahnya.

Aku hempaskan lagi tubuh ke kursi panjang. Dia duduk di sebelahku.

"Kamu nggak bekerja?" tanyaku malas sambil menyeruput kopi yang sudah dingin, yang tak sempat kuminum tadi pagi.

"Kerja," sahutnya. "Nanti ada acara tak jauh dari sini makanya mampir sebentar." Diraihnya ponselku yang tergeletak di atas buku. aplikasi hijau. "Kamu tulis nama apa Sri Ueth di sini?" tanyanya menyelidik.

"Mbak Sri," jawabku malas.

Dia langsung asyik WA-an, melaksanakan aksi interogasi daring.

Itu bukan kejadian pertama dia melakukan itu. Beberapa minggu yang lalu, malah lebih parah dan agak memalukan. Karena, tiba-tiba dia WA salah satu teman kami, Cikgu Sri.

***

"Kemarin aku habis nge-WA Cikgu Sri," ujarnya kala itu.

"Nge-WA apa?"

"Ada, deh. Intinya, memperingatkan dia kalau kamu punya calon istri yang galak dan cemburuan," jelasnya.

"Haduh... malu-maluin! Dia itu punya suami!"

"Ya, punya. Tapi, suaminya sedang di Kalimantan dan kamu datang ke rumahnya ketika suaminya nggak ada."

"Lha, aku ke sana cuma mau beli buku karyanya saja."

"Alasan! Aku, tuh, tahu bagaimana kamu luar dalam, lahir batin, apa yang kamu pikirkan ... "Dia terus mengoceh panjang lebar tak jelas ujung pangkalnya.

"Hayaaah!" Lalu, kutinggal dia begitu saja saat itu saking kesalnya.

***

Beberapa hari setelah kejadian itu, Kinkin tiba-tiba kirim WA.

Kemarin aku habis curhat dengan Mbok Sri tentang masalah kita kemarin.

Terus, tanggapannya?

liih, dia malah belain kamu.

Nyebelin banget!

Sikapnya benar itu. Lagian, aku juga nggak ada hubungan aneh-aneh dengan Cikgu Sri.

Hmmm... ada yang aneh, deh.

Soal apa lagi?

Dia membelamu banget.

Jangan-jangan... ada apa-apa di antara kalian?

Mulai lagi, deh.

Siapa coba yang nggak curiga?

Secara, dia janda.

Haish! Anaknya sudah gadis. Jangan mikir negatif!

Melihat reaksimu, aku jadi semakin curiga.

Kamu sudah dikasih "sesuatu", ya, sama Mbok Sri?

Hayaaah! Nggak pernah! Mikirmu yang kejauhan!

Kumatikan ponselku seketika kala itu. Malas menanggapi sifatnya yang super posesif dan absurd itu.

***

"Hei!" panggilnya, menyadarkanku dari lamunan.

"Apa lagi?"

"Ini, sudah," ucapnya sambil menyerahkan ponselku lagi.

"Gimana? Sudah percaya?"

"Sedikit," jawabannya membuatku sedikit naik darah.

"Lha, masih tidak percaya kalau dia anaknya Pak Dheku?"

"Percaya kalau soal itu."

"Terus?"

"Aku masih tak percaya kalau kalian tidak ada hubungan apa-apa, selain cuma saudara sepupu saja."

Aku cuma geleng-geleng kepala mendengar argumennya. Untung sebelum tensi ini semakin meninggi, ponselnya Kinkin berdering.

"Halo, Bu. Ini sudah di dekat lokasi acara, kok, Bu," jawabnya singkat. "Ya sudah, aku mau ke tempat acara," pamitnya padaku sete-lah menutup ponsel.

"Ya, hati-hati." Kuantar dia keluar rumah.

Kututup pintu setelah dia melaju, menaiki motor matic-nya. Kuhempaskan lagi badanku ke kursi panjang di ruang baca.

Penasaran Kinkin ngomong apa ke Mbak Sri, kuraih ponsel dan membuka aplikasi hijau.

Halo, Mbak. Ini saya calonnya Mas Teguh.

Ya, Mbak.

Ada apa, ya?

Anda ada hubungan apa dengan Mas Teguh?

Saudara.

Masa, sih?

Ya, Mbak.

Dia anaknya Bu Lekku.

Kalau cuma saudara, kok, manggil dia, "Hey, ganteng?"

Lha, bebas orang mau manggil apa.

Perasaan biasa saja, deh.

Saudara yang lain manggil dia Om atau Pak Dhe, tetapi Anda, kok, beda sendiri, ya?

Memang ada peraturan khusus harus manggil apa?

Kalau orang yang nggak tahu, kalian dikira ada affair, lho, Mbak.

Hanya orang yang pikirannya negatif yang akan mikir begitu.

Ya hati-hati saja, sih, Mbak, kalau ada affair. Apa tak malu nantinya seluruh keluarga besar?

Affair apa?!

Lha, ya, nggak tahu.

Kalau tak tahu, ngapain bilang ada affair?

Aku cuma bilang, memperingatkan doang.

Terserah kalau tak percaya!

Orang, kok, mikirnya aneh-aneh?

Aku cuma bisa geleng-geleng kepala membaca percakapan di WA itu. Rasa posesif Kinkin sudah tidak bisa ditolerir hingga membuatku susah bernapas. Kinkin s**a bergerilya di Facebook menggunakan akun palsunya, sekadar mengawasi kegiatanku di dunia maya. Hal itu membuatku muak. Bukan cuma aku saja yang merasa begitu, bahkan teman-teman satu gengku pun merasa sebal juga.

Pernah suatu ketika kami membahas soal tingkah Kinkin di WAG yang cuma berisi lima orang saja aku dan keempat temanku, mereka cewek semua.

Tanpa sengaja, Kinkin membaca obrolan tersebut dan itu membuatnya marah karena teman-temanku memanggilnya Sebloh.

Dari keempat temanku itu, cuma Srikandi yang diserang. Kinkin langsung inbok suaminya Srikandi, bilang suruh mengajarkan tata krama pada istrinya dan jangan s**a mengganggu urusan orang lain.

Yang membuatku heran sampai sekarang, kenapa cuma Srikandi saja yang dia serang. Sempat terlintas di pikiran, jangan-jangan Kinkin itu fobia dengan orang yang bernama Sri.

Sebelum dia melaju dengan matic-nya tadi, dia masih sempat menoleh padaku. Dari sorot matanya, seakan dia berkata, "Kepada Sri, aku cemburu.


EPILOG: CALLEJONKetika saya berusia tujuh tahun, lapangan impian saya adalah gang sempit di belakang rumah kami di kawas...
04/12/2025

EPILOG: CALLEJON

Ketika saya berusia tujuh tahun, lapangan impian saya adalah gang sempit di belakang rumah kami di kawasan La Comercial di Montevideo. Di ujung jalan tumbuhlah sebatang pohon lemon yang ditanam oleh nenek saya bertahun-tahun sebelum kami pindah ke rumah kecil miliknya yang terdiri dari satu lantai sementara kedua orangtua saya mencari kerja di kota. Di ujung satunya lagi berdirilah tembok tinggi abu-abu, kawat berduri, dan menara pengawas penjara perempuan. Diapit oleh panti asuhan milik penjara dan deretan toko serta bengkel di samping rumah kami, tersempil sebuah jalan berkerikil yang kami jadikan lapangan ala kadarnya.

Callejón, begitu kami menyebutnya, cukup lebar untuk menampung permainan kami meski terlampau sempit sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. Jauh dari kep**an asap knalpot dan keriuhan bus serta mobil yang mendesing di Bulevar Artigas, tempat itu bukanlah lapangan terbuka seperti di Salto, yang menjadi rumah kami sampai saya berumur enam tahun, tapi tempat itulah suaka kami di tengah hiruk pikuk Montevideo. Ada orang lain yang juga gemar berlalu lalang di sini. Selepas gelap, orang-orang yang melintas datang untuk membeli g***a atau kokain; untuk mengelem atau mabuk-mabukan. Celaka kalau sampai kita keluyuran ke tempat semacam itu tanpa sengaja, tapi jalan itu secara harfiah adalah halaman belakang rumah saya dan di sanalah saya berada siang-malam, bermain sepak bola.

Semakin bertambah usia saya, semakin saya menyadari maraknya penggunaan obat-obatan dan alkohol. Bau g***a kerap menguar dari segerombolan orang yang datang untuk mengunjungi penjara. Banyak yang berusaha menyelundupkan narkoba, sebagian malah coba-coba mengeluarkan narapidana-dalam kurun beberapa tahun, sempat terjadi sejumlah upaya pelarian. Segelintir malah berhasil kabur.

Kakak laki-laki saya Paolo, yang enam tahun lebih tua daripada saya, bermain di callejón bersama teman-temannya dan saya ikut-ikutan. Tidak tersedia ruang yang luas dan saya termasuk yang paling kecil. Teman-teman kakak saya semula menjaga jarak ketika melihat betapa kecilnya saya, tapi begitu mereka menyadari bahwa saya lihai dan tak kenal takut, mereka urung menahan diri. Mereka terkejut melihat kepiawaian saya membawa diri-dada dibusungkan, kepala ditundukkan, menabrak anak-anak lelaki yang lebih tua, terpental dari dinding, tapi tidak pernah terintimidasi dan selalu memakukan pandang ke bola, bertarung, berjuang untuk menguasai barang sejengkal wilayah.

Jika jumlah pemain mencukupi, kami bermain memanjang, dari pohon lemon sampai tembok penjara, bola akan senantiasa dipentalkan ke area pertandingan oleh teralis bengkel dan kawat berduri panti asuhan. Jika jumlah kami sedikit, kami bermain melebar, menendang bola ke dinding sarat grafiti yang digambari bentuk gawang dengan cat semprot.

Saya kangen bermain sepak bola di rumput hijau Salto, tempat saya tinggal di Paraguay Street dan pintu depan rumah semua orang dibiarkan terbuka dan kita bermain dengan teman-teman di udara segar tiap hari. Salto ibarat desa dibandingkan dengan Montevideo. Semua orang saling kenal. Saya mulai bermain Baby Fútbol sewaktu berusia empat tahun untuk tim bernama Deportivo Artigas, yang dilatih oleh paman, saudara ayah saya. Lapangan permainan terletak di pangkalan militer tempat ayah saya pernah sebentar mengabdi sebagai prajurit dan beliau bermain juga di tim sepak bola tentara. Beliau bek kiri keras yang sering menendang lawan tapi juga piawai menendang bola dengan kaki kiri. Ketika keluarga saya terpaksa pindah ke Montevideo karena ayah saya mesti mencari kerja, orangtua saya pergi dengan saudara-saudari saya dan saya tinggal bersama kakek-nenek karena paman ingin saya bermain dalam turnamen. Alasan itu sempurna. Lagi p**a, saya tidak ingin meninggalkan kampung halaman. Saya s**a sekali bermain sepak bola bersama teman-teman. Selama beberapa waktu, saya menolak meninggalkan Salto. Saya sudah menjadi pemberontak pada usia enam tahun. Ketika akhirnya pergi, saya membawa serta nama kota itu saya masih dipanggil "El Salta" oleh banyak teman lama saya.

Berpindah dari lapangan terbuka ke gang ternyata berat dan tantangan itu menjadikan saya tangguh. Saya terkadang menangis sep**ang bermain, kaki saya lecet dan babak belur gara-gara menggunakan sandal murahan sebab saya hanya memiliki sepasang sepatu untuk dipakai ke sekolah.

Di seberang jalan dari kawasan tempat rumah lama kami berdiri dan tempat kami bermain, terletaklah blok tempat "El Jefe Negro" Obdulio Varela dulu tinggal. "Bos Hitam" adalah kapten tim yang memimpin negara kami meraih prestasi terbaik, menjuarai Piala Dunia 1950 di Maracanā. Bukan berarti saya menyadari hal tersebut semasa kanak-kanak-pada masa ketika saya bolak-balik di gang, panutan saya adalah pemain-pemain yang lebih kontemporer.

Kami kerap bermain sambil menyerocos seperti komentator: "Francescoli membawa bola, dioper kepada Ruben Sosa dan kembali lagi ke Francescoli." Sepatu sepak bola betulan pertama yang saya miliki adalah Adidas Francescoli-hadiah ulang tahun dari ibu saya pada 1997 ketika Francescoli baru pensiun dan saya menginjak usia sepuluh tahun. Tiap kali mencetak gol saya teriakkan nama idola dan pemain sepak bola pertama yang betul-betul menjadi panutan saya, pemain depan Argentina, Gabriel Batistuta. "Bat-is-tuuuuut-a!"

Ketika tidak bisa bermain di callejón, kami bermain di dalam ruangan. Jika kami disuruh masuk kamar, seharusnya kami mematikan lampu dan tidur, tapi kami malah membuat bola dari gumpalan kertas koran yang dimasukkan ke kaus kaki dan kami kemudian berlatih melakukan voli akrobatik atau menyundul sambil terjun ke kasur. Hasrat untuk bermain sepak bola, apa pun rintangannya, tidak dapat terpuaskan.

Kami juga bermain Subbuteo alias sepak bola papan dengan tutup botol berwarna-warni sesuai warna tim, sedangkan gawangnya adalah kotak sepatu bekas. Jika ibu kami membuang mainan tersebut karena kami nakal, kami akan berimprovisasi lagi; kali ini dengan pemain dari kardus yang dilipat dan bola dari kancing.

Jika sedang tidak bermain atau berimprovisasi, kami menonton sepak bola. Final Piala Dunia 1994 adalah yang pertama yang saya ingat, menghadapkan Italia dengan Brazil dan ditutup oleh penalti Roberto Baggio yang gagal. Saya mengingat Romário dan Bebeto dengan perayaan "membuai bayi" yang terkenal. Pada 1997 Uruguay tampil melawan Argentina di final Piala Dunia U-20 yang digelar di Malaysia. Kami luar biasa bangga karena Uruguay lolos ke final, sekalipun hanya di gelaran U-20, dan kami sudah melek pukul lima pagi untuk menonton Fabián Coelho, César Pellegrin, Marcelo Zalayeta, dan Nicolás Olivera bermain di final melawan Argentina. Saya tidak pernah kesulitan memahami antusiasme para penggemar terhadap olahraga ini karena saya tinggal memutar jam ke belakang untuk mengenang masa-masa itu dan membanjir kembalilah semua perasaan yang pernah menghinggapi saya.

Kepindahan dari Salto tidak melulu jelek. Di tiap daerah Montevideo terdapat klub dan klub saya adalah Nacional. Dua klub tersukses di Uruguay-tim yang mendominasi persepakbolaan di sana-adalah Nacional dan Peñarol, sedangkan keluarga kami terbelah dalam memberikan dukungan. Konon katanya Peñarol adalah klub pekerja kereta api dan dan Nacional tim kaum elite, tapi menurut saya tidak demikian. Yang benar adalah Nacional merupakan tim terbesar, sekalipun adik laki-laki saya Maxi tidak setuju. Dia mendukung Peñarol. Maxi setahun lebih muda daripada saya dan kami tidak terpisahkan. Kami adu mulut gara-gara sepak bola dari pagi hingga petang dan ibu kami yang enggan dan kewalahan mesti berperan sebagai wasit untuk menengahi pertengkaran kami. Pertarungan terbesar adalah untuk mendatangi pertandingan. Maxi ingin nonton Peñarol dan saya ingin nonton Nacional. Kami berkompromi akan ke pertandingan Peñarol hari ini dan pada hari pertandingan berikutnya ke Nacional, tapi saya tidak s**a berkompromi. Akan saya katakan: "Kenapa aku harus nonton Peñarol, padahal aku tidak mau?"

"Wah, kalau kau ingin pergi menonton Nacional, kau harus ikut adikmu untuk menonton Peñarol dulu."

Kapan pun saya mendatangi pertandingan Peñarol, saya diam saja. Saya duga orang-orang bahkan tidak membayangkan bahwa saya hadir sebagai penggemar Nacional yang semata-mata menemani adiknya, sekalipun kadang-kadang mereka bisa menebak. Saya ingat ketika Peñarol melawan Racing di pertandingan Copa Libertadores yang digelar di Stadion Centenario. Di dalam mangkuk beton besar yang sempat menjadi saksi final Piala Dunia 1930, saya berusaha sebaik-baiknya untuk bersembunyi, tapi hati saya tersiksa gara-gara dikelilingi oleh suporter Peñarol. Saya menghadiri pertandingan semata-mata agar boleh ke pertandingan Nacional yang berikut.

Yang tidak saya sadari sampai masuk ke stadion adalah saya mengenakan kaus kaki Nacional.

Peñarol mencetak gol dan saya diapit oleh anak gemuk besar di satu sisi dan adik serta ibu saya di sisi lain. Ibu saya pendukung Peñarol juga. Saat Peñarol memasukkan gol, semua orang melompat-lompat kegirangan sambil menyanyi-nyanyi, kecuali saya. Si gemuk di sebelah saya berkata: "Kenapa kau tidak ikut merayakan? Peñarol unggul." Maka saya mulai melompat-lompat sedikit, sedangkan adik saya berusaha menahan tawa karena tahu persis bahwa saya sama sekali tidak ingin merayakan kemenangan Peñarol di Copa Libertadores, terutama karena kaus kaki Nacional saya sekarang kelihatan jelas. Rasanya bagai di neraka.

Ceritanya sama juga ketika kami minta menjadi maskot dan ibu saya memberi tahu kami: "Oke, tidak masalah kalian berdua boleh menjadi maskot, tapi kalian kakak-adik harus bersama-sama, minggu ini menjadi maskot di Peñarol dan minggu depan di Nacional."

Baju tim junior Urreta milik saya bergaris-garis kuning-hitam, agak mirip dengan seragam Peñarol, maka saya kenakan baju itu supaya tidak perlu berseragam Peñarol. Satu-satunya seragam yang saya ingin kenakan adalah biru-putih Nacional.

Mungkin yang lebih tersiksa justru adalah adik saya karena belakangan kami sama-sama masuk ke sistem pembinaan usia dini Nacional. Saya malah memprovokasinya lebih daripada dia menggoda saya. Dalam perjalanan ke sekolah, saya suatu kali menemukan bendera Nacional di taman dan saya persembahkan bendera itu kepada adik saya di lapangan bermain, di hadapan semua temannya. Dia berusaha sebaik-baiknya untuk menegaskan bahwa dia mendukung Peñarol seratus persen, tapi lagak itu mustahil dipertahankan begitu tersiar kabar bahwa dia bermain di tim seteru.

Pada hari-hari clasico, seorang dari kami menangis sementara yang seorang lagi berteriak ke telinganya tiap kali terjadi gol. Dan jika tim yang didukung kalah, siap-siap saja untuk diejek tak henti-henti. Ayah saya Rodolfo mendukung Nacional dan begitu p**a dengan kakak saya Paolo. Saudari saya Giovana mendukung Nacional dan saudari lain, Leticia, mendukung Peñarol. Jadi, dalam keluarga kami terdapat empat pendukung Nacional dan tiga pendukung Peñarol. Adik bungsu saya Diego dibujuk rayu dan didesak-desak oleh kedua kubu, tapi kami selalu menang dan dia akhirnya mendukung Nacional juga. Maxi dan saya tidak selalu berdiri di pihak berseberangan. Paman saya memasukkan saya ke Urreta ketika saya tujuh tahun dan Maxi bergabung ketika usianya enam tahun. Faktor utama penyumbang kesuksesan sepak bola Uruguay adalah Baby Fútbol-liga sepak bola enam lawan enam teramat kompetitif yang diikuti oleh anak laki-laki berusia lima sampai tiga belas tahun, di lapangan berukuran sepertiga dari lapangan sepak bola biasa. Sekilas pandang, model pembinaan usia dini tersebut mirip dengan yang diterapkan di seluruh dunia, tapi di Eropa anak-anak usia itu tidak dianjurkan untuk melakukan kontak fisik. Baby Fútbol di Uruguay jelas berbeda. Permainan berlangsung agresif dan kontak fisik sudah biasa, sedangkan orangtua dan pelatih menyikapinya dengan sangat serius sampai-sampai sebagian ibu dan ayah melarang anak mereka berpartisipasi karena meyakini olahraga tersebut tidak lagi menyenangkan saking intensnya. Sebagian bahkan menganggapnya berbahaya. Baby Fútbol menanamkan semangat kompetitif yang menggebu-gebu sejak usia dini dan menggarisbawahi pelajaran yang sudah saya petik dari jalanan-bahwa kita harus bermain untuk menang, apa pun taruhannya.

Lapangan latihan Urreta yang berpagar dan satu sisinya bertribun kecil tiga tingkat sekarang berumput hijau subur, tapi dahulu saya dan adik menghabiskan petang dengan menggelongsor di lapangan berkerikil tak kenal ampun. Waktu tempuhnya sepuluh menit dengan bus, tapi kami lebih sering tidak punya uang untuk ongkos bus, maka kami biasanya jalan kaki setengah jam ke sana.

Saya masih ingat betapa kami berdampingan untuk menuju ke kompleks Urreta, berzigzag di jalanan Montevideo di tengah kegelapan dan hawa dingin, jalan kaki lima belas blok untuk latihan. Ketika saya lulus dari level U-9 di Urreta, ayah rekan setim saya Martín Pírez mengajak saya bergabung dengan tim junior di Nacional. Urreta tidak memperbolehkan saya pindah; inilah kali pertama saya menjadi bahan rebutan.

Tarik-tarikan ini sebenarnya konyol. Urreta tidak memiliki klaim atas seorang penyerang belia. Mereka adalah tim lokal, sedangkan klub terbesar di Uguruay-klub saya-sudah memanggil. Kesempatan tersebut harus saya ambil. Namun, Urreta bersikukuh tidak mau melepas saya. Percakapan terakhir berlangsung kira-kira seperti ini:

"Terserah, saya tetap saja akan pindah."

"Wah, kalau begitu, kembalikan perlengkapan kami."

"Tentu saja perlengkapan kalian akan dikembalikan, tapi saya akan tetap ke Nacional."

Adik saya ikut dan sejak saat itu, jalan kaki tiga puluh menit ke Urreta menjadi empat puluh menit naik bus untuk berlatih di klub juara Copa Libertadores tiga kali. Latihan dimulai pukul 19.30, tapi kami baru keluar dari sekolah pukullima dan kami tahu bahwa sampai pukul enam kami masih bisa naik bus gratis asalkan berseragam sekolah. Jadi, kami datang sejam lebih awal semata-mata supaya tidak perlu membayar ongkos bus dan kemudian kami p**ang menumpang kendaraan ayah teman ketika latihan selesai pukul 21.30.

Pada saat itu, saya masih rutin p**ang ke Salto tiap musim panas untuk mengikuti turnamen di kampung halaman saya yang lama. Saya digoda gara-gara logat kota besar, sebagaimana saya digoda di Montevideo karena logat Salto ketika saya pindah pada usia enam tahun. Pulang selalu asvik, tapi saya dan yang lain mulai tersadar bahwa saya barangkali agak sedikit lebih bagus dibandingkan pemain-pemain lain yang sebaya saya ke liga sepak bola kompetitif sewaktu saya baru empat Paman saya Sergio Suárez berperan dalam mengikutsertakan tahun. Pamanlah yang mengajari saya cara menendang bola dengan benar dan memastikan agar saya bermain di pertandingan sejak usia sangat belia. Turnamen digelar tiap Desember sewaktu liburan dan sepanjang durasi tersebut saya menginap di rumah nenek. Namun, ketika berumur sebelas, saya diberi tahu bahwa saya tidak boleh bermain di turnamen musim panas. Saya sudah di Nacional ketika itu dan kami adalah juara. Saya merupakan salah seorang pemain terbaik mereka, jadi menurut panitia turnamen Salto kelewat remeh untuk saya.

Jika tidak mengikuti turnamen, berarti saya takkan ke Salto tiap tahun. Inilah sebuah penutup dalam babak kehidupan saya. Saya sedih, tapi diberi tahu bahwa saya terlalu jago untuk bermain di turnamen tersebut sekaligus memberikan dampak positif terhadap saya. Pernyataan itu adalah sebuah pertanda. Baru kali itu saya berpikir: "Mereka takut padaku. Aku ternyata pemain yang sejago itu."

Sebagai anak sebelas tahun yang bermain di Nacional, temperamen saya sudah meledak-ledak. Saya adakalanya emosi sampai-sampai menangis jika tidak mencetak gol. Kadang-kadang saya urung mengoper bola di pertandingan karena rekan setim sudah memasukkan gol dan saya belum. Saya tumbuh besar di lingkungan tempat kita tidak bisa mendapatkan apa pun secara cuma-cuma. Jika kita menginginkan sesuatu, kita harus merebutnya. Sebagai negara, Uruguay memiliki kaum sangat papa; kaum miskin yang setidak-tidaknya mempunyai pekerjaan dan bisa membanting tulang demi menafkahi diri; kaum pekerja, dan kaum kaya. Saya tumbuh besar di golongan kedua. Orangtua dan saudara-saudari saya membuat dan menjual apa saja yang kami bisa untuk mendapatkan nafkah dan menyambung hidup. Hidup kami tidak pernah mudah. Saya sudah sejak kecil sekali belajar bahwa kerja keras itu bernilai dan bahwa kita wajib berjuang jika ingin maju. Kita harus menyambar kesempatan apa saja, tidak peduli sekecil apa pun, berjuang mati-matian untuk mempertahankannya begitu kesempatan tersebut kita dapat.

Selain kerja keras, fokus juga perlu-tekad untuk meraih tujuan, yang sudah saya miliki sejak awal dan yang membantu saya sepanjang perjalanan. Kita harus tangguh secara mental. Bakat saja tidak cukup.

Maxi adalah pemain yang lebih baik daripada saya. Dia bermain di kelompok usia saya, padahal usianya setahun lebih muda. Dia secara teknis berbakat. Namun, dia salah pergaulan. Saya bisa bertahan di jalur yang benar dan dia menyimpang ke arah lain. Kami mengalami masa-masa sulit selepas orangtua kami berpisah. Kakak sulung saya, yang belakangan berkarier sebagai pemain di El Salvador dan Guatemala, sudah meninggalkan rumah dan tinggal dengan pasangannya dan kami anak-anak kecil mendapat kesan bahwa keluarga kami tercerai-berai. Kami lumayan sering berpindah-pindah rumah-semua di lingkungan yang sama-dan tidak ada stabilitas. Kami adakalanya menghabiskan waktu dengan satu orangtua, lalu pindah untuk tinggal dengan yang lain.

Saya tidak pernah berkesempatan untuk duduk dan berbincang dengan orangtua saya dan mendapat wejangan seperti: "Dengar, Nak, ketika besar nanti, pastikan agar kau bersyukur atas anugerah yang kau miliki"; "Bersikaplah begini"; atau "Jangan pernah melupakan asal-usulmu."

Mereka berpisah, kami kakak-beradik banyak, sebagian dari kami meninggalkan rumah, ibu saya bekerja seharian, ayah saya bekerja, maka sulit untuk mendapatkan nasihat dari mereka mengenai kehidupan, cara bersikap saat kita mesti cepat dewasa, dan cara untuk bertindak-tanduk ketika sudah berhasil. Saya akan senang sekali apabila diajak bicara seperti itu semasa kanak-kanak. Sayangnya tidak pernah, tapi sebagian sebabnya karena watak saya sendiri. Seingat saya, saudara-saudari saya, atau paling tidak sebagian dari mereka, pernah dinasihati seperti itu. Namun, saya pribadi lebih s**a menjaga diri sendiri. Dan ketika saya nyaris terjerumus, Sofi hadir untuk mengingatkan saya.

Saya sempat tersendat di Nacional, tapi saya bermain terus sepanjang usia remaja dan secara bertahap menapaki tangga karier sebagai pemain. Maxi mentok. Dia tidak berkembang karena salah pergaulan. Dia tahu, dan seluruh keluarga kami tahu, bahwa dia lebih jago daripada saya. Jika dia lebih menjaga fokus dan lebih bersungguh-sungguh, dia pasti berkembang terus. Namun, dia justru lebih s**a ke disko atau dia adakalanya menghilang beberapa hari dengan teman padahal usianya baru empat belas.

Sebagai kakak, saya selalu berusaha membantu, mengajaknya bicara, tapi kami berdua masih kanak-kanak. Saya bisa bicara sampai berbusa-busa dan dia tetap saja akan berkegiatan sama seperti semua temannya, bukan menuruti kata kakaknya. Bukan berarti hidupnya pernah nyaris berantakan, tapi dia memang telah mencederai potensi untuk meraih karier gemilang. Dia tahu kita harus bekerja keras seperti apa supaya bisa maju pesat. Dia mengetahui perjuangan saya sehingga berhasil. Menurut saya, dia bangga akan capaian saya karena dia tahu sesusah apa hidup kami berdua dulu dan ketangguhan seperti apa yang kadang-kadang kita butuhkan.

Anda bisa saja mengatakan bahwa untuk ukuran "lelaki tangguh, saya sering sekali menangis sepanjang karier. Saya tidak malu mengakuinya-saya banyak menangis. Saya sudah begitu semasa kecil dan saya belum berubah. Saya tipe orang yang meninggalkan lapangan sambil bersimbah air mata ketika tahu peluang menjuarai liga telah kandas; tipe yang menangis ketika tercabik-cabik kebimbangan karena mengatakan ingin pindah klub tapi sekarang meyakini bahwa kepindahan akan semakin menyusahkan diri sendiri dan keluarga; pria yang menangis ketika harus bangun pukul setengah delapan pagi untuk berangkat ke hotel dan duduk sambil mendengar pengacara membahas putusan yang terkesan tak terelakkan dan akan menodai reputasinya seumur hidup.

Saya menangis sewaktu para pendukung Ajax mengucapkan selamat tinggal kepada saya. Dan saya sungguh tidak mengerti bisa-bisanya Jamie Carragher tidak menangis ketika dia melambaikan salam perpisahan di Anfield untuk kali terakhir sebagai pemain. Ayolah, menangislah-keluarkan air mata barang setetes. Saya menangis selama kira-kira sepuluh atau lima belas menit di Amsterdam Arena ketika mereka melepas saya, padahal saya cuma di sana tiga musim. Carragher sudah di Liverpool seumur hidup ketika dia pensiun, tapi ketika mengucap selamat tinggal, dia bahkan tidak berjengit. Mungkin acara perpisahan di lapangan harus lebih besar, dilengkapi layar-layar raksasa yang menunjukkan semua momen terbaiknya di klub. Pada hari ketika Stevie Gerrard pensiun, saya harap semoga dia dilepas dengan meriah.

Saya akan senang sekali andaikan diberi pertandingan perpisahan di Liverpool dan tidak diragukan lagi air mata saya akan bercucuran. Saya orang yang emosional. Saya orang yang sentimental sampai-sampai rela membubuhkan tato di punggung berupa lirik lagu yang dilantukan ketika Sofi dan saya menikah: "Waktu kita singkat. Inilah takdir kita, aku milikmu." Dan saya adalah pria yang rela berepot-repot mempersembahkan gol kepada orang-orang terkasih sampai-sampai perayaan menjadi jauh lebih lama daripada gol itu sendiri. Saya juga memiliki tato di kaki: Uruguay: Campeones de América beserta tanggal kemenangan kami di 2011. Saya memiliki tato nama kedua anak saya dan satu lagi yang bertuliskan "Sofi" saja.

Lelaki yang membubuhkan tato nama putra saya Benjamin juga membuat tato lirik lagu pernikahan di punggung saya. Dia penggemar berat Liverpool dan ingin saya menato dirinya. Saya katakan bahwa menurut saya, dia sinting, tapi dia berhasil menemukan sepetak kulit yang masih kosong di badannya.

"Di sini saja."

Saya kira pertama-tama kita harus menggambar garis tepinya dan kemudian baru mengisinya dengan tinta. Ternyata tidak.

"Langsung saja," katanya. Tanpa garis tepi, tanpa latihan, cuma saya, sebatang jarum, dan kulitnya. Jadi, itulah yang saya lakukan. Saya menerakan L, S, dan 7. Sofi merekam seluruh proses itu dengan ponsel dan hasilnya ternyata tidak jelek-jelek amat.

Saya akan senang sekali andaikan bisa membubuhkan tato yang mengabadikan keberhasilan Liverpool menjuarai liga pada musim 2013-2014, tapi ternyata takdir berkata lain. Saya tidak keberatan kalaupun adegan ketika saya meninggalkan Selhurst Park menjadi kesan terakhir mengenai saya di benak banyak orang. Mungkin malah lebih pas begitu karena adegan tersebut mengilustrasikan betapa berartinya gelar juara bagi saya dan sudah seberapa dekat kami dengan raihan luar biasa.

Saya tahu bahwa tidak semua orang teringat akan itu ketika memikirkan saya. Bagi mereka yang bukan penggemar Liverpool, saya juga akan dikenang karena insiden gigitan dan tuduhan Evra.

Pandangan berubah seiring berjalannya waktu dan anugerah Player of the Year dari para wartawan pada 2014 adalah hadiah istimewa dan kemudian penghargaan dari rekan-rekan seprofesi malah lebih berarti lagi. Wayne Rooney menyampaikan yang baik-baik tentang saya sebelum Piala Dunia 2014; katanya dia s**a sekali cara main saya. Opininya berarti bagi saya. Dia tahu bagaimana rasanya berada di lapangan; dia tahu betapa besar tekanan yang kami hadapi, betapa besar ekspektasi publik, dan betapa tiap gerak-gerik kami senantiasa dianalisis sampai sekecil-kecilnya. Peristiwa di Brazil lagi-lagi memengaruhi penilaian orang terhadap saya. Namun, saya pasti bisa bangkit lagi dan menunjukkan sisi baik kepada orang-orang. Itulah yang saya usahakan saat ini.

Saya rasa orang-orang menghormati saya sebagai pemain. Saya telah dikritik atas macam-macam kelakuan saya dan atas macam-macam yang tidak saya lakukan. Namun, saya selalu bangkit dari keterpurukan dan kembali bekerja, kembali melakukan pekerjaan yang saya cintai.

Saya tahu bahwa kali ini ketika kembali bekerja, saya akan tampil di hadapan 98.000 orang di Camp Nou-jauh sekali dari callejón sampai-sampai nyaris tak terbayangkan.

Oktober 2014

Address

Gemolong
Sragen

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pemakan BUKU posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category