08/05/2016
Filsafat dan Keseharian
Oleh: Aldo Fernando
"There are no dangerous thoughts; thinking itself is dangerous.”
(Hannah Arendt)
Seringkali kita lupa waktu karena merasa asik bermain game online (daring), bermain sepakbola, jalan dengan pacar, bermain media sosial, bekerja, pergi jalan-jalan ke suatu tempat yang kita idam-idamkan, menonton konser musik, memandangi foto mantan dengan diiringi tangis, dan segala hal yang mewarnai—dan sering dianggap remeh-temeh—dalam kehidupan sehari-hari kita. Bahkan, sampai batas tertentu, kita menjadi terpaku sama sekali dengan hal atau kegiatan tersebut, menjadi budak apa-apa yang ada di luar diri kita. Itulah bentuk kejatuhan kita dalam keseharian, demikian kata Heidegger (Hardiman, 2008).
Tentu saja, kita menjalani hidup kita ini dalam keseharian (everyday life). Kita tidak pernah bisa melepaskan diri sama sekali dari kubangan keseharian. Namun, keseharian tidaklah selalu menyediakan hal-hal mendasar bagi kita secara langsung. Malahan, seringkali hal-hal tersebut ditutupi kabut kepenatan, kekaburan pemahaman dan commonsenses masyarakat yang seringkali sesat dan perlu dipertanyakan lebih lanjut, sehingga kita memerlukan usaha yang lebih besar untuk dapat menggapainya.
Apa sih hal-hal yang mendasar itu? Sebut saja: kebaikan, keadilan, kebenaran, keutamaan, keindahan, ketenangan—singkatnya, apa-apa yang membuat kita mampu mengutuhkan diri kita dan yang mampu menopang kehidupan-manusia dengan baik. Hal-hal mendasar inilah yang menyokong sekaligus menjadi tujuan gerak-hidup kita.
Salah satu jalan untuk memurnikan keseharian kita, untuk menyentuh diri kita, untuk memaknai secara mendalam makna keseharian kita, adalah dengan berfilsafat. Berfilsafat dalam kerangka keseharian berarti sebentuk aktivitas mempertanyakan segala hal yang dianggap diterima begitu saja oleh kebanyakan orang secara kritis, radikal, ketat dan sistematis. Hal ini akan membawa kita menuju pemahaman baru yang lebih jernih sehingga akan berimplikasi ke tindakan kita. Tindakan (actus) kita didasarkan pada pemahaman kita akan realitas. Pemahaman yang parsial dan keliru akan realitas akan membuat tindakan kita keliru p**a. Dan, pada akhirnya, hal ini akan berdampak pada upaya pengutuhan diri kita sebagai manusia. Di bawah ini kita akan mencoba memasuki sekelumit penjelasan perihal apa yang dimaksud dengan filsafat terlebih dahulu sebelum kita selami keseharian.
Selengkapnya silakan cek --> https://aldofernandonasir.wordpress.com/2016/04/21/filsafat-dan-keseharian/
Oleh: Aldo Fernando, Ketua Umum LPPMD Unpad 2015-2016 “There are no dangerous thoughts; thinking itself is dangerous.” (Hannah Arendt) Seringkali kita lupa waktu karena merasa asik be…