27/08/2019
Buku "Siapa Mau Jadi Petani?" mengenalkan kita kepada sosok petani Indonesia lebih mendalam. Persepsi awam kita akan diluruskan bahwa petani Indonesia tidak umumnya miskin dan malas. Sesungguhnya petani Indonesia memiliki kehendak bebas. Mereka bukan mesin, namun peran dan keputusannya dapat mengakibatkan keresahan masyarakat.
Apa rumitnya menjadi petani?
Ketersediaan tanah tidak membuat petani bebas dengan memilih komoditas yang ingin ditanam. Mereka juga harus melihat kesesuaian agroklima, serta mengendalikan ekosistem dan mutu. Sebagai contoh, tanaman kopi dari Ethiopia bisa tumbuh di ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut atau buah naga dari Meksiko yang dapat ditanam di daerah Yogyakarta yang kering dan panas.
Tanah merupakan dasar peradaban. Tanah yang subur meminimalisir penggunaan pupuk kimia dan memberikan pengaruh pada gizi hasil pertanian. Jika dahulu nenek moyang kita menerapkan sistem ladang berpindah untuk menyuburkan tanah pasca bertani, saat ini petani melakukan intervensi tanah dengan menggunakan pupuk karena keterbatasan lahan.
Seorang petani yang memahami arti pengendalian hama penyakit akan berpikir menjaga agar pop**asi hama tidak sampai merusak. Salah satunya dengan menerapkan rotasi tanaman. Namun, jika terjadi kegagalan akibat hama, petani tidak frustasi. Para petani memahami bahwa tanaman bukan hanya milik mereka.
Tantangan lain bagi seorang petani adalah mengendalikan mutu. Ketika hasil pertanian rusak atau menurun kualitasnya, petani tidak bisa menjual itu. Petani sayur harus segera menjual hasil kebunnya agar tidak segera layu. Petani tebu harus segera mengirimkan tebunya ke pabrik dalam waktu kurang dari 24 jam atau mutunya akan rusak. Bayangkan jika dalam perjalanan komoditi-komoditi tersebut terhambat karena kemacetan, jalan rusak, atau kecelakaan. Petani merugi dan harga-harga bahan pokok akan naik.
Risiko menjadi petani di Indonesia yang utama adalah modal. Tanpa modal, petani tidak dapat merawat tanamannya. Butuh Rp 5-8 juta per hektar untuk merawat kebun kakao di Kolaka. Jika petani memiliki lima hektar kebun kakao, maka ia perlu dana sekitar Rp 24-40 juta.