Medina Book Store

Medina Book Store Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Medina Book Store, Comic Bookstore, Jalan Godean Km 10 Ds. Karang beran RT 01/RW 02, Margodadi, Seyegan, Sleman, Yogyakarta City.

Alhamdulillah, sudah dibuka Pre Order untuk buku Dwilogi Ki Hadjar Dewantara. Buku ini terdiri dari dua buku yang cerita...
21/09/2022

Alhamdulillah, sudah dibuka Pre Order untuk buku Dwilogi Ki Hadjar Dewantara. Buku ini terdiri dari dua buku yang ceritanya sangat berkait. Jadi, untuk mendapatkan kisah hayat, pemikiran dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, sangat disarankan untuk membaca kedua buku iini. Buku pertama, "Ki Hadjar Dewantara: Guru Berjiwa Merdeka" dan "Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidik Kebanggaan Republik"
-
Pre Order berlaku sejak 20 Sep-10 Okt 2022. Harga Normal, Rp. 275.000,-. HARGA PRE ORDER RP. 220.000,00. Untuk pemesanan silakan menghubungi WA 0858 6924 6488

21/01/2017

Open Pre Order!
JALAN CINTA BUYA (Buku Kedua dari Dwilogi Hamka)
----------------------------------------------------

Di masa Demokrasi Terpimpin, Buya Hamka adalah sosok yang kadang berbeda pendapat dengan Presiden Sukarno, juga berseberangan dengan Kaum Komunis. Melalui Majalah Lentera, karya-karyanya diserang habis. Berbulan-bulan lamanya ia hadapi hantaman orang-orang yang tak sepaham dengannya. Dua tahun empat bulan lamanya, Buya Hamka hidup dalam penjara rezim Sukarno. Meski begitu, ia tak marah. Buya tidak hanya dekat dengan mereka yang sepaham-sepemikiran, tapi juga tidak menghindari orang yang tidak ia sukai. Ia berprinsip bahwa dengan mengenal sesama yang berbeda, akan menemukan sudut pandang baru. Meski ilmunya sangat tinggi, ia tak pernah merasa besar diri. Sikap hidupnya yang lurus terbukti saat ia menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia jalankan amanah itu dengan penuh tanggung jawab. Meski mendapat banyak tekanan, ia tetap teguh bersikap dan memegang prinsip. Baginya, kehebatan ulama diukur sejauh mana ia mampu melembutkan kerasnya hati para pembenci, dan sejauh mana kemampuannya menenangkan jiwa-jiwa yang gundahgulana.

Buya Hamka adalah sosok ulama paripurna, moderat, teduh yang tidak mudah membuat gaduh, apalagi memancing di air keruh. Tuturan dan pesan dakwahnya selalu menyejukkan bukan memojokkan, mengundang simpati, jauh dari kata umpat dan hujat. Figur ulama pembina bukan penghina, pendidik bukan pembidik, pengukuh bukan peruntuh. Ketika mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat dan memihak umat Islam, Buya lebih memilih jalur pena dalam rangka menyampaikan aspirasi dan pesannya daripada menggalang aksi massa. Pendiriannya teguh, prinsipnya kuat, namun lentur dan menaruh hormat kepada liyan yang berbeda. Sosok ulama besar yang bersahaja, tak terbeli, independen, dan tak gemar mengobral fatwa. Beragam laku luhur inilah yang membuat ulama berdarah Minangkabau ini disegani semua orang, semua golongan.

Jalan Cinta Buya adalah novel kedua dari dwilogi Hamka.

---------------------------------

“Saya sangat berharap, kehadiran buku ini dapat menjadi sarana bagi generasi bangsa ini untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Buya Hamka. Sebab dari Buya Hamka kita dapat belajar banyak, tentang bagaimana caranya menjadi muslim seutuhnya.”

—Ahmad Syafii Maarif, tokoh nasional

“Membaca buku ini, kita akan mendapati sajian yang runut tentang kisah hidup dan perjuangan seorang Hamka yang mendekati kenyataan.”

—Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.AP., Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

“Semoga kehadiran buku Jalan Cinta Buya ini menjadi langkah tepat untuk mengenalkan pemikiran dan perjuangan Buya Hamka pada generasi muda bangsa Indonesia saat ini. Sehingga perikehidupan dan semangat juang Buya Hamka akan menjadi teladan dan memotivasi mereka untuk terus berbuat dan ikut andil dalam membangun bangsa ini.”

—Yousran Rusydi, S.H., M.Si., cucu Buya Hamka dan penerus Panji Masyarakat

TERBIT 1 FEBRUARI 2017!
------------------------------------
Penulis: Haidar Musyafa
ISBN: 978-602-7926-32-5
Format: 15, 5 X 23,5 cm
Jumlah halaman: 548 hlm
Kode buku: XJ-06
Kategori: Novel Biografi
Harga Toko: Rp 100.000,-
Harga Pre-Order: 85.000,-
------------------------------------
Novel JALAN CINTA BUYA ini baru tersedia di toko buku pada Pertengahan Februari 2017. Dapatkan harga pre order novel ini dengan tanda tangan saya (penulis) hanya dengan Rp 85 ribu. Harga belum termasuk ongkos kirim. Batas Pre-Order sampai 31 Januaria 2017

CARA PEMESANAN:
1. Tulis nama dan alamat ke inbox FB saya.
2. SMS/WA nama dan alamat ke: 085726537750.
3. Tulis nama dan alamat ke BBM: 5D61E58F.
4. Buku dikirim serentak (insya Allah) 10 Februari 2017

Salam takzim

19/01/2017

Pak Dirman
---------------

Ia terlahir dengan nama Sudirman pada 24 Januari 1916 di Kampung Bodas, Dukuh Rembang, Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah seoran pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas. Ibunya, Siyem, adalah perempuan terhormat berdarah ningrat, anak-turun Wedana Rembang. Saat berusia enam tahun, Ayah Sudirman meninggal dunia. Merasa tidak tega melihat Siyem membesarkan anaknya seorang diri, maka Sudirman dirawat oleh pamannya, Raden Tjokrosoenaryo dan istrinya yang bernama Turidowati. Dalam asuhan Paman dan Bibinya, Sudirman dididik dengan baik dengan pelajaran etika dan tata-krama, juga dibiasakan untuk hidup sederhana. Selain itu, Sudirman juga dididik dengan pelajaran agama secara ketat di bawah biombingan Kyai Haji Qahar.

Saat berusia tujuh tahun, Pamannya memasukkan Sudirman belajar di Hollandsch Inlandsche School, tapi dua tahun kemudian Sudirman pindah ke Sekolah Tamansiswa, yaitu sekolah nasionalis yang didirikan oleh Ki hadjar Dewantara pada 3 Juli 1922 Masehi. Tamat dari Tamansiswa, Sudirman melanjutkan pendidikannya di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Wirotomo. Lulus dari Wirotomo, Sudirman melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru milik Persyarikatan Muhammadiyah di Solo—meski tidak sampai tamat.

Setelah Pamannya pensiun sebagai camat, Sudirman dan keluarganya hijrah ke Manggisan, Cilacap. Ia membantu proses pendirian Hizbul Wath—sebuah organisasi Kepanduan Putra yang didirikan oleh Persyarikatan Muhammadiyah—di Cilacap. Sudirman yang terkenal sangat disiplin dan giat mengikuti berbagai macam kegiatan yang diselenggarakan oleh Hizbul Wathan dan Muhammadiyah akhirnya diangkat menjadi guru oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah untuk mengajar di HIS Muhammadiyah, Cilacap. Sudirman merupakan guru yang adil dan sabar dalam mendidik muridnya. Ia juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang moderat dan demokratis.

Pada 1936 Sudirman menikah dengan Alfiah, anak Raden Sastroatmojo yang merupakan seorang pengusaha batik cukup terpandang di daerahnya. Dari buah pernikahannya dengan Alfiah, Sudirman dikaruniai tujuh orang anak; Ahmad Tidawono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Taufik Effendi, Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan T**i Wahjudi Satyaningrum. Pada 1937, Sudirman diangkat menjadi Ketua Kelompok Pemuda Muhammadiyah, sedangkan istrinya aktif di Nasyiatul Aisyiyah.

Pada 1942 Jepang mulai menduduki Indonesia. Seperti halnya pemuda-pemuda Indonesia yang lain, Sudirman pun ikut masuk di barisan Pembela Tanah Air (Peta) pada 1944 Masehi. Pembela Tanah Air (Peta) adalah kesatuan Militer Dai Nippon yang dibentuk pada 3 Oktober 1943 Masehi. Tamat mengikuti pendidikan Militer di Bogor, Sudirman langsung diangkat menjadi Komandan Batalyon yang bertugas di daerah Kroya, Jawa Tengah. Saat itu, pria yang dikenal memiliki sikap tegas itu sering memprotes tindakan Pimpinan Pasukan Dai Nippon yang bertindak kasar dan berbuat sewenang-wenang terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, Sudirman hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Pada 1945, pendukan Jepang di Indonesia berada diambang kehancuran setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki di Bombardir oleh Pasukan Sekutu. B**g Karno dan B**g Hatta, atas desakan kaum muda Indonesia, mengambil momentum itu untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 Masehi. Peristiwa itu membuat kedudukan Jepang di Indonesia semakin lemah. Situasi yang sedang kacau itu dimanfaatkan dengan baik oleh Sudirman untuk membawa pasukannya lari dari Pusat Pertahanan PETA di Bogor, Jawa Barat—setelah Pemerintah Dai Nippon membubarkan PETA pada 18 Agustus 1945 Masehi.

Setelah bertemu dengan B**g Karno di Jakarta, proklamator Flamboyan itu meminta agar Sudirman mempimpin pasukannya melakukan perlawanan terhadap sisa-sisa Pasukan dai Nippon yang masih bertahan di Ibukota. Permintaan B**g Karno itu ditolak dengan halus, dengan alasan ia dan pasukannya tidak terbiasa melakukan kontak fisik dengan musuh di pusat kota. Sudirman memilih, tepatnya meminta izin pada B**g Karno, untuk bergabung kembali dengan pasukannya yang masih bertahan di Kroya. Permintaan Sudirman dikabulkan, sehingga pada 19 Agustus 1945 ia kembali ke Kroya. Sayang, keinginannya untuk bergabung dengan pasukannya tidak terkabul. Sebab, Jepang sudah membubarkan Batalyon PETA yang berkedudukan di Kroya. Akhir Agustus 1945, Sudirman dan teman-temannya sesama jebolan PETA berinisiatif untuk mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Banyumas, Jawa Tengah.

Pada 5 Oktober 1945 B**g Karno mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang terdiri dari, TKR Darat, TKR Laut, dan TKR Jawatan Penerbangan. TKR dibentuk untuk menjalankan beberapa tugas, yaitu untuk mempertahankan kemerdekaan dan menjaga rakyat Indonesia dari gangguan sisa-sisa Pasukan Dai Nippon yang masih bertahan di Jawa, dengan Urip Sumahardja ditetapkan sebagai Pemimpin TKR sementara. Ketika pasukan Sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata Militer Belanda ikut dibonceng. Ketika Inggris mulai mempersenjatai kembali tentara Belanda yang menjadi tawanan perang , Sudirman mengirim pasukannya untuk mengusir mereka di bawah pimpinan Letnan Kolonel Isdiman. Misi berhasil, dan pasukan penjajah mundur ke Ambarawa. Atas prestasinya itu, Sudirman diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Di usianya yang ke-29, Sudirman terpilih sebagai Panglima Besar TKR atau Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia melalui Konferensi TKR yang dilaksanakan pada 2 Nopember 1945 Masehi.

Akhir November 1945, Sudirman kembali memerintahkan Letnan Kolonel Isdiman untuk menyerang pasukan Sekutu di Ambarawa, karena daerah itu dianggap penting dan strategis jika dijadikan sebagai barak militer penjajah. Sayang, serangan Divisi V TKR ini berhasil dilumpuhkan oleh serangan udara dan tank-tank Sekutu, sehingga memaksa Divisi V mundur. Letnan Kolonel Isdiman sendiri gugur dalam pertempuran itu. Sudirman yang merasa geram dengan kekalahan pasukannya lalu memimpin Divisi dalam serangan lain dengan tujuan memporak-porandakan pasukan Sekutu. Pasukan Indonesia dipersenjatai dengan berbagai macam senjata. Mulai dari bambu runcing dan katana –senjata yang berhasil disita dari Pasukan dai Nippon. Saat itu, Sudirman memimpin pasukannya digaris depan sambil memegang sebuah katana. Pasukan Sekutu berhasil dipukul mundur dari Ambarawa. Pada 12 Desember, Sudirman menjatuhkan perintah pengepungan Ambarawa selama empat hari, yang menyebabkan pasukan Sekutu mundur ke Semarang.

Keberhasilan Sudirman dalam pertempuran Ambarwa membuatnya semakin mendapat perhatian serius dari B**g Karno. Selanjutnya pangkat Jenderal diberikan oleh B**g Karno pada 18 Desember 1945 Masehi. Posisinya sebagai kepala Divisi V digantikan oleh Kolonel Sutiro. Sudirman diangkat menjadi Jenderal tidak melalui pendidikan sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya yang gilang-gemilang untuk Indonesia.

Pada saat Belanda melakukan Agresi Militer II di Yogyakarta, Sudirman—yang saat itu sedang sakit juga berada di Nagari dalem Sultan Hamengkubuwana IX. Keadaannya sangat lemah dikarenakan penyakit paru-paru akut yang dideritanya. Meski begitu, semangat Sudirman untuk mempertahankan kemerdekaan tak surut. Saat Yogya berhasil diduduki Belanda, B**g Karno menyarankan agar Sudirman tetap berada di dalam kota guna menjalani perawatan. Sudirman menolak saran B**g Karno. Sebab, sebagai pemimpin tentara Indonesia, ia memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga keamanan negerinya dari ancaman musuh. Sehingga saat B**g Karno dan pemimpin Indonesia yang lain ditawan Belanda, Sudirman membawa pasukannya keluar dari Yogya untuk melakukan “Perang Gerilya” melawan penjajah Belanda.

Lebih kurang selama tujuh bulan, Sudirman dan pasukannya keluar-masuk hutan, naik-turun pengunungan untuk mempertahankan kedaulatan tanah air yang sangat dicintainya dari pinggiran. Meski dalam keadaan payah karena terbatasnya obat dan makanan, Sudirman berhasil menggelorakan semangat juang rakyat Indonesia dari atas tandu. Ia tak peduli dengan penyakit yang semakin lama semakin menggerogoti tubuhnya. Sebab ia sudah persembahkan seluruh hidupnya untuk menjaga kedaulatan republik yang sangat dicintainya. Gelora semangat juangnya, petunjuk dan instruksinya dijalankan dengan penuh takzim oleh seluruh anggota pasukannya. Meski suaranya parau, tenaganya semakin lemah, tapi jiwanya sekokoh karang. Berkat pemikiran-pemikirannya yang cerdas dan bernas, akhirnya kedaulatan Indonesia dapat dipertahankan, meski nyawanya sendiri harus menjadi tumbal.

Sudirman tersenyum bangga, ketika pmendengar kabar bahwa pasukan Belanda sudah hengkang dari ibukota pada Juni 1949. Senyum “Sang Patriot” itu kian mengembang, saat didengar kabar bahwa B**g Karno dan para pemimpin negara sudah p**ang ke ibukota pada Juli 1949. Ia tersenyum, bersyukur kepada Allah Ta’ala karena sudah menganugerahi rakyat Indonesia kemenangan yang gemilang. Perjuangannya tidak sia-sia. Pada 10 Juli 1949 masehi, Sudirman dan pasukannya kembali ke Yogya. B**g Karno membaur bersama ribuan rakyat, menyambut kep**angan “Sang Pahlawan”.

Di Yogya, Sudirman terus berjuang melawan penyakit TBC yang dideritanya dengan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Panti Rapih. Ia menginap di Panti Rapih tak kurang dari dua bulan, sebelum akhirnya pindah ke Rumah Sakit Panti Rini di daerah Pakem. Pada Desember 1949 Masehi, Sudirman pindah ke Magelang. Di saat yang bersamaan, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Mendengar kabar gembira itu, Sudirman merasa tugasnya sudah selesai. Ia tersenyum gembira, meski tubuhnya kian payah dan ringkih.

Di saat rakyat Indonesia sedang bersuka-cita menikmati kemenangan, Sudirman menghembuskan napas terakhirnya di Magelang pada 29 Januari 1950 Masehi. Keesokan harinya, jenazah Sudirman dibawa ke Yogya. Rinai gerimis mengguyur tanah Mangkubumi, begitu jasad “Sang Pahlawan” memasuki gerbang kota. Tangis rakyat Indonesia pecah, ketika jazad Sudirman disamadikan dengan tenang di Taman Makam Pahlawan, Semaki, Yogyakarta. Jasad Sudirman bersamadi dengan tenang dalam kuburnya, di sebelah makam Urip Sumahardjo sahabat seperjuangan yang sangat dicintainya. []

Haidar Musyafa

18/01/2017

Pak Haji yang Humoris
------------------------------

Haji Agus Salim dikenal sebagai seorang intelektual yang humoris. Saat duduk sebagai salah satu pimpinan Sarekat Islam, ia sering berseberangan pemikiran dengan anggota SI yang lain, khususnya anggota SI yang sudah teracuni dengan paham komunis. Ia kerap dicerca, diejek, dan dihina oleh anggota SI berhaluan kiri pimpinan Semaun dan Darsono. Dalam salah satu kongres yang diadakan SI, Muso pernah mengejek Tjokroaminoto seperti kucing, karena berkumis tapi tidak berjanggut. Muso juga mengejek Haji Agus Salim seperti kambing karena berjanggut dan berkumis. Muso berteriak lantang dihadapan peserta kongres, “Saudara-saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?”. “Kambing!” jawab hadirin. “Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa?” Hadirin menjawab, “Kucing!” mendapat cercaan dan ejekan seperti itu, baik Tjokroaminoto maupun Hji Agus Salim hanya diam sambil tersenyum geli. Begitu tiba giliran Haji Agus Salim naik ke atas mimbar, ia langsung berteriak lantang, “Saudara-saudara, pertanyaan yang tadi belum lengkap. Orang yang tidak berkumis dan tidak berjanggut itu seperti apa?” Haji Agus Salim menjawab sendiri, “Anjing!” yang langsung disambut sorak-sorai oleh hadirin.

Dilain kesempatan, Haji Agus Salim diberi kesempatan untuk berpidato dihadapan anggota Sarekat Islam. Setiap kali mengakhiri kalimat pidatonya, anggota SI Merah selalu menyahut “mbek, mbek, mbek”. Hal itu dilakukan untuk mengejek Haji Agus Salim yang memiliki janggut panjang seperti janggut kambing. Menyadari dirinya dijadikan sebagai haban ejekan, Haji Agus Salim tidak tinggal diam. Ia dengan entengnya berkata, “Tunggu sebentar. Sungguh menyenangkan, kambing-kambing pun ikut datang dan masuk di ruangan ini hanya untuk mendengar pidato saya. Sayang mereka kurang mengerti bahasa manusia, sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Saya sarankan kepada mereka agar keluar ruangan sekadar makan rumput di lapangan. Kalau pidato saya untuk manusia ini selesai, mereka akan disilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka.”

Haidar Musyafa

12/01/2017

Kamu punya ruang dalam hatimu untuk merasakan hati para mbambung (gelandangan), sehingga hatimu sedih, getir, terimpit seribu gunung, sementara orang-orang pandai sibuk dengan program-program dan omong besar di koran-koran. Tuhan tidak bertanya padamu apakah kamu mampu menolong mbambung atau tidak, tapi melihat apakah kamu mencintai orang lemah atau tidak.

Emha Ainun Najib

20/12/2016

Ilmu memiliki nilai keutamaan yang jauh lebih tinggi daripada harta. Sebab orang yang memiliki ilmu, maka ilmu itulah yang akan menjaga dan menuntunnya di jalan yang benar. Sehingga dia tidak akan pernah merasa khawatir menjalani kehidupannya. Sementra jika orang hanya memburu harta, maka harta tersebut justru akan membuatnya semakin gelisah. Jika ilmu sealalu menjaga pemiliknya, harta membutuhkan penjagaan dari pemiliknya. Oleh karenanya, orang yang lebih mengutamakan harta daripada ilmu akan menjalani hidupnya dengan kegelisahan dan kekhawatiran. Sebab hatinya selalu dihantui ketakutan jika harta yang dimilikinya itu hilang.

Haidar Musyafa

14/12/2016

Belajar Disiplin dari Rukun Islam yang Lima
-------------------------------------------------------------

Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang benar keimanannya kepada Allah Swt; yang dengan penuh kedisiplinan mengerjakan setiap perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hanya orang-orang yang taat dalam menjaga keimanan dan ibadahnya kepada Allah-lah yang berhak untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak, sebagaimana firman-Nya berikut ini:

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu berada di dalam kenikmatan yang besar. Mereka duduk-duduk diatas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh dengan kenikmatan. Mereka di beri minum dari khamr murni yang dilak, dan laknya adalah misk kasturi, dan untuk yang demikian itu hendaklah setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya”. (Q.s. al-Muthafifin [83]: 22-26)

Ayat di atas mengajak kita untuk berdisiplin, menjadi pribadi yang teratur dalam kebaikan. Bergerak dengan penuh motivasi, menyambut tawaran-tawaran langit untuk memenangkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Keimanan yang benar adalah keyakinan bahwa Dia-lah Allah yang Esa, Tidak ada Illah selain-Nya. Menjalankan semua perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beribadah kepada-Nya. Mengabdi dengan menjalankan rukun Islam yang lima.

Dengan rukun Islam yang lima itu, sebenarnya Allah ingin mendidik kita agar menjadi manusia yang disiplin. Menjadi manusia yang teratur secara ruhani.

Syahadat, mengajari kita makna konsistensi. Mengabdi penuh kepada Allah. Jujur pada diri sendiri bahwa Dia adalah sesembahan kita yang Esa. Juga mengakui dengan keikhlasan dan sepenuh keyakinan bahwa Muhammad Saw adalah rasul-Nya. Dua kalimat syahadat mengajari kita betapa pentingnya kedisiplinan. Disiplin dalam memenuhi perintah-Nya, teratur dalam menjaga diri dari segala hal yang dilarang oleh-Nya. Pun, mengajari kita untuk disiplin dan teratur dalam beritiba, mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah Saw dalam mengabdi kepada-Nya.

Shalat mengajari kita betapa pentingnya sebuah waktu. Juga tentang makna disiplin, keteraturan yang sejati. Sebelum shalat, terlebih dahulu kita di perintahkan untuk melakukan Thaharah atau bersuci. Bersuci merupakan separuh dari keimanan. Tanpa bersuci, Allah tidak akan menerima shalat kita. Di bawah kesejukan thaharah, kita hajatkan kesegaran dalam kesucian. Kita jujur pada diri tentang sah dan batal ibadah.

Setelah thaharah, kita tunaikan shalat untuk mengingat-Nya, sekaligus berdoa dan meminta segala hal yang kita butuhkan pada Tuhan Yang Esa“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. Yaitu yang akan mewarisi surga firdaus. Mereka akan kekal di dalamnya”. (Q.s. al-Mukminun [23] : 9-11)

“Di dalam Al-Qur’an itu ada petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rizki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka”. (Q.s. al-Baqarah [2] : 2-3)

Sedangkan di dalam hadist-hadist nabawi, Sahabat Abu Hurairah berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Bukankah kamu telah melihat, apabila di depan pintu rumah salah seorang diantara kamu mengalir sebuah sungai lalu dia mandi lima kali dalam sehari, masih adakah kotoran atau noda yang tertinggal di badannya?” maka dengan serentak para sahabat menjawab, “Tidak ada sedikitpun kotoran yang menempel di badannya ya Rasulullah”. Kemudian rasulullah Saw bersabda, “ demikianlah perumpamaan shalat lima waktu. Dengan shalat lima waktu itulah Allah mengampuni segala dosa”. (H.r. Bukhari dan Muslim)

Puasa mendidik kita untuk konsitensi dalam menjaga diri dan menumbuhkan rasa empati. Sebagaimana bisa disaksamai dalam firman-Nya,“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Yaitu beberapa hari yang telah ditentukan. Maka jika ada di antara kamu yang sakit atau berada dalam perjalanan lalu dia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain”. (Q.s. al-Baqarah [2] : 183)

Puasa juga mendapatkan perhatian langsung dari Rasulullah Saw, bahwa ibadah yang satu ini merupakan kunci untuk belajar menjadi pribadi yang teratur,

Sahabat Abu Hurairah berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu melihat hilal atau permulaan bulan Ramadhan, maka berpuasalah. Dan apabila kamu melihat hilal akhir bulan, maka berbukalah. Dan apabila terjadi mendung, maka sempurnakanlah puasamu sehingga menjadi tiga puluh hari”. (H.r. Muslim)

Hadis Rasulullah Saw di atas menegaskan pentingnya sebuah kedisiplinan. Kita hanya boleh berbuka, setelah tiba waktunya. Begitu juga kita diminta untuk menunaikan ibadah puasa sebagaimana waktu yang sudah ditentukan.

Puasa mengajari kita makna disiplin diri. ada saatnya menahan lapar, ada waktunya berbuka untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Pun, ibadah puasa mengajari kita indahnya empati. Ikut merasakan lapar sebagaimana orang yang kekurangan. Lalu kita diminta untuk disiplin dalam mengeluarkan sebagian harta yang kita miliki kepada yang membutuhkan. Tersebab ada hak orang lain atas harta yang kita punyai.

Zakat menjadi penyempurna amal ibadah kita dalam berpuasa. Di saat kemenangan datang, kita diminta untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain, utamanya kaum dhuafa yang membutuhkan uluran bantuan. Membayar zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib hukumnya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya,

“Adapun orang-orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan akan adanya pahala yang terbaik di dalam surga, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup dan tidak bertakwa, serta mendustakan pahala yang terbaik dan mengingkari kenikmatan surga, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. Dan hartanya sedikit pun tidak akan membawa manfaat apa-apa jika ia telah binasa”. (Q.s. al-Lail [92] : 5-11)

Sedangkan dalam hadits-hadits Nabawy, perintah untuk membayar zakat dapat kita saksamai melalui beberapa riwayat berikut ini:

Sahabat Anah Bin Malik pernah berkata, “Ada seorang laki-laki dari Tamim datang untuk menghadap kepada Rasulullah Saw seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku memiliki harta kekayaan yang banyak jumlahnya. Dan aku juga memiliki keluarga yang kaya-kaya p**a. Maka berikanlah kepada saya petunjuk, bagaimana aku harus berbuat dan bagaimana p**a cara menasarufkan hartaku tersebut?” lalu Rasulullah SAW bersabda, “Keluarkanlah zakat dari harta kekayaanmu. Sebab zakat itu adalah pembersih yang dapat membersihkan hartamu. Sambunglah tali persaudaraan dengan saudara-saudara dekatmu, dan penuhilah hak-hak orang miskin, tetangga, dan orang yang meminta-minta”. (H.r. Imam Ahmad)

Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima. Setiap muslim—selama dirinya memiliki kemampuan—untuk menunaikan ibadah haji, wajib hukumnya memenuhi rukun Islam yang terakhir ini. Adapun yang di maksud memiliki kemampuan di sini adalah; mampu melakukan perjalanan; memiliki dana yang cukup untuk melakukan perjalanan ke Baitullah dan masih ada sisa harta untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga; memiliki kemampuan agama yang baik, dan mampu memenuhi semua syarat wajib haji beserta rukun-rukunnya. Artinya, seorang muslim yang wajib menunaikan ibadah haji adalah mereka yang telah dianugerahi oleh Allah Ta’ala kemampuan, baik secara spiritual, intelektual, fisikal, dan juga mampu dari segi materi atau finansial.

Menunaikan ibadah haji merupakan salah satu pondasi agama Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Islam didirikan diatas lima dasar, yaitu persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan ibadah puasa ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah”. (H.r. Bukhari dan Muslim)

Itulah ibadah. Itulah laku-laku yang harus kita kerjakan untuk mendidik diri kita agar menjadi seorang muslim yang disiplin. Memancing rahmat dan keridhaan-Nya. Dengan demikian, jadilah ibadah sebagai lapangan aktivitas yang melingkupi luasan hati, jiwa, dan jasad. Ibadah yang benar merupakan cara terindah untuk mengupayakan cinta dan kasih sayang-Nya.

Oleh karena itu, setelah kita menyelamatkan akidah dari bermacam-macam bentuk perbuatan yang dapat membelenggu dan merecoki kebeningan keyakinan kita, tiba saatnya kita mengupayakan cinta di bilik-bilik ibadah. Agar kehidupan kita bisa bermakna; menjadi jalan untuk menjemput kebahagiaan yang abadi di surga yang kekal abadi. []

Haidar Musyafa

HAMKA adalah novel sejarah yang membabar kehidupan, pemikiran, dan perjuangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah sejak lahi...
30/10/2016

HAMKA adalah novel sejarah yang membabar kehidupan, pemikiran, dan perjuangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah sejak lahir sampai pertemuannya dengan B**g Karno pertama kali di Bengkulu.

Minat silakan sms/wa 0857 2653 7750

OPEN PRE-ORDERHAMKA: Sebuah Novel Biografi"Dalam pandangan saya, Buya Hamka dapat diumpamakan sebagai mutiara amat langk...
17/09/2016

OPEN PRE-ORDER

HAMKA: Sebuah Novel Biografi

"Dalam pandangan saya, Buya Hamka dapat diumpamakan sebagai mutiara amat langka yang pernah dimiliki bangsa ini. Beliau adalah salah satu idola saya, dan pemikiran-pemikirannya sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran dakwah saya selama ini. Kekaguman saya terhadap Buya Hamka semakin bertambah, ketika setiap kali berada di Luar Negeri orang-orang sibuk membicarakan Hamka berikut karya-karyanya. Khususnya Tafsir Al-Azhar yang sangat fenomenal itu. Alangkah populernya nama Hamka di manca-negara.

Oleh karena itu, saya sangat senang dan antusias sekali ketika Haidar Musyafa datang dan menyatakan keinginannya untuk menulis Novel Biografi Buya Hamka secara lengkap, sejak lahir sampai meninggal dunia. Saya sangat berharap, kehadiran buku ini menjadi sarana bagi generasi muda bangsa ini untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Buya Hamka. Sebab dari Buya Hamka kita dapat belajar banyak, tentang bagaimana caranya menjadi seorang muslim seutuhnya."

Ahmad Syafii Maarif
Ketua Umum PP Muhammadiyah 2000-2005
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta

“Di dalam diri seorang Buya Hamka, menyatu berbagai sebutan, antara lain Sastrawan, Wartawan, Budayawan, Sejarahwan, Ulama, Muballigh dan lain sebagainya. Buya Hamka bukan hanya ayah dan imam dalam lingkungan keluarga. Tapi beliau merupakan ayah dan imam bagi umat Islam di Nusantara ini, termasuk di Malaysia, dan negeri-negeri yang menggunakan bahasa Melayu. Saya sangat antusias menyambut kehadiran buku yang menceritakan kehidupan dan perjuangan Buya Hamka ini. Harapannya, semoga buku ini akan menambah pengetahuan kita tentang sosok Buya Hamka—khususnya bagi generasi muda saat in.”

H. Afif Hamka—Putra Kandung Buya Hamka

=========

Harga : Rp. 85. 000, 00 (Pulau Jawa)
Rp. 95. 000, 00 (Luar Jawa)
Buku + Tanda Tangan Penulis

(Harga di atas sudah termasuk ongkos kirim)

==========

Cara Pemesanan:
1. Pre Order berlaku dari tanggal 17 September—15 Oktober 2016.
2. Pemesanan dan pembayaran

OPEN PRE ORDERK.H.R.Ng Ahmad Dahlan – Bara yang Tak PadamNovel Biografi Kehidupan, Pemikiran dan Perjalanan DakwahPendir...
03/03/2016

OPEN PRE ORDER

K.H.R.Ng Ahmad Dahlan – Bara yang Tak Padam
Novel Biografi Kehidupan, Pemikiran dan Perjalanan Dakwah
Pendiri Muhammadiyah (1868-1923)
Harga : Rp. 95. 000, 00 (Pulau Jawa)
Rp. 105. 000, 00 (Luar Jawa)
Buku + Tanda Tangan Penulis + Kejutan Manis

(Harga di atas sudah termasuk ongkos kirim)

***

Cara Pemesanan:
1. Pre Order berlaku dari tanggal 26 Februari 2016 s/d 7 Maret 2016.
2. Pemesanan dan pembayaran dapat dilakukan melalui fast response:
Haidar Musyafa : WA 0857 2653 7750 / BBM 7F34A7FB
Rekening BNI No. Rek 032. 869. 4338 a.n. SUDARWANTO.
3. Pemesanan hanya akan diproses setelah melakukan transfer dan menunjukkan bukti transfer
4. Insya Allah buku mulai dikirimkan tanggal 15 Maret 2016.
5. Pembelian >= 15 eks selama pre order akan mendapat Kejutan Istimewa

“…..untuk menjadi orang baik itu, apalagi untuk menjadi seorang penghulu, tidak cukup hanya mengetahui isi Al-Qur’an dan...
02/03/2016

“…..untuk menjadi orang baik itu, apalagi untuk menjadi seorang penghulu, tidak cukup hanya mengetahui isi Al-Qur’an dan Al-Hadis saja! Lebih dari itu, sungguh, dia harus tahu kultur dan tradisi yang ada di lingkungan sekitarnya…..”

Ada yang menggumpal di dalam dada Muhammad Darwis. Kecintaannya kepada Sang Pencipta dan rasul-Nya mendorongnya untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Di antara celaan, cacian, kesalahpahaman bahkan ancaman, ia tetap gigih belajar dan berjuang. Ia yang dikenal sebagai K.H.R.Ng Ahmad Dahlan, kemudian berfokus beramaliah dengan mendirikan Muhammadiyah.

-- Novel Biografi K.H.R.Ng Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah: Bara yang Tak Padam, karya Haidar Musyafa, segera terbit smile emotikon --

Address

Jalan Godean Km 10 Ds. Karang Beran RT 01/RW 02, Margodadi, Seyegan, Sleman
Yogyakarta City

Telephone

085726537750

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Medina Book Store posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share