04/01/2017
Menuju kedewasaan tanpa laghw
Banyak hal berbau laghw ( tidak berguna dan sia-sia) terjadi di sekitar kita dalam beberapa minggu terakhir ini, hal ini melibatkan anak-anak, remaja dan orang tua.
Masih segar di ingatan kita, bahkan mungkin masih ada walaupun tidak semarak beberapa waktu yang lalu, fenomena om tolelot om yang menjadi trending topic dunia. Fenomena yang sudah dibahas dengan sangat jelas oleh Bunda Elly Risman minggu lalu, yang secara parenting mengindikasikan adanya absensi orang tua dari mereka yang memburu klakson bis AKAP. Apapun , OTO adalah termasuk tindakan yang berunsur laghw, atau sia-sia yang cenderung berbahaya, menyalahi salah satu pedoman Islam yang berprinsip : laa dharara walaa dhirara ( tidak berbahaya dan tidak membahayakan.
Lebih miris lagi tindakan ini bukan hanya dilakukan oleh anak-anak, tetapi juga dewasa, akhirnya mau tidak mau kita harus mengakui bahwa bangsa kita masih kekanak - kanakan, yang juga merupakan indikasi dari masa kecil yang kurang memuaskan bagi banyak orang di negara ini.
Belum habis efek OTO datanglah fenomena malam pergantian tahun yang walaupun alhamdulillah, sudah banyak yang tidak merayakan lagi, tetapi bunyi petasan dan terompet masih nyaring terdengar di telinga kita. Bukan hanya bunyi petasan, pesta kembang api dan terompet, tapi tidak bisa dipungkiri banyak terjadi maksiat di malam tahun baru, sebagai sebuah surat kabar lokal di sebuah kota melaporkan tentang laris manisnya kondom di apotik-apotik di kota tersebut pada malam pergantian tahun 2017.
Seperti yang berulang kali kita diskusikan bahwa salah satu tanda faktor penyebab krisis adab dan moral dalam masyarakat adalah kesalahan dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi dunia dewasa, sehingga mereka tumbuh bukan hanya secara biologis, tetapi mempunyai tanggung jawab yang jelas terhadap Pencipta. Bukan hanya menjadi manusia dewasa yang sudah melewati fase pubertas, tetapi juga menjadi seorang mukallaf yang siap menjalankan perintah agama.
Berbicara mengenai persiapan pubertas menuju fase mukallaf, tidak bisa dipisahkan dengan fase Pra Pubertas yang dimulai ketika anak-anak menginjak usia tamyiz, di mana anak-anak mulai mempunyai pemahaman atas apa yang terjadi di sekitarnya.
Untuk itu, mengantisipasi lahgw beberapa langkah bisa dimulai semenjak anak memasuki fase tamyiiz (6,7 tahun ke atas). Di samping dengan mengisi anak dengan kegiatan bermakna, di bawah ini beberapa hal yang bisa di mulai sejak dini untuk membiasakan anak-anak membesar jauh dari hal yang tidak bermakna (lahgw).
Pertama :contoh dari kedua orang tua. Jika si ayah adalah seorang perokok maka kecil kemungkinan si anak tidak mencoba rokok atau bahkan menjadi perokok warisan.
Jika ayah dan ibu masih s**a nongkrong tanpa tujuan, atau menghabiskan waktu main games online, maka besar kemungkinan si anak pun akan berbuat yang sama. Sebaliknya, jika si ayah dan ibu rajin murojaah hapalan Al Qur’an, atau membaca buku, ataupun melakukan hal-hal positif lain maka secara default hal tersebut menjadi kebiasaan si anak.
Kedua : ajarkan anak-anak bersikap kritis, bertanya kenapa? Kenapa harus ini dan itu? Sikap kritis ketika dihadapkan dengan sesuatu. Ajarkan bahwa ketika contoh Rabbani diberikan Allah ketika menciptakan manusia, Dia mempunyai tujuan, agar manusia konstan ibadah dan taat kepada Allah. Untuk itu apapun yang kita lakukan harus mempunyai tujuan yang tidak bertentangan dengan misi penciptaan. Anak-anak yang kritis akan bertanya kenapa orang-orang memakai topi pada malam akhir tahun, meniup terompet, membakar petasan dan lain-lain.
Ketika orang tua melarang, seharusnya orang tua menerangkan alasan pelarangan. Kalau memang tidak tahu, minta waktu kepada anak untuk menunggu penjelasan lain waktu, sementara orang tua belajar mencari jawaban yang baik untuk anak.
Ketiga :Meminta petunjuk Dzat Pemilik kita dan anak kita, agar senantiasa diberikan kekuatan, kemudahan dan kesabaran untuk membesarkan generasi penerus, yang bukan hanya bertakwa, tetapi panutan bagi orang-orang yang bertakwa.
Semoga kita sukses membangun generasi yang akan datang yang lebih bermanfaat dan jauh dari perbuatan yang sia-sia.
Ingat janji Allah akan kebahagian bagi orang-orang yang menjauhi perbuatan dan perkataan yang sia-sia. (QS Mu'minun :3).