10/06/2021
Part 1. Kenyataan yang terpampang
Anjas melihat-lihat isi apartemen yang baru dia ketahui jika dulu tempat ini adalah miliknya. Dia mengelus sofa yang diduduki dengan penuh perasaan. Entah mengapa kenyamanan dia peroleh di sini. Bahkan di kontrakan band pun tidak senyaman di apartemen ini.
Semua berawal dari seorang fans Band Tiger, band tempat dia mencari nafkah sebagai vokalis, mengirim direct message ke Instagramnya. Dia mengatakan menemukan sebuah buku nikah yang berisi foto dirinya dan seorang perempuan.
Awalnya Anjas kira hanya fans yang kurang kerjaan, tetapi saat buku nikah tersebut dibuka, dia sangat terkejut. Biodata semua benar-benar miliknya. Namun, biodata pihak perempuan terasa asing, tetapi juga familiar.
Anjas yang sangat penasaran, akhirnya setuju untuk bertemu dengan orang yang sudah mengirim pesan. Orang yang mengaku bernama Bagas. Selanjutnya mereka janjian bertemu di apartemen lelaki itu, mengingat Anjas yang seorang publik figur, pasti tidak akan nyaman jika bertemu di luar.
Setelah jadwal bandnya benar-benar kosong, dia menyuruh Meta--asisten pribadinya untuk beristirahat. Sementara dirinya akan pergi menemui lelaki itu.
Meta--asisten yang paling lama bertahan. Asisten yang bahkan mengetahui segala kebiasaannya tanpa diberi tahu. Satu-satunya perempuan yang sejujurnya membuat hati Anjas nyaman.
Wajah Anjas berubah muram, saat menyadari dia sudah bertunangan dengan Melia, walau dari perjodohan, tetapi kenapa rasa nyaman justru didapat dari perempuan lain? Anjas menggeleng-gelengkan kepala agar ingatan tentang Meta menghilang.
"Met, tolong ambilkan baju untuk aku pergi." Anjas mulai menggunakan mode memerintahnya.
Setiap anggota band Tiger memiliki asisten sendiri per-orang, karena kesibukan mereka yang luar biasa. Namun, hanya Anjas yang berkali-kali harus berganti asisten karena terlalu perfeksionis.
Dia bisa memecat asistennya hanya karena peletakan baju yang salah. Tidak ada yang tahu bentuk pengaturan barang Anjas, karena lelaki itu tidak pernah memberitahukan kepada setiap asisten yang bekerja untuknya.
Hingga beberapa bulan yang lalu datanglah Meta melamar menjadi asistennya. Manager Tiger yang bernama Atika, terpaksa membuka lowongan asisten ke khalayak umum karena sudah kehabisan cara dengan kelakuan Anjas yang kadang membuat semua orang mengelus dada.
Atika ternyata tidak salah memilih. Setelah Meta diterima dan bertugas, dia bekerja dengan sangat baik. Jangankan Atika, Anjas saja tidak pernah tidak merasa takjub melihat Meta sangat pintar mengerjakan segala keperluan sang vokalis.
"Mas mau acara apa? Biar Meta sediakan bajunya."
Anjas memandang perempuan yang sangat cekatan dalam mengurusnya itu. Entah mengapa dia tidak pernah risih saat berdekatan dengan perempuan itu. Padahal biasanya Anjas tidak s**a berdekatan dengan orang yang berlainan jenis dengannya.
Dia bahkan tidak pernah bisa berlama-lama dengan Melia, kekasihnya sejak lima tahun yang lalu. Melia bahkan sering marah karena Anjas tidak pernah s**a berduaan dengannya. Jangankan untuk berbuat lebih, memegang tangan sang kekasih pun, Anjas sangat jarang melakukannya.
"Cuma ketemu temen lama aja. Siapkan, ya. Aku harus mandi dulu." Meta mengangguk sebelum Anjas menghilang di balik pintu kamar mandi.
Kelompok Tiger memang memutuskan mengontrak sebuah rumah besar dengan banyak kamar. Lima anggotanya yang semuanya lajang, mendapatkan masing-masing satu kamar. Untuk para asisten, mendapatkan dua kamar, satu untuk asisten pria, dan satunya untuk perempuan..
Kebetulan terdapat tiga asisten pria dan dua asisten wanita, termasuk Meta. Sedangkan Atika sang manajer lebih s**a tinggal di rumah sendiri karena telah berkeluarga.
Setelah selesai mandi, Anjas menemukan baju dan segala perlengkapan lainnya, termasuk masker dan topi kebanggaannya untuk penyamaran. Entah mengapa, hanya seperti ini, darahnya sudah berdesir mengingat Meta yang menyiapkannya.
Anjas sejujurnya sangat bingung dengan keadaan ini. Dengan Melia saja dia menolak, tetapi kenapa hanya memegang barang yang tadinya dipegang Meta, membuat jantungnya berdetak cepat dan hatinya merasakan kebahagiaan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata.
"Mas diminum. Maaf cuma ada jus jeruk kaleng di kulkas."
Kedatangan Bagas membuyarkan lamunannya Anjas. Dia tidak pernah menyangka suasana apartemen membuat pikirannya melayang jauh. "Oh nggak papa, Mas. Makasih nih udah merepotkan."
"Maaf juga tadi di dalam bersih-bersih dulu sebentar, karena baru pulang dari tempat saudara. Belum sempat mandi padahal bertemu artis."
Anjas tertawa mendengar alasan Bagas. Namun, dia bingung juga pada dirinya sendiri. Rasa penasaran yang menggunung membuat dia rela menunggu lelaki itu mandi. Padahal biasanya dia bukan orang yang sabar dalam hal penantian.
Bagas tertawa mendengar kata-kata merendah dari seorang artis yang sangat terkenal itu. Dia tidak menyangka Anjas yang gosipnya sangat sombong dan sulit ditemui, kini berada di depannya.
Anjas melihat seluruh bagian ruang tamu apartemen tersebut. Entah mengapa ada perasaan berdebar, saat melihat tembok apartemen. Padahal di tembok tersebut hanya berisi beberapa hiasan dinding yang terbuat dari kerajinan tangan yang sangat indah.
"Mas sudah lama tinggal di apartemen ini?" Anjas mulai berbasa-basi sebelum menuju ke inti.
"Apartemen ini sudah kubeli cukup lama, Mas. Sekitar lima tahun yang lalu dari perempuan paruh baya. Terus terang aku sangat tertarik karena selain dijual murah juga aku mendapatkan bonus seluruh barang di dalamnya." Bagas berhenti sejenak sambil menghela napas. "Namun, setelah membeli, ternyata aku mendapatkan pekerjaan di Singapura. Jadi kubiarkan apartemen ini dalam keadaan kosong."
Anjas mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Bagas. "Kalau kosong kok tetap bersih apartemen ini?" tanya Anjas lumayan penasaran, dia lupa jika ada cleaning service panggilan yang bisa membersihkan apartemen.
"Selama ini aku menyuruh orang untuk membersihkan semua tanpa merubah keadaan. Setelah lima tahun, aku akhirnya kembali, dan sebentar--." Bagas mengambil sesuatu dari sakunya. "Ini buku nikah yang kumaksud."
Anjas menerima buku yang dimaksud dari tangan Bagas. Tangannya gemetar melihat isi buku yang sangat berharga untuk suami istri itu. Dia membukanya, dan entah mengapa foto perempuan yang di sebelahnya tidak terlalu jelas, seperti ada seseorang yang merusaknya.
"Sebentar, ada lagi yang ingin kuperlihatkan."
Tanpa menunggu jawaban Anjas, Bagas berdiri dari sofa yang berada di seberang Anjas. Lelaki itu melangkah memasuki salah satu pintu yang sepertinya sebuah kamar.
Anjas membuka biodata kedua pengantin. Nama perempuannya Maurisa Ayudia, nama yang terdengar sangat asing di telinga. Pernikahan terjadi tujuh tahun lalu. Sebenarnya ada apa ini? Mengapa dia tidak ingat jika pernah menikah. Sebenarnya apa yang terjadi? Tidak ada seorang pun yang memberitahu tentang pernikahan ini.
Bahkan orang tuanya sekali pun. Namun, dokumen yang ada di hadapannya adalah dokumen asli. Lalu mengapa Melia justru mengaku menjadi tunangannya, bukan istrinya.
Berbagai pertanyaan berputar di kepala Anjas. Pertanyaan yang Anjas sendiri tidak tahu apa jawabannya. Kepalanya berputar karena pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya masih menjadi misteri. Sungguh dia ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi.
"Ini, Mas, ada sebuah album foto yang kutemukan di bawah springbad. Ini kutemukan saat memindahkan tempat tidur itu ke kamar yang ingin kutempati."
Anjas menerima album foto tersebut. Wajahnya memucat saat melihat isi album. Dia bahkan membolak-balik album itu berkali-kali hingga halaman terakhir. Namun, dia hanya menemukan foto dua orang dalam berbagai pose mesra bahkan beberapa foto sedang memakai baju pengantin sambil memamerkan surat nikah. Fotonya dan foto Meta asistennya.
Tbc
Yok yang minat, bisa pesan ke wa 081380443807