28/12/2023
GADIS TAK PERAWAN
(2)
“Assalamualaikum, selamat pagi.” Sapaku pada Nurmala yang memang selalu datang lebih dulu dari yang lainnya. Umurnya dua tahun di bawahku, tapi ia enggan untuk memanggilku kakak, atau mbak, katanya wajahku tidak menunjukkan umurku yang sesungguhnya. Ia baru bekerja selama empat tahun, sedangkan aku sudah tujuh tahun, tapi karena kepribadiannya yang supel dan mudah berbaur dengan anak-anak membuat dia menjadi guru terfavorit selama tiga tahun ini, yang sebelumnya selalu jatuh padaku. Tapi hal itu tidak membuatku merasa tersingkir apalagi tersaingi, mengajar, mendidik dan mencintai anak-anak itulah tujuanku menjadi guru di TK ini.
“Waalaikum salam. Duhh, kamu ini ya Rina, dari semalam di chat gak ada di balas-balas.” Gerutunya menarik tanganku ke mejanya.
“Maaf, semalam ada masalah sedikit, jadi gak sempat buka-buka handphone.” jawabku tersenyum.
“Emang kamu chat apa sih?” tanyaku lebih lanjut.
“Makanya kalau udah di chat sampai belasan kali itu cepat di baca, berarti ada yang penting.” jawabnya memukul pundakku.
“Bentar, aku ambil handphone dulu.” Aku berbalik, hendak kembali ke meja tempat menaruh tote bag ku.
“Udah, nanti aja. Sekarang duduk sini dulu.” Nurmala menarik tanganku lalu menarik kursi di sebelahnya.
“Duduk disini dulu.” Paksanya.
“Ada apa sih Nur? Ada yang penting ya?”
“Penting banget malahan.”
“Ada apa sih?” tanyaku penasaran.
Nurmala menoleh ke kanan dan kiri, lalu semakin mendekat ke arahku.
“Kamu ada masalah apa sih sama Randi?” tanyanya setengah berbisik.
Aku mengernyit. “Kenapa kamu tanya seperti itu?”
“Randi semalam menelfonku.”
“Terus?”
“Makanya aku tanya, kalian ini ada masalah apa sih sebenarnya? Kenapa Randi sampai bilang seperti itu padaku?”
“Biasalah, namanya aja pacaran, kalau gak ke pelaminan ya putus.” jawabku, lagipula tidak mungkin Randi sampai berkoar-koar kesana kemari tentang apa yang ku katakan padanya semalam.
“Putus? Kalian putus?”
“Hmm.” jawabku mengangguk.
“Udah ahh, aku kembali ke