Kafillah Books Store

Kafillah Books Store Menjual buku baru bermutu dan bekas berkualitas.

PATAH TUMBUH, HILANG BERGANTIUngkapan legendaris "Patah Tumbuh, Hilang Berganti" lahir dari keprihatinan mendalam Mohamm...
21/07/2026

PATAH TUMBUH, HILANG BERGANTI

Ungkapan legendaris "Patah Tumbuh, Hilang Berganti" lahir dari keprihatinan mendalam Mohammad Natsir atas wafatnya para alim-ulama dan tokoh pejuang bangsa.

Tulisan opini ini pertama kali dipublikasikan dalam artikel berjudul "MEREKA PERGI SATU PERSATU..." di surat kabar harian ABADI pada 28 Februari 1969. Melalui artikel tersebut, Natsir mencemaskan kekosongan regenerasi rohani dan kepemimpinan umat seiring berpulangnya para perintis satu demi satu.

Gagasan ini kemudian digaungkan kembali secara langsung saat Natsir menyampaikan pidato amanat di Perguruan Diniyyah Puteri, Padang Panjang pada 8 Maret 1969. Di hadapan para pengurus, guru, dan santri pasca-wafatnya pendiri perguruan, Ibu Rahmah El-Junusijah, Natsir menegaskan bahwa perintis boleh tiada, namun warisan akhlaqul karimah dan cita-cita perjuangan tidak boleh padam ataupun terbengkalai.

Dua materi bersejarah —tulisan dari harian ABADI dan pidato di Padang Panjang— kemudian dihimpun serta diterbitkan secara resmi dalam bentuk risalah oleh Dewan Da'wah Islamijah Indonesia (DDII).

Pesan utamanya menjadi panggilan jiwa bagi generasi muda Islam untuk berani tampil meneruskan estafet perjuangan—sebab sesuai Sunnatullah, dahan yang lapuk pasti akan digantikan oleh tunas-tunas muda yang tangguh.





"Ra‘iat perloe ada pemimpin! Tapi pemimpin haroes sehati dengan ra‘iat dan haroes pandai berpedoeman kepada hati ra‘iat ...
19/07/2026

"Ra‘iat perloe ada pemimpin! Tapi pemimpin haroes sehati dengan ra‘iat dan haroes pandai berpedoeman kepada hati ra‘iat dan keperloean ra‘iat." (H. Agus Salim, Mustika, 1931)





BUNDEL PANJIMAS 164-182Majalah Panji Masyarakat No. 164-182. Ada data terkait Buya Hamka, Buya Natsir, Mr. Moh. Roem, Bu...
17/07/2026

BUNDEL PANJIMAS 164-182

Majalah Panji Masyarakat No. 164-182. Ada data terkait Buya Hamka, Buya Natsir, Mr. Moh. Roem, Buya AR. Sutan Mansur, Tamar Djaja, ZA. Ahmad, AR. Baswedan, Rusydi Hamka, Yusuf Abdullah Puar, Mahbub Djunaidi dan masih banyak data menarik lainnya.

Minat?





TELADAN ROESLAN ABDULGANI: MENOLAK MENYERAH PADA KETERBATASANPada 19 Desember 1948, Yogyakarta lumpuh akibat Agresi Mili...
10/07/2026

TELADAN ROESLAN ABDULGANI: MENOLAK MENYERAH PADA KETERBATASAN

Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta lumpuh akibat Agresi Militer Belanda II. Di tengah kekacauan, Dr. H. Roeslan Abdulgani (Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan) tertembak di jalanan kota.

Dalam kondisi bersimbah darah, beliau diselamatkan oleh dua mahasiswa menggunakan dokar menuju RS Petronella (Bethesda). Karena infeksi luka tembak yang parah, keesokan harinya pada 20 Desember 1948, dokter terpaksa mengamputasi jari-jemari tangan kanan beliau tanpa obat bius.

Selama berbulan-bulan di awal 1949, beliau harus bertahan di bawah ancaman interogasi intelijen musuh, sambil terus disembunyikan identitasnya oleh tim medis yang setia pada Republik.

Titik balik perjuangannya terjadi pada 6 Juli 1949 saat B**g Karno kembali dari pengasingan. Melihat lengan Cak Roeslan yang masih terperban, B**g Karno memeluknya dan berkata: "Cak! Jangan sekali-kali menyembunyikan tangan kananmu yang cacad itu. Malahan banggalah dengan tanda pengorbananmu itu!"

Luar biasa! Keterbatasan fisik atau "luka" akibat perjuangan hidup bukanlah akhir dari segalanya. Jangan pernah minder dengan kekurangan, karena dari sanalah inner-self dan ketangguhan yang sebenarnya sedang diuji untuk terus bersinar.





PESAN BUYA HAMKA KEPADA USTADZ ABDULLAH SAIDPada 24 Mei 1973 hadir Prof. DR. HAMKA, yang memberi kuliah pertengahan tahu...
08/07/2026

PESAN BUYA HAMKA KEPADA USTADZ ABDULLAH SAID

Pada 24 Mei 1973 hadir Prof. DR. HAMKA, yang memberi kuliah pertengahan tahun, di Pesantren Hidayatullah. Beliau berpesan sambil menepuk-nepuk bahu Ustadz Abdullah Said (Pendiri Pesantren Hidayatullah), "Teruskan usaha ini Nak, ini adalah usaha yang mulia.... !"





APA KABAR "HIMPUNAN PENGARANG ISLAM"? Tamar Djaja dalam Harian Abadi hari Sabtu tanggal 10 November 1973 mengulas sejara...
05/07/2026

APA KABAR "HIMPUNAN PENGARANG ISLAM"?

Tamar Djaja dalam Harian Abadi hari Sabtu tanggal 10 November 1973 mengulas sejarah pasang surut Himpunan Pengarang Islam (HPI) yang didirikan pada Januari 1953 di Kramat 45, Jakarta. Menjadi wadah pemersatu para pemikir dan sastrawan Muslim, organisasi yang dipelopori oleh K.H. Isa Anshary dan Drs. Gazalba ini sukses menghimpun puluhan nama besar dari seluruh penjuru Indonesia.

Tokoh-tokoh terkemuka seperti Hamka, Moh. Natsir, Tamar Djaja, hingga ulama legendaris A. Hassan (Bangil) tercatat ikut andil dalam pergerakan literasi dan perjuangan ideologis yang sangat diperhitungkan di masa awal berdirinya organisasi ini.

Di masa jayanya, HPI tidak hanya aktif menelurkan karya lewat penerbitan buletin mingguan dan pengelolaan Taman Bacaan di Matraman, tetapi juga responsif terhadap isu politik dan kemanusiaan. Mereka terlibat dalam penyusunan konsep negara Islam di Konstituante, menyebarkan angket nasional, hingga menyuarakan aksi solidaritas terbuka saat jurnalis Mochtar Lubis ditahan.

Sayangnya, akibat badai pergolakan daerah di sekitar tahun 1960, rencana kongres pertama mereka berantakan dan roda organisasi perlahan mulai lumpuh total akibat situasi politik yang tidak stabil.

Pasca-konflik mereda, upaya untuk membangkitkan kembali kejayaan HPI sempat diusahakan melalui pertemuan para pengarang di Jakarta. Namun, organisasi ini justru terjebak dalam krisis kepemimpinan yang pelik setelah sang ketua, Nasaruddin Latif, menyatakan tidak sanggup lagi memimpin dan tidak ada kader lain yang siap menggantikannya.

Hingga tulisan tersebut dimuat, HPI masih terombang-ambing tanpa kepengurusan yang jelas, menyisakan pertanyaan besar tentang masa depan gerakan literasi Islam di tanah air.





Silakan Majalah Suara Mihammadiyah Harga 5 ribuanBoleh beli satuan atau borongan
04/07/2026

Silakan
Majalah Suara Mihammadiyah
Harga 5 ribuan
Boleh beli satuan atau borongan




MAJALAH PANJI MASYARAKAT NO. 779 (1994)Majalah Panji Masyarakat No. 779 (Januari 1994) ini dibuka oleh catatan "Sekapur ...
02/07/2026

MAJALAH PANJI MASYARAKAT NO. 779 (1994)

Majalah Panji Masyarakat No. 779 (Januari 1994) ini dibuka oleh catatan "Sekapur Sirih Redaksi" yang meramal tahun 1994 akan dipenuhi riak politik, tuntutan demokratisasi, serta kritik terhadap konglomerat yang dimanjakan kredit bank. Berdasarkan lembar "Daftar Isi", majalah yang didirikan Buya Hamka ini menyajikan laporan utama global yang tak kalah menarik: fenomena gelombang mualaf dan "Demam Islam di Inggris", kontroversi novel Satanic Verses karya Salman Rushdie, hingga perpecahan gereja Anglikan-Katolik yang sedang hangat di Eropa.

Di ranah domestik, rubrik "Siapa Mengapa" merekam spekulasi politik panas di mana nama dai sejuta umat, KH. Zainuddin MZ, digadang-gadang menjadi Bakal Calon Ketua Umum PPP untuk menandingi dominasi H. Ismail Hasan Metareum. Di samping itu, ada ulasan khusus mengenai interaksi pemikiran antara Cak Nun dan S. Farid Ruskanda yang dilengkapi karikatur sindiran sosial mengenai mampetnya keran gaji PNS & ABRI, serta analisis tajam cendekiawan Deliar Noer yang memotret kilas balik umat Islam sepanjang 1993, termasuk aksi mogok mahasiswa menolak SDSB.

Edisi ini kian berbobot dengan muatan lokal dan syiar yang berani. Melalui wawancara khusus, KH. Ahmad Sahal Ali melontarkan kritik tajam mengenai adanya hadis-hadis palsu yang mewarnai beberapa kitab kuning populer di pesantren. Sementara dari panggung seni dan budaya, sastrawan legendaris A.A. Navis mengupas tuntas "Alam Pikiran Minangkabau dalam Sastra", membedah bagaimana konflik dialektik, sistem komunal, hingga budaya kritik cemeeh membentuk warna lokal yang kuat dalam karya sastra Minang. Sebuah dokumentasi sejarah pemikiran Islam yang sangat kaya!





PANJI MASYARAKAT NO. 701 (1991)Majalah Panji Masyarakat No. 701, terbitan 11-20 November 1991, mengulas dinamika perkemb...
01/07/2026

PANJI MASYARAKAT NO. 701 (1991)

Majalah Panji Masyarakat No. 701, terbitan 11-20 November 1991, mengulas dinamika perkembangan Islam di Prancis yang menghadapi tantangan sosial cukup berat. Meskipun tumbuh menjadi agama terbesar kedua dengan jumlah pemeluk mencapai 4 hingga 4,5 juta jiwa yang mayoritasnya adalah imigran asal Afrika Utara, komunitas muslim di sana dinilai masih tertinggal dibandingkan pemeluk Yahudi dan Protestan. Selain kendala integrasi, umat Islam setempat juga kesulitan mendirikan tempat ibadah ideal akibat perizinan yang rumit serta aturan arsitektur kota yang ketat melarang penggunaan kubah dan menara, sehingga sebagian besar masjid terpaksa memanfaatkan bangunan bekas pabrik, restoran, hingga rumah biasa.

Di dalam negeri, edisi ini menyoroti gagasan progresif Menteri Agama RI, Prof. Munawir Sadzali, M.A., yang sejak tahun 1983 secara berangsur-angsur mengirimkan mahasiswa dan dosen IAIN untuk belajar Islam ke universitas-universitas Barat. Langkah berani ini diambil karena dunia Barat dinilai memiliki keunggulan dalam tradisi pemikiran yang kritis, berani, dan berwawasan luas, yang sangat dibutuhkan oleh intelektual muslim untuk melepaskan diri dari klise-klise usang. Upaya modernisasi pemikiran ini berjalan beriringan dengan penguatan eksistensi hukum Islam di tanah air serta pengenalan metode praktis pengajaran Al-Qur'an seperti metode Iqra yang mulai digagas oleh para mahasiswa KKN untuk merespons kebutuhan zaman.

Selain itu, juga dimuat analisis sejarah mengenai kecurigaan berlebihan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 terhadap jaringan tarekat baru seperti Rasyidiah, Sanusiah, dan Alawiah di Indonesia. Melalui laporan tahunan konsul Belanda di Jeddah, aktivitas mistik para jemaah haji yang pulang dari Mekah dan Medinah ini diawasi dengan sangat ketat karena dicurigai membawa propaganda politik Pan-Islamisme. Padahal, analisis tersebut menegaskan bahwa gerakan tarekat ini murni berfokus pada pengajaran spiritual dan amalan zikir harian yang ortodoks, tanpa adanya tendensi politik praktis yang membahayakan kekuasaan kolonial.

15 K





MAJALAH HARMONIS NO. 300 (1984)Menyambut HUT ke-39 RI pada 17 Agustus 1984, majalah Harmonis No. 300 merilis edisi spesi...
01/07/2026

MAJALAH HARMONIS NO. 300 (1984)

Menyambut HUT ke-39 RI pada 17 Agustus 1984, majalah Harmonis No. 300 merilis edisi spesial penuh refleksi. Melalui "Catatan Redaksi", majalah ini mengenang momen sakral proklamasi 1945 yang jatuh di hari Jumat, sama persis dengan hari kemerdekaan di tahun 1984 tersebut. Diulas juga bagaimana Indonesia bertumbuh melewati badai sejarah hingga memasuki era pembangunan Orde Baru.

Edisi ini juga dipenuhi pemikiran berbobot dari para tokoh bangsa. Abbas Hassan (yang menjadi cover model edisi ini) mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah rahmat Tuhan yang wajib disyukuri. Sementara itu, tokoh bangsa Mohammad Natsir menyumbang tulisan tajam tentang "Islam dan Kemerdekaan Berpikir", menekankan pentingnya menjaga kebebasan akal agar tetap sejalan dengan disiplin agama.

Tak ketinggalan, ada ruang nostalgia dan inspirasi di halaman dalam. Rubrik khusus disiapkan untuk mengenang wafatnya Tamar Djaja, jurnalis dan sastrawan muslim yang sangat produktif. Selain itu, ada profil Drs. Haji Ali Mochtar Hoetasoehoet, rektor kampus publisistik yang dikenal super bersahaja dan mempraktikkan hidup sederhana sejati di kehidupan sehari-hari. Dan pembahasan menarik lainnya dari Joesoef Sou'yb, Ruslan Abdulgani dll.





Address

Wringinanom
61176

Telephone

+6283879583265

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kafillah Books Store posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category