Aby Ummy Bookstore

Aby Ummy Bookstore Tidak Mungkin Hijrah Menjadi Lebih Baik Tanpa Ilmu

▪️ ••┈┈✺ ﷽ ✺┈┈•• ▪️Makna Hadits:Tak Ada Sholat Saat Makanan Telah DihidangkanOleh: Ustadz Ahmad Anshori Lc(Pengasuh PP. ...
14/04/2022

▪️ ••┈┈✺ ﷽ ✺┈┈•• ▪️

Makna Hadits:
Tak Ada Sholat Saat Makanan Telah Dihidangkan

Oleh: Ustadz Ahmad Anshori Lc
(Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Bismillah..

👤 Ibunda Aisyah radhiyallahu’anha pernah menyampaikan sebuah nasehat yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu p**a tidak ada shalat bagi yang menahan (kencing atau buang air besar).”
(HR. Muslim no. 560).

Sebelum kita menyinggung hukum fikih berkaitan hadis ini, perlu kita tahu bahwa hadis yang mulia ini diantara dalil yang menunjukkan sholat adalah ibadah yang sangat istimewa. Karena sebelum melakukan sholat, syariat memerintahkan segala hal yang dapat mengganggu kekhusyu’an sholat, hendaklah ditanggalkan terlebih dahulu.

Seorang sholat dalam keadaan lapar, dan makanan sudah tersaji, tentu dia sangat sulit meraih khusyu’. Oleh karenanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan pada hadis di atas,

“Tak ada sholat ketika makanan telah dihidangkan..”

👤 Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

أن لب الصلاة وروح الصلاة هو حضور القلب، ولذلك أمر النبي صلى الله عليه وسلم بإزالة كل ما يحول دون ذلك قبل أن يدخل الإنسان في صلاته.

Inti dan ruhnya sholat adalah hadirnya hati. Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk menghilangkan segala hal yang dapat menghalangi kehadiran hati saat sholat, sebelum seorang melakukan sholatnya.
(Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 13/296)

Apa makna peniadaan di sini? yaitu pada teks hadis, “Tak ada sholat ketika makanan telah dihidangkan..”

Ada sejumlah penafsiran ulama terkait makna peniadaan pada hadis di atas. Mazhab Dzahiri mengambil kesimp**an, hadis ini menunjukkan tidak sahnya sholat seorang dalam keadaan lapar dan makanan telah dihidangkan.

Namun, penafsiran yang tepat –wallahua’alam-, peniadaan sholat pada hadis di atas, bukan peniadaan keabsahan (wujud), akantetapi yang dimaksudkan adalah peniadaan kesempurnaan, artinya sholatnya tidak sempurna. Inilah penafsiran mayoritas ulama.

Sehingga sholat saat makanan sudah terhidang serta kondisi petut lapar, hukumnya adalah makruh, artinya sebatas mengurangi kesempurnaan, bukan tidak sah.

👤 Imam Nawawi rahimahullah menerangkan,

فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث كَرَاهَة الصَّلَاة بِحَضْرَةِ الطَّعَام الَّذِي يُرِيد أَكْله ، لِمَا فِيهِ مِنْ اِشْتِغَال الْقَلْب بِهِ ، وَذَهَاب كَمَالِ الْخُشُوع

Hadis-hadis ini menunjukkan, makruhnya melakukan sholat saat makanan sudah terhidang sementara dia berkeinginan untuk menyantapnya. Karena hal tersebut dapat menyibukkan hati dan dapat menghilangkan kekusyuan sholat.
(Syarh Shahiih Muslim, 5/46).

Ada hadis di atas semakna dengan hadis di atas,

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak Amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji.” (HR. Ahmad)

Maksudnya, peniadaan pada hadis ini adalah peniadaan iman yang sempurna, bukan peniadaan wujud iman. Artinya, orang yang tidak amanah dan tidak bisa dipegang janjinya, tidak lantas menjadi kafir. Namun kualitas imannya yang berkurang.

Dalam kitab Faidhul Qodir, Al-Munawi rahimahullah mengambil kesimp**an menarik,

وفيه تقديم فضيلة حضور القلب على فضيلة أول الوقت

Hadis ini menunjukkan, mengejar keutamaan hadirnya hati saat sholat (kyusu’), lebih didahulukan daripada mengejar fadhilah sholat di awal waktu.
(Faidhul Qodir, 6/430).

Seandainya kita menemui masalah, antara mengikuti sholat jamaah atau makan atau buang hajat terlebih dahulu, maka dahulukan makan dan buang hajat, meski harus terluput dari sholat berjama’ah. Karena dia memilki uzur.
(lihat : Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 13/298).

Kapan Seorang Dianjurkan Mendahulukan Makan daripada Sholat?

Dari hadis Ibunda Aisyah di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang diperintahkan mendahulukan makan daripada sholat, bila terpenuhi syarat-syarat berikut berikut :

✍ Pertama, makanan telah tersaji.

✍ Kedua, lapar atau ada hasrat kuat untuk makan.

✍ Ketiga, mampu memakannya, baik secara tabiat maupun syariat.

Jika makanan belum terhidang, sementara perut merasakan lapar, maka tidak boleh mendahulukan makan daripada sholat. Karena bila tidak kita katakan demikian, orang-orang miskin dituntut mengakhirkan sholatnya terus-menerus. Karena mereka seringkali merasakan lapar.

Demikian p**a andaikan makanan sudah tersaji, akantetapi tidak lapar, maka tidak boleh mendahulukan makan. Tidak makruh hukumnya mendahulukan sholat bila kondisinya seperti ini.

Atau makanan sudah terhidang, dia merasa lapar, namun dia tak mampu menyantapnya karena ada penghalang yang sifatnya tabi’at dan syariat.

Tabi’at misalnya, makanan masih sangat panas. Atau makanan sangat pedas, sementara perut tidak kuat dengan makanan-makanan pedas.

Syariat misalnya, puasa. Orang yang puasa tentu merasakan lapar. Seandainya waktu adzan asar, hidangan buka puasa sudah tersaji, maka tetap mengutamakan sholat asar berjamaah, bukan menunggu tiba waktu buka baru sholat, kemudian beralasan dengan hadis di atas.
(Lihat penjelasannya di : Syarah Al-Mumti’, Ibnu ‘Utsamin, 3/237-238).

Demikian. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk penulis dan pembaca sekalian.

Wallahua’alam bis showab.

Referensi: https://konsultasisyariah.com/31301-tak-ada-sholat-saat-makanan-telah-dihidangkan.html

▪️ ••┈┈✺ ﷽ ✺┈┈•• ▪️UCAPKALAH YANG BAIK BAIKHindari menghina, mencela dan merendahkan anak dengan memberikan julukan-julu...
10/03/2022

▪️ ••┈┈✺ ﷽ ✺┈┈•• ▪️

UCAPKALAH YANG BAIK BAIK

Hindari menghina, mencela dan merendahkan anak dengan memberikan julukan-julukan/panggilan-panggilan/sebutan-sebutan yang mengandung doa yang buruk. Seperti menyebut anak kita dengan “anak nakal/anak bandel/anak bodoh,” dan sejenisnya. Ini adalah sebutan-sebutan yang tidak baik dan tidak seharusnya kita tujukan kepada anak-anak kita.

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Apa yang terucap itu pasti tertulis, tidak hilang begitu saja. Kalau itu doa keburukan, dia tidak akan hilang. Kita khawatir doa-doa buruk itu benar-benar terjadi dan itu tidak kita inginkan. Banyak orang-orang yang mendoakan keburukan atas dirinya, setelah dia sadar baru dia ralat doanya.

Maka kalaulah kita terlanjur memberikan julukan-julukan yang tidak baik kepada anak-anak kita, maka kita meminta maaf kepada anak tersebut dan gantilah dengan julukan dan sebutan yang baik. Betaubatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mudah-mudahan doa-doa buruk itu tidak benar-benar terjadi.
Selengkapnya: https://www.radiorodja.com/49660-hinaan-dan-celaan-membuat-anak-tidak-percaya-diri/

♻️ Jangan lupa di share yaa !!
- - - - -
🌐 Yayasan Dar el-Iman
📡 SurauTV

BismillahPERHATIKAN PENDIDIKAN AGAMA ANAK KITAAllah Subhanahu Wa Ta'ala berfirmanأَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَع...
15/01/2022

Bismillah

PERHATIKAN PENDIDIKAN AGAMA ANAK KITA

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:
"Apa yang kamu sembah sepeninggalku?"

Mereka menjawab:
"Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".

Referensi: https://tafsirweb.com/576-surat-al-baqarah-ayat-133.html

Wahai orang tua perhatikanlah pendidikan agama anak anak mu, jangan tinggalkan generasi dalam keadaan lemah (agamanya)

Karena kesyirikan yang terjadi hari ini, dilakukan oleh mereka yang dari lahir muslim hingga dewasa bahkan lanjut usia, dan mereka menganggapnya biasa sudah SUDAH TRADISI

22/12/2021

tidak ada hari ibu dalam Islam❌

Yg ada HARI KIAMAT
☝️Persiapkan bekal KITA utk menghadapi nya..

BismillahSEMUA ORANG BISA BERUBAH, KECUALI......
27/11/2021

Bismillah

SEMUA ORANG BISA BERUBAH, KECUALI......

📎 SYAIKH BIN BAZ DAN BUKU FISIKASalah seorang putri beliau menyebutkan bahwa suatu kali beliau masuk menemui putri belia...
14/11/2021

📎 SYAIKH BIN BAZ DAN BUKU FISIKA

Salah seorang putri beliau menyebutkan bahwa suatu kali beliau masuk menemui putri beliau yang duduk di bangku tsanawiyyah (di Arab Saudi setingkat SMA di Indonesia -pent)

Lalu beliau (Syaikh bin Baz rahīmahullāhu) berkata;
“Faedah apa atau buku apa yang bisa engkau bacakan kepadaku?”

Ketika itu putrinya tersebut sedang memegang buku fisika, maka dia membacakan kepada beliau isi muqaddimah buku tersebut dan di dalamnya disebutkan, “Matahari, darinyalah kehidupan kita, kalau bukan karena matahari niscaya tanaman tidak akan tumbuh dan hujan tidak akan turun.”

“Maka beliau bertanya kepada putrinya tersebut apakah benar-benar tertulis demikian?”

Lalu beliau menyuruhnya agar mengambil kertas, kemudian beliau mengatakan kepadanya, tulislah;

Matahari diciptakan oleh Allāh tabāraka wa ta’āla dan Dia menundukkannya untuk hamba-hamba-Nya dan negeri-negeri, dia termasuk makhluk ciptaan Allāh tabāraka wa ta’āla, dan tidak boleh bagi kita untuk menyandarkan pertumbuhan tanaman dan penurunan hujan kepada matahari ataupun kepada makhluk yang lainnya. Ucapan semacam ini merupakan kesyirikan.”

Dan beliau menyebutkan ayat:

ﻭَﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ۖ ﻭَﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡُ ﻣُﺴَﺨَّﺮَﺍﺕٌ ﺑِﺄَﻣْﺮِﻩِ ۗ ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟَﺂﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ.

“Dan Dia (Allāh tabāraka wa ta’āla) telah menundukkan siang dan malam, matahari dan bulan untuk kalian, dan bintang-bintang ditundukkan dengan perintah-Nya, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.”
[QS. An-Nahl: 12]

Kemudian beliau rahīmahullāhu mengingatkan kepada kepala sekolah anak-anak perempuan ketika itu tentang wajibnya memperhatikan penyusunan kurikulum dan memilih beberapa ulama untuk mengkoreksi dan memeriksanya.

Lalu beliau mengambil kertas tersebut dan mengirimnya. Beberapa waktu kemudian buku-buku pelajaran di sekolah tersebut telah diubah dan ditambahkan kata pengantar dari beliau rahīmahullāhu.

Sumber: https://bimbinganislam.com/untukmu-seorang-pendidik-perhatikan-kurikulum-yang-kau-ajarkan/
=====


=====
Itu kan Syaikh Bin Baz, berpengaruh di seantero Saudi. Kalo kita?

Ya gak apa2, walaupun pengaruh antum cuma di murid2 di kelas, atau bahkan hanya di keluarga di rumah, tetep perhatikan apa yang diajarkan sama2 Orang2 yang terpengaruh dengan kita, jangan sampai ada yang bertentangan dengan akidah. Kalo ada luruskan. Gak perlu nunggu berpengaruh skala nasional atau internasional.

BismillahYang sering kali kita lupa syukuri, ketika kita pergi naik. kendaraan, baik motor, mobil, pesawat dan lainnya, ...
05/11/2021

Bismillah

Yang sering kali kita lupa syukuri, ketika kita pergi naik. kendaraan, baik motor, mobil, pesawat dan lainnya, lalu kita bisa p**ang dengan selamat. Mulai sekarang syukurilah

Ustad Yulian Purnama Hafizahullah

BismillahDiantara Bentuk Karomah di Zaman Fitnah  Seorang yang berusaha istiqomah menundukkan pandangannya dari yang dih...
04/11/2021

Bismillah

Diantara Bentuk Karomah di Zaman Fitnah Seorang yang berusaha istiqomah menundukkan pandangannya dari yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta ala

27/10/2021

Diantara tanda kesolehan seorang istri, ia merasa cukup dengan pujian suaminya
Dan ia tidak menginginkan pujian dari banyak laki laki yang bukan mahromnya
Wallahu a'lam

12/10/2021

ANAK JANGAN DILARANG LARANG ?

Demikian pesan yang tersebar beberapa artikel parenting, pada sebagian penjelasan dijelaskan larangan akan menghambat perkembangan dan kreatifitas anak ....???

CINTA PADA ANAK DENGAN MENDIDIK AGAMANYA

Anak Nikmat sekaligus ujian bagi seorang hamba

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.
(Qs.at-taghabun 15)

Dan FimanNya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…”
(Qs. At-Taghaabun:14)

Makna
“menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakuakan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika menafsirkan ayat di atas, syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka MENURUTI semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang DILARANG dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…” .

Kewajiban Mendidik Anak

Agama Islam sangat menekankan kewajiban mendidik anak dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(Qs. at-Tahriim: 6)

👤 Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.”

👤 Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi LARANGAN-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya” .

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah MELARANG Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiallahu ‘anhu masih kecil,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut,

kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) TIDAK BOLEH memakan sedekah?”

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah
✍ Bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka),

✍ serta MELARANG mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut .

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi-Nya Ya’qub ‘alaihissalam yang sangat mengutamakan pembinaan iman bagi anak-anaknya, sehingga pada saat-saat terakhir dari hidup beliau, nasehat inilah yang beliau tekankan kepada mereka.

Allah berfirman,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika dia berkata kepada anak-anaknya,
‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’

Mereka menjawab,
‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.'”
(Qs. al-Baqarah: 133)

Renungkanlah teladan agung dari Nabi Allah yang mulia ini, bagaimana beliau menyampaikan nasehat terakhir kepada anak-anaknya untuk berpegang teguh dengan agama Allah , yang landasannya adalah ibadah kepada Allah semata-semata (tauhid) dan menjauhi perbuatan syirik (menyekutukan-Nya dengan makhluk). Dimana kebanyakan orang pada saat-saat seperti ini justru yang mereka berikan perhatian utama adalah kebutuhan duniawi semata-mata;

apa yang kamu makan sepeninggalku nanti? Bagaimana kamu mencukupi kebutuhan hidupmu?
Dari mana kamu akan mendapat penghasilan yang cukup?

Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya,
‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'”
(Qs. Luqmaan: 13)

Lihatlah bagaimana hamba Allah yang shaleh ini memberikan nasehat kepada buah hati yang paling dicintai dan disayanginya, orang yang paling pantas mendapatkan hadiah terbaik yang dimilikinya, yang oleh karena itulah, nasehat yang pertama kali disampaikannya untuk buah hatinya ini adalah perintah untuk menyembah (mentauhidkan) Allah semata-mata dan menjauhi perbuatan syirik .

Manfaat dan Pentingnya Pendidikan Anak

👤 Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata,
“Salah seorang ulama berkata, ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat (nanti) akan meminta pertanggungjawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak tentang orang tuanya. Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak (yang harus dipenuhi) anaknya, (demikian p**a) anak mempunyai hak (yang harus dipenuhi) orang tuanya.

Maka sebagaimana Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْناً

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.”
(Qs. al-‘Ankabuut: 8)

(Demikian juga) Allah berfirman,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(Qs. at-Tahriim: 6)

Maka barangsiapa yang tidak mendidik anaknya (dengan pendidikan) yang bermanfaat baginya dan membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh dia telah melakukan keburukan yang besar kepada anaknya tersebut. Mayoritas kerusakan (moral) pada anak-anak timbulnya (justru) karena (kesalahan) orang tua sendiri, (dengan) tidak memberikan (pengarahan terhadap) mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran (dalam) agama. Sehingga karena mereka tidak memperhatikan (pendidikan) anak-anak mereka sewaktu kecil, maka anak-anak tersebut tidak bisa melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri, dan (akhirnya) merekapun tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang tua mereka ketika mereka telah lanjut usia.

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/382-agar-buah-hati-menjadi-penyejuk-hati.html

DIANTARA CONTOH PERINTAH LARANGAN PADA SEORANG ANAK YANG HARUS DIAJARKAN

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu JANGAN menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali JANGANLAH kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan JANGANLAH kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
(QS. Al-Isra’: 23)

👤 Kata Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah yang dimaksud dengan ayat di atas,

فلا تؤفف من شيء تراه من أحدهما أو منهما مما يتأذّى به الناس، ولكن اصبر على ذلك منهما، واحتسب في الأجر صبرك عليه منهما، كما صبرا عليك في صغرك

“Janganlah berkata ah, jika kalian melihat sesuatu dari salah satu atau sebagian dari keduanya yang dapat menyakiti manusia. Akan tetapi, bersabarlah dari mereka berdua. Lalu raihlah pahala dengan bersabar pada mereka sebagaimana mereka bersabar merawatmu kala kecil.”
(Tafsir Ath-Thabari, 15:82)

Mengenai maksud berkata uff (ah) dalam ayat,

👤 dikatakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari,

كلّ ما غلظ من الكلام وقبُح

“Segala bentuk perkataan keras dan perkataan jelek (pada orang tua, pen.).”
(Tafsir Ath-Thabari, 15:82)

👤 Imam Ibnu katsir rahimahullah berkata,

وَلاَ التَّأْفِيْفُ الَّذِي هُوَ أَدْنَى مَرَاتِبِ القَوْلِ السَّيْءِ

“Jangan berkata ah, yang dimaksud adalah seringan-ringannya perkataan jelek.”
(Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:63)

👤 Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata,

هَذَا أَدْنَى مَرَاتِبِ الأَذَى نُبِّهَ بِهِ عَلَى مَا سِوَاهُ وَالمعْنَى وَلاَ تُؤَذِّهِمَا أَدْنَى أَذِيَّةٍ

“Ini adalah bentuk menyakiti orang tua yang paling ringan, hal ini diingatkan dari bentuk menyakiti lainnya. Maknanya adalah jangan sakiti keduanya walaupun itu dianggap ringan.”
(Tafsir As-Sa’di, hlm. 479)

Kita simpulkan, berkata ah atau uff yang bentuknya menyakiti perasaan orang tua termasuk durhaka (‘uquq walidain).

👤 Imam Nawawi dalam Al-Minhaj Shahih Muslim (2:78) berkata,
”‘Uququl walidain atau durhaka kepada orang tua adalah:

مَايَتَأَذَّى بِهِ الوَالِدَ

“Segala bentuk menyakiti orang tua.”

Sumber https://rumaysho.com/26511-jangan-berkata-uff-ahh-kepada-orang-tua.html

Address

Tanjungpinang

Telephone

+6281364745264

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Aby Ummy Bookstore posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category