07/04/2025
:: Wa Islaamaah! ::.
Saat Tatar menyerang Khurasan, penduduk Irak hanya berdiri menyaksikan para agresor itu meluluhlantakkan Khurasan dan negeri-negeri di sekitarnya. Kota demi kota jatuh, darah kaum Muslimin mengalir deras bagaikan sungai. Namun Irak tetap bergeming. Dinasti Abbasiyah kala itu telah melemah, penguasanya tenggelam dalam kemewahan dan keengganan untuk berjihad. Mereka lebih memilih diam dan cari aman, meskipun lahapan api telah membakar wilayah-wilayah di sekeliling mereka.
Beberapa tahun kemudian, tibalah giliran Baghdad. Kota yang pernah menjadi permata dunia itu diratakan oleh pasukan Tatar di bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 1258 M (656 H). Mereka melakukan pembantaian besar-besaran yang masih meninggalkan luka perih dalam catatan sejarah. Ratusan ribu jiwa terbunuh, ilmu pengetahuan tenggelam bersama perpustakaan yang dibakar, dan kekhalifahan Abbasiyah berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Al-Musta’shim.
Namun, Syam pun tak mengambil pelajaran. Ia seakan tutup mata dan tak mau tahu. Sebagian penguasanya memilih jalur damai, mengira bisa selamat melalui perjanjian-perjanjian rapuh. Maka masuklah Tatar ke Damaskus tanpa perlawanan signifikan, lalu Tatar menjadikan beberapa kota di sekitarnya ladang penjajahan dan pertumpahan darah.
Setelah itu, Tatar pun melirik Mesir. Mereka kirimkan surat ancaman kepada penguasanya yang baru, Sultan Al-Muzhaffar Quthuz. Sebagian pejabat mulai goyah, ada yang condong menerima syarat-syarat Tatar yang menindas. Tapi Saifuddin Quthuz berdiri tegak, menyeru umat Islam dengan suara lantang:
“Siapa lagi yang akan membela Islam, jika bukan kita?!"
Dengan air mata, ia berbicara kepada para penguasa:
"Wahai para pemimpin Muslim, kalian sudah lama menikmati harta umat, namun enggan berjihad. Aku akan maju ke medan perang. Siapa yang ingin jihad, ikutlah bersamaku. Siapa yang tidak, p**anglah ke rumahnya! Allah akan menyaksikan, dan dosa umat akan ditanggung oleh mereka yang berpaling!"
Lalu, untuk memutus harapan musuh akan perdamaian, Quthuz memerintahkan agar para utusan Tatar dibunuh dan kepala mereka digantung di gerbang kota Kairo. Ia menyatakan kepada dunia: “Kami telah siap untuk berjihad!”
Hari itu, dalam pertempuran di ‘Ain Jalut (tahun 1260 M/658 H), Quthuz sendiri turun ke medan tempur. Ia hampir terbunuh oleh anak panah yang mengenai kudanya. Ia turun dari kuda dan bertempur dengan berjalan kaki. Ia lemparkan pelindung kepalanya ke tanah, tanda kerinduan akan syahid dan tidak gentar terhadap kematian. Lalu ia teriakkan seruan yang mengguncang langit:
"Waa Islaamaah!" (Wahai Islamku!)
Prajuritnya bangkit. Mereka berperang dengan semangat membara, hingga Allah menurunkan kemenangan. Pasukan Tatar pun hancur lebur, dan kekuatan mereka untuk pertama kalinya tumbang. ‘Ain Jalut menjadi saksi, bahwa dunia akhirnya terbebas dari keganasan dan kebiadaban Tatar melalui tangan-tangan pasukan yang tulus dan setia kepada Allah semata.
Itulah ketetapan sejarah:
Selama manusia lalai akan pelajaran masa lalu, mereka akan terus meneguk pahitnya nestapa...
Tak ada damai dengan penjajah, tak ada tempat yang aman bagi pengecut yang meninggalkan saudaranya!
Ketahuilah: kezaliman dapat hidup karena diamnya penguasa umat Islam, dan akan tumbuh karena normalisasi dari pemuka agamanya!
Jika saat ini 94Z4 dibombardir habis-habisan, dicabik-cabik tanpa henti, diluluhlantakkan tanpa ampun, sedangkan saudara-saudaranya yang seiman, seagama, satu ras, satu wilayah, mereka malah memilih untuk tutup mata dan telinga, maka sejatinya mereka hanya mengulur waktu untuk giliran mereka tiba. Jika giliran itu telah tiba, maka mereka yang akan menjadi sasaran berikutnya; dijajah dan dinistakan oleh bangsa kera yang terlaknat dan durjana.
Ini hanya masalah waktu, sampai Allah mengirimkan para pemimpin pemberani dari hamba-hamba-Nya, untuk menjadi penakluk yang tidak pengecut, pejuang yang tidak takut, untuk meraih kembali kemuliaan umat Islam, yang telah dinistakan oleh israeblis dan setan-setannya.