19/03/2018
MENTAL MISKIN AKUT
Tenang, bukan Anda. Hehe
Saya hanya ingin flashback kehidupan Saya di masa lalu, saat bangkrut.
Jadi saat itu, uang di tabungan terkuras habis untuk bayarin kerugian para investor yang nagih secara brutal.
"Pokoknya balikin duit gw sekarang!"
"Gw gak mau tahu, transfer ke no rek ini!"
"Kalo lo gak transfer sekarang, gw kejar lo sampai kapanpun"
Aih. Sadis!
Terlihat seakan drama, tapi memang begitulah adanya.
Mereka yang udah baca novel bidadariuntukdewa.com akan tahu betul betapa mengerikannya ancaman mereka.
Ah, sudahlah, jangan dibayangkan. Beraaaaaaaattt!!
Salah satu hal yang saya lakukan saat itu adalah berusaha untuk tetap tenang. Walaupun aslinya gak bisa tenang. Heu
Tapi bacaan buku di masa lalu tentang pengembangan diri dan motivasi seolah menguatkan saya untuk tetap tegar menghadapi ujian yang datang.
"Sabar. Ini ujian..."
"Tenang. Kamu pasti bisa lewati ujian ini!"
"Santai. Semuanya pasti selesai..."
Indah banget kata-katanya... Beeeuh! Setidaknya cukup untuk menguatkan diri.
Dan salah satu yang membuat Saya bisa tegar dan sabar adalah ketika Saya menuliskan kata-kata so bijak di buku saya sendiri, bunyinya kurang lebih begini:
"Kaya itu mentalitas. Tidak punya uang hanya kondisi sementara". ✍
Yassalaaaam! Kata-kata penguat batin itu terus terngiang-ngiang di dalam kepala. Padahal buatan sendiri. Hahaha
Ya, kaya itu mentalitas. Itulah keyakinan yang Saya miliki sampai detik ini.
Kenapa ada orang yang bangkrut gila-gilaan dengan mudahnya mereka bangkit dan langsung melesat gak karuan?
Ya, mentalnya kaya.
Kenapa ada orang yang bisnisnya gagal terus-terusan tapi mampu bertahan dan akhirnya menemukan puncak suksesnya?
Ya, mentalnya sukses.
Kenapa ada orang yang rugi melulu dan hidupnya diuji melulu tapi tetap bersyukur akan keadaan yang dialaminya?
Ya, mentalnya luar biasa.
Lha kita....
Anda.
Baru bangkrut kecil, pundung...
Baru gagal sekali, mewek...
Baru rugi dikit, ciut...
Aih, pret!!!
Mental kaya gitu ngarep sukses? Ngimpi!
Buang tuh jauh-jauh..
Termasuk, mental miskin akut ini.
Apa aja tuh?
Pertama, MINTA-MINTA.
"Bang, bagi duit d**g bang..."
"Pak, sedekahnya d**g pak..."
"Mas, minta diskon d**g mas..."
Lama-lama bisa kaya, "Mama minta pulsa...".
Ah. Ampun dah!
Hobinya cuma minta-minta. Seakan menunjukkan bahwa dirinya gak bisa ngelakuin apa-apa. Padahal Allah udah menciptakan kita sempurna. Hufh!
Lagian, kalau mau minta-minta, mintanya ke Allah aja, jangan ke manusia. Jangan tunjukkan kemiskinanmu di hadapan orang! Harga diri jaga kenapa....
Dulu pas saya gak punya duit, mental tetap disetting kaya. Caranya?
Setiap kali ketemu orang, tetap menjaga postur dan menawarkan bantuan, "Pak, apa yang bisa saya bantu?". Logikanya, siapa sih yang gak mau dibantu? Bener gak? Itu dia.
Termasuk, kalau sekiranya ada hal beririsan, saya langsung menawarkan, "Pak, apa yang sekiranya bisa kita sinergikan?".
Itu settingan mental kaya. Daripada cuma minta-minta, "Pak, tolongin saya d**g pak, lagi bangkrut nih pak. Atuhlah pak...".
DL! Derita lo...
Kedua, NUNGGU ILMU.
"Kang, di Surabaya kapan?"
"Kang, di Makassar kapan?"
"Kang, di Medan kapan?"
Halah! Giliran gw ngadain seminar disana, lo kagak datang. Ngomong doang lu...
Begitulah mental si miskin akut. Mereka nunggu ilmu datang, bukan menjemput. Padahal siapa juga yang butuh... Parah...
Saya pribadi berusaha untuk terus menjemput ilmu. Dimana ada ilmu, disitu ada aku. Ciaelah...
Tapi serius. Saya predator ilmu. Haus dan lapar akan ilmu-ilmu baru. Bahkan ketika status ini ditulis, saya sedang berada di Bali untuk mengikuti mastermind yang harganya terbilang gak murah. Kok ikut? Karena ilmu harus saya jemput. Prinsip!
Ketiga, PELIT BANGET.
Udah bisnisnya pailit, pelit p**a. Hmh, dasar, Miskin kuadrat! Helooooww...
Kalau miskin secara harta, please jangan miskin secara waktu, ilmu, dan tenaga. Anda kan masih bisa berbagi banyak dengan orang-orang sekitar.... Jangan membatasi diri bahwa berbagi itu harus harta. No! Bagikan apa yang bisa kamu bagikan. Jangan pelit...
Lucunya, kemarin ada yang komen gini di komentar status saya, "Kalau niat berbagi ilmu gak harus nunggu komen 1000 kang...". Saya sih jawabnya simpel, "Yowis, saya gak niat". Hayo....
Orang-orang miskin ini selalu minta lebih, tapi gak mau bayar lebih....
Bahkan hanya sekadar komen dan share, pelitnya minta ampun.
Salah satu mental miskin lainnya adalah...
Pas kemarin Saya post status di FB tentang workshop extremefunneling.com, "Kang, kok Workshopnya mahal?".
Jawaban halus saya dalam hati, "Yaudah, daripada bilang Mahal, mendingan berdoa aja sama Allah supaya dimampukan bayar. Mahal itu kan karena uang di kantong lebih sedikit dibanding investasi atau harga yang ditawarkan. Iya, kan? Jadi, berdoa aja ya, semoga dimampukan. Aaamiin...."
Nyessss! Adem bener...
Tapi kadang saya kesel juga ngadepin orang gitu. Pengen banget bilang gini ke mereka, "Kalau pengen murah, baca buku saja. Kalau pengen gratis, baca status aja. Kalau masih banyak alesan, mending mati aja!"
Ingat, harta boleh miskin, mental harus kaya...