12/08/2026
Saat aku bersenang-senang di r u m a h istri keduaku, istri pertama melak*kan sesuatu yang membuatku terkejut dan kehilangan segalanya, ternyata dia ....🌹🌹🌹
(5)
Tiga hari berlalu. Tiga hari Aisyah mengu rung diri di k a m a r, hanya keluar untuk ke k a m a r m a n d i. Bi Ijah, pembantunya, khawatir melihat Aisyah hampir tidak m e n y e n t u h makanan yang diantarkan. Fadli sudah pindah t i d u r ke k a m a r tamu, bahkan mulai jarang pulang ke r u m a h.
Aisyah berbaring di tempat t i d u r, menatap langit-langit dengan mata kosong. Ponselnya berdering berkali-kali. Maya, sahabatnya, sudah menelepon puluhan kali. Akhirnya, Aisyah mengangkat.
"Syah! Astaga, aku sudah kha watir setengah m a t i! Kenapa tidak angkat-angkat teleponku?" suara Maya pa nik di seberang.
"May ...." suara Aisyah serak. "Bisa kamu ke sini? Aku butuh kamu."
"Aku berangkat sekarang!"
Dua puluh menit kemudian, Maya tiba denganmu wajah cemas. Ketika melihat kondisi Aisyah mata bengkak, wajah pucat, rambut acak-acakan Maya langsung memeluknya erat.
"Ya Allah, Syah. Kamu kenapa?"
Aisyah menceritakan semuanya. Tentang Nur, tentang kepu t***n Fadli, tentang ultimatum yang menghanbcurkan hidupnya. Maya mendengarkan dengan wajah semakin memerah, a m a r ahnya naik.
"B a j i n g a n!" umpat Maya. "Aku tidak percaya Fadli bisa seperti itu! Dia yang dulunya sangat mencintaimu!"
"Dia bilang masih mencintaiku," Aisyah tertawa getir.
"Tapi dia juga mau menikahi wanita lain. Katanya dalam Islam boleh kalau bisa adil."
"Adil dari mana? Memangnya hatimu tidak terluka?" Maya menggeng gam tangan Aisyah. "Syah, kamu tidak wajib menerima ini. Kamu bisa menolak. Kamu bisa minta ce r ai."
"Tapi kalau aku minta c e r a i aku akan kehilangan dia sepenuhnya."
"Kamu sudah kehilangan dia, Syah! Sejak dia memutuskan untuk menikah lagi, dia sudah tidak sepenuhnya milikmu."
Aisyah me nangis lagi. Maya me me luknya, membiarkan sahabatnya menumpahkan semua rasa sakit.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, May. Aku mencintainya. Lima tahun kami membangun r u m a h tangga ini. Lima tahun! Bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja?"
"Tapi bagaimana kamu bisa bertahan kalau dia menikah lagi? Kamu akan melihat dia pergi ke r u m a h wanita lain. Kamu akan tahu dia t i d u r dengan wanita lain. Kamu akan membayangkan dia m e n y e n t u h wanita lain dengan cara yang sama dia menyentuhmu. Kamu sanggup?"
Aisyah menggeleng lemah. "Tidak. Aku tidak sanggup. Tapi aku juga tidak sanggup kehilangan dia."
Maya menghela n a p a s panjang. "Syah, sebagai sahabatmu, aku harus jujur. Ini bukan soal sanggup atau tidak. Ini soal h a r g a diri. Ini soal menghargai dirimu sendiri. Kamu wanita luar biasa cantik, pintar, mapan. Kamu tidak pantas diperlak*kan seperti ini."
"Tapi aku tidak bisa punya a n ak, May. Itu kesalahanku."
"BUKAN SALAHMU!" Maya mengguncang bahu Aisyah. "Bukan keinginanmu untuk tidak punya a n ak. Kamu sudah berusaha maksimal. Dan Fadli tahu itu. Tapi sekarang dia pakai alasan itu untuk membenarkan keinginannya menikah lagi. Itu e g ois, Syah. Sangat eg ois."
Aisyah terdiam, menyerap kata-kata Maya. Di sudut hatinya, dia tahu sahabatnya benar. Tapi cinta membuatnya buta. Cinta membuatnya ingin bertahan meski menyakitkan.
"Aku butuh waktu berpikir lebih banyak," gumam Aisyah akhirnya.
"Oke. Tapi janji sama aku, apapun keput***nmu, pastikan itu keput***n yang terbaik untukmu. Bukan untuk Fadli, bukan untuk keluarganya, tapi untukmu. Kamu mengerti?"
Aisyah mengangguk lemah.
***
Malam harinya, setelah Maya pulang, Aisyah memutuskan untuk pergi ke masjid dekat rumahnya. Sudah lama dia tidak shalat dengan khusyuk. Sudah lama dia tidak berbicara dengan Allah dengan sepenuh hati.
Di masjid yang sepi hanya ada beberapa jamaah yang sedang tadarus Aisyah mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Isya. Setiap gerakannya terasa berat, setiap bacaannya tersumbat oleh tangis yang dia tahan.
Setelah salam, Aisyah duduk bersimpuh. Air matanya jatuh membasahi sajadah.
"Ya Allah," bis*knya pelan. "Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku lemah. Aku bingung. Aku sakit. Tunjukkan aku jalan yang benar. Aku pasrah padaMu."
Dia menangis dalam sujud yang panjang, menumpahkan semua luka, semua kecewa, semua ketakutan. Entah berapa lama dia bersujud, hingga seorang jamaah wanita paruh baya menghampiri dan mengusap punggungnya lembut.
"Nak, sudah selesai shalatnya? Wudhu-nya batal kalau menangis terlalu lama," kata wanita itu dengan suara lembut.
Aisyah mengangkat kepalanya. Wanita itu tersenyum hangat, wajahnya memancarkan ketenangan.
"Maafkan saya, Bu," gumam Aisyah sambil menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa, Nak. Sedang ada masalah berat ya?"
Aisyah mengangguk. Entah kenapa, dia merasa nyaman dengan wanita ini.
"Boleh cerita sama Ibu? Ibu volunteer konseling di masjid ini," tawar wanita itu.
Mereka berpindah ke ruang perpustakaan masjid yang lebih private. Di sana, Aisyah menceritakan semuanya kepada Bu Aminah begitu wanita itu memperkenalkan diri. Bu Aminah mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk, tidak menghakimi.
"Nak Aisyah," kata Bu Aminah setelah Aisyah selesai bercerita. "Pertama, Ibu ingin kamu tahu bahwa apa yang kamu rasakan itu wajar. Sakit hati, kecewa, m a r a h semua itu manusiawi. Jangan merasa bersalah karena merasa sakit."
"Tapi kalau aku menolak, bukankah aku menghalangi jalan kebaikan suami? Dalam Islam, p o li ga mi dibolehkan."
"Boleh, tapi bukan berarti wajib, Nak. Dan boleh bukan berarti tanpa syarat. Allah memerintahkan laki-laki untuk berlaku adil. Adil bukan hanya soal materi, tapi juga soal hati, waktu, perhatian. Sangat sedikit laki-laki yang benar-benar mampu adil."
"Fadli bilang dia akan adil."
Bu Aminah tersenyum t i p i s. "Mudah mengucapkan, Nak. Tapi sulit melaksanakan. Dan pertanyaannya apakah kamu siap menerima konsekuensinya? Bukan soal halal atau haram, tapi soal apakah kamu sanggup hidup seperti itu?"
Aisyah terdiam.
"Dengar, Nak. Agama kita memang membolehkan po li ga mi, tapi agama kita juga memberikan hak kepada istri untuk menolak atau bahkan meminta ce rai kalau tidak sanggup. Kamu punya hak itu. Dan menggunakan hakmu bukan berarti kamu istri yang buruk atau tidak taat."
"Tapi aku takut dikira eg ois, Bu. Takut dibilang tidak pengertian, tidak sabar."
"Eg ois itu yang mana, Nak? Kamu yang ingin diperhatikan sepenuh hati oleh suamimu, atau suami yang ingin menikah lagi meski tahu istrinya terluka? Sabar itu baik, tapi sabar bukan berarti menerima perlakuan yang menyakitimu selamanya."
Kata-kata Bu Aminah seperti membuka kabut di pikiran Aisyah. Selama ini dia merasa kalau dia menolak, berarti dia istri yang buruk. Tapi Bu Aminah memberikan perspektif berbeda.
"Ibu bukan menyuruh kamu ce rai atau menyuruh terima," lanjut Bu Aminah. "Ibu cuma mau kamu tahu bahwa apapun keput***nmu, pastikan itu keput***n yang kamu buat dengan kepala jernih dan hati yang ikhlas. Bukan karena terpaksa, bukan karena takut, tapi karena kamu sudah mempertimbangkan dengan matang."
"Bagaimana cara memutuskannya, Bu? Aku bingung."
"Shalat istikharah, Nak. Minta petunjuk Allah. Dan dengarkan hatimu yang paling dalam. Hati yang sudah jernih dari pengaruh orang lain, dari rasa takut, dari ego. Hati yang jujur."
Aisyah mengangguk perlahan. "Terima kasih, Bu Aminah. Saya merasa sedikit lebih tenang."
"Sama-sama, Nak. Ingat, apapun keput***nmu, Allah bersama orang-orang yang sabar dan orang-orang yang teraniaya. Jangan takut. Allah M a h a Melihat."
***
Aisyah pulang ke r u m a h dengan perasaan sedikit lebih ringan. Dia menemukan Fadli di ruang tamu, sedang menonton televisi. Lelaki itu menoleh ketika mendengar Aisyah masuk.
"Kamu dari mana?" tanyanya.
"Masjid," jawab Aisyah singkat.
Fadli mengangguk. "Syah, kita perlu bicara lagi. Aku, aku sudah tunggu kamu tiga hari. Aku butuh kepastian."
Aisyah menatap suaminya. Lelaki yang pernah sangat dicintainya. Lelaki yang kini terasa seperti orang asing.
"Aku butuh waktu lebih banyak," kata Aisyah pelan tapi tegas. "Ini keput***n besar. Ini menyangkut sisa hidupku. Aku tidak bisa memutuskan dalam tiga hari."
"Berapa lama lagi?"
"Aku tidak tahu. Mungkin seminggu, mungkin sebulan. Tapi aku butuh waktu untuk berpikir jernih, untuk shalat istikharah, untuk memastikan keput***nku tidak akan kusesali."
Fadli terlihat frustrasi. "Nur menunggu jawaban, Syah."
Mendengar nama itu, sesuatu di dalam Aisyah terbakar. "Nur menunggu? Atau kamu yang tidak sabar ingin segera menikahi dia?"
"Jangan begitu!"
"Aku tidak peduli Nur menunggu atau tidak!" suara Aisyah me ning gi. "Yang aku peduli adalah hidupku, perasaanku, masa depanku! Kalau kamu tidak mau menunggu, silakan saja nikahi dia sekarang dan aku akan minta c er ai!"
"Aisyah!"
"Aku serius, Fadli. Aku butuh waktu. Dan kalau kamu benar-benar masih menghargaiku sedikit saja sebagai istrimu, kamu akan memberikan waktu itu."
Mereka saling bertatapan. Aisyah tidak mengalah, matanya penuh determinasi meski berkaca-kaca. Fadli akhirnya menghela n a p a s panjang.
"Baik. Satu bulan. Aku kasih kamu waktu satu bulan. Setelah itu, aku butuh kepastian."
Aisyah mengangguk, lalu berjalan ke k a m a r tanpa kata lagi.
Di dalam k a m a r, dia duduk di tepi tempat t i d u r, menatap cincin pernikahan di jarinya. Cincin yang dipasangkan Fadli lima tahun lalu dengan janji untuk selalu bersama dalam s**a dan duka.
Tapi ternyata janji itu tidak sekuat yang mereka kira.
Aisyah melepas cincin itu, memegangnya di telapak tangan. Satu bulan. Dia punya waktu satu bulan untuk memutuskan: bertahan dalam pernikahan yang tidak utuh, atau melepaskan dan memulai hidup baru yang penuh ketidakpastian.
Dua pilihan yang sama-sama menakutkan.
Bersambung..
📚 Judul: Aku Dis u su i Maduku
✍️ Penulis: Sitti Istiqomah
Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!