07/08/2026
Ada perbedaan menarik yang sering luput bahwa memaafkan bukan berarti melupakan kejadian, dan bukan p**a berarti membiarkan hal yang sama terus terulang.
Memaafkan lebih kepada melepaskan hak untuk membalas, sementara batasan dan pelajaran dari kejadian tersebut tetap boleh dijaga.
Dalam Al-Qur'an, sifat ini disebut sebagai bagian dari ciri orang-orang yang dicintai Allah:
وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
(QS. Ali Imran: 134)
Bahkan disebutkan p**a:
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
"Tapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya perbuatan yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan."
(QS. Asy-Syura: 43)
Ketenangan yang muncul dari sikap memaafkan bukan datang secara instan, melainkan hasil dari proses melatih hati untuk tidak terus-menerus terikat pada luka yang sama.
Sudah baca eBook Seni Memaafkan?