20/01/2020
Menyapih dengan Cinta
Saya dapat cerita ini dari Andien Aisyah.
Kawa Akhirnya Disapih!
Halo, Tsania
Apa rasanya menyapih seorang anak yang selama 2 tahun lebih selalu terhubung dengan tubuh kita?
Sebelum Kawa memasuki 2 tahun, aku banyak baca dan bertanya tentang kisah penyapihan ke teman-teman. Seperti apa, yaaa, nanti saat beneran Kawa disapih? Deg-degan sendiri mikirinnya. Aku s**a banget sama proses menyusui ini, apakah aku siap menyudahinya? Apa Kawa bisa?
Informasi yang kudengar pun berbeda-beda. Ada yang berhasil melalui dengan mudah, nggak sedikit juga yang melalui dengan “drama”. Teman-temanku yang berhasil menyapih bilang kalau anak akan mudah disapih jika kita rajin memberi tahunya perihal penyapihan ini. Diberi tahu setiap hari, diulang-ulang, disayang-sayang, diafirmasi.
Tapi oh tetapi, yang terjadi sama Kawa adalah kebalikannya. Dia malahan semakin geragas setiap kali aku sounding soal penyapihan.
“Kawa, kalau sudah 2 tahun, Kawa sudah mesti berhenti nyusu lagi, ya …,” kataku hampir setiap malam. Yang ada, Kawa makin gemar menyusu, seperti dia mengerti kalau akan ada sebuah perpisahan. Jadi, saat usia Kawa tepat 2 tahun dan hasil sounding belum kelihatan, aku pasrah saja.
Kawa masih asyik menyusu kapan saja dia mau. Satu tahun 1 bulan, lewat. Satu tahun 2 bulan, lewat. Ah, bulan-bulan terakhir menyusui ini terasa semakin syahdu. Aku sama sekali tidak melakukan aksi apa-apa untuk menyudahi proses menyusui selain tetap sounding. Sounding yang wajib dilakukan adalah sesaat sebelum Kawa tidur. Saat matanya kriyep-kriyep menuju tidur, di situlah aku bisikkan afirmasi. Konon, anak masuk ke state of unconscious saat-saat menuju tidur.
“Kawa, sekarang ini air susunya Ibu udah nggak lagi bisa mencukupi kebutuhan Kawa. Jadi, sebenernya kita berdua mesti menyudahi proses menyusui ini. Nanti, kalau udah 2 tahun 6 bulan, kita sama-sama udahan, ya .… Ibu yakin Kawa bisa membuat diri Kawa sendiri nyaman, Kawa juga mesti percaya sama diri Kawa sendiri,” kata-kata ini kubisikkan hampir setiap malam.
Tapi sebenarnya, di dalam hati, somehow aku tahu kalau ini akan berakhir saat Kawa berusia 2 tahun 6 bulan. Aku jadi punya target sendiri, sekaligus berencana, kalau 2 tahun 6 bulan Kawa belum mau berhenti menyusu, aku akan pergi jauh selama seminggu, supaya Kawa terbiasa dengan ketidakhadiranku.
Dan, rencana itu tidak pernah terjadi. Segala usaha sounding dan afirmasi yang aku lakukan seperti terbayar tunai dalam sehari.
Saat itu, kami sekeluarga lagi liburan di Bali. Entah kenapa, saat itu aku merasa Kawa seperti kelihatan semakin besar badannya. Sudah besar, tapi masih menyusu 😅 Siangnya, Kawa masih menyusu dengan geragas sampai ketiduran. Sore harinya, saat di mobil mau jalan-jalan keluar hotel, Kawa bilang kalau dia mau menyusu.
“Ibu, mau susu .…”
Dia memang punya kebiasaan menyusu kalau mobil sedang berjalan. Aku gendong Kawa dan aku hadapkan wajahnya ke wajahku.
“Kaw, Ibu boleh lihat nggak giginya Kawa ada berapa?” tanyaku. Kawa meringis menunjukkan deretan gigi depannya.
“Wah, banyak banget giginya! Kawa kepikiran nggak, sih, kalau gigi kawa sebanyak ini, terus Kawa nyusu, kepikiran nggak, kalau nipples-nya Ibu bisa sakit?”
Kawa langsung mingkem dan terlihat seperti merenung. Dia bangun dari pangkuanku dan nggak jadi menyusu. Eh ternyata, semenjak saat itu dia nggak minta nyusu lagi selama-selamanya.
That’s it. Perjalanan menyusuiku berakhir di situ. Segala lecet-lecet, engorgement, pacaran, tatap-tatapan, skin to skin seintens itu … aku tidak akan mengalaminya lagi, selesai bersamaan dengan mobil kami yang sampai ke tempat tujuan. Aku heran sekaligus takjub sendiri. Ini beneran udah nggak menyusui lagi?
Kawa memang sudah nggak minta nyusu lagi. Tapi, sepertinya dia masih berusaha untuk membuat dirinya nyaman. Dia banyak kusrak-kusruk ndusel-ndusel, minta dinyanyiin, diceritain, didongengin .… Jatah baca dongeng pun jadi lebih banyak.
Yang paling nyata dari proses ini adalah peran bapak ternyata sangat berpengaruh. Untuk beberapa minggu pertama setelah nggak menyusu lagi, Kawa lebih milih didongenin sama Mas Ippe daripada aku.
Banyak orang yang bilang beberapa hal yang aku lakukan (termasuk proses penyapihan ini) kayaknya gampang atau enak.
Memang menjalaninya mengalir begitu saja, tapi ada hal-hal yang diusahakan dalam prosesnya. Aku percaya bahwa proses penyapihan ini berhubungan sama proses-proses yang sudah aku lakukan sebelumnya.
Aku percaya anak memang mengerti dengan apa yang kita ucapkan. Aku pernah ada pada kondisi ketika aku juga ragu, anak ini sebenarnya ngerti nggak, ya, sama yang aku omongin?
Ternyata benar, dia mengerti.
Menurutku, penyapihan ini juga usaha Kawa buat percaya sama dirinya sendiri. Kalau kita melihatnya dari sudut pandang anak, mungkin dia perlu waktu yang relatif untuk bisa bener-bener menyadari bahwa menyusui ini sudah bukan buat dirinya lagi.
Satu hal lagi, proses penyapihan Kawa ini sepertinya ada hubungannya dengan attachment issue yang aku punya. Menarik banget, karena saat proses sounding itu sebenarnya aku sendiri lagi struggling dengan attachment issue. Ketika aku sedang healing dan berusaha bertransformasi lepas dari attachment issue, sepertinya transformasi itu ditandai dengan Kawa yang berhasil lepas dari aku, dan aku yang berhasil lepas sama Kawa. Aku melepaskan dua hal nyaris berbarengan, dan ternyata aku siap. Aku tadinya kepikiran kalau aku bakalan mellow dan sedih melepas Kawa, tapi when we’re ready, we’re ready.
Nah, Mom, apa cerita menyapihmu?