03/01/2024
Pada asap rokok yang membumbung tinggi, tatapanmu tak pernah henti.
Melihat si mungil tertawa di hadapannya.
Antara getir dan bahagia.
Kau memang tak seberani itu.
Memilih sakit menahan rasa.
Lalu Bertanya, kuat apa tidak tinggal lebih lama.
Bukankah terasa lega, ungkapkan tentang apa yang kau rasa?
Bukankah terasa sesak, terus menahan kesal melihat asap asap itu menghiasi tarikan nafas hidung mungilnya?
Tak perlu pikirkan bagaimana nanti jawabnya.
Bukankah kesehatan si mungil lebih penting?
Kau tau pasti.
Siapa yang akan menanggungnya.
Bukan dia.
Bukan juga orang lain.
Tapi kamu, juga badan mungilnya.
Berani dan sampaikanlah meski pahit.
Bukankah kesehatannya lebih kau khawatirkan, daripada perasaannya yang menjungjung keegoisan?
Maret,2023.