NOVEL KARYA KU

NOVEL KARYA KU disini teman-teman semua bisa berbagi cerita

06/02/2025

Selamat datang di grup novel karyaku, sikahkan jika ingin berbagi cerita.🙏🏻😘🥰

12/10/2024





9. SEMANGKUK KELAPA PARUT UNTUK LAUK NASIBos Pelit, Sedang Anakku KelaparanPenulis:Lusia SudartiPart 9***"Oh ya Ma, ini ...
19/04/2024

9. SEMANGKUK KELAPA PARUT UNTUK LAUK NASI

Bos Pelit, Sedang Anakku Kelaparan

Penulis:Lusia Sudarti

Part 9

***

"Oh ya Ma, ini gaji Papa," ia menyodorkan uang lima ratus ribu.
"Alhamdulillah Pa, rejeki kita," ucapku sambil menerimanya.
"Alhamdulillah," ia bersyukur atas semua anugrah Illahi

"Oh iya Pa, setelah ini Mama mau bayar kontrakan, lampu, juga bayar sedikit-sedikit hutang di warung," aku menjelaskan.
"Iya Ma, atur aja ya? Persediaan beras masih banyak kan," tanyanya kemudian.

"Alhamdulillah masih Pa, kurang-kurang sedikit kalo masalah lauk, bisa cari sayuran di belakang. Yang penting ada beras, semua perlengkapan sekolah sudah ada," jelasku.
"Iya Ma, ya sudah, siapa tau pekerjaan kita cepet selesai dan nggak ada kendala lagi," sahutnya.

"Amiin," ku tengadahkan tangan untuk berdoa.

*****

Hari berganti, dan ini akhir tahun, itu tandanya nanti malam pergantian tahun baru.
Sedangkan pekerjaanku dan Suami semakin banyak.

Tapi belum ada yang selesai. Selesai yang ini, ada lagi yang lain. Pulang sore dari tempat yang jauh, langsung lembur yang ada di rumah. Lelah? Sangat lelah.
Tapi itu tak kami hiraukan.

"Pa, persediaan bahan makan sudah semakin menipis, Mana pekerjaan belum ada yang selesai, apa kita kasbon aja untuk nanti malam dan besok?" ujarku saat kami akan lembur.

"Iya nanti Papa coba kasbon. Pekerjaan kita yang ini hampir beres," suamiku setuju, untuk meminta sebagian gaji.

"Mama, Papa," suara Rani memanggil dari kejauhan.

Kulihat Rani dan Indra menyusul.

"Ma, itu Mamas sama Mbak," teriak Nayla saat melihat kedua kakaknya menyusul kami..

"Iya sayang, sana main sama Mbak ya?" bujukk.

"Iya Ma." Lalu Nayla menyongsong mereka berdua.

"Adek udah makan belum?" tanya Rani saat sudah tiba ke arahku.

"Belum Mbak, Adek juga lapel," jawabnya.

Aku yang mendengar obrolan mereka menjadi sangat sedih.

"Adek mau roti? Ini Mbak tadi beli roti sisa uang jajan, karena di rumah beras habis jadi Mbak sama Mas beli roti seribuan 3 buah.
Buat Adek satu ya?" Rani memberikan sebungkus roti isi kacang hijau.

"Asyikk, makasih Mbak," ucapnya girang dan menghampiriku juga Papanya.

"Mama sama Papa mau?" saat ia hendak memakannya.

"Nggak sayang, buat Adek aja ya?" sahut Papanya lalu di gend**g dalam pangkuannya, saat sedang istirahat.

"Adek lapar sayang? Nanti kita cari uang dulu ya, buat beli beras sama Mie instant," lembut suamiku menhibur anaknya.

Nayla hanya mengangguk sambil ngunyah roti di mulutnya.

Sebetulnya aku juga sangat lapar, perut juga sudah melilit. Tapi Insyaallah aku kuat," bisikku dalam hati.
Apa lagi mereka yang masih begitu kecil, dan dalam masa-masa pertumbuhan. Hatiku begitu sedih, sekuat tenagaku tahan bening yang akan menetes di p**iku.

Ku pandangi mereka satu-persatu, wajah-wajah lemah yang menahan lapar.
Ohh Allah...Engkau boleh menguji aku dengan yang berat sekali pun, tapi tolong berikan sedikit rizqi-Mu untuk anak-anakku. Kasihan mereka," tangisku sendu dihati.

"Ayo Ma, kita lanjut lagi," suara Suami menyadarkan lamunanku.
"Eehh iya Pa, ayo," jawabku tergagap.

"Heem dari pada duduk sambil melamun, mana perut lapar mendingan Kita kerja lagi," parau suaranya menahan kesedihan.

Aku tersenyum kecut mendengarnya.

"Bissmillahirrohmanirohim, semoga selesai dan semoga kuat Amiin," doa ku dalam hati..

Saat di dalam kolong.
"Mas, Mas ini alat-alat yang diperlukan," ternyata bos mobil.

"Oh iya Bos," jawab Suamiku, lalu keluar dari kolong dan menghampirinya.

"Benerkan ini Mas?" di perlihatkan semua alat-alat yang baru saja di beli.
"Iya betul, itu alatnya," suamiku mengamati satu persatu alat mobil itu.

Setelah di cek tak ada yang salah, Suami pun, meminta setengah dulu dari gaji kami..

"Bos, saya mau kasbon sedikit sekarang," sambung Suamiku tanpa basa-basi.

"Waduuh Mas belum ada, gimana nih?" ujarnya dengan raut datar..

"Ya udah kalo nggak ada." Lalu ia pun melanjut kan kerjaan yang tertunda dengan sedikit kesal.

"Nanti cobaku tanya istri dirumah dulu Mas, siapa tau ada," katanya lagi, setelah melihat Suamiku sedikit diam.

Tak ada jawaban.

Lalu bos pelit segera melangkah menuju motor untuk p**ang.

Aku sedih sekali, mencoba kasbon tapi nggak di kasih. Lalu...bagaimana anak-anakku makan?" desisku dalam hati, hatiku luruh, hatiku pilu. Oh Tuhan...

"Ayo Ma, cepet kita selesaikan! Habis itu p**ang. Enggak usah pamit atau laporan." ujar suamiku sedikit emosi.

Sementara, Nayla si bungsu menghampiriku setelah bermain sama Rani dan Indra.

"Ma, Adek haus," Nayla minta minumm
"Ini sayang, minum kopi luak," kuberikan segelas kopi luak yang sudah tak terlalu panas.
Lalu di teguknya hingga tandas.

"Tapi...Adek masih lapel Ma," raut wajahnya sedikit pucat.

Kuraih ia, dalam dekapan, tak terasa kedua netraku memanas, dan bulir-bulir air berjatuhan di kedua belah p**iku.

"sabar ya sayang?" ku usap rambutnya yang panjang dengan kuncir dua kanan dan kiri.

"Iya Ma," lalu ia turun dan ikut bermain bersama Rani dan Indra lagi.

Aku terpaku melihatnya.

"Ma, tolong ambilin kunci 17 d**g," suara Suamiku mengagetkan..

"Iya Pa, Nih Pa," ku sodorkan kunci itu.
"Buka Ma yang sebelah kiri baut nya ya?" pintanya kemudian.
"Oke Pa," lalu aku pun ikut ngolong.

Setelah bekerja lebih kurang satu jam lamanya, akhirnya selesai.

"Sudah selesai Ma, ayo kita p**ang, kasihan anak-anak pada lapar, ini masih ada uang lima belas ribu, buat beli mie instant aja," lalu kami bersiap p**ang. Tanpa pamit atau pun laporan.

Malam ini pergantian tahun. Kami hanya makan mie instant merk intermi. Lalu makan jagung rebus. Siang tadi bon dua kilo ditukang sayur.

Air mata yang kutahan sedari tadi agar tak tumpah, akhirnya luruh juga tanpa bisa di cegah.
Mereka semua sedang berkumpul menikmati jagung rebus, untuk mengganjal perut dan menahan lapar.

Aku sempat marah pada Sang Pencipta.

Yaa Allah, jika memang Engkau tidak memberi kami rizqi lagi. Maka ambilah nyawa kami sekeluarga," lirihku dalam tangis.
Aku benar-benar tak tega melihat mereka menderita dan kelaparan.

"Ma, ini jagung rebus buat Mama," Nayla menghampiriku dengan membawa sepotong jagung ditangan.
"Mama kenapa kok nangis?" di usapnya air mataku dan dikecup ke ldua p**iku.

"Ehh nggak kok sayang, tadi Mama bersihin debu, lalu ada yang lompat ke mata Mama," ku usap air mata yang semakin deras membasahi p**i.

"Coba Adek tiup ya?" aku pura-pura ngedipin mata yang perih.

"Sini Ma, Adek tiup," di tangkupnya wajahku dengan kedua tangannya, lalu di tiupnya, tapi bukan angin yang keluar, tapi embun air liurnya.

"Aduuuh Mama, maaf," di lap wajahku yang basah dengan ujung bajunya.

Ha! ha! ha!

"Adek-adek, katanya mau tiup, malah disembur, emang Mama ke surupan ya?" aku pun tertawa karena ulahnya yang bikin gemes.

Nayla pun nyengir.

"Tapi udah sembuh mata Mama," ujarnya, sembari melihat kedua bola mataku.

"Udah sayang, makasih ya?" sahutku.

Duka yang kurasakan seketika berkurang, melihat anak-anakku yang masih bisa bercanda. Aku tau mereka menahan lapar. Aku tau mereka bersedih. Tapi mereka pandai menyembunyikan semua, agar orang tua mereka tidak bertambah sedih.

"Mama sudah makan mienya?" Suamiku menghampiriku yang sedang membersihkan bekas makan mie tadi.

"Udah Pa, Mama udah kenyang," kilahku.
"Papa udah belum?" aku balik tanya.
"Udah Ma," tapiku lihat di mangkuk masih banyak yang tersisa.

"Adek sama Mbak udah mie nya?" tanyaku kepada mereka.
"Udah semua Ma, Papa sama Mama yang belum," jawab mereka.

Aku terdiam mendengar ucapan anak-anakku.

Ku tatap bening bola matanya yang juga menatapku!
"Udah tadi Ma, sedikit," jelasnya.
Aku pun beranjak mengambil mie di mangkuk, lalu duduk di sampingnya.

"Yo Pa, kita makan berdua lagi?" laluku suap dengan pelan. Aku pun menyuap diriku sendiri.

Di raihnya mangkuk di tanganku, gantian ia yang menyuapi, senyumnya mengembang saat pandangan kami bertemu.

"Sabar ya Ma, kita masih di sayang Allah. Mungkin dengan ujian ini, kita bisa lebih mendekatkan diri kepadanya," Suami memberi wejangan.

"Mama selalu sabar Pa, selaluu sabar. Demi Papa dan anak-anak," senyum ku mengembang.

Bersambung

Buat pembaca yang mampir ke ceritaku, terima kasih ya? Semoga kita semua di beri rizqi yang melimpah. Amiin.

7. SEMANGKUK KELAPA PARUT UNTUK LAUK NASIBantu Angkat DekselPenulis:Lusia SudartiPart 7***"Oh ya? Benarkah? Iya Ma?" des...
19/04/2024

7. SEMANGKUK KELAPA PARUT UNTUK LAUK NASI

Bantu Angkat Deksel

Penulis:Lusia Sudarti
Part 7

***

"Oh ya? Benarkah? Iya Ma?" desaknya sembari menatapku.

"Iya Pa, tadi bikin malu dijalan. Yang sombong lah, lah uang dapat ngutang lah dan yang paling bikin jengkel, katanya uang dapat maling. Ya jelas kalo Mama marah," jawabku kesal.

"Oh gitu! Emang mereka kelewatan kok. Mama sudah bener," hiburnya.

Pagi ini kita akan menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai di daerah Tanjung. Jaraknya yang lumayan jauh mengharuskan untuk berangkat pagi-pagi.
Semua sudah siap di meja. Cukup sampai Sore. Nasi di megicom.
Bekel untuk kami sudah kubungkus. Untuk Nayla juga sudah kutaruh di tas bekel Nayla.

"Mbak, Mas. Mama sama Papa berangkat dulu ya? Baik-baik di rumah! Jangan kemana-mana p**ang dari sekolah! Bantu beres-beres ya?" pesanku ke kedua anak yang sekolah.

"Iya Ma," jawab mereka serempak.

"Ya udah Mama sama Papa berangkat dulu ya?" pamitku.
"Iya Ma, Pa hati-hati sama Adek," jawab mereka.

"Da da Mas, da da Mbak," kata Nayla ke kedua Kakaknya ia melambaikan tangan.

"Da da Adek," jawab mereka sambil balas melambai.

Motor melaju dengan perlahan, karena akses jalan di daerah kami masih merupakan jalan tanah dan di lapisi batu koral. Juga banyak jalan berlobang.

Di atas motor si Nayla bernyanyi dengan riang. Karena sering nonton film upin ipin, jadi hafal lagu-lagunya.

Aiya Susanti di nyanyiin sampe selesai, walau pun belum bisa R. Jadi sedikit lucu, membuat kami tertawa.

Hingga tak terasa sampai ke jalan raya.

"Mama nanti beli es klim ya? Adek mau es klim," katanya sambil menunjuk kearah warung.

"Iya nanti beli es cream tapi Adek jangan nakal ya? Kalo Mama lagi bantuin Papa," bujukku.

"Iya Ma," adek nggak nakal kok.

Sekitar 30 menit akhirnya kami sampai, semua alat-alat ku susun, kunci-kuncian. Kunci sock, kunci Pas, kunci L. Semua ku susun rapi.

Sementara anakku asyik menikmati Es cream coklat dan mulutnya belepotan. Aku tersenyum melihatnya.

"Mama mau?" tanyanya sambil berjalan ke arahku.

"Nggak sayang, buat Adek aja. Tapi nanti jangan nakal ya?" pesanku.

Ia mengangguk sambil kembali duduk di tempat semula.

"Ma, ambil kunci ringpas 12, 14 dan 17," titah Suamiku.

"Siaap," jawabku.

Setelah lengkap.

"nih Pa," kusodorkan ke arahnya.

"Buka baut dekselnya, jangan sampe meleset ya? Ntar dol drat nya," ucapnya wanti-wanti.

"Ok!" jawabku singkat.

"Huufft lumayan berat ya," gumamku dalam hati.

"Bisa Ma?" tanyanya kemudian.

"Iya bisa, Kok bisa bukanya nggak pakai kunci women ya Pa?" tanyaku penasaran.

"Ya kalo ngikat kan ada ukurannya juga, kalo melebihi dari ukuran bisa patah bautnya.
Kalo buka bisa pake alat bantu. Misalnya nepel agar tarikan ringan dan mudah," penjelasan Suami panjang lebar.

Aku hanya manggut-manggut.

Setelah selesai.

"Pa dekselnya diangkat?" tanyaku. "Iya d**g, coba Mama pindah tempat dulu, Papa mau angkat deksel nya," titahnya lagi.

Aku pun pindah tempat.

"Mama bantuin ya?" tawarku.

"Nggak usah, berat Ma," ucapnya.

"Nggak apa-apa, itu Papa kuat," potongku.

Lalu aku beraksi.

"Bismilaahirrohmanirrohiim, ahh kuat kok!" ujarku.

Setelah selesai istirahat siang untuk makan.

"Sini Adek Mama suap, udah siang maem dulu," kataku.

"Iya Ma," jawabnya lalu bangkit ke arahku.

"Pesen kopi Ma?" perintah Suami.

Aku pun lalu berjalan ke warung yang ada di seberang jalan.

"Adek ikut Ma?" ujar Nayla.

"Ayo sayang," laluku gandeng tangannya.

Setelah sampai.

"Mbak pesen kopi luak dua ya, nanti tolong di antar kesana," pintaku pada pemilik warung, ku tunjukkan arah dimana kami bekerja.

"Oh iya siap Te," jawabnya sambil tersenyum.
Lalu kusodorkan uang sejumlah harga yang di tetapkan.

Setelah 10 menit.

"Te ini kopinya," si Mbak antarin kopi.

"Oh iya Mbak, terima kasih," jawabku, ia pun tersenyum lalu pamit p**ang.

"Ma tolong puter roda gila ya, Papa mau ambil piston," titahnya.
"Ok," jawabku.

Setelah semua di cek, lumayan banyak yang harus di ganti. Kami pun membuat laporan dan daftar barang untuk di beli. Setelah memberikan ke pemilik mobil, kami bersiap untuk p**ang.

"Adek, Dek, bangun sayang, kita mau p**ang," kata ku membangunkan buah hatiku yang terlelap di pondok-pondok untuk istirahat.

"Eemm, Mama sama Papa udah selesai keljanya ya?" tanyanya. sambil menggeliatkan tubuh mungilnya.
"Iya Sayang, besok lagi sekarang udah sore," kataku.

Setelah berjalan hampir 1,5 jam akhirnya kami pun sampai di rumah.

"Assalamu'alaikum," ku ucap salam setelah turun.

"Waalaikumsalam, eh Mama sama Papa sudah p**ang?" sambut Rani dan Indra.

"Minta minum d**g?" kata Papa.

"Jauh ya Pa, tempat Papa kerja?" tanya Indra.
"Iya jauh, makanya pagi-pagi berangkatnya," jelas sang Papa.

"Adek mandi sama Mbak ya? Biar seger," perintahku si bungsu.

"Mama mau masak dulu, sebentar ambil kelapa dulu Mbak," kataku kepada Rani.

"Emang mau masak apa Ma?" tanya Rani.

"Daun singkong di santan," jawabku.

"Emm mantul," sahut Indra.

"Oh iya Mbak, udahkan masak nasi?" kuperiksa megicomnya..

"Udah Ma, udah mateng," jawabnya.
"Ya udah kalo gitu, Mama tinggal bikin sayur, nyambel terasi, goreng asin sama tempe," kataku lagi.

Papa duluan mandi, mau sholat sebelum habis waktu ashar!" Suamiku menyelanya.
Iya Pa!" jawabku.

Aku sambil merendam cucian kotor, nanti sekalian mandi nyuci nya.

"Ma, tadi ada yang cari Papa, mau minta tolong betulin mobilnya," kata Rani.

"Oh ya? Orang mana?" tanyaku.

"Mbak juga nggak tau. Tapi nanti katanya mau kesini lagi," sambungnya lagi.

"Oh ya udah kalo gitu," kataku.

Makan malam sudah selesai dan tertata rapi di atas meja.
Setelah sholat mahgrib semua berkumpul di meja makan. Walau pun sederhana tapi semua menyukai nya. Entah karena memang terlalu lapar, atau apa.
Yang jelas, aku sangat bahagia melihat mereka tak pernah komplain tentang apa yang kusuguhkan.

Ada suara motor berhenti didepan rumah.

"Assalamu'alaikum, Mas, Mbak," terdengar suara berat di depan pintu.

"Waalaikumsalam," jawabku sambil membuka pintu depan.

"Cari siapa ya Mas, silahkan duduk?" tanyaku kemudian.

"Terima kasih, ada Mas Iman Mbak? Saya mau minta tolong, mobil Saya mogok," ujar sang tamu.

"Oh ada, lagi makan Mas, sebentar Saya panggil dulu," aku pun melangkah masuk untuk memanggil Suami.

"Iya Mbak," jawabnya.

"Pa, ada tamu di depan," ujarku memberi tau.

"Siapa Ma?" tanyanya.

"Nggak tau Pa, katanya mau minta tolong," jelasku.

Lalu ia melangkah keluar setelah membersih kan sisa makanan di mulutnya dengan tisu.

Aku mengekor dari belakang.

"Mas," kata tamu setelah melihat Suami dan aku keluar.

"Saya Dika Mas, mau minta tolong betulin mobil Mas, mogok di tikungan ujung sana, bisa Mas?" tanyanya kepada Suami.

"Oh Insyaallah bisa, sebentar ya?" jawab Suamiku tersenyum.

"Iya Mas," sahutnya sembari membalas tersenyum.

Setelah menyiapkan kunci-kunci yang di butuh kan, lalu mereka berangkat setelah berpamitan kepada kami.

"Papa kemana Ma?" tanya Nayla sambil duduk di pangkuanku.

Kerja sayang, kita doa kan supaya pekerjaan Papa nggak banyak dan bisa cepet selesai dan cepet p**ang," jawabku sambil mencium rambutnya yang harum.

"Iya Ma, nanti kita bisa beli belas lagi, Adek beli pelmen lollypop lagi, kan Ma?" tuturnya manja, yang membuatku semakin gemes.

"Iya sayang," aku terharu mendengar kata-katanya seperti orang dewasa.

"Udah Adek sekarang bobo ya, udah malam," titahku.

"Tapi bacain celita d**g Ma," katanya lagi.
"Iya Sayang. Ya udah Mama cerita ya, dengerin," aku mengambil buku dan membacakan cerita d**geng.

Baru 15 menit aku membaca cerita sambil nepuk-nepuk pantatnya, eehh udah lelap sambil meluk bantal guling. Ku kecup keningnya, kuusap lembut kepalanya.

"Mbak, Mas jangan berisik, Adek bobo," kataku kepada mereka.

"Iya Ma. Cepet sekali Adek tidur nya? Biasanya belum tidur," tanya Rani.

"Adek capek ikut kerja," jawabku.

"Oh gitu," jawab Rani sambil manggut-manggut.

"Papa belum p**ang ya Ma?" sambung Indra.

"Belum selesai d**g, kan belum lama Papa berangkat," sahutku.

Bersambung

6. SEMANGKUK KELAPA PARUT UNTUK LAUK NASIBertemu Tetangga JulidPenulis:Lusia SudartiPart 6***Anak-Anakku pun ikut belanj...
19/04/2024

6. SEMANGKUK KELAPA PARUT UNTUK LAUK NASI

Bertemu Tetangga Julid

Penulis:Lusia Sudarti

Part 6

***

Anak-Anakku pun ikut belanja, membeli bahan pangan untuk 2 minggu kedepan.

Mereka saling bercanda dan tertawa. Yaa Allah, betapa bahagianya hatiku.
Melihat mereka, terima kasih atas Ni'mat Mu Yaa Allah," lirihku dalam hati.

Di jalan kami berpapasan dengan tetangga julid.

"Eeh mau belanja nih? Dapat utangan dari mana?" sinisnya ia melihat plastik belanjaanku.

"Paling-paling juga dapat maling," sahut Marni yang tak kalah lemes mulutnya, orang sok kaya.
Pamer gelang besar yang melingkar di tangannya.

"Eh Mbak-Mbak genit yang terhormat! Nggak usah deh ngurusi rumah tangga orang! Urus aja rumah tangga kalian. Sudah baikkah rumah tangga kalian sendiri?" balasku tak kalah pedas.

"Yah walau pun aku ngutang! Toh nggak ngutang ke kamu! Walau pun Aku maling, emang duit kalian yang ku maling? Nggak kan?" ucapku santai.

"Halah nggak usah sok lah! Baru juga bisa belanja segitu, sudah sombong," sahutnya ketus.

"Helloo, yang sombong itu siapa? Kalian yang cari gara-gara sama aku! Faham sampe di sini? Apa mestiku bungkam mulut kalian yang nggak punya sopan santun hah," suaraku naik 1 oktaf.

Dan mereka terlihat gugup, lalu kabur menjauh saat melihatku menaruh belanjaan.

"Eehh mau kemana kalian? Jangan kabur," teriakku dengan lantang

Mereka setengah berlari. Aku bener-bener di buat kesal oleh ulah mereka.
Anak-Anakku hanya bengong melihatku begitu marah. Tapi kemudian mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat Mak-Mak rempong tadi lari ketakutan.

"Ma, lihatlah mereka, kenapa mereka lari?" ucap si sulung sambil menunjuk kearah mereka yang pergi menghindari kami.

"Biarlah Nak, mereka takut kali di hajar Mama," jawabku tertawa.

"Iya-ya Ma, kenapa mereka selalu berkata yang tidak-tidak tentang kita," tanya Indra.

"Biarin aja, terserah mereka mau bilang apa, yang penting kita tidak," jelasku lagi.

"Ayo cepetan jalannya, keburu panas," ajakku.
"Iya Ma," kata mereka bareng, lalu mereka bercanda ria.

"Alhamdulillah, akhirnya sampe juga, lumayan capek ya jalan kaki." kataku. Adek nggak kok Ma," kata si kecil Nayla, ia tersenyum.

"Adekkan pinter," pujiku sembariku peluk dan kucium kefua p**inya.

"Cup cup," ia menciumku juga.

"Sayaang Mama," katanya.

"Eemm sayaang Adek," kucubit dagunya dan ia tertawa.

"Mama masak apa?" suara Suamiku, ia memeluk dari belakang.

"Ihh Papa ngagetin aja sih?" teriakku sambil berbalik berhadapan.

Lalu kami saling berpandangan.

Ada kilatan cinta yang tulus dikedua matanya.
Dikecup lembut pucuk kepalaku.

"Terima kasih Mama selalu ada buat Papa dan Anak-Anak, dalam kondisi apa pun," katanya, ia memelukku dengan penuh kasih.

Aku dipeluknya dengan erat, dibelai dengan penuh kasih sayang.

"Iya Pa, sama-sama," jawabku.

"Mama sudah belum masaknya, Adek lapel," teriak Nayla mengagetkan kami.

Lalu kami pun saling pandang dan tersenyum. melepaskan pelukan karena malu.

"Mama sama Papa pacalan telus sih," sungutnya manja seraya melangkah mendekati kami.

Aku dan Suami sama-sama melihatnya, lalu Suami tertawa lepas melihat tingkahnya yang menggemaskan.

"Adek laper ya?" goda Suamiku.

"Iya Adek lapel," jawabnya masih cemberut.

"Ya udah Mama terusin dulu masaknya ya?" sahutku.

"Adek sama Papa dulu," ucapku lagi.

Ia mengangguk dan di gend**g Suami melangkah kedalam mereka bercanda.

Aku meneruskan memasak. Goreng ikan asin, dadar telur, bikin sambel terasi dan merebus daun singkong juga sayur sop ceker untuk mereka.

Setelah siap.

"Taraaa," kataku.

"Waah sudah selesai semua," ucap Nayla girang.

"Ayo semua cuci tangan, terus makan," perintahku.
Semua berkumpul untuk makan siang.

"Adek mau sop ceker?" tanyaku.

"Mau Ma, Mamas juga Ma.
Rani juga mau," kata mereka.

"Iya sabar, ini juga buat kalian kok," kataku

"Eemm enaak ya Ma, Masakan Mama," kata si bungsu Nayla.

"Masakan Mama itu selalu juara Dek," sela Papa.

"Kan Mama masaknya dengan cinta," sambungnya lagi, membuatku salah tingkah.

Aku tersenyum mendengar obrolan mereka.
"Papa mau juga sopnya?" tanyaku.

"Nggak Ma, Papa pake sambel sama ikan asin aja," jawabnya.
"Telor nya mau?" tanyaku lagi.

"Iya mau," sahutnya.

Setelah mereka mengisi piring dengan sayur. Aku pun mengambil untukku.

Lalu kami makan dengan lahap. Mereka begitu bahagia bisa makan hanya dengan sop ceker dan telur dadar.

Yang selama ini hanya ada dalam angan dan harapan. Tapi hari ini mereka bisa menikmatinya.

Tak lupa kuucapkan syukur atas rizqi yang diberikan oleh sang pencipta. Untuk mereka yang selama ini hanya makan dengan kelapa parut dan kadang hanya dengan masako atau nasi putih aja.

Ada perih yang menelusup di relung hati. Melihat mereka semua begitu mengerti dengan keadaan.

Ada bahagia membersit saat melihat mereka tertawa.

"Mah, kok ngelamun sih?" tanya Suami sembari mengibaskan tangan didepan wajahku.

"E-enggak kok," elakku, tersadar dari lamunan.

"Itu nasi kok di aduk-aduk aja, terus ditanya anak-anak Mama diam aja," jelasnya.

"Oh iya kah Pa?" tanyaku sambil celingukan mencari mereka yang sudah selesai makan, bahkan piring mereka pun sudah dibersihkan.

"Maaf Pa, Mama hanya merasa sedih melihat mereka yang selalu menerima apa pun keadaan kita." ujarku menunduk dan tak terasa butir-butir air mata jatuh ke pangkuan.

"Sabar Ma. Justru itu kekuatan kita untuk bertahan dan terus berusaha.

"Dan kita harus banyak bersyukur karena di balik penderitaan kita di berikan anugrah anak-anak yang baik dan penurut," ujarnya memberi semangat.

"Iya Pa," jawabku pelan.
"Ya sudah Ma, habisin dulu makan nya. Nanti tambah dingin dan nggak enak lho, sini Papa suap ya?" bujuknya.

"Ahh enggak ah Mama makan sendiri aja. Nanti malah pindah ke perut Papa, lagi nasinya," candaku.

"Ha ha ha, Mama bisa aja," ia mencubit hidungku, lalu melangkah ke teras samping menemani Anak-Anak bermain.

***
Sore harinya...

"Oh iya Pa, tadi Mama belanja untuk kebutuhan dapur selama satu minggu.

"Dan sisa uang Mama simpan kalo ada keperluan mendadak," jelasku saat kami beristirahat duduk diteras samping menemani Nayla bermain.

"Iya Ma, nggak apa, kalo masih cukup, Mama beli apa yang Mama mau. Untuk Anak-Anak juga," jawabnya.

"Adek mau beli mainan d**g Pa? Boleh?" rengek Nayla.

"Iya boleh, tapii, jangan banyak ya? Nanti kalo dapat rizqi lagi, kita beli lagi ya sayang?" bujuk Suamiku sambil tersenyum.

"Hollee Adek beli telpon ya?" girang dan bahagia sekali dia.
"Iya sayang boleh," jawabku.

"Rani beli buku sama pulpen Ma."

"Indra juga Ma," kata mereka.

"Iya Sayang, tapi sedikit-sedikit dulu," sahut Suami.

"Iya Ma, Pa!" jawab mereka. Lalu mereka bermain lagi.

"Pa, tadi Mama berantem sama Tante Dewi dan Tante Marni lho." adu Rani kepada Papanya, disela-sela bermainnya.

"Oh ya? Benarkah? Iya Ma?" desaknya sembari menatapku.

"Iya Pa, tadi bikin malu di jalan. Yang sombong lah, lah uang dapat ngutanglah dan yang paling bikin jengkel, katanya uang dapat maling. Ya jelas kalo Mama marah," jawabku kesal.

"Oh gitu! Emang mereka kelewatan kok. Mama sudah bener." hiburnya.

Bersambung

21/06/2023

Ayo bergabung dan subscribe buku PELET (Terjebak Cinta Terlarang) agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Lusia sudarti di aplikasi KBM.

18/06/2023

This website is using a security service to protect itself from online attacks. The action you just performed triggered the security solution. There are several actions that could trigger this block including submitting a certain word or phrase, a SQL command or malformed data.

04/06/2023

Pernikahan dini
******
Tak terasa dalam waktu sehari keadaan berubah,dan tanpa terasa air mataku kembali luruh mengenang perjalanan hidup ini.

Setelah selesai menyiapkan makan malam,aku masuk ke kamar untuk membaringkan tubuh yang sedikit lelah.
Aku merenungi kisah hidupku,...yaa Allah,,,

Tok..tok..tok...terdengar daun pintu kamar ada yang mengetuk
Siapa..?lit ini ibu ayo kita makan bareng"nanti aja bu,jawabku..
Ga ada tapi-tapian ayo kita makan,baiklah bu..

Aku pun segera bangkit menuju meja makan,di sana sudah ada bapak yang menunggu,,,
Ayo makan lit,iya pak,,kami pun makan dengan tertib hanya ada suara sendok dan garpu yang ber adu dengan piring.
Di luar pekerja berkumpul,mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing,ada p**a yang bermain gitar dan bernyanyi..

Setelah selesai makan,kami mengobrol sejenak,lit mending kamu ikut gabung sama mereka..
Males pak,mereka semua kan laki,
"Ga apa kali lit,sambung ibu..bapak sama ibu juga mau gabung sama mereka kok,baiklah bu.
Aku segera membereskan bekas makan tadi.

**

Eh ada kak yudi,iya nih lit lagi bosen aja di dalam bascamp,jadi ikut gabung sama yang lain.
Lit bisa nyanyi ga nih?bisa dikit kak,jawabku sambil malu..
Oh ya,kalo gitu nyanyi yuk,kakak yang ngiringi pake gitar?boleh kak,tapi jangan di ketawain ya kalo suara ku fals?
Tenang aja,lagu apa nih?eemm tak ingin sendiri jawabku..
Oke,,,

Lalu kak yudi pun memainkan gitarnya dengan sangat merdu,,,

"Aku masih seperti yang dulu
Menunggumu,sampai akhir hidupku
Kesetiaanku tak luntur
Hati pun rela berkorban,demi ke utuhan kau dan aku

Biarkan lah aku memiliki
Semua cinta yang ada di hatimu
Apa pun kan ku berikan
Cinta dan kerinduan
Untuuk muu dambaan hatiku

Malam ini tak ingin aku sendiri
Kucari damaaii bersama bayangan muu
Hangat pelukan yang masih ku rasakaaan
Kau...kasiiihh,kaauu sayaang.

Plok,plok,plok...tepuk tangan terdengar riuh,aku pun terkejut
Karna tak menyangka mereka semua mendengarkan nyanyianku.
malu?pasti tapu juga bangga..
Wah lit,ternyata

04/06/2023

Pernikahan dini

*
Kedatangan saya untuk mengajak anak ibu untuk menjadi juru masak,gimana bu?aduh gimana ya pak,saya tidak bisa memutuskan,saya tanya dulu ya pak?baiklah bu
Ibu pun bergegas menuju kamarku,
Lita,, ya bu ada apa,jawabku...lit ada yang mau ajak kamu kerja jadi tukang masak di medco?gimana lit?gimana ya bu,sebenarnya aku masih mau sekolah bu,lirihku..

Lit,cobalah belajar untuk menerima keadaan,dan kamu bisa punya penghasilan dan di tabung,kamu bisa beli perhiasan bujuk ibu ku lagi,hatiku teramat pedih sebetulnya,dan jujur aku takut jauh dari keluarga,tapi kenapa ibuku tidak peka!.

**

Akhirnya aku berpisah dengan keluargaku untuk bekerja
Yaa Allah laki-laki semua,
Eeh sudah datang,terdengar suara lembut bapak-bapak,i-iya pak,sahutku sambil menunduk,takut dan malu,,,rupanya bapak itu tau aku takut,jangan takut,nama saya hadi,saya manager di sini,oh iya siapa namanya,,saya mengulurkan tangan memperkenalkan diri,lita pak nama saya,hmm nama yang bagus dan orang nya ayu,sambil tersenyum tulus"ah bapak bisa aja,namanya juga perempuan pak ya pasti ayu,kalo laki baru ganteng'sahutku lagi,
Bener juga ya,sambil tersenyum ucap pak hadi,

Sore ini ibu istri pak hadi datang,sepertinya aku tidak terlalu takut karna ada temen perempuan meski itu istri bos,

***
Aku ke dapur melihat stok makanan dan bahan-bahan untuk di masak,tapi sepertinya stok sudah pada habis,hanya ada satu kaleng sarden ABC,segera ku siapkan alat tempur juga bumbu untuk meng ekskusi sarden,

Setelah siap,kusimpan dahulu karena nasi belum matang,aku menyiapkan piring dan semua kebutuhan makan,sambil menunggu nasi..

Tak terasa dalam waktu sehari keadaan berubah,dan tanpa terasa air mataku kembali luruh mengenang semua perjalanan hidup ini.

Bersambung

Address

Tebatagung

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when NOVEL KARYA KU posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category