01/03/2018
Komen salah seorang pembaca ......
Telah lama aku melalui kepayahan dalam meredah sebuah erti cinta. Seringkali kecewa, sedih dan pilu sendiri,hingga terasa hatiku dihancur berkali-kali. Apakah aku tidak layak merasainya dan bahagia seperti orang lain?
Saat kata-kata ini terungkap, butir-butir jernih menitik laju jatuh dari kolam hati yang sekian lama merindu, merindu untuk dirindu sebagaimana aku merindu, mencinta sebagaimana aku mencinta, dan bahagia sebagaimana dia bahagia, yang semua itu hanyalah trofi yang tersimpan rapi di sebalik kaca. Aku hanya mampu menatap, sedang hatiku meratap.
Tuhan, aku hanyalah insan biasa yang kau anugerahkan hati dan perasaan. Adakalanya aku rebah ke tanah, tidak tertanggung derita jiwa yang sekian lama ku rasainya. Ku diam dalam sengsara. Ku rawati hati yang tersakiti. Aku pedih dan sedih walau aku sebenarnya masih bertatih mengenal dunia yang penuh sandiwara luka.
Tuhan, apakah Novel Mengintai Aku Di Neraka ini, adalah cetusan daripadaMU. Saat aku membacanya, satu persatu nasihat yang mendalam tertulis dengan begitu bermakna. Aku merasainya Ya Allah, hingga tiada kata melainkan tangisan yang sangat dalam. Kau bagai menjawab didalam penulisannya. .
Apakah kau memberi ilham kepadanya untuk menjawab duka dan sengsaraku? Ya Allah, begitu banyak bait terindah kau hamparkan di dalam Novel ini ya Allah. Aku tahu semua ilham itu dariMU buat aku dan mereka yang memerlukannya saat dan ketika ini Ya Allah.
Kau amat memahami, kau amat mengerti. Terima kasih Ya Allah. Ia hadir di saat aku memerlukannya. Berderai air mata, gugurnya jiwa yang sarat dengan dunia. Aku bangkit dari lena ya Allah,menuju dan meraih sebuah cintaMU yang sejati buat selama-lamanya.