14/06/2022
12 April 2022
(Ramadhan hari ke-11)
Ada cerita pagi ini di Masjid As-Sa'adah Cebongan
Bukan karena suara imam yg merdu, atau karena kebetulan penceramahnya Bp Sri Purnomo, Mantan Bupati Sleman. Atau karena saya satu shaf dengan Ibu Bupati yang menjabat saat ini.
Tapi pagi ini, entah sebanyak apa malaikat yang ikut hadir disana.
Sholat subuhnya terasa berbeda.
Saya sholat Tahiyatul Masjid, lalu sholat Qabliyah subuh tanpa perasaan apa atau bagaimana. Sholat saja seperti biasanya.
Bahkan pada saat Iqamah, lalu imam meminta jamaah merapatkan barisan. Perasaan saya masih sangat baik.
Tibalah saatnya Imam mengucapkan Takbiratul Ihram.
Tiba2 udara jadi saaaangat sejuk, dan hati rasanya menjadi seeeetenang itu. Benar2 tenang, dingin.. Tidak ada suara lain selain suara Imam.
Seketika mata saya langsung basah, air mata banjir hingga ke mukena. Padahal bacaan Imam masih sampai "iyyakana'buduwaiyyakanasta'in".
Bahkan sekian detik dalam sholat saya bisa bertanya tanya, "Ya Allah ini apaaa.. Sholat subuh ini kenapa rasanya nikmat sekali.."
Hingga rakaat kedua, air mata teruuuss mengalir, perlahan tapi tidak bisa berhenti.
Saya bahkan tidak tau apa yang saya tangisi, benar-benar karena hanya ingin menangis saja.
Selesai rakaat kedua, Imam mengucap salam.
Saya mengikuti, lalu tertunduk karena malu mukena saya basah.
Temen-temen tahu yang terjadi? Jamaah lain disamping saya ternyata juga menangis.. Ibu paruh baya yang mungkin sudah seumuran ibu saya. Isaknya pelan, tapi saya bisa dengar.. Kebetulan disamping kiri saya sudah tidak ada jamaah lagi, dan disamping kanan ibu itu tiang masjid yang lumayan besar, sehingga mau tidak mau jarak kami agak terpisah dengan jamaah lainnya.
Lalu kami saling melempar senyum, dengan mata yang sama2 basah. Canggung karena tidak kenal, hingga yang keluar dari mulut saya hanya pertanyaan basa basi. "Ga tau kenapa, tapi tiba-tiba rasanya pengen nangis ya bu yaa?"
Ibu itu mengangguk dengan pasti, lalu tersenyum seraya memegang tangan saya. Ngomong2 tangan ibu itu diiingin sekali, bahkan tangan saya yang terlapisi mukena masih bisa merasakan dinginnya.
Selanjutnya tidak ada lagi perbincangan, kami berdoa sambil meneruskan tangis masing-masing.
Oh yaa, saya bahkan tadi sampai tidak sempat meminta apapun pada saat berdoa.
Kata-kata yang terucap setelah sholat, hanya rasa syukur. Terimakasih ya Allah karena ini, Terimakasih ya Allah karena itu. Terimakasih ya Allah karena baaaanyak sekali hal yang Engkau ijinkan saya menerimanya. Hanya ungkapan terimakasih yang bisa terucap.
Hingga ceramah selesai, saya masih sesekali mengelap air mata. Ibu itu juga.
Lalu saya pulang, dan menulis ini untuk dikenang dan semoga bisa dirasakan lagi suatu saat nanti ☺️
Indri
12 April 2022