21/07/2026
PATAH TUMBUH, HILANG BERGANTI
Ungkapan legendaris "Patah Tumbuh, Hilang Berganti" lahir dari keprihatinan mendalam Mohammad Natsir atas wafatnya para alim-ulama dan tokoh pejuang bangsa.
Tulisan opini ini pertama kali dipublikasikan dalam artikel berjudul "MEREKA PERGI SATU PERSATU..." di surat kabar harian ABADI pada 28 Februari 1969. Melalui artikel tersebut, Natsir mencemaskan kekosongan regenerasi rohani dan kepemimpinan umat seiring berpulangnya para perintis satu demi satu.
Gagasan ini kemudian digaungkan kembali secara langsung saat Natsir menyampaikan pidato amanat di Perguruan Diniyyah Puteri, Padang Panjang pada 8 Maret 1969. Di hadapan para pengurus, guru, dan santri pasca-wafatnya pendiri perguruan, Ibu Rahmah El-Junusijah, Natsir menegaskan bahwa perintis boleh tiada, namun warisan akhlaqul karimah dan cita-cita perjuangan tidak boleh padam ataupun terbengkalai.
Dua materi bersejarah —tulisan dari harian ABADI dan pidato di Padang Panjang— kemudian dihimpun serta diterbitkan secara resmi dalam bentuk risalah oleh Dewan Da'wah Islamijah Indonesia (DDII).
Pesan utamanya menjadi panggilan jiwa bagi generasi muda Islam untuk berani tampil meneruskan estafet perjuangan—sebab sesuai Sunnatullah, dahan yang lapuk pasti akan digantikan oleh tunas-tunas muda yang tangguh.