Cerita Novel Senja

Cerita Novel Senja Penulis Novel segala genre

(PART 6-7)Andika melangkah masuk ke ka m ar dengan langkah yang terasa sangat berat. Ia me n j atuhkan diri di sisi lain...
13/08/2026

(PART 6-7)

Andika melangkah masuk ke ka m ar dengan langkah yang terasa sangat berat. Ia m
e n j atuhkan diri di sisi lain tempat ti d ur, sementara Fla sudah lebih dulu
ber b aring di sana.

Jarak di antara mereka terasa begitu luas. Bukan karena ukuran ran j angnya,
melainkan karena Fla terlihat masih enggan memberikan sisa rasa hormatnya.

“Jangan begadang,” kata Andika pelan, mencoba memecah kebekuan.

Fla tidak menyahut. Ia seolah tuli, hanya jemarinya yang terus bergerak membalik
halaman buku dengan ritme yang konstan—terlalu tenang untuk hati yang sedang
hancur.

“Alif ti d ur cepat tadi. Aku baru tahu kalau di Al-Huda, dia selalu diajarkan
ti d ur cepat, bangun cepat, dan shalat tepat waktu.”

Tetap tak ada respons. Hanya suara gesekan kertas yang mengisi hampa di antara
mereka.

Kilas Balik. POV 1 (Andika)

Diamnya Fla adalah sebuah vonis yang m e n y i k sa.

Pikiranku melayang jauh ke masa lalu. Saat aku masih remaja, berdiri angkuh me n
a n tang Ayah tepat di depan gerbang pesantren. "Cita-citaku pilot. Ini bukan
tempatku!" seruku penuh ego.

Aku me n a r ik Fla keluar dari jalan yang sama. Kami bersama-sama memilih
sekolah penerbangan, sebuah kemenangan ganda yang kupikir akan membawa
kebahagiaan abadi.

Namun adegan itu segera berganti. Aku dengan seragam pilot, berdiri di tengah
keriuhan k e l ab ma l am, mengangkat gelas dengan tawa lebar. Fla? Dia tidak
pernah ada di sana.

Fla dengan ketulusannya selalu menungguku pulang. Matanya selalu berbinar penuh
kekaguman. Ia membawakanku bekal, mendukung karierku sepenuhnya, dan me n j a t
uhkan mimpinya sendiri ke urutan paling belakang hanya demi aku.

Hingga suatu hari, ia datang dengan mata sembap. "Ayahku mewasiatkan agar aku
dijodohkan dengan lelaki lain."

Saat itu, da r ah ku mendidih. Aku me n a r iknya dalam de k apan, berbis*k
tentang masa depan cerah, dan menjanjikannya jalan hidup yang kuyakini. Tentu
saja, Fla tidak pernah mengikuti caraku yang berantakan. Justru ketulusannya
itulah yang membuatku sering merasa terbeban, hingga aku menjauh dan mencari pe
l a r ian yang salah.

(Kembali ke Masa Kini)

Air mata kini mengalir di pipiku. Apakah Fla benar-benar sudah tidak memiliki
sisa rasa hormat lagi untukku?

"Fla," panggilku lirih. "Aku ingin berubah. Aku serius."

Tanganku terulur mencoba me n y e n t uh bahunya. Namun, yang kusentuh hanyalah
ruang kosong. Ia telah menutup diri rapat-rapat.

"Aku benar-benar serius kali ini. Aku mohon."

Tak ada lagi kata yang sanggup keluar dari tenggorokanku yang tercekat.

POV 3 (Author)

Andika ber b aring menatap langit-langit ka m ar. Ia berharap Fla akan bersuara,
namun hanya keheningan yang menyesakkan yang ia dapatkan.

“Fla…”

Suara Andika terasa mengus*k kesunyian. Fla akhirnya menutup bukunya dengan
tegas. Suara benturan buku itu terdengar keras di tengah keheningan ma l am.

“Kita ce r ai saja.”

Andika terdiam membeku. Na p as nya seolah tertahan di kerongkongan.

“Sehabis menggantikan Siska besok, aku akan mulai mengajar mengaji di Al-Huda.
Jadi… hak asuh an a k kita, Alif, harus jatuh kepadaku.”

“Tapi aku tidak mau ce r ai! Apalagi jika harus berpisah dengan Alif!” sergah
Andika tak terima.

“Kamu hanya sebuah na m a di akta kelahiran. Kamu tidak pernah benar-benar hadir
menjadi seorang Ayah.”

“Aku mau berubah, Fla!”

“Kata-kata itu sudah kamu ucapkan berkali-kali sampai maknanya hilang.”

“Kali ini beda!”

“Bedanya sekarang apa?” tantang Fla dengan tatapan tajam. “Kamu tega menunda
penerbangan demi urusan dengan pe r empuan lain, sementara an a k mu sendiri
terpaksa menunda tasmi’-nya karena percaya pada janjimu. Itu bedanya, kan?”

Andika terkelu. Ia tak mampu menjawab satu patah kata pun.

“Kalau kamu memang sayang pada Alif,” lanjut Fla lagi, “jangan ganggu proses
hijrah kami. Pergi saja. Aku sanggup menjaganya sendirian.”

“Tapi aku ci n ta kamu, Fla.”

“Ci n ta itu soal kehadiran, Andika. Dan kamu… sudah lama sekali tidak hadir.
Aku bahkan sudah lupa rasanya mencintaimu itu seperti apa.”

Perdebatan itu berlangsung pelan, tanpa teriakan, namun setiap kalimatnya terasa
seperti belati tajam yang saling me n i n das.

Di balik dinding, Alif ti d ur pulas. Wajah bo c ah itu tampak tenang. Ia sudah
terlalu lelah menunggu, terlalu lelah untuk terus berharap pada janji yang tak
pernah ditepati.

Andika me n u n duk dalam. Air matanya jatuh membasahi bantal, meratapi
kehadiran yang kini telah terlambat untuk diperjuangkan.

Novel Judul : Penulis:

Spoiler Bab Acak Seolah bisa membaca pikiranku, Ib u terseny um sambil berucap.“Jangan merasa tidak enak La. Kan bu dan ...
13/08/2026

Spoiler Bab Acak

Seolah bisa membaca pikiranku, Ib u terseny um sambil berucap.
“Jangan merasa tidak enak La. Kan bu dan yah juga oran g t ua kamu dan Ana saudara kamu.”

“Ila…, aduhh ada angin apa kamu mal am-mal am kesini?” Langkahnya langsung terhenti dan menat ap ke arahku dengan kening berkerut.

“Kamu kenapa La…, kok nang is?”

“Duduk dulu Ana. Masa kangen malah berdiri saja!,”peri ntah Ay ah yang segera dituruti Ana dengan sigap. Aku segera berdiri dan menyalami beliau dengan takzim. Lalu menatap ke arah Ana dengan seulas senyu man yang getir.

Ana memelukku dengan erat.

“Ana…, bikinin teh anget buat Ila gih sekalian bawa cemilan yang Aya h beli tadi,” peri ntah yang tak bisa di bantah.

“Bagaimana kabar kalian semua di rum ah La, Ma ma dan kak ak-kak akmu sehat?,” tanya yang kembali membuatku tertunduk dan menarik na fas lebih panja ng.

“Alhamdulillah ka kak-kak ak sehat semua Ya h, Ib u,” jawabku pelan.

“Ma ma bagaimana, apa beliau sak it?,” Ibu segera memberikan tanya yang langsung seperti meni kam jantu ngku.

“M...Ma ma lagi dirawat di ru mah sakit,” suaraku seperti orang terce kik dan berg etar menahan peras aan yang seakan berebut ingin kel uar.

“Ma ma sakit apa La, sejak kapan?,” rentetan pertanyaan diajukan Ib u padaku.

“Ma ma kena kan ker pe rut stadium tiga.” Suasana seketika hening. Bahkan angin pun seperti enggan melewati kami.

“Kenapa pada di am…, ada yang lewat ya,” kelakar Ana sambil meletakkan minuman dan camilan yang tadi diambil ke belakang .

“Iya.., kamu yang lewat,” jawab Ayah sambil tersen yum penuh arti.

“Ayahhh, aku kan bukan han tu!,” dan wajah Ana seketika cem berut.

“Lah kan kamu yang bilang tadi ada yang lewat. Yang barusan datang kan kamu bawa teh dan camilan. Salahnya dimana,” Ay ah Zulfikar mencoba mengelak agar Ana nggak mar ah lagi.

“Jadi menurut dokter di rum ah sak it tindakan apa yang harus diambil La,”kembali Ay ah memulai percakapan yang sempat terjeda.

“Pilihannya ada dua Ya h. Pertama di ob ati dengan ob at yang luar biasa mah al harg anya dan itu harus pesan dulu, yang kedua operasi yang juga nggak kalah mah al har ganya namun lebih singkat waktunya.”

Kami hanya sanggup mengumpulkan ua ng sepertiga dari yang dibutuhkan. Maka timbullah ide menjual rum ah kepada kelua rga Ana.

Tepat di kalimat terakhir ceritaku, A yah berdiri dan menuju ke lantai dua ke arah ka mar Ay ah dan Ib u. Tak lama I bu Amelia menyusul Ay ah Zulfikar ke lantai dua.

Tinggal aku dan Ana.

“Na…, aku rasa sebaiknya aku pamit dulu. Soal rum ah sebaiknya tidak usah terlalu dipikirkan. Sampaikan pada Ay ah dan Ib u nggak apa-apa,” sambil berdiri mengambil helm dan mem eluk Ana, akhirnya aku kembali ke ru mah dengan tangan hampa.

Judul : Ibuku Bukan Ibumu
Karya : kelana_kata
Selesaikan bacanya di KBM APP!

Rahasia 1"Alia, s a y a n g, dengar Ibu? Dompet Ibu ketinggalan di meja dekat TV atau di k a m a r. T o l o n g bilang k...
13/08/2026

Rahasia 1

"Alia, s a y a n g, dengar Ibu? Dompet Ibu ketinggalan di meja dekat TV atau di k a m a r. T o l o n g bilang ke Ayah, ya, minta u a n g belanja sebentar. Ibu tunggu di depan ka sir supermarket," ucap Sefa melalui sambungan telepon dari ponsel jadulnya. Suaranya agak terbu ru-bu ru, meredam rasa kik*k karena harus m e n a h a n antrean di kasir supermarket dekat r u m a h tumpangan mereka.

Di seberang sana, bocah perempuan berusia tujuh tahun itu mengangguk patuh. "Iya, Ibu. Alia susul Ayah ke k a m a r dulu."

Alia melangkah melewati ruang tengah r u m a h besar milik Pak Firman. Sudah seminggu ini mereka menumpang di sana setelah musibah keba karan menghanguskan warung kelontong milik orang tuanya. R u m a h ini asing, tapi Alia berusaha bers*kap sopan. Kaki kecilnya berhenti di depan pintu k a m a r tamu—k a m a r yang menjadi tempat bernaung sementara bagi Alia, Sefa, dan Feri.

Baru saja tangannya terangkat hendak mengetuk pintu yang sedikit renggang, gerakan Alia terkunci.

Melalui celah pintu yang terbuka sekitar dua senti itu, pandangan bo cah tujuh tahun tersebut menangkap sesuatu yang tidak biasa. Di dalam k a m a r yang remang-remang, kelambu r a n j a n g tempat dia biasa t i d u r bersama ibunya tampak b e r g o y a n g. Go yangannya ritmis, bergerak maju-mundur dengan intensitas yang kian cepat. Bersamaan dengan itu, sebuah suara derit kayu yang asing dan berat terdengar bersahut-sahutan.

Naluri polos seorang a n a k kecil menda dak mengirimkan sinyal aneh. D a d a Alia berdegup kencang, diselimuti rasa bi ngung yang luar biasa. Suara apa itu? Mengapa kelambunya bergerak sekencang itu? Siapa yang ada di dalam bersama Ayah? Alia terpaku. Kakinya seolah tertanam di atas lantai ubin yang dingin. Dia diam membeku di sana, menatap celah itu tanpa berkedip selama hampir sepuluh menit, teng gelam dalam ketidakpahaman yang mence kam jiwanya.

Sementara itu, di supermarket, perasaan Sefa mulai tidak enak karena Alia tak kunjung menyusul ataupun menelepon kembali. Khawatir terjadi sesuatu, Sefa memu tuskan meninggalkan keranjang belanjanya dan bergegas pulang.

Begitu melangkah masuk ke dalam r u m a h yang sepi, jan tung Sefa mence los melihat sosok putri kecilnya berdiri kaku di depan pintu k a m a r tamu. Tatapan mata Alia kosong, tertuju lurus pada celah pintu.

"Alia..." bi s*k Sefa lirih seraya mendekat.

Alia tidak menoleh, dia hanya me re mas ujung kaus garis-garisnya dengan ge me tar. Rasa penasaran bercampur ce mas mendo rong Sefa untuk ikut membung k*k, menyejajarkan wajahnya dengan celah pintu yang sama.

Detik itu juga, dunia Sefa run tuh tanpa suara.

Di balik kelambu yang b e r g o y a n g hebat itu, Sefa melihat dengan mata kepala sendiri. Pung gung kokoh suaminya, Feri, sedang bergerak li ar di atas t u b u h wanita lain. Suara derit r a n j a n g yang didengar Alia bukanlah sebuah permainan, melainkan sebuah pengkhia natan paling menji jikkan yang dilak*kan di atas r a n j a n g tumpangan mereka sendiri. N a p a s Sefa terce kat, tenggo rokannya menda dak kering, dan seluruh sendi di tu buhnya terasa lolos.

K e m a r a h a n, rasa syok, dan kehan curan memba kar d a d a Sefa seketika. Rasanya dia ingin mendo brak pintu itu dan menjerit sekeras-kerasnya. Namun, lirikan matanya menangkap sosok Alia yang masih berdiri dengan wajah pu cat di sampingnya. Sefa sadar, dia tidak boleh runbtuh di sini. Dia tidak boleh meru sak mental a n a k nya lebih jauh.

Sefa memejamkan m ata erat-erat. Jari-jarinya menge pal begitu kuat hingga k*ku-k*kunya yang t a j a m menem bus kulit telapak tangan, mengalirkan rasa pe rih yang tak sebanding dengan han curnya ha ti. M e n a h a n jeri tan yang nyaris tum pah di ujung li dah, Sefa menanrik n a p a s panjang.

Semenit kemudian, dengan gerakan yang teramat pelan namun pasti, Sefa menggan deng tangan kecil Alia. Dia membalikkan t u b u h anaknya, menun tunnya berjalan keluar meninggalkan lorong k a m a r tersebut tanpa sepatah kata pun. Wajahnya menda dak kebas, memasang topeng kep ura-pu raan paling rapat seolah-olah tidak ada ba dai yang baru saja m e n g h a n t a m hidup mereka.

Bersambung....

Selanjutnya baca di KBM app

📚 Judul: Rahasia di K a m a r Tamu
✍️ Penulis: tedede

Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!

Bab 4. Berkali-kali Arseno m e m u k u l setir mobil dengan k e r a s meluapkan kekesalan. Waktu seolah terbuang percuma...
12/08/2026

Bab 4.

Berkali-kali Arseno m e m u k u l setir mobil dengan k e r a s meluapkan kekesalan. Waktu seolah terbuang percuma karena kehadiran Handa yang tidak diketahui. "Pulang saja, cari kesempatan dilain waktu!" Arseno berniat meninggalkan tempat untuk pulang.

Belum ada satu meter mobil berjalan, tiba-tiba Arseno melihat mobil milik Handa ke luar dari parkiran klinik ke cantikan. Melihat juga keluarga kecil Handa yang berada di dalam mobil tanpa ada Sari di dalamnya. Spontan Arseno menghentikan mobilnya sambil melihat arah mobil Handa melaju.

"Berarti wanita ib lis itu masih berada di dalam klinik kecantikan itu!" kata Arseno sendiri sambil melihat arah klinik.

Bergegas Arseno melajukan mobil masuk ke area parkiran klinik. "Lebih baik aku tunggu lagi di sini saja pasti dia akan pulang tanpa kendaraan pribadinya."

Dengan yakin Arsino masuk ke halaman klinik kecantikan dan memarkir mobilnya tidak jauh dari pintu utama klinik. Dengan tujuan jika Sari keluar dari klinik dengan cepat bisa menyambutnya tanpa memberikan kesempatan untuk dia memesan kendaraan online atau dijemput sopir.

Dugaan Arseno sangat tepat, seperempat jam menunggu Sari keluar dari klinik kecantikan sendirian. Penampilan ibu kan dung Handa itu terlihat sangat berbeda. Pakaiannya sangat modis bak a n a k muda zaman sekarang. Wajahnya terlihat bersinar menun jukkan kelas bahwa dia memiliki banyak ma teri untuk melak*kan perawatan.

Dengan tersenyum devil Arseno memiliki ide yang sangat tidak masuk akal. Tanpa basa-basi Arseno langsung mena rik tangan Seri dan dimasukkan ke dalam mobil. Dipak sanya mantan sahabat Mami Mitha masuk dan duduk di bagian depan samping sopir.

"Kamu ngapain mak sa ibu naik ke sini?" tanya Sari ka get.

"Masuk saja aku ingin bicara padamu!"

Arseno langsung menutup pintu mobil setelah Sari duduk. Memutari dash board dan masuk ke dalam bagian kemudi mobil sambil memandangi wajah Sari dengan pandangan ma ta yang tidak bisa diartikan.

"Apa-apaan kamu, Ibu sudah memesan mobil online untuk pulang?"

"Dibatalkan saja aku ingin bicara penting padamu!"

"Bicara penting apa, kamu sudah tahu kalau kamu tidak jadi menantu ibu?"

"Bukan masalah itu, yang ingin aku bicarakan hal lain."

"Lalu kamu mau bicara apa?"

Arseno tidak menjawab pertanyaan Sari dan sengaja memandang Sari dengan penuh kekaguman. Memandang layaknya seorang laki-laki pada wanita muda. Sengaja ma ta nya dibuat berbinar sambil tersenyum manis.

"Ibu cantik sekali," rayu Arseno sambil melihat wajah Sari.

Sari langsung salah tingkah sambil melihat wajahnya sendiri dari kaca spion. Ma ta nya langsung berbinar seolah mendapatkan sesuatu yang berharga karena dipuji. "Kamu bisa saja, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Sari sambil tersenyum manis.

"Tidak jadi!"

"Kenapa tidak jadi?"

"Aku bersyukur karena tidak jadi menikahi putrimu."

"Mengapa begitu?"

"Karena aku baru menyadari ternyata kamu lebih cantik dari dua putrimu, aku seperti sedang duduk bersama bidadari."

"Ka ... kamu sudah g i l a, kamu lihat umurku berapa?" tanya Sari semakin gugup.

"Aku tidak peduli, aku lebih s**a wanita yang lebih dewasa." Arseno sengaja mena rik tangan Sari dan menggeng gamnya dengan mes ra.

"Eh, kamu g i l a, ya?"

"Iya, aku tergi la-gi la padamu!"

Walau Arseno menggenggam tangan Sari menggunakan tangan kiri dan tangan kanan konsentrasi menyetir, tetapi rayuan gombal Arseno sangat membuat ha ti Sari berbunga-bunga. Wanita setengah baya itu seolah kembali muda, wajahnya merah merona seperti tomat. Senyumnya mengembang sambil berkali-kali m e n c u r i pandang ke arah Arseno.

'Masuk perangkap kamu wanita ib lis,' monolog Arseno dalam hati.

"Ka ... kamu?" Sari kembali tidak melanjutkan ucapannya tatkala Arseno dengan lembut m e n c i u m punggung tangannya.

"T o l o n g jangan menolakku, aku ingin menjalin h u b u n g a n diam-diam denganmu."

"Aku tidak sedang mimpi, 'kan?"

"Tentu saja tidak, aku baru menyadari ternyata kamu cantik banget."

"Aku sudah tua Ar, aku ...?" jawaban Sari seolah menggan tung karena mobil pelan-pelan berjalan minggir menuju sebuah restoran seafood.

"Mau ngapain berhenti di sini?"

"Aku ingin bicara berdua di situ sambil makan."

"Tetapi aku harus segera pulang, Ar." Sari berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Please, satu jam saja, please!" Arseno memohon dengan menunjukkan wajah man ja.

"Baiklah, tetapi janji hanya satu jam ya?"

"Tentu."

Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Arseno berlari memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Sari. Sikap Arseno terlihat sangat romantis jika dilihat dari jauh jika tidak melihat perbedaan umur. Arseno benar-benar memperlak*kan Sari seperti memperlak*kan kekasih ha ti.

Sari semakin terbuai dan semakin melayang di atas awan. Ibu kandung Handa itu seolah seperti seorang putri raja yang diperlak*kan istimewa oleh raja. Matanya berbinar, selalu ada senyum di ujung bibir, dan rona bahagia terpancar dari sorot matanya.

"Silakan turun, pelan-pelan dan awas kepalanya!"

"Terima kasih."

"Kamu benar-benar cantik." Arseno kembali merayu Sari sambil memegangi pintu mobil.

Kamu bisa saja, pasti kamu b o h o n g, ya?"

"Aku tidak b o h o n g, ayo kita masuk!" Arseno mengulurkan tangan menggandeng lengan Sari.

Jika dilihat dari kejauhan seperti seseorang a n a k yang mengandeng ibunya masuk ke dalam restoran dengan penuh kasih. Tidak ada seorang pun yang tahu maksud dan tujuan Arseno. Sikapnya dibuat senatural mungkin agar Sari tidak c u r i g a.

"Tunggu dulu!" kata Arseno menghantikan langkah.

"Ada apa?"

"Aku ingin duduk di tempat yang tidak terlalu ramai di dalam sana!" Arseno menujuk arah restoran.

"Gampang itu, kita pesan ruang private room saja."

"Ide bagus, tetapi aku tidak membawa tas jadi aku tidak membawa kartu A T M, aku hanya membawa dom pet dan beberapa lembar u ang cash yang cukup untuk kita makan berdua." Arseno mengeluarkan dom pet yang berada di dalam saku celana.

"Tenang saja, aku yang akan memba yarnya."

"Benarkah?"

"Iya, aku bawa u ang cash banyak." Sari mene puk tas bran ded yang berada di lengan kiri.

"Terima kasih, kamu benar-benar bukan hanya cantik, tetapi baik hati dan tidak sombong," rayu Arseno sambil tergelak padahal dalam hati berkata, 'Mam pus lo, aku po ro tin sekalian u a ngmu.'

Sari semakin terlena setelah duduk berdua di private room berdua dengan Arseno. Memesan makanan pun Sari dengan s**a rela memba yar tanpa diminta. Dunia seolah hanya berada di ruang khusus restoran tanpa ada seorang pun mengetahuinya.

"Kita resmi memiliki h u b u n g a n khusus mulai saat ini, ya?" pinta Arseno sambil menggeng gam kedua tangan Sari.

"Kamu yakin menyukai aku?" tanya Sari masih sedikit ragu.

"Sangat yakin, apakah kamu tidak percaya kalau aku benar-benar menyukaiku?"

"Yakin, sih. Tetapi ...?" Sari memandang wajah Arseno dengan berbinar.

"Tetapi kenapa?"

"Aku sudah berumur sedangkan kamu masih muda."

"Cinta itu tidak memandang usia, yang terpenting rasa di dalam sini!" Arseno menepuk da da nya sendiri.

"Iyakah?"

"Setuju, 'kan kita menjalin h u b u n g a n mulai sekarang?"

"Baiklah, tetapi bagaimana dengan suami dan keluargaku?"

"Kita jalani secara diam-diam saja dulu, ok?"

--
PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?
Yuk, baca bab selengkapnya sekarang juga cuma di KBM APP!

📚 Judul: Den d a m yang H a r a m
✍️ Penulis: Muda Anna

Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!

Spoiler Bab Acak“Kamu masih sering ketemuan sama Ana, bukannya sua mi Ana itu membatasi pertemanannya?,” “Kamu nggak tah...
12/08/2026

Spoiler Bab Acak

“Kamu masih sering ketemuan sama Ana, bukannya sua mi Ana itu membatasi pertemanannya?,”

“Kamu nggak tahu ya…, Ana bilang ke aku waktu kita ketemu di reuni Akbar anak ekonomi di Bandung tiga tahun lalu!.”

“Bukannya kamu terakhir ketemu pas nika hannya Ana, Fa?,” aku bingung dengan cerita Fafa.

“ Iya…, ketemu langsungnya.”

“Lah tadi kamu bilang ketemu di reuni, gimana sih?,”tanpa sadar suar aku yang tadinya biasa saja menjadi sedikit na ik.

“Iya…, kita ketemuan di reuni lewat Video Call, wkwkwk.”

🌹🌹

“Apa menu ma kan siang kita hari ini chef Ila?,” tanya Fafa dengan wa jah tanpa do sa.

“Yang bilang aku mau masak buat kita siapa?

“Ihh…, nggak boleh begitu sama tamu, masa nggak dijamu. Suguhin air minum juga nggak,” sungut Fafa sambil mengambil tempat duduk di salah satu kursi meja mak an dekat dapurku.

“Astaghfirullah, iya lupa kasih minum tamu agung. Mau minum apa Fa,” jawabku segera.

“Hemm, ini nih tuan rumah yang katanya paling memuliakan tamu. Mana seorang chef pula”

“Tapi beneran lho La,” eh berlanjut ternyata.

“Ana bilang kalau sua minya itu pos esif. Kalau ada temannya yang mau datang kerumah harus ijin dan lewati seleksi sua minya dulu.”
“Nah par ahnya lagi bahkan yang hanya sekedar nelpon. Itu inter ogasi nya bisa berjam-jam.”

“Mungkin karena sua minya nggak mau kalau nanti ist rinya terlalu sibuk dengan. HP, mungkin ya,” bela ku dengan ragu.

🌹🌹

“Ila…, duduk sini deh. Ada yang mau aku sampaikan ke kamu, tapi kamu jangan m arah ya,...?!”

“Kamu mau ngomong apa aja aku belum tahu Fa, gimana mau mar ah. Aneh ni an ak,” jawabku sedikit kesal

“Iyya…pokoknya janji jangan ma rah ataupun kece wa apalagi nga muk. Nggak boleh. Janji ya,” kembali Fafa mengajukan pertanyaan yang sama.

“Kamu masih ingat nggak dengan kejadian yang sempat menjadi bahan perbincangan teman-teman La?”

“Ohhh soal Rita sama Beni? Kan nggak ada masalah besar cuma pacaran terus ketahuan, itu saja kan?,” tanyaku dengan wajah bingung.

“Sekarang aku tanya kenapa kamu bisa ikut terlibat dalam masalah Rita dan Beni. Kamu berperan sebagai apa di dalam hubungan mereka?,” pertanyaan ser ius pertama yang dilontarkan Fauza menghentikan aktifitas merajut yang tadi sempat dilanjutkan.

“Fa…apa kamu percaya kalau semua yang dulu mereka katakan adalah kebenaran?”
“Kalau aku Putri Samila Akhyar adalah pengha ncur hubun gan Rita dan Beni dan aku sengaja menyer ahkan diriku pada guru olahraga kita karena hidupku yang kurang mampu kalau belum pantas disebut miskin waktu itu?,” akhirnya sebuah tanya yang selama ini menggantung dibena kku, tersampaikan sekarang.

Fauza menggeleng kuat dan tegas. “Dari awal cerita itu beredar, aku sangat tidak percaya bahkan hingga detik ini.”
“Ada suara lain yang membuat cerita itu menjadi mema nas hingga keluar sekolah. Aku yakin kamu tahu itu!?”

Ada pesan yang tersampaikan dengan getar an angin yang membawa bis*kan kata yang sama ‘ dia adalah orang terdekat’.

Judul : Ibuku Bukan Ibumu
Karya : kelana_kata
Selesaikan Bacanya di KBM APP!

Saat aku bersenang-senang  di r u m a h istri keduaku, istri pertama melak*kan sesuatu yang membuatku terkejut dan kehil...
12/08/2026

Saat aku bersenang-senang di r u m a h istri keduaku, istri pertama melak*kan sesuatu yang membuatku terkejut dan kehilangan segalanya, ternyata dia ....🌹🌹🌹

(5)

Tiga hari berlalu. Tiga hari Aisyah mengu rung diri di k a m a r, hanya keluar untuk ke k a m a r m a n d i. Bi Ijah, pembantunya, khawatir melihat Aisyah hampir tidak m e n y e n t u h makanan yang diantarkan. Fadli sudah pindah t i d u r ke k a m a r tamu, bahkan mulai jarang pulang ke r u m a h.

Aisyah berbaring di tempat t i d u r, menatap langit-langit dengan mata kosong. Ponselnya berdering berkali-kali. Maya, sahabatnya, sudah menelepon puluhan kali. Akhirnya, Aisyah mengangkat.

"Syah! Astaga, aku sudah kha watir setengah m a t i! Kenapa tidak angkat-angkat teleponku?" suara Maya pa nik di seberang.

"May ...." suara Aisyah serak. "Bisa kamu ke sini? Aku butuh kamu."

"Aku berangkat sekarang!"

Dua puluh menit kemudian, Maya tiba denganmu wajah cemas. Ketika melihat kondisi Aisyah mata bengkak, wajah pucat, rambut acak-acakan Maya langsung memeluknya erat.

"Ya Allah, Syah. Kamu kenapa?"

Aisyah menceritakan semuanya. Tentang Nur, tentang kepu t***n Fadli, tentang ultimatum yang menghanbcurkan hidupnya. Maya mendengarkan dengan wajah semakin memerah, a m a r ahnya naik.

"B a j i n g a n!" umpat Maya. "Aku tidak percaya Fadli bisa seperti itu! Dia yang dulunya sangat mencintaimu!"

"Dia bilang masih mencintaiku," Aisyah tertawa getir.

"Tapi dia juga mau menikahi wanita lain. Katanya dalam Islam boleh kalau bisa adil."

"Adil dari mana? Memangnya hatimu tidak terluka?" Maya menggeng gam tangan Aisyah. "Syah, kamu tidak wajib menerima ini. Kamu bisa menolak. Kamu bisa minta ce r ai."

"Tapi kalau aku minta c e r a i aku akan kehilangan dia sepenuhnya."

"Kamu sudah kehilangan dia, Syah! Sejak dia memutuskan untuk menikah lagi, dia sudah tidak sepenuhnya milikmu."

Aisyah me nangis lagi. Maya me me luknya, membiarkan sahabatnya menumpahkan semua rasa sakit.

"Aku tidak tahu harus bagaimana, May. Aku mencintainya. Lima tahun kami membangun r u m a h tangga ini. Lima tahun! Bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja?"

"Tapi bagaimana kamu bisa bertahan kalau dia menikah lagi? Kamu akan melihat dia pergi ke r u m a h wanita lain. Kamu akan tahu dia t i d u r dengan wanita lain. Kamu akan membayangkan dia m e n y e n t u h wanita lain dengan cara yang sama dia menyentuhmu. Kamu sanggup?"

Aisyah menggeleng lemah. "Tidak. Aku tidak sanggup. Tapi aku juga tidak sanggup kehilangan dia."

Maya menghela n a p a s panjang. "Syah, sebagai sahabatmu, aku harus jujur. Ini bukan soal sanggup atau tidak. Ini soal h a r g a diri. Ini soal menghargai dirimu sendiri. Kamu wanita luar biasa cantik, pintar, mapan. Kamu tidak pantas diperlak*kan seperti ini."

"Tapi aku tidak bisa punya a n ak, May. Itu kesalahanku."

"BUKAN SALAHMU!" Maya mengguncang bahu Aisyah. "Bukan keinginanmu untuk tidak punya a n ak. Kamu sudah berusaha maksimal. Dan Fadli tahu itu. Tapi sekarang dia pakai alasan itu untuk membenarkan keinginannya menikah lagi. Itu e g ois, Syah. Sangat eg ois."

Aisyah terdiam, menyerap kata-kata Maya. Di sudut hatinya, dia tahu sahabatnya benar. Tapi cinta membuatnya buta. Cinta membuatnya ingin bertahan meski menyakitkan.

"Aku butuh waktu berpikir lebih banyak," gumam Aisyah akhirnya.

"Oke. Tapi janji sama aku, apapun keput***nmu, pastikan itu keput***n yang terbaik untukmu. Bukan untuk Fadli, bukan untuk keluarganya, tapi untukmu. Kamu mengerti?"

Aisyah mengangguk lemah.

***

Malam harinya, setelah Maya pulang, Aisyah memutuskan untuk pergi ke masjid dekat rumahnya. Sudah lama dia tidak shalat dengan khusyuk. Sudah lama dia tidak berbicara dengan Allah dengan sepenuh hati.

Di masjid yang sepi hanya ada beberapa jamaah yang sedang tadarus Aisyah mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Isya. Setiap gerakannya terasa berat, setiap bacaannya tersumbat oleh tangis yang dia tahan.

Setelah salam, Aisyah duduk bersimpuh. Air matanya jatuh membasahi sajadah.

"Ya Allah," bis*knya pelan. "Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku lemah. Aku bingung. Aku sakit. Tunjukkan aku jalan yang benar. Aku pasrah padaMu."

Dia menangis dalam sujud yang panjang, menumpahkan semua luka, semua kecewa, semua ketakutan. Entah berapa lama dia bersujud, hingga seorang jamaah wanita paruh baya menghampiri dan mengusap punggungnya lembut.

"Nak, sudah selesai shalatnya? Wudhu-nya batal kalau menangis terlalu lama," kata wanita itu dengan suara lembut.

Aisyah mengangkat kepalanya. Wanita itu tersenyum hangat, wajahnya memancarkan ketenangan.

"Maafkan saya, Bu," gumam Aisyah sambil menghapus air matanya.

"Tidak apa-apa, Nak. Sedang ada masalah berat ya?"

Aisyah mengangguk. Entah kenapa, dia merasa nyaman dengan wanita ini.

"Boleh cerita sama Ibu? Ibu volunteer konseling di masjid ini," tawar wanita itu.

Mereka berpindah ke ruang perpustakaan masjid yang lebih private. Di sana, Aisyah menceritakan semuanya kepada Bu Aminah begitu wanita itu memperkenalkan diri. Bu Aminah mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk, tidak menghakimi.

"Nak Aisyah," kata Bu Aminah setelah Aisyah selesai bercerita. "Pertama, Ibu ingin kamu tahu bahwa apa yang kamu rasakan itu wajar. Sakit hati, kecewa, m a r a h semua itu manusiawi. Jangan merasa bersalah karena merasa sakit."

"Tapi kalau aku menolak, bukankah aku menghalangi jalan kebaikan suami? Dalam Islam, p o li ga mi dibolehkan."

"Boleh, tapi bukan berarti wajib, Nak. Dan boleh bukan berarti tanpa syarat. Allah memerintahkan laki-laki untuk berlaku adil. Adil bukan hanya soal materi, tapi juga soal hati, waktu, perhatian. Sangat sedikit laki-laki yang benar-benar mampu adil."

"Fadli bilang dia akan adil."

Bu Aminah tersenyum t i p i s. "Mudah mengucapkan, Nak. Tapi sulit melaksanakan. Dan pertanyaannya apakah kamu siap menerima konsekuensinya? Bukan soal halal atau haram, tapi soal apakah kamu sanggup hidup seperti itu?"

Aisyah terdiam.

"Dengar, Nak. Agama kita memang membolehkan po li ga mi, tapi agama kita juga memberikan hak kepada istri untuk menolak atau bahkan meminta ce rai kalau tidak sanggup. Kamu punya hak itu. Dan menggunakan hakmu bukan berarti kamu istri yang buruk atau tidak taat."

"Tapi aku takut dikira eg ois, Bu. Takut dibilang tidak pengertian, tidak sabar."

"Eg ois itu yang mana, Nak? Kamu yang ingin diperhatikan sepenuh hati oleh suamimu, atau suami yang ingin menikah lagi meski tahu istrinya terluka? Sabar itu baik, tapi sabar bukan berarti menerima perlakuan yang menyakitimu selamanya."

Kata-kata Bu Aminah seperti membuka kabut di pikiran Aisyah. Selama ini dia merasa kalau dia menolak, berarti dia istri yang buruk. Tapi Bu Aminah memberikan perspektif berbeda.

"Ibu bukan menyuruh kamu ce rai atau menyuruh terima," lanjut Bu Aminah. "Ibu cuma mau kamu tahu bahwa apapun keput***nmu, pastikan itu keput***n yang kamu buat dengan kepala jernih dan hati yang ikhlas. Bukan karena terpaksa, bukan karena takut, tapi karena kamu sudah mempertimbangkan dengan matang."

"Bagaimana cara memutuskannya, Bu? Aku bingung."

"Shalat istikharah, Nak. Minta petunjuk Allah. Dan dengarkan hatimu yang paling dalam. Hati yang sudah jernih dari pengaruh orang lain, dari rasa takut, dari ego. Hati yang jujur."

Aisyah mengangguk perlahan. "Terima kasih, Bu Aminah. Saya merasa sedikit lebih tenang."

"Sama-sama, Nak. Ingat, apapun keput***nmu, Allah bersama orang-orang yang sabar dan orang-orang yang teraniaya. Jangan takut. Allah M a h a Melihat."

***

Aisyah pulang ke r u m a h dengan perasaan sedikit lebih ringan. Dia menemukan Fadli di ruang tamu, sedang menonton televisi. Lelaki itu menoleh ketika mendengar Aisyah masuk.

"Kamu dari mana?" tanyanya.

"Masjid," jawab Aisyah singkat.

Fadli mengangguk. "Syah, kita perlu bicara lagi. Aku, aku sudah tunggu kamu tiga hari. Aku butuh kepastian."

Aisyah menatap suaminya. Lelaki yang pernah sangat dicintainya. Lelaki yang kini terasa seperti orang asing.

"Aku butuh waktu lebih banyak," kata Aisyah pelan tapi tegas. "Ini keput***n besar. Ini menyangkut sisa hidupku. Aku tidak bisa memutuskan dalam tiga hari."

"Berapa lama lagi?"

"Aku tidak tahu. Mungkin seminggu, mungkin sebulan. Tapi aku butuh waktu untuk berpikir jernih, untuk shalat istikharah, untuk memastikan keput***nku tidak akan kusesali."

Fadli terlihat frustrasi. "Nur menunggu jawaban, Syah."

Mendengar nama itu, sesuatu di dalam Aisyah terbakar. "Nur menunggu? Atau kamu yang tidak sabar ingin segera menikahi dia?"

"Jangan begitu!"

"Aku tidak peduli Nur menunggu atau tidak!" suara Aisyah me ning gi. "Yang aku peduli adalah hidupku, perasaanku, masa depanku! Kalau kamu tidak mau menunggu, silakan saja nikahi dia sekarang dan aku akan minta c er ai!"

"Aisyah!"

"Aku serius, Fadli. Aku butuh waktu. Dan kalau kamu benar-benar masih menghargaiku sedikit saja sebagai istrimu, kamu akan memberikan waktu itu."

Mereka saling bertatapan. Aisyah tidak mengalah, matanya penuh determinasi meski berkaca-kaca. Fadli akhirnya menghela n a p a s panjang.

"Baik. Satu bulan. Aku kasih kamu waktu satu bulan. Setelah itu, aku butuh kepastian."

Aisyah mengangguk, lalu berjalan ke k a m a r tanpa kata lagi.

Di dalam k a m a r, dia duduk di tepi tempat t i d u r, menatap cincin pernikahan di jarinya. Cincin yang dipasangkan Fadli lima tahun lalu dengan janji untuk selalu bersama dalam s**a dan duka.

Tapi ternyata janji itu tidak sekuat yang mereka kira.

Aisyah melepas cincin itu, memegangnya di telapak tangan. Satu bulan. Dia punya waktu satu bulan untuk memutuskan: bertahan dalam pernikahan yang tidak utuh, atau melepaskan dan memulai hidup baru yang penuh ketidakpastian.

Dua pilihan yang sama-sama menakutkan.

Bersambung..

📚 Judul: Aku Dis u su i Maduku
✍️ Penulis: Sitti Istiqomah

Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!

Address

Tamanan
Trenggalek

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Novel Senja posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category