28/01/2017
🌸 The Kite Runner by Khaled Hosseini 🌸
Only IDR 115k
http://www.instagram.com/kutubuku_id
Buku ini sebenarnya sudah agak lama beredar, tapi karena saya baru membaca bukunya, dan setelah membaca bukunya saya tertarik untuk membuat resensinya. The Kite Runner Merindukan Layang-Layang Afghanistan, Sebuah Resensi Penulis yang berdarah Afghanistan sepertinya sedang dalam kerinduan yang berat ketika menulis bukunya, itulah yang saya dapati setelah membaca buku ini. Simak saja kata-katanya yang mengalir indah yang terkadang disertai dengan puisi-puisi dan ungkapan-ungkapan yang tak kalah indahnya. Hal ini menandakan akan sebuah kerinduan. Para pembaca baik sadar maupun tidak, bisa jadi akan turut larut dalam kerinduan penulisnya. Timbul pertanyaan, apakah yang dirindukan oleh penulisnya dalam cerita ini? Tak lain dan tak bukan adalah sebuah permainan layang-layang. Ya, sebuah permainan yang banyak digemari oleh anak-anak, bukan hanya anak-anak Afghanistan, tapi hampir seluruh anak-anak didunia.Kalau mengingat permainan layang-layang, maka sekelibat memori masa kecil yang bahagia dan menyenangkan akan hadir seketika dalam memori kita.
Penulis menggunakan sarana layang-layang yang bersifat universal dalam ceritanya, kemungkinan agar kisahnya bisa diterima oleh seluruh dunia sekaligus ingin menunjukkan bahwa dunia bisa damai tanpa perang dengan layang-layang, mengingat hampir sebagian setting ceritanya berada di Afghanistan yang penuh dengan konflik dan perang. Cerita diawali pada masa yang cukup damai ketika Afghanistan masih dalam bentuk monarki, kemudian masuk ke masa republik, lalu ke masa pendudukan oleh Rusia, dilanjut oleh Taliban, hingga berakhirnya Taliban.
Pembaca yang larut dalam kerinduan penulis bisa saja tidak menyadari bahwa cerita ternyata melalui masa yang panjang dari Afghanistan. Sebagian ceritanya lagi berada di Amerika, yang digambarkan bahwa disana penulis mendapatkan kedamaian yang tidak didapatnya lagi di Afghanistan. Penulis tampak merindukan masa kecilnya yang damai dan bahagia di Afghanistan dan menginginkan anak-anak Afghanistan kembali seperti dulu kala, damai dan bahagia dengan bermain layang-layang, bukan layaknya kondisi sekarang di Afghanistan dengan konflik dan perangnya yang membuat anak-anak Afghanistan menjadi yatim piatu, sengsara, terlantar dan kelaparan.
Hal inilah yang dikisahkan penulis melalui Amir sebagai tokoh utamanya, Baba (ayah Amir), Hassan (saudara sepersusuan Amir) dan anak Hassan, Sohrab (namanya diambil dari pahlawan dalam dongeng/sejarah Afghanistan). Momen-momen masa kecil anak Afghanistan inilah yang akan membuat kita terharu pada nantinya. Aku ingin kehidupan lamaku kembali. Aku ingin ayah dan ibu. merupakan permohonan dari Sohrab kepada Amir. Kalimat yang sangat menggugah hati karena ayah dan ibunya Sohrab diceritakan meninggal dibunuh oleh Taliban.
Kembali kepada layang-layang, penulis dengan pintarnya mengawali konflik utama dalam ceritanya dari sebuah festival layang-layang di Afghanistan dan kemudian mengakhiri kisahnya dengan layang-layang p**a sebagai ending atas ceritanya. Konflik utama yang ditampilkan oleh penulis adalah terkait pengkhianatan, konflik etnis dan perang Afghanistan, kebohongan dan rasa kepengecutan, namun pada akhir ceritanya, penulis menggantinya dengan rasa keberanian dan rasa kasih sayang yang akan membuat kita terharu. Salah satu yang menarik dari buku ini adalah bagaimana penulis menggambarkan karakter tokohnya dalam cerita. Kalau kebanyakan cerita menggambarkan tokoh utamanya sebagai sosok jagoan maka pada awal cerita penulis malah menggambarkan Amir sebagai sosok yang pengecut, penakut, tidak religius, dan culas terutama kepada Hassan. Sebaliknya, sosok Hassan digambarkan sebagai sosok yang setia, pemberani, religius, baik dan sayang kepada Amir.
Pada awal-awal bab, kemungkinan pembaca akan merasa geram dan kesal akan sikap Amir terhadap Hassan terutama ketika Amir membiarkan Hassan diperkosa oleh Assef dan membuat Hassan terusir dari rumahnya dengan menuduhnya sebagai pencuri. Yang menarik, dibalik sikap-sikap buruk Amir tersebut, penulis menggambarkan bahwa Amir ternyata jagoan bermain layang-layang sedangkan Hassan jagoan dalam memburu layang-layang yang putus. Pada akhirnya, sebagai bentuk penebusan dosa terhadap Hassan atas sikap buruknya, Amir berubah menjadi sosok yang pemberani yang tanpa takut menantang maut untuk mengambil Sohrab, anak Hassan, dari tangan salah satu pemimpin kejam Taliban, yang tak lain adalah Assef, seseorang dari masa kecil Amir yang digambarkan memang nakal lagi kejam dan terkenal dengan pelindung buku jari bajanya.
Di akhir-akhir cerita juga dikisahkan bagaimana perjuangan Amir dan Soraya, istrinya, untuk mengasuh dan menjaga Sohrab dengan penuh kesabaran dan kasih sayang yang akan membuat kita terharu. Berbicara tentang konflik, penulis dengan pintarnya membawa berbagai konflik dalam ceritanya dan tanpa kita sadari penulis memberikan solusi atas konflik tersebut. Contohnya, seperti konflik etnis antara Kaum Pashtun dan Hazara di Afghanistan, ditutup dengan kalimat Amir kepada mertuanya, Jenderal Sahib. Anda tidak akan pernah lagi menyebut dia anak Hazara di depan saya. Dia punya nama, Sohrab. Konflik antara Sunni dan Syiah ditentang oleh penulis dengan menggambarkan bagaimana Amir yang katanya Sunni datang untuk menyelamatkan Sohrab yang beraliran Syiah dari tangan Taliban yang beraliran Sunni. Hal ini juga yang membuat Farid (tokoh yang membantu Amir menyelamatkan Sohrab yang beraliran Sunni) heran karena Amir jauh-jauh datang dari Amerika ke Afghanistan dengan menantang maut hanya untuk mengambil Sohrab. Ada lagi, konflik antara Amir dan ayahnya, Baba, yang menggambarkan hubungan yang dingin antara ayah dan anak akhirnya mencair melalui berbagai momen-momen yang terjadi di Amerika dan yang paling mengharukan momen ketika Baba menikahkan Amir dengan Soraya.
Terakhir adalah konflik antara Amir dengan Tuhan atau Agamanya, yang diakhiri dengan kembalinya Amir kepada Jalan Tuhannya, Jalan Menuju Kebaikan.Sekarang aku tahu bahwa Baba salah, Tuhan itu ada dan selalu ada. Kalimat Amir ketika kembali kepada Tuhannya dalam kondisi ketidakberdayaannya. Namun, ada beberapa bagian yang bisa dikritik dari buku ini.
Ada beberapa momen dalam cerita yang perlu dikembangkan agar lebih logis menurut saya. Momen meninggalnya Baba, ayah Amir, digambarkan oleh penulis dengan sangat singkat dan agak nanggung. Menurut saya, peristiwa ini bisa lebih dikembangkan lagi dengan menunjukkan emosi mendalam antara ayah dan anak. Selain itu, penulis bisa menghubungkan antara peristiwa kematian Baba ini dengan Rahim khan secara langsung. Maksudnya, sebelum meninggal, Baba memberitahukan agar Amir menghubungi Rahim Khan secara langsung karena ada hal yang akan disampaikan oleh Rahim Khan. Hal ini menunjukkan bahwa Baba dan Rahim khan masih berkomunikasi dan menyimpan suatu rahasia antara Baba dan Rahim Khan. Mereka berdua sepakat siapa yang masih hidup antara mereka berdua akan membicarakan hal ini kepada Amir. Hal ini masih logis dibandingkan menunggu Rahim Khan untuk menelpon Amir sebagaimana cerita dalam buku ini,
Bagaimana kalau Rahim Khan meninggal duluan?
Akankah Baba membeberkan rahasianya? Patut dipertanyakan. Entahlah, kalau penulis sengaja membiarkan hal ini dengan anggapan bahwa terkadang ada suatu momen tertentu yang pada nantinya akan merubah jalan hidup kita secara keseluruhan. Setelah membaca buku ini, kemungkinan anda bisa melafalkan beberapa kata dalam bahasa Afghanistan, mengenal sedikit kebudayaan Afghanistan, ingin bermain layang-layang, bahkan bisa jadi anda ingin bermain layang-layang di Afghanistan karena larut dalam kerinduan penulisnya.
Resensi by http://m.kompasiana.com/muhammad_arfah/resensi-buku-the-kite-runner_5529578b6ea83477648b45c7