24/08/2023
Belajar mengendarai sepeda menjadi ingatan masa kecil yang masih melekat hingga sekarang.
Ukuran sepeda pertama saya terlalu besar untuk dipakai anak berusia 4 tahun. Bapak tampaknya sengaja memilih sepeda itu agar bisa kugunakan hingga SD.
Tapi saya kesulitan betul belajar mengendarai sepeda. Saya jatuh berulang kali, termasuk nyungsep ke pategalan.
Saya akhirnya bisa lancar bersepeda setelah dipinjami sepeda milik anak Pak RT yang berukuran kecil. Kaki saya bisa menapak tanah saat duduk di atas sedel.
Malam Minggu itu, saya unjuk aksi bersepeda dengan berkeliling halaman tetangga yang biasa dipakai main bola, kasti, kuntrakol, dan lain-lain.
Mbak, Mas, Bapak, Ibu, dan tetangga yang sedang reriungan di cakruk menjadi saksi kelihaian saya bersepeda.
Puluhan tahun kemudian, saya bertemu buku Melihat Indonesia dari Sepeda (Kompas, 2010) yang membuka sedikit pengetahuan mengenai alat transportasi paling populer di masa bersekolah.
Buku itu mencatat evolusi sepeda dan penggunaannya di Nusantara sejak pendudukan Belanda hingga awal abad XXI. Konon, Indonesia termasuk negara awal di dunia yang menikmati kehadiran sepeda.
Judul: Melihat Indonesia dari Sepeda
Editor: Ahmad Arif
Penerbit: Kompas
Cetakan: 1, 2010
Dimensi: 15x23 cm, xii+196 halaman
Kondisi: asli, segel
Harga: 45.000