31/05/2026
Santet Pring Sedapur (Santet Darah Turunan)
KISAH NYATA dengan nama tokoh yang disamarkan.
Ciamis, 31 Mei 2026
Malam di Desa Karanganyar selalu membawa sunyi yang mencekam, namun malam jumat kliwon itu, sunyinya terasa berbeda. Angin berdesir melalui rumpun bambu di ujung desa, menciptakan suara gesekan daun yang menyerupai bisikan lirik.
Sukmo duduk bersila di dalam gubuknya yang remang, hanya diterangi sebatang dengan cahaya temaram. Di depannya terhampar selembar kain kafan perawan yang lusuh dan kotor, beberapa helai rambut, juga potongan bambu kuning sekecil jempol yang telah diruncingkan kedua ujungnya.
Mata Sukmo merah, menatap nanar foto seorang pria bernama Darmono. Juragannya di masa lalu yang telah merebut tanah warisan keluarga Sukmo dan membuat ibunya meninggal dalam kemiskinan.
"Keadilan manusia itu buta, Darmono," bisik Sukmo, suaranya parau menahan amarah yang membakar dada selama bertahun-tahun. "Biar perewangan saja yang mengadilimu."
Sukmo mulai merapalkan mantra kuno yang dia pelajari dari lereng Gunung Lawu. Mantra Santet Pring Sedapur. Ini bukan santet biasa yang mengirim paku atau jarum. Santet ini memanfaatkan filosofi rumpun bambu: mengikat, menusuk serentak dari dalam, dan tidak akan berhenti sampai seluruh garis keturunan sasaran ikut tumbang, seperti rumpun bambu yang mati bersama jika satu akarnya dihancurkan.
Sukmo mengambil potongan bambu kecil itu, menusukkannya tepat di ulu hati foto Darmono, lalu membungkusnya dengan kain kafan gadis perawan yang sebelumnya ia curi dari pemakaman kampung sebelah. Mulut Sukmo terus komat kamit membaca mantra, angin kencang menghantam gubuk reotnya. Di luar, suara rumpun bambu berderit hebat, seolah-olah ribuan bilah bambu sedang saling mengasah tajam. Sukmo menyeringai puas. Ritualnya selesai. Taruhannya adalah nyawanya sendiri jika ia gagal, namun dendam telah menutup akal sehatnya.
"Darah harus dibayar darah!" Gumam Sukmo. "Darmono, waktunya kamu merasakan perihnya hidup."
Di rumah gedongnya yang megah di pusat kota kabupaten, Darmono sedang merayakan keberhasilan proyek perumahan barunya. Tawa besarnya menggema di ruang tengah yang ber-AC. Namun, tepat jam dua belas malam, tawa itu terhenti.
Darmono tiba-tiba mencengkeram dadanya. Dia merasa seolah ada sebilah bambu runcing tak kasat mata yang menusuk lurus dari punggung menembus ulu hatinya.
"Uhuk!"
Darmono terbatuk keras. Ketika dia membuka telapak tangannya, ada gumpalan darah hitam kental. Yang mengerikan, di dalam darah itu terdapat serat-serat halus berwarna hijau tua, seperti serutan daun bambu yang tajam.
"Sari! Sari! Panggil dokter!" teriak Darmono panik kepada istrinya.
Malam itu menjadi awal dari penderitaan tiada akhir bagi keluarga Darmono. Setiap malam, tepat saat jam dua belas malam, Darmono akan menjerit histeris. Kulitnya yang semula bersih mulai memar kebiruan, membentuk pola-pola garis vertikal mirip batang bambu. Dia merasa organ dalam tubuhnya perlahan-lahan terkoyak, seakan ada akar-akar tajam yang tumbuh dan menjalar di dalam badannya.
Dokter spesialis terbaik didatangkan, namun hasil rontgen membuat para medis geleng-geleng kepala. Secara medis, organ dalam Darmono hancur, penuh luka robek memanjang, namun tidak ada benda asing yang terdeteksi.
"Ini bukan penyakit medis, Mas," bisik Sari, istrinya, dengan wajah pucat. "Ini kiriman santet. Kita harus cari orang pintar."
Namun, santet pring sedapur tidak semudah itu disembuhkan. Sifat rumpun bambu adalah mengikat. Ketika Darmono mulai sakit-sakitan, anak sulungnya yang berada di luar kota tiba-tiba mengalami kecelakaan tunggal. Mobilnya tertusuk tiang pembatas jalan tepat di bagian dada dan tewas seketika. Seminggu kemudian, anak bungsunya mendadak kejang-kejang dan memuntahkan serat bambu berdarah.
Darmono menyadari satu hal. Ini adalah pembalasan total. Dia mengingat kembali wajah orang-orang yang pernah dihancurkannya. Bayangan Sukmo, pemuda miskin yang tanahnya dia rampas paksa hingga ibunya tewas mengenaskan, melintas di benaknya.
Melihat keluarganya hancur, Darmono yang sudah sekarat meminta bantuan seorang sepuh bernama Mbah Kromo, seorang praktisi spiritual yang disegani. .
Mbah Kromo datang, membawa sebotol air putih dan minyak kelapa murni. Begitu memasuki kamar Darmono, sang dukun sepuh langsung menutup hidungnya. Bau anyir darah dan bau busuk yang teramat sangat menyengat menyerang penciumannya.
Mbah Kromo memejamkan mata, menerawang ke alam gaib. Di mata batinnya, dia melihat rumah Darmono telah dililit oleh akar-akar bambu gaib raksasa yang hitam dan berduri. Di ujung akar-akar itu, duduk sosok tinggi besar berbulu dan bermata merah dengan taring dan tanduk panjang. Di belakang sosok itu, ada banyak sosok gaib yang membawa tali rotan, san cambuk.
Mbah Kromo membuka matanya dan menghela napas panjang. "Darmono... kamu terkena Santet Pring Sedapur. Ini jenis santet darah turuna . Orang yang kamu sakiti tidak hanya ingin kamu mati, tapi dia ingin seluruh keluargamu dicabut sampai ke akar-akarnya. Alias mati semua."
"Tolong, Mbah... bayar berapa pun saya siap! Selamatkan anak-istri saya," ratap Darmono dengan sisa tenaganya.
Mbah Kromo menggelengkan kepala. "Santet ini adalah santet tingkat tinggi. Hanya ada dua cara untuk menyembuhkannya. Yaitu si pengirim memaafkanmu dan mencabut sendiri mantranya, atau kamu sekeluarga mati semua. Seluruh garis keturunanmu musnah."
"Saya akan kembalikan tanah Sukmo! Semuanya!" tangis Darmono pecah. "Yang penting saya dan kelauarga saya selamat."
Keesokan harinya, utusan Darmono datang ke gubuk Sukmo membawa sertifikat tanah dan sekoper uang tunai sebagai bentuk permohonan maaf. Namun, Sukmo hanya menatap benda-benda itu dengan pandangan kosong dan tawa dingin yang menyakitkan.
"Sampaikan pada juraganmu," kata Sukmo datar. "Apakah uang ini bisa menghidupkan kembali ibuku yang mati kelaparan di kolong jembatan? Apakah kertas ini bisa menghapus air mata darahku?"
Sukmo mengusir utusan itu. Dendamnya sudah menjadi makanan sehari-hari, dan dia tidak butuh kekayaan lagi. Dia hanya ingin melihat deluruh garis keturunan Darmono mati.
Malam berikutnya adalah malam bulan purnama, puncak dari siklus Santet Pring Sedapur. Sukmo kembali ke tempat meditasinya. Dia membawa sesaji berupa ayam cemani dan darahnya sendiri yang diteteskan ke keris pusakanya lalu mulai membakar d**a dan membaca mantra.
"Selesaikan tugasmu," perintah Sukmo pada perewangannya.
Malam itu, di rumah Darmono, suasana mencekam mencapai puncaknya. Terdengar suara gemuruh dari atas atap.
Darmono, istri, dan anak-anak tengahnya berkumpul di ruang tengah, saling berpelukan dalam ketakutan. Tiba-tiba, dari lantai marmer yang mewah, muncul tiga pasang tangan gaib berwarna hitam dengan kuku panjang yang menembus beton dan langsung mencengkeram kaki-kaki mereka.
"Ampun! Ampun, Sukmo!" jerit Darmono.
Satu per satu dari mereka merasakan sakit luar biasa saat kuku-kuku tangan gaib itu menusuk kulit. Sosok perewangan Sukmo muncul satu persatu. Mereka melelitkan cambuk dan tali yang terbuat dari rotan ke leher keluarga Darmono. Lalu, sosok pemimpin mereka yang betubuh tinggi besar, berbulu, bermata merah menyala dan memiliki tanduk serta taring panjang, muncul.
"A-ampun! Lepaskan ka-mi!" Erang Darmono. "Jangan bunuh kami. Tolong."
Tapi tentu saja, perewangan Suko tak peduli. Karena dia hanya mendengarkan perintah tuannya. Sosok itu lalu mengulurkan tangan, ialu mencengkeram kepala anak Darmono, dan menghisap jiwanya lewat ubun-ubun. Mira melolong kesakitan. Tak lama berselang ia lun mati dsngan sekujur badan yang membiru. Sementara Darmono dan Istrinya masih dibiarkan Sukmo hidup pesakitan dan harta bendanya habis tak tersisa. Sebelum akhirnya meninggal di tahun 2022 akibat terpapar pandemi covid 19.