17/11/2016
terharuuu membaca tulisan mbak Wina Risman ini,...kita orang tua seperti apa...? semoga masih ada kesempatan memperbaikinya.
Saya pernah bermimpi...
Sesuatu yang sangat berharga yang sempat dititipkan di rahim saya,
Yang dengan kedua tangan saya, seluruh jiwa raga, tangis dan keringat saya, semampu saya saya didik dan besarkan...
Diminta kembali.. Oleh si empunya!
Terhenyak!
Mendadak!
Seketika...
Tanpa salam, tanpa pemberitahuan, tanpa peringatan.
Tetiba.. Membujur kaku didepan saya, berbalut kain putih, jasad yang pernah sekian tahun diamanahkan kepada saya.
Duhai, samg pemilik jiwanya...
Ampunkan hamba..
Yang belum mampu memberikan yang maksimal dalam menjaganya
Yang masih sering mem prioritaskan hal lain yang kurang bermakna, seakan-akan ia akan hidup lebih lama dari hamba!
Duhai, yang ruh-ku dalam gengamanNYA...
Ampunkan hamba..
Yang masih sering membentaknya, tidak menyapa perasaannya, s**a lupa memeluknya, tidak menghadapnya ketika ia berbicara tentang keberhasilan-keberhasilannya, kekhawatiran-kekhawatirannya, perasaan dan gundah gulananya. Jarang baring bareng dan bercerita, walau ia tidak pernah bosan meminta.
Ia coba paham, bahwa ada yang lebih kecil yang berhak perhatian saya.
Sedikit dan terkadang saya sering lupa. Bahwa dia anak juga. Yang beranjak remaja, yang sebetulnya SAMA MEMBUTUHKAN saya dan ayahnya, sebagaimana adik-adiknya.
Duhai, pemilik dunia dan hari akhirnya...
Saya belum siap
Saya belum minta maaf
Izinkan saya memeluk tubuh kecilnya sekali lagi...
Dekapan yang tak ingin saya lepaskan
Dekapan yang saya sering terlupa berikan,
Duh gusti.
Ampunkan hamba.
Mahluk kecil titipanMU belum puas ku jaga. Belum kuberikan maksimalku, segalanya.
Masih banyak tumpukan dosa.
Harapan dan asa
Penyesalan yang tiada hentinya
Membayangkan kelak ia akan dewasa, memberikan aku cucu-cucu yang cantik jelita.
Sekarang,
Aku hanya bisa berpasrah. Menelan ludah, mengurut dada.
Memang penyesalan tiada berguna.
Allah!!!
Ampunkan akuuu!!
Aku yang sering merasa ia bisa tumbuh sendirinya dengan sedikit pertolongan dariku.
Aku yang tidak adil membagi waktu dan perhatian antaranya dan adik-adiknya yg lebih kecil. Padahal, ia juga sama membutuhkanku, terutama disaat usia bergejolak itu.
Ampunkan aku Ilahku..
Andai ku bisa ku ulang kembali waktu.
Andai diberika kesempatan kedua itu.
Lalu,
Terhenyak aku. Terbangun dari tidurku.
"Alhamdulillah!!!!!" Pekikku kencang!
Tersungkur aku seketika mengucapkan syukur dalam sujudku, terima kasih tiada hentiku.
Ternyata hanya mimpi!
Mimpi yang menampar sekali!
Mimpi yang layak dan sangat aku syukuri,
Pembuka mata, penata hati, membuka mata hati. Aku diingatkan kembali!
Diberikan kesempatan kedua lagi!
Allah!
Terima kasih!
Kuusap butir butir bening yang mengalir dari ujung mataku ini, tiada henti...
Perlahan kumasuki kamarnya yang sedang terlelap bermimpi, aku ciumi pipinya. Terduduk aku disampingnya.. Menangis pilu.
Aku bersyukur atas mimpiMU padaku ya Rabb.. Terima kasih atas anugerah dan kesempatan ini...
Terima kasih telah mengingatkan bahwa, ia hanya titipan, yang jika aku kurang becus menjaganya, Engkau sebagai pemiliknya, akan sewaktu-waktu bisa memintanya kembali.
Terima kasih ya rabb!
Panjangkan semua umur kami dalam ketaqwaan padaMU! Jadikan kami hamba-hamba kesayanganMU, bantulah kami mendidik, membesarkan, mengajari sebaik yang kami bisa, titipanMU. Tetapkan hati kami, selalu dan senantiasa dalam agamaMU.
Amin amin ya rabbal alamin.
*mimpi adalah sebuah anugerah Ilahi, isinya bisa menjadi peringatan, hadiah, petunjuk dlsb. Cerita ini sekedar berbagi, tidak semuanya adalah benar terjadi. Hanyalah sebagi pengingat dan penghimbau diri, agar kita semakin baik dan berhati-hati, dalam menjaga titipan Ilahi. Tidak ada 'kebetulan' bagi Allah. Selama nafas belum tercekat di tenggorokan, kita masih diberi kesempatan. Bismillah
KL, 16 November 2016
Wina Risman