26/05/2025
Kaum nyinyir mendang-mending-isme
Sebagai manusia pada umumnya, setiap orang punya cara masing-masing untuk bahagia, ada yang memelihara ikan, mengoleksi mainan, mancing dari subuh sampai matahari pensiun, atau sekadar memandangi rak penuh Hot Wheels sambil merasa hidup lebih damai. Namun selalu ada satu spesies makhluk sosial yang konsisten muncul di tiap zaman, kaum nyinyir penganut genre mendang-mending-isme.
"Mainan kok dikoleksi? Itu mah buat anak kecil!" Padahal dirinya koleksi foto mantan dan belum bisa move on juga.
"Mancing? Nungguin ikan? Buang-buang waktu!" Padahal dia sendiri rela nungguin diskonan 50% sambil refresh aplikasi tiap 10 detik. Sabar itu relatif, ternyata.
"Pelihara ikan? Emangnya bisa diajak ngobrol?" Tapi kalau ngobrol sama dia, malahan kita yang pengen lompat ke kolam...
Uniknya, kaum ini tak pernah benar-benar tertarik memahami hobi atau kebisaan orang lain. Mereka tidak punya, tidak mengerti, dan tidak ingin belajar. Tapi semangat banget menilai. Seperti juri audisi yang minus pengalaman dan empati. Hanya bermodalkan rasa tidak puas terhadap kehidupan sendiri.
Namun, mari kita berikan pengecualian. Kalau hobinya memang jelas melanggar kodrat, merusak moral, bikin rugi kepentingan umum, atau mengganggu stabilitas internal keluarga, itu tidak perlu dinyinyiri. Itu langsung saja kirim ke barak militer agar disadarkan lewat bapak bapak tentara.
Tapi untuk hobi yang hanya sebatas sumber bahagia, hiburan jiwa, dan tidak mengganggu siapa-siapa, kenapa harus dibasmi pakai nyinyir? Hidup ini sudah cukup berat, jangan ditambah dengan komentar gratis yang tidak diminta.
Jadi lain kali, jika anda merasa ingin nyinyir pada hobi orang lain, cobalah tarik napas, lalu tarik selimut, dan turu-o wae. Karena mungkin kita cuma lelah atau stress, bukan lebih pintar atau banyak uang...